Blog Hubungan Internasional Sejarah

10 Negara yang Tidak Pernah Dijajah di Dunia: Kok Bisa Bebas dari Kolonialisme?

Written by Dzikri Nurul Hakim

Negara yang Tidak Pernah Dijajah – Grameds, pernahkah kamu berpikir, waktu sebagian besar wilayah di peta bumi ini diperebutkan oleh bangsa Eropa, ada beberapa wilayah yang justru tidak merasakan pahitnya dijajah? 

Yup, sebagai bagian dari bangsa Indonesia yang punya sejarah panjang lepas dari cengkeraman kolonialisme, topik soal negara yang tidak pernah dijajah selalu menarik banget buat dikulik.

Mungkin di pelajaran sejarah sekolah, kita sering dengar kalau hampir seluruh belahan dunia pernah mencicipi ekspansi atau imperialisme Barat. 

Tapi kenyataannya, ada beberapa negara yang secara “ajaib” atau lebih tepatnya berkat kejelian diplomasi dan kondisi geografi, mereka berhasil mempertahankan kedaulatannya sampai detik ini.

Nah, buat kamu para Grameds yang penasaran banget sama plot twist sejarah dunia, yuk kita bedah tuntas daftar negara yang tidak pernah dijajah di dunia beserta alasan rasional di baliknya. 

Spoiler alert: keberhasilan mereka ini bukan cuma hoki, tapi kombinasi strategi politik jenius, kekuatan militer, hingga faktor alam yang ekstrem!

Mengapa Ada Negara yang Bebas dari Kolonialisme?

Sumber: www.neh.gov

Sebelum kita masuk ke daftarnya satu per satu, Grameds perlu tahu dulu kalau era penjelajahan samudra oleh bangsa Eropa (sekitar abad ke-15 sampai abad ke-20) digerakkan oleh ambisi Gold, Glory, and Gospel. Mereka menjelajahi samudra buat berburu rempah-rempah, emas, dan wilayah kekuasaan baru.

Lantas, kenapa kok ada negara yang bisa lolos dari cengkeraman para penjajah ini? Secara garis besar, dikutip dari World Atlas dan Encyclopaedia Britannica, ada beberapa variabel utama yang bikin suatu wilayah selamat:

  1. Diplomasi Tingkat Tinggi: Para pemimpin lokal cerdik memanfaatkan persaingan antar-kekuatan besar (penjajah) buat dijadikan buffer state (negara penyangga).
  2. Kondisi Geografis yang Ekstrem: Medan pegunungan curam, gurun pasir luas, atau wilayah terisolasi bikin pasukan penjajah mikir puluhan kali buat melakukan invasi.
  3. Restrukturisasi dan Modernisasi Cepat: Negara tersebut bergerak cepat meniru teknologi dan sistem militer Barat sebelum bangsa Barat sempat menyerang.
  4. Isolasi Mandiri (Isolationism): Menutup rapat-rapat akses buat asing sehingga pihak luar kesulitan masuk dan menanamkan pengaruh politik.

Penasaran kan negara mana aja yang berhasil mempraktikkan strategi-strategi di atas? Mari kita bahas satu per satu!

Daftar Lengkap Negara yang Tidak Pernah Dijajah di Dunia

Sumber: tourradar.com

1. Thailand (Asia Tenggara)

Kalau bicara soal negara yang tidak pernah dijajah, Thailand pasti jadi jawaban pertama yang terlintas di pikiran Grameds. 

Di saat negara-negara tetangganya di Asia Tenggara jatuh satu per satu, seperti Indonesia oleh Belanda, Malaysia dan Myanmar oleh Inggris, serta Indochina (Vietnam, Laos, Kamboja) oleh Prancis; Thailand tetap berdiri tegak sebagai negara merdeka tidak dijajah siapa pun.

Dilansir dari History, rahasia utama Thailand (yang dulu bernama Kerajaan Siam) terletak pada kelihaian Raja Chulalongkorn (Raja Rama V) di akhir abad ke-19. 

Raja Rama V paham betul kalau ancaman terbesar bangsanya berasal dari dua raksasa kolonial: Inggris di sebelah barat dan Prancis di sebelah timur.

Alih-alih mengajak perang terbuka yang berisiko kalah, Raja Rama V memilih jalur diplomasi tingkat tinggi. 

