Environment IPA

Bagaimana Gunung Meletus Terjadi? Intip Fakta dan Penjelasannya!

gunung meletus
Written by Vania Andini

bagaimana gunung meletus terjadi – Pagi itu, gunung mungkin masih terlihat tenang. Sampai asap dari kawah mulai menebal, gempa kecil bermunculan, dan perlahan ada sesuatu yang berubah.

Tapi, Grameds, letusan sebenarnya tidak dimulai saat asap terlihat. Jauh di bawah permukaan, magma bergerak, gas mengembang, dan tekanan terus bertambah hingga batuan tak lagi mampu menahannya.

Lalu, apa yang sebenarnya terjadi di dalam gunung sebelum akhirnya meletus? Yuk, kita ikuti ceritanya.

Sebelum Gunung Meletus, Ada Tekanan Besar yang Terus Mencari Jalan Keluar

Bayangkan botol minuman bersoda yang dikocok. Dari luar, botolnya mungkin terlihat biasa saja. Tapi kamu tahu ada tekanan yang tersimpan di dalamnya. Pada gunung berapi, tentu prosesnya jauh lebih kompleks, tetapi gambaran sederhananya mirip, yaitu sesuatu sedang menumpuk di bawah permukaan.

Magma mengandung gas terlarut, terutama uap air, karbon dioksida (CO₂), dan sulfur dioksida (SO₂). Selama magma berada jauh di bawah Bumi dengan tekanan tinggi, banyak gas masih dapat tetap terlarut di dalamnya. Ketika magma bergerak ke tempat yang lebih dangkal dan tekanan berkurang, gas mulai keluar dari larutan dan membentuk gelembung.

Gelembung-gelembung tersebut dapat mengembang dan ikut meningkatkan tekanan di dalam sistem vulkanik. Semakin banyak gas yang terkumpul dan sulit keluar, semakin besar pula potensi tekanan yang harus dilepaskan.

Tapi kenapa magma bisa bergerak naik sejak awal?

Salah satu penyebabnya adalah buoyancy atau gaya apung. Magma umumnya memiliki massa jenis lebih rendah daripada batuan padat di sekitarnya, sehingga cenderung bergerak menuju bagian kerak yang lebih dangkal. Rekahan batuan kemudian menjadi jalur yang memungkinkan magma terus naik.

Perjalanan itu belum tentu berakhir dengan letusan besar. Jika magma relatif encer dan gas mudah keluar, erupsi bisa didominasi aliran lava. Sebaliknya, magma yang lebih kental dapat membuat gas lebih sulit lolos sehingga tekanan lebih mudah terakumulasi.

Sekarang bayangkan jalur keluarnya ikut tersumbat oleh lava yang membeku atau material vulkanik. Magma dan gas dari bawah terus memberikan tekanan, sementara bagian atas seperti sebuah “tutup” yang menahannya.

Ketika tekanan akhirnya melampaui kekuatan batuan penyumbat, bagian tersebut dapat pecah dan menghasilkan erupsi eksplosif.

Jadi, ledakan yang kita lihat di permukaan sebenarnya hanyalah saat ketika proses panjang di bawah gunung akhirnya menemukan jalan keluar.

Lalu, Apa yang Bisa Memicu Gunung Akhirnya Erupsi?

Tekanan di dalam gunung sudah meningkat, magma pun terus bergerak. Tapi gunung masih belum meletus. Seolah semuanya masih bertahan dalam keseimbangan yang tipis.

Sampai sesuatu datang dan mengubah keadaan.

Bisa berupa magma baru yang menyusup dari bawah, batuan yang mulai retak, bahkan longsoran besar di tubuh gunung. Perubahan itu mungkin terlihat kecil, tetapi pada sistem vulkanik yang sudah penuh tekanan, efeknya bisa menjadi pemicu yang menentukan.

Nah, apa saja yang bisa menjadi “dorongan terakhir” sebelum erupsi terjadi?

1. Magma baru datang dari bawah

Bayangkan sebuah ruang berisi magma yang kondisinya relatif stabil, lalu mendapat tambahan magma baru yang lebih panas dari kedalaman.

Masuknya magma baru dapat menambah volume, panas, dan gas ke dalam sistem. Magma lama pun dapat mengalami perubahan. Gas semakin banyak terlepas, tekanan berubah, dan sistem yang sebelumnya relatif tenang menjadi tidak stabil.

Kadang, kedatangan “penghuni baru” inilah yang ikut mendorong magma bergerak semakin dekat ke permukaan.

2. Batuan mulai retak dan gempa vulkanik bermunculan

Ketika magma bergerak dan menekan batuan di sekitarnya, batuan dapat retak. Proses tersebut menghasilkan gempa vulkanik yang bisa menjadi salah satu petunjuk bahwa aktivitas di dalam gunung sedang meningkat.

Aktivitas tektonik di sekitar gunung juga dapat memengaruhi tegangan pada batuan dan rekahan. Namun, Grameds, gempa tektonik di dekat gunung tidak otomatis berarti gunung tersebut akan meletus. Hubungannya bergantung pada kondisi sistem vulkanik saat itu.

