Sejarah

Teori Brahmana dan Penemu Teori Brahmana

Written by Restu

Teori Brahmana – Keanekaragaman budaya di Indonesia sudah dikenal oleh banyak orang, baik itu yang berasal dari dalam negeri atau luar negeri. Selain itu, keanekaragaman budaya Indonesia ada juga yang merupakan akulturasi dari budaya negara lain, salah satunya India. Kurang lebih pada abad ke-4 masehi, kebudayaan India mulai masuk ke Indonesia. Dengan masuknya budaya India ini menjadi tanda bahwa zaman pra-sejarah Indonesia mulai berakhir dan berubah menjadi zaman sejarah.

Masuknya budaya India ini membawa banyak sekali hal-hal yang baru, sehingga masyarakat Indonesia perlu untuk memahami budaya-budaya India ini. Hal-hal baru yang dibawa dari kebudayaan India, seperti agama, bangunan, adat istiadat, dan lain-lain. Maka dari itu, di Indonesia banyak sekali peninggalan-peninggalan bersejarah yang hampir ada di setiap pulau. Adanya peninggalan-peninggalan tersebut merupakan bukti bahwa kebudayaan India yang bercorak agama Hindu Buddha memang pernah hadir Indonesia.

Berkat masuknya budaya India pada kala itu membuat Indonesia memiliki benda-benda bersejarah yang hingga saat ini beberapa peninggalan itu masih bisa kita lihat dan rasakan. Bahkan, beberapa peninggalan tersebut sudah ada yang diakui oleh dunia., sehingga bangsa dan negara Indonesia patut bangga akan pengakuan itu.

Namun, hingga saat ini belum ada yang mengetahui dengan pasti bagaimana kebudayaan India bisa masuk ke Indonesia. Oleh sebab itu, ada beberapa teori yang mengatakan tentang masuknya budaya Hindu Buddha ke Indonesia. Salah satu teori itu adalah teori Brahmana yang dicetuskan oleh J.C. Van Leur.

Di bawah ini akan dijelaskan lebih lanjut tentang pengertian teori Brahmana, hingga kelebihan dan kekurangan dari teori Brahmana. Grameds, simak artikel tentang teori Brahmana ini sampai habis ya.

Kasta Brahmana

Pada saat masuknya budaya India ke Indonesia, seseorang akan dilihat atau dipandang berdasarkan kasta yang yang dimilikinya. Kasta bisa dibilang sebagai suatu “pangkat” yang dimiliki seseorang di lingkungan masyarakat atau di daerah orang tersebut tinggal. Semakin tinggi kasta yang dimiliki, maka semakin banyak orang yang akan memandang orang tersebut.

Di dalam agama Hindu, kasta tertinggi dikenal dengan istilah Brahmana. Kasta Brahmana berisi orang-orang yang mengerti dan memahami ajaran agama Hindu serta mampu menyebarkan kepada orang banyak. Seseorang dengan yang sudah termasuk kategori Brahmana ini akan dipandang oleh banyak orang terutama orang-orang yang ada di suatu kerajaan atau lembaga pemerintahan.

Kemampuan membaca sebuah ajaran agama Hindu Buddha yang ditulis dengan bahasa Sansekerta dan aksara Pallawa tak perlu diragukan lagi. Bahkan, pada kala itu, bisa dikatakan bahwa yang bisa membaca ajaran agama Hindu Buddha hanya seseorang dengan kasta Brahmana. Maka dari itu, seseorang dengan kasta Brahmana dipercaya untuk memimpin suatu acara adat yang berkaitan dengan ajaran agama Hindu Buddha.

Kasta Brahmana ini bisa dikatakan sebagai kasta yang cukup krusial karena tanpa adanya kasta ini akan ada banyak orang yang tidak mengerti ajaran agama Hindu Buddha. Jika hal seperti itu terjadi, maka penyebaran agama Hindu Buddha tidak akan berjalan dengan lancar. Selain itu, seseorang dengan kasta yang lebih rendah akan kesulitan untuk belajar ajaran agama Hindu atau Buddha, sehingga ia tidak bisa memperoleh kasta yang lebih tinggi.