Beliau mengusulkan agar Kerajaan Siam dijadikan sebagai buffer state alias wilayah netral penyangga antara wilayah kekuasaan Inggris di Burma/Malaya dan Prancis di Indochina. 

Selain diplomasi, Kerajaan Siam juga mengadopsi teknologi, sistem hukum, dan gaya birokrasi Barat secara cepat. Langkah modernisasi internal ini berhasil mematahkan alasan bangsa Barat buat “mengarahkan atau memodernisasi” Siam.

Catatan Sejarah: Momen Thailand merelakan sebagian kecil wilayah pengaruhnya demi mempertahankan kedaulatan inti kerajaan dianggap sebagai salah satu keputusan geopolitik paling brilian dalam sejarah Asia Tenggara.

2. Jepang (Asia Timur)

Jepang adalah contoh klasik dari negara yang berhasil selamat dari kolonialisme Barat berkat kombinasi isolasi ketat dan modernisasi kilat. Pada masa Restorasi Meiji abad ke-19, Jepang bertransformasi dari negara feodal yang terisolasi menjadi kekuatan imperialis baru yang ditakuti dunia.

Dikutip dari Britannica, selama Zaman Edo (1603–1867), Jepang menerapkan kebijakan Sakoku (negara tertutup). Pemerintah Kesultanan Tokugawa melarang keras warga asing masuk dan warga lokal keluar negeri, kecuali untuk kontak terbatas dengan pedagang Belanda dan Tiongkok di Pelabuhan Deshima, Nagasaki.

Ketika Komodor Matthew Perry dari Amerika Serikat datang membawa kapal perang bertenaga uap pada tahun 1853 buat memaksa Jepang membuka pintu perdagangan, bangsa Jepang sadar bahwa ketertinggalan teknologi akan membuat mereka bernasib sama seperti Tiongkok yang dilumpuhkan dalam Perang Candu.

Maka meletuslah Restorasi Meiji pada tahun 1868. Bangsa Jepang secara masif mengadopsi teknologi, ilmu pengetahuan, struktur militer, dan hukum dari Barat. 

Dalam kurun waktu beberapa dekade saja, Jepang menjelma jadi negara industri yang kuat secara militer. Boro-boro dijajah, Jepang malah balik memenangkan perang melawan Rusia pada 1905 dan menjadi salah satu pelaku kolonialisme di Asia Pasifik selama Perang Dunia II.

3. Ethiopia (Afrika Timur)

Di benua Afrika, hampir seluruh jengkal tanah habis dibagi-bagi oleh negara-negara Eropa dalam peristiwa yang dikenal sebagai Scramble for Africa pada akhir abad ke-19. Namun, ada satu negara yang berdiri megah menentang dominasi tersebut: Ethiopia.

Alasan utama kenapa Ethiopia diakui sebagai negara yang tidak pernah dijajah di Afrika adalah berkat peristiwa bersejarah Perang Adwa pada tahun 1896. 

Dilansir dari BBC, Kekaisaran Italia berambisi menguasai Ethiopia dengan memanfaatkan perbedaan penerjemahan Perjanjian Wuchale. Namun, Kaisar Menelik II dari Ethiopia sadar akan tipu daya tersebut dan membatalkan perjanjian secara sepihak.

Kaisar Menelik II berhasil menyatukan suku-suku di Ethiopia dan membekali pasukannya dengan senjata modern yang dibeli dari Rusia dan Prancis. 

Dalam Pertempuran Adwa pada 1 Maret 1896, pasukan Ethiopia berhasil menghancurkan tentara Italia secara telak. Kemenangan ini memaksa Italia menandatangani Perjanjian Addis Ababa yang mengakui kemerdekaan mutlak Ethiopia.

Meskipun Italia sempat menduduki Ethiopia secara singkat di bawah rezim fasis Benito Mussolini pada tahun 1936–1941, pendudukan militer sementara selama 5 tahun ini secara hukum internasional tidak dikategorikan sebagai kolonisasi formal, melainkan bagian dari dinamika Perang Dunia II.

4. Iran / Persia (Timur Tengah)

Persia, yang sekarang kita kenal sebagai Iran, memiliki sejarah peradaban tua yang sangat kuat. Di era kejayaan kolonialisme abad ke-19, kekaisaran Persia berada di posisi serba salah karena terjepit di antara dua raksasa imperialis: Kekaisaran Rusia dari utara dan Kekaisaran Britania (Inggris) dari selatan melalui India.