Karena itulah ilmuwan tidak membaca satu gempa sebagai “alarm letusan”, melainkan melihat pola dari berbagai data pemantauan.

3. Ketika bagian atas gunung kehilangan beban

Ada pemicu lain yang mungkin terdengar mengejutkan, yaitu longsoran besar pada tubuh atau puncak gunung.

Jika sejumlah besar material tiba-tiba runtuh, tekanan yang membebani sistem magma di bawahnya dapat berkurang dengan cepat. Perubahan tekanan tersebut dalam kondisi tertentu dapat memengaruhi magma dan gas di dalamnya, bahkan berkontribusi pada terjadinya erupsi.

Artinya, gunung berapi bukan sekadar kawah dengan magma di bawahnya. Seluruh tubuh gunung adalah sistem yang saling berkaitan, dan perubahan pada satu bagian dapat memengaruhi bagian lainnya.

Sebelum Meletus, Gunung Bisa Memberikan “Petunjuk”

Nah, sekarang mungkin kamu bertanya, kalau begitu banyak hal berlangsung tersembunyi di bawah tanah, bagaimana ilmuwan tahu sebuah gunung sedang mengalami peningkatan aktivitas?

Untungnya, proses menuju erupsi sering kali meninggalkan jejak yang dapat dipantau. Bukan ramalan, melainkan perubahan fisik yang diukur menggunakan berbagai instrumen.

  • Gempa vulkanik semakin aktif

Magma yang bergerak dapat memecahkan atau menekan batuan di sekitarnya. Akibatnya, aktivitas gempa vulkanik dapat meningkat dan dalam beberapa kondisi sumber gempa terdeteksi semakin dangkal.

Karena itu, alat pemantau gempa menjadi seperti “telinga” yang membantu ilmuwan mendengarkan apa yang sedang berlangsung di dalam gunung.

  • Kondisi di sekitar kawah bisa berubah

Aktivitas vulkanik juga dapat mengubah suhu dan pelepasan gas di sekitar kawah. Sistem air tanah atau mata air di sekitar gunung pun dalam beberapa kasus bisa mengalami perubahan suhu, debit, atau kimia.

Lalu bagaimana dengan tumbuhan yang layu atau satwa turun gunung yang sering disebut sebagai tanda gunung akan meletus? Fenomena seperti itu memang dapat terjadi akibat perubahan kondisi lingkungan, tetapi tidak bisa dijadikan patokan tunggal untuk memprediksi erupsi. Perilaku hewan dan kondisi tumbuhan dapat berubah karena banyak faktor lain.

  • Tubuh gunung perlahan “menggembung”

Ini salah satu petunjuk yang menarik karena perubahan beberapa sentimeter saja bisa menyimpan informasi penting.

Ketika magma atau fluida vulkanik menekan dari bawah, permukaan gunung dapat mengalami inflation atau penggembungan. Perubahannya sering terlalu kecil untuk dilihat dengan mata, tetapi dapat diukur menggunakan GPS, tiltmeter, maupun teknologi satelit.

Bayangkan seperti balon yang perlahan terisi dari dalam. Bentuk luarnya berubah karena ada tambahan tekanan di bawah permukaan.

Namun satu hal penting perlu diingat, Grameds: tidak ada satu tanda yang sendirian bisa memastikan kapan gunung akan meletus. Gempa meningkat belum tentu berakhir dengan erupsi. Penggembungan pun tidak selalu berarti letusan akan terjadi dalam waktu dekat.

Itulah sebabnya para ahli membaca semuanya bersama-sama: aktivitas gempa, deformasi tubuh gunung, perubahan gas, suhu, hingga pengamatan visual. Potongan-potongan petunjuk tersebut kemudian dirangkai untuk memahami apa yang sedang berlangsung di dalam gunung.

Dari Gunung yang Bergemuruh hingga Hati yang Bertahan: 5 Buku untuk Melanjutkan Perjalanan

Setelah tahu apa yang membuat gunung akhirnya meletus, kita jadi sadar bahwa gunung bukan cuma menyimpan cerita di bawah permukaannya. Di sekelilingnya, ada manusia yang jatuh cinta, berjuang, menyimpan legenda, sampai belajar bertahan. Kalau kamu masih ingin berlama-lama dengan cerita yang bersinggungan dengan gunung dan alam, lima buku ini bisa jadi perjalanan berikutnya.

1. 0 MDPL — Nurwina Sari

0 MDPL

Pendakian Rinjani sudah selesai. Rangga Raja sudah kembali ke kehidupannya. Tapi ternyata, turun dari gunung tidak selalu berarti berhasil meninggalkan semua yang terjadi di sana.

Setelah Andini Hangura, hadir La Nina yang ditemuinya di puncak Rinjani dan Nadia G. Sahara, teman lama yang kembali masuk ke hidupnya. Keduanya membawa cerita baru, sementara kenangan tentang Andini masih terlalu indah untuk benar-benar ditinggalkan. Jadi, siapa yang akhirnya akan dipilih Rangga untuk tinggal lebih lama?