Meskipun bisa membaca ajaran agama Hindu Buddha bukan berarti seseorang dengan kasta tertinggi ini sombong kepada orang lain. Jika banyak orang dengan kasta Brahmana mulai menyombongkan diri, maka kesan baik terhadap kasta Brahmana akan luntur atau hilang.

beli sekarangPengertian Teori Brahmana

Brahmana dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti kasta pendeta agama Hindu atau kasta tertinggi dalam agama Hindu atau orang yang masuk golongan pendeta dalam agama Hindu. Berdasarkan KBBI, kaum Brahmana termasuk orang-orang yang memiliki kemampuan cukuo cerdas karena mampu membaca ajaran agama Hindu, menyebarkan ajaran agama Hindu, Menjelaskan kepada orang-orang, baik itu penguasa atau rakyat jelata tentang adab dan adat istiadata agama Hindu. Oleh sebab itu, seseorang yang memilki kasta Brahmana akan dipandang lebih tinggi oleh kebanyakan orang pada masa itu.

Teori Brahmana ini adalah teori seputar masuknya agama dan kebudayaan Hindu Buddha ke Indonesia. Berdasarkan teori ini, agama dan kebudayaan Hindu Buddha masuk melalui orang-orang yang memiliki kasta Brahmana. Pada zaman dulu, datangnya mereka ke Indonesia karena mendapatkan undangan dari para penguasa Indonesia. Teori Brahmana ini dicetuskan oleh seseorang peneliti sejarah yang bernama Jacob Cornelis Van Leur. Ia lebih dikenal dengan nama J.C. Van Leur.

J.C. Van Leur menggunakan prasasti-prasasti yang menjadi peninggalan-peninggalan kerajaan-kerajaan Hindu Buddha sebagai landasan atau dasar dari terciptanya teori Brahmana. Kemampuan beliau dalam membaca bahasa Sanskerta dan aksara Pallawa sangat hebat, sehingga mampu mengungkapkan fakta tentang masuknya agama dan kebudayaan Hindu Buddha. Padahal J.C. Van Leur bukanlah seseorang yang berasal dari India atau memiliki keturunan India.

Teori ini semakin diperkuat dengan adanya ajaran agama Hindu yang mengatakan bahwa ajaran agama Hindu hanya boleh dipelajari dan dipahami oleh orang-orang yang berkasta  Brahmana. Bahkan, dari ajaran agama Hindu juga mengatakan bahwa yang berhak menyebarluaskan ajaran agama Hindu harus orang yang memiliki kasta Brahmana. Hal ini dikarenakan golongan Brahmana mampu membaca ajaran agama Hindu yang menggunakan bahasa Sanskerta dan aksara Pallawa.

Dalam agama Hindu golongan Brahmana ini bisa dikatakan sebagai golongan yang memiliki andil atau sangat berperan dalam penyebaran agama Hindu, baik di negara lahirnya agama Hindu (India) atau di negara-negara lain, seperti Indonesia.

Pada zaman dahulu, para Brahmana yang berasal dari India didatangkan langsung oleh kepala suku atau raja untuk melaksanakan atau menggelar upacara Vraytastoma. Vratyastoma adalah upacara yang diselenggarakan dengan tujuan untuk “menghindukan” seseorang.

Maka dari itu, saat Nusantara (Indonesia) masih berisi kerajaan-kerajaan Hindu Budha, para raja memanggil Brahmana untuk mengajarkan sekaligus menyebarkan ajaran agama Hindu Buddha di tanah Nusantara. Bukan hanya mengajarkan dan menyebarkan ajaran agama Hindu Buddha saja, tetapi golongan Brahmana diberikan kepercayaan untuk menyelenggarakan upacara penobatan raja yang dikenal dengan istilah abhiseka.