Kondisi geopolitik yang berbahaya ini memicu persaingan ketat yang dikenal sebagai The Great Game

Dikutip dari National Geographic, alih-alih dicaplok secara penuh oleh salah satu pihak, Dinasti Qajar yang memerintah Persia memanfaatkan persaingan Rusia dan Inggris. 

Kedua negara adidaya tersebut sadar bahwa jika salah satu menguasai Persia secara mutlak, perang terbuka antar-raksasa tidak bisa dihindari.

Oleh karena itu, Inggris dan Rusia sepakat menjadikan Persia sebagai wilayah penyangga (buffer zone). 

Walaupun Inggris dan Rusia sempat membagi Persia ke dalam zona pengaruh ekonomi dan mengontrol sumber daya minyaknya di awal abad ke-20, pemerintah imperialis Barat tidak pernah berhasil menguasai atau meruntuhkan kedaulatan politik Persia secara formal.

5. Arab Saudi (Timur Tengah)

Jazirah Arab selama berabad-abad sebagian besar berada di bawah naungan Kekaisaran Utsmaniyah (Ottoman). Namun, wilayah pedalaman Nejd dan wilayah gurun Arab lainnya memiliki tingkat otonomi yang sangat tinggi karena medannya yang sangat berat dan tandus.

Dilansir dari World Atlas, bangsa Eropa pada abad ke-18 dan ke-19 sama sekali tidak memiliki ketertarikan buat menjajah wilayah pedalaman Arab. 

Saat itu, sebelum ditemukannya cadangan minyak bumi raksasa di pertengahan abad ke-20, wilayah gurun Arab dianggap tidak memiliki nilai ekonomis yang sepadan dengan risiko invasi militer.

Pada awal abad ke-20, seiring dengan runtuhnya Kekaisaran Utsmaniyah pasca-Perang Dunia I, seorang pemimpin karismatik bernama Abdulaziz ibn Saud merintis penyatuan wilayah-wilayah di Semenanjung Arab. 

Melalui serangkaian penaklukan lokal dan diplomasi ulung, beliau akhirnya memproklamasikan berdirinya Kerajaan Arab Saudi pada tahun 1932 sebagai negara berdaulat penuh tanpa campur tangan kekuasaan kolonial Barat.

6. Liberia (Afrika Barat)

Kisah Liberia sebagai negara yang tidak pernah dijajah terbilang sangat unik dan cukup kompleks jika dibandingkan dengan negara-negara Afrika lainnya. 

Jika negara lain mempertahankan kemerdekaannya dari serbuan Eropa, Liberia berdiri berkat keterlibatan organisasi Amerika Serikat.

Dikutip dari History, Liberia didirikan pada tahun 1822 oleh American Colonization Society (ACS), sebuah organisasi di Amerika Serikat yang bertujuannya merepatriasi (mengarahkan kembali) warga kulit hitam yang terbebas dari perbudakan di AS kembali ke benua Afrika.

Pada tahun 1847, para pemukim Americo-Liberian ini memproklamasikan kemerdekaan Republik Liberia dan mengesahkan konstitusi yang dimodelkan mirip dengan konstitusi Amerika Serikat. 

Karena Liberia berada di bawah lindungan tak resmi dan memiliki ikatan erat dengan pemerintah Amerika Serikat, negara-negara kolonial Eropa seperti Inggris dan Prancis enggan menyentuh atau mencaplok wilayah Liberia selama pemetaan wilayah Afrika (Scramble for Africa).

Perang Eropa

7. Nepal (Asia Selatan)

Terletak di bentang Pegunungan Himalaya yang megah, Nepal adalah contoh sempurna bagaimana perpaduan benteng alam dan ketangguhan militer bisa menggagalkan ambisi kolonialisme terkuat di dunia: Inggris.

Pada awal abad ke-19, Perusahaan Hindia Timur Britania (British East India Company) yang sedang berkuasa penuh di India mulai melirik wilayah Nepal. Gesekan batas wilayah memicu Perang Inggris-Nepal (Perang Gorkha) pada tahun 1814–1816.

Dilansir dari Britannica, meskipun Inggris memiliki keunggulan jumlah pasukan dan persenjataan modern, mereka dibuat kewalahan setengah mati oleh strategi perang gerilya dan keberanian pasukan Gorkha di medan pegunungan yang sangat curam.