Lanjutkan Perjalanan Rangga di Sini

2. Dompet Ayah Sepatu Ibu — J.S. Khairen

Dompet Ayah Sepatu Ibu

Di punggung Gunung Singgalang, Zenna kecil naik-turun gunung dengan sepatu rombeng sambil menjual jagung rebus. Sang Abak pernah berjanji akan membelikannya sepatu baru. Sayangnya, janji itu tak sempat ditepati.

Di punggung Gunung Marapi, Asrul juga tumbuh bersama kehidupan yang tak kalah keras. Dua anak dari dua gunung ini akhirnya dipertemukan oleh satu keinginan yang sama, yaitu membawa keluarga mereka menuju kehidupan yang lebih baik.

Dompet Ayah Sepatu Ibu adalah cerita tentang kehilangan, keluarga, kerja keras, dan dua orang yang terus berjalan meski hidup berkali-kali membuat langkah mereka terasa berat. Siapkan hati, Grameds, karena ceritanya mungkin terasa lebih dekat daripada yang kamu kira.

Ikuti Perjuangan Mereka di Sini

3. Inyik Balang — Andri Septiawan

Inyik Balang

Bagaimana kalau satu malam kamu melihat seorang perempuan berubah menjadi harimau putih, lalu berjalan menembus dinding?

Itulah kejadian yang membawa Mangkutak masuk ke Alam Sebalik Mata. Setelah mewarisi tunggane dari Lebai Lebe, hidupnya tak lagi berjalan seperti manusia biasa. Umurnya memanjang dan matanya menjadi saksi berbagai perubahan Minangkabau serta Indonesia, dari era 1800-an hingga Orde Baru.

Legenda, sejarah, dunia gaib, dan perubahan zaman bertemu dalam Inyik Balang. Cocok buat kamu yang suka cerita yang membuat batas antara “pernah terjadi” dan “mungkin hanya legenda” semakin tipis.

Masuki Alam Sebalik Mata di Sini

4. Karena Kamu Seindah Langit — Febriawan Jauhari

Karena Kamu Seindah Langit

Kita sering merasa harus pergi jauh untuk menemukan sesuatu yang indah. Naik ke pucuk gunung, berdiri di tepi laut, atau mencari tempat yang belum pernah dikunjungi. Padahal, bagaimana kalau yang kita butuhkan selama ini cukup ditemukan dengan menengadah?

Karena Kamu Seindah Langit mengajak pembacanya melihat langit sebagai ruang untuk berhenti sejenak, bernapas, dan memandang hidup dengan sedikit lebih luas. Buku yang pas menemani kamu ketika kepala sedang ramai dan rasanya ingin pergi jauh, padahal mungkin yang dibutuhkan hanyalah waktu untuk melihat ke atas.

Temukan Langitmu di Sini

5. Mata Air Bulan — Sindhunata

Mata Air Bulan (2025)

Di sebuah desa sejuk di lereng Gunung Merapi, sebuah sumur kecil ternyata menyimpan jauh lebih banyak cerita daripada sekadar air.

Lewat kisah-kisah nyata tentang perempuan desa, mata air, gunung, hujan, tumbuhan, dan kehidupan sehari-hari, Sindhunata membawa pembaca menemukan harapan dari hal-hal yang sering dianggap sederhana. Mata Air Bulan berbicara tentang bertahan ketika hidup terasa berat dan menemukan ketenteraman dari sesuatu yang mungkin selama ini luput kita perhatikan.

Setelah membaca tentang gunung yang menyimpan tekanan begitu besar di dalamnya, buku ini seperti mengajak kita melihat sisi lainnya, yaitu bahwa di lereng gunung yang sama, kehidupan juga bisa tumbuh dengan begitu tenang.

Temukan Mata Air Harapan di Sini

Jadi, Gunung Meletus Bukan Sekadar Soal “Boom!”

Kalau dipikir-pikir, bagian paling menarik dari letusan gunung justru terjadi sebelum suara ledakannya terdengar. Ada gas yang mengembang, magma baru yang datang, batuan yang retak, sampai perubahan kecil yang terus dipantau para ahli. Semuanya seperti potongan puzzle yang baru terasa masuk akal ketika disusun bersama.

Dan mungkin sekarang, ketika mendengar berita aktivitas gunung meningkat, kamu jadi punya gambaran tentang apa yang sebenarnya sedang berlangsung di balik kawahnya. Bukan sekadar “gunung sedang aktif”, tetapi ada proses alam luar biasa kompleks yang sedang bekerja.

Seru juga, ya, Grameds? Satu pertanyaan sederhana tentang kenapa gunung bisa meletus ternyata membawa kita sejauh ini. Dan seperti Bumi sendiri, selalu ada cerita lain yang menunggu untuk kita bongkar berikutnya.

About the author

Vania Andini

perempuan di balik layar. mengamati tren dalam industri literasi dan aktif membagikan ulasan buku serta menulis artikel.

Gramedia Literasi