Pada zaman dahulu, para Brahmana bukan hanya diberikan kepercayaan untuk mengajarkan dan menyebarkan agama Hindu Buddha saja, tetapi mereka juga diberikan kepercayaan sebagai penasehat kerajaan. Dalam hal ini, penasehat kerajaan itu, seperti dalam bidang pemerintahan, bidang perundang-undangan, peradilan, dan lain-lain.

beli sekarangTokoh Teori Brahmana

Teori Brahmana yang merupakan teori masuknya agama dan kebudayaan Hindu Buddha ke Indonesia ini diecetuskan oleh seseorang yang ahli dalam bidang sejarah dan ia bernama Jacob Cornelis Van Leur. Beliau bisa dikatakan sebagai seseorang yang cukup aktif dalam membuat karya tulis yang berisi tentang sejarah.

gramedia digital

gramedia digital

Berlangganan Gramedia Digital

Baca SEMUA koleksi buku, novel terbaru, majalah dan koran yang ada di Gramedia Digital SEPUASNYA. Konten dapat diakses melalui 2 perangkat yang berbeda.

Rp. 89.000 / Bulan

gramedia digital

Bahkan, ia mampu menulis karya tulis yang cukup fenomenal dan sudah diterbitkan ke dalam bentuk media cetak dan majalah (pada saat itu). Karya tulis yang ditulisnya sudah mencapai puluhan, bahkan mendekati 50 artikel. Dalam kurun waktu 13 tahun, beliau sudah mampu menulis artikel sejarah sebanyak 44 artikel.

Jacob Cornelis Van Leur namanya sering dikenal dengan sebutan J.C. Van Leur. Pada tahun 1908, ia lahir di Utrecht, Belanda, sehingga ia juga dikenal sebagai sejarawan asal negeri kincir angin, Belanda. Kecerdasan yang dimiliki oleh J.C. Van Leur bukan hanya dalam bentuk artikel, tetapi ia mampu menyelesaikan studinya di Universitas Leiden, Belanda dengan membuat desertasi dengan judul Eenige Beschouwingen Betreffende den ouden Aziatischen Handel. Disertasi yang ditulis pada tahun 1934 ini sangat dikenal oleh kalangan sejarawan dan sering dijadikan sebagai acuan atau landasan penelitian perdagangan pada zaman dahulu.

Setelah kelulusannya dari Universitas Leiden di Belanda, Jacob Cornelis Van Leur atau J.C. Van Leur datang ke Indonesia dengan membawa ilmu-ilmu yang dimilikinya. Saat pertama kali datang ke Indonesia, beliau mendapatkan pekerjaan sebagai kontrolir di Tulungagung, Jawa Timur. Setelah selesai bertugas sebagai kontroler, ia bekerja sebagai pejabat di Algemeene Secretarie yang letaknya ada di Bogor. Hingga akhirnya J.C. Van Leur diangkat menjadi seorang perwira Angkatan Laut Belanda.

Kembali lagi ke dalam karya tulis J.C. Van Leur. Hampir semua karya tulis yang pernah dibuatnya banyak dipengaruhi dengan pemikiran ahli sosilogi yang berasal dari Jerman yang bernama Max Weber. Oleh sebab itu, hampir semua karya tulisnya menggunakan pendekatan sosiologi Max Weber. Beliau juga mengungkapkan bahwa dalam penulisan sejarah Indonesia perlu menggunakan sudut pandang dari bangsa Indonesia itu sendiri dan ia juga mengatakan bahwa dalam membuat karya tulis sejarah Indonesia harus menggunakan penelitian lapangan.

Berkat hasil pemikiran J.C. Van Leur tersebut, penulisan sejarah Indonesia (pada saat itu) menjadi memiliki sudut pandang baru. Dari sudut pandang baru itulah melahirkan sebuah istilah historiografi Indonesiasentris. Dalam sudut pandang baru yang diungkapkan oleh J.C. Van Leur ini dapat diartikan bahwa dalam menulis sejarah Indonesia bukan hanya berdasarkan dari sudut pandang Belanda atau golongan kolonial saja, penulis sejarah Indonesia harus melihat dari sudut pandang bangsa dan negara Indonesia.

Pemikiran tentang sudut pandang baru dalam penulisan sejarah Indonesia yang dipelopori oleh J.C. Van Leur muncul karena ia mengkritik tentang penulisan sejarah perdagangan yang dilakukan di Nusantara hanya berdasarkan dari sudut pandang Belanda atau kaum kolonial saja. Semua kumpulan tulisan yang berisi tentang kritikan-kritikan itu dimuat dalam sebuah buku dengan judul Indonesian Trade and Society: Essays in Asians and Economic History. Dari buku J.C. Van Leur, kita dapat melihat semua tentang pelayaran dan perdagangan yang dilakukan oleh masyarakat lokal selama VOC berkuasa.