Perang ini berakhir dengan Perjanjian Sugauli pada tahun 1816. Nepal memang harus menyerahkan sebagian kecil wilayah perbatasannya kepada Inggris, namun Inggris secara tegas mengakui kemerdekaan dan kedaulatan mutlak Kekaisaran Nepal. 

Sebagai imbalannya, Inggris terkesan dengan ketangguhan militer lokal dan mulai merekrut prajurit Gurkha ke dalam jajaran tentara Inggris, dan menjadi sebuah tradisi yang bahkan masih berlanjut hingga hari ini.

8. Bhutan (Asia Selatan)

Sama seperti tetangganya Nepal, Bhutan berada di kawasan terisolasi di puncak Pegunungan Himalaya. Kondisi topografi yang dipenuhi bukit terjal dan jurang mendalam membuat Bhutan menjadi salah satu wilayah paling sulit diakses di muka bumi pada masa kolonial.

Dikutip dari World Atlas, Kerajaan Bhutan sempat terlibat bentrokan dengan Inggris dalam Perang Duar (1864–1865) terkait perebutan wilayah dataran rendah. Setelah perang berakhir, kedua belah pihak menandatangani Perjanjian Sinchula. Bhutan menyewakan beberapa wilayah perbatasan kepada Inggris dengan imbalan subsidi tahunan.

Inggris menyadari bahwa menaklukkan wilayah pegunungan Bhutan secara penuh membutuhkan biaya yang sangat mahal dan hampir tidak membawa keuntungan strategis. 

Akhirnya, Inggris memilih untuk menjalin hubungan persahabatan, membiarkan Bhutan mengurus seluruh urusan dalam negerinya sendiri tanpa pernah menempatkan Gubernur Jenderal atau menjajahnya secara politik.

9. Tonga (Samudra Pasifik)

Di kawasan Kepulauan Pasifik (Oseania), di mana sebagian besar pulau-pulau kecil dikuasai oleh Inggris, Prancis, Jerman, dan Amerika Serikat, ada satu kerajaan kepulauan yang sukses mempertahankan kemerdekaannya: Kerajaan Tonga.

Dilansir dari BBC, rahasia keberhasilan Tonga terletak pada kepemimpinan Raja George Tupou I pada abad ke-19. Raja Tupou I melakukan langkah antisipatif yang sangat cerdas. 

Beliau menyatukan pulau-pulau Tonga yang terpecah, mengadopsi agama Kristen, dan menyusun konstitusi tertulis pertama pada tahun 1875 yang menjamin hak-hak kepemilikan tanah bagi rakyat lokal serta melarang penjualan tanah kepada warga asing.

Pada tahun 1900, Tonga memang menandatangani Perjanjian Persahabatan (Treaty of Friendship) dengan Inggris. Berdasarkan perjanjian ini, Tonga menjadi protektorat Inggris, di mana Inggris membantu mengurus urusan luar negeri dan pertahanan Tonga dari ancaman negara Eropa lain. 

Namun, urusan dalam negeri, kedaulatan monarki, dan kebudayaan Tonga tetap dipegang penuh oleh Raja Tonga. Tonga tidak pernah kehilangan kedaulatan nasionalnya dan resmi mengakhiri status protektorat tersebut pada tahun 1970.

10. Tiongkok / China (Asia Timur)

Poin ini sering kali memicu perdebatan di kalangan sejarawan. Apakah Tiongkok pernah dijajah? 

Jawabannya: secara formal, Tiongkok tidak pernah menjadi koloni penuh dari negara mana pun, melainkan mengalami apa yang disebut oleh para sejarawan sebagai semi-kolonialisme.

Dikutip dari Encyclopaedia Britannica, pada abad ke-19, Dinasti Qing mengalami kemunduran drastis akibat kalah dalam Perang Candu melawan Inggris. 

Hal ini memaksa Tiongkok menandatangani serangkaian perjanjian tidak adil (Unequal Treaties) dengan berbagai kekuatan Barat (Inggris, Prancis, Jerman, Rusia) serta Jepang.

Akibat perjanjian tersebut, negara-negara asing menguasai pelabuhan-pelabuhan strategis (seperti Shanghai, Hong Kong, dan Qingdao) dan menikmati hak ekstrateritorialitas. 

Namun, tidak ada satu pun negara asing yang secara penuh menggulingkan pemerintah pusat Tiongkok atau menghapuskan kedaulatan negaranya secara utuh. 

Tiongkok tetap memiliki pemerintahan sendiri, sehingga secara hukum internasional dikategorikan tidak pernah terkolonisasi secara menyeluruh.

Sejarah Lengkap Perang Dunia I

Tabel Rangkuman: Faktor Utama Keberhasilan Negara yang Tidak Pernah Dijajah

Buat memudahkan Grameds memetakan faktor-faktor historisnya, yuk simak tabel ringkasan berikut ini:

Negara Kawasan Faktor Utama Bebas Kolonialisme
Thailand Asia Tenggara Diplomasi cerdik sebagai buffer state & modernisasi internal
Jepang Asia Timur Kebijakan isolasi (Sakoku) diikuti Restorasi Meiji
Ethiopia Afrika Timur Kemenangan militer mutlak dalam Pertempuran Adwa (1896)
Iran Timur Tengah Posisi geopolitik sebagai buffer zone (The Great Game)
Arab Saudi Timur Tengah Medan gurun ekstrem & tidak memiliki nilai ekonomis awal
Liberia Afrika Barat Dilindungi oleh pengaruh dan ikatan historis Amerika Serikat
Nepal Asia Selatan Ketangguhan pasukan Gurkha & medan Pegunungan Himalaya
Bhutan Asia Selatan Topografi pegunungan terisolasi & diplomasi strategis
Tonga Pasifik Pembentukan konstitusi awal & strategi protektorat netral
Tiongkok Asia Timur Ukuran wilayah luas; hanya mengalami status semi-kolonial

Perang Eropa Jilid 2

Benarkah Mereka Bebas dari Pengaruh Barat Sama Sekali?

Sumber: www.klm.co.id

Melihat daftar di atas, mungkin timbul pertanyaan di benak Grameds: Apakah negara-negara tersebut benar-benar bebas 100% dari campur tangan asing?

Jawabannya adalah tidak selalu. Meskipun terbebas dari penjajahan fisik dan politik formal, sebagian besar dari negara-negara ini tetap merasakan tekanan imbal balik dari imperialisme Barat.

Sebagai contoh:

  • Thailand harus merelakan sebagian wilayah klaimnya di Laos dan Kamboja kepada Prancis demi menyelamatkan wilayah inti Siam.
  • Tiongkok menderita kerugian ekonomi besar-besaran dan kehilangan kedaulatan di kota-kota pelabuhan utamanya.
  • Iran sumber daya minyaknya dikontrol ketat oleh konsorsium Inggris dan Rusia selama berpuluh-puluh tahun.

Artinya, diplomasi dan bertahan hidup di era kolonial selalu membutuhkan kompromi yang tidak mudah. Namun, keberhasilan mereka untuk tetap memegang kendali atas konstitusi, bendera, dan pemerintahannya sendiri adalah pencapaian sejarah yang luar biasa.

Apa Pelajaran Penting yang Bisa Kita Ambil?

Mempelajari sejarah negara yang tidak pernah dijajah memberi kita perspektif baru tentang betapa berharganya arti sebuah kedaulatan. 

Bagi bangsa Indonesia yang harus bertaruh darah dan air mata selama ratusan tahun buat meraih kemerdekaan, kita bisa melihat bahwa perjuangan mempertahankan diri dari dominasi asing memiliki banyak wujud.

Ada bangsa yang berjuang lewat pertumpahan darah di medan perang seperti Ethiopia dan Nepal, ada yang berjuang lewat pemikiran dan perundingan diplomasi yang cerdik seperti Thailand, dan ada pula yang memilih memodernisasi diri secara ekstrem seperti Jepang.

Semua kisah ini membuktikan satu hal: pengetahuan, kesadaran geopolitik, dan persatuan nasional adalah kunci utama kekuatan sebuah bangsa.

Penasaran ingin mendalami kisah-kisah geopolitik, perang kolonial, dan dinamika sejarah dunia dengan lebih detail? Temukan buku sejarah berkualitas di Gramedia.com

Membaca buku adalah cara terbaik buat memperluas wawasan sejarah kamu, Grameds!

 

Penulis: Widya

 

About the author

Dzikri Nurul Hakim

Gramedia Literasi