Kumpulan esai itu dibukukan setelah ia meninggal dunia dalam pada usia 34 tahun. J.C. Van Leur meninggal dunia pada tahun 1942 saat melakukan peperangan dengan Jepang di Laut Jawa, kapal yang ditumpanginya ditembak dan ditenggelamkan oleh tentara Jepang.

banner-promo-gramedia-ilana-tan

Meskipun J.C. Van Leur sudah meninggal dunia, tetapi semua karya tulisnya masih akan terus dikenang, bahkan tak sedikit juga yang menjadikan karya tulis J.C. Van Leur sebagai landasan atau dasar untuk menulis sebuah sejarah Indonesia terutama sejarah perdagangan Indonesia pada saat VOC berkuasa.

Beli Buku di GramediaPendukung Teori Brahmana

Teori yang dibuat oleh J.C. Van Leur didukung oleh seorang ahli sejarah sekaligus arkeolog yang bernama Frederik David Kan Bosch atau sering disapa dengan nama F.D.K. Bosch. F.D.K. Bosch sangat setuju dan mendukung teori Brahmana yang dibuat oleh J.C. Van Leur karena Bosch juga beranggapan bahwa kaum Brahmana diundang untuk datang ke Nusantara oleh para penguasa atau para raja. Bahkan, para Brahmana yang datang ke Nusantara disambut baik oleh para penguasa atau raja.

Sambutan itu dibuktikan dengan pemberian sebuah kedudukan atau jabatan bagi para Brahmana di keraton-keraton atau kerajaan-kerajaan, seperti purohita atau penasihat sang raja. Pemberian jabatan itu bukan tanpa alasan karena para Brahmana memiliki kemampuan dalam membaca ajaran agama Hindu Buddha yang di mana akaran itu ditulis menggunakan bahasa Sanskerta dan aksara Pallawa.

Frederik David Kan Bosch juga beranggapan bahwa golongan Brahmana ini bisa sampai ke pulau-pulau Nusantara karena sudah melewati jalur laut. Dengan kata lain, para Brahmana menggunakan kapal-kapal dagang agar sampai ke tanah Nusantara.

Faktor Penguat Teori Brahmana

Teori Brahmana ini memiliki beberapa faktor penguat, di antaranya:

1. Kaum Brahmana

Kaum Brahmana merupakan tingkatan tertinggi dalam kasta agama Hindu. Seseorang yang sudah menjadi kaum Brahmana berarti sudah mampu mempelajari ajaran agama Hindu. Bukan hanya mempelajari ajaran agama Hindu, tetapi kaum Brahmana sudah dapat mengartikan ajaran-ajaran agama Hindu yang ada di dalam kitab weda.

Dengan kemampuan yang dimiliki oleh kaum Brahmana itu menguatkan bahwa teori Brahmana benar adanya. Hal ini dikarenakan berkat kemampuannya, para Brahmana dipercaya oleh para raja (zaman dahulu) untuk menyebarkan ajaran agama Hindu dan dijadikan sebagai penasehat kerajaan.

2. Prasasti-Prasasti Peninggalan Kerajaan

Kebenaran dari teori Brahmana ini semakin kuat kebenarannya karena semua fakta-fakta yang ada di teori ini diambil dari prasasti-prasasti peninggalan kerajaan. Prasasti-prasasti bekas peninggalan kerajaan bisa dikatakan sebagai catatan yang ditulis oleh anggota kerajaan pada saat itu, sehingga kebenarannya bisa dipertanggungjawabkan. Terlebih lagi, hampir semua prasasti ditulis menggunakan bahasa Sanskerta atau aksara Pallawa yang di mana semua tulisan itu digunakan pada zaman kerajaan.

Beli Buku di GramediaFaktor yang Melemahkan Teori Brahmana

Selain memiliki faktor penguat, teori Brahmana juga memiliki faktor yang dapat melemahkan, yaitu:

1. Larangan Menyeberangi Lautan

Teori Brahmana menjadi lemah karena di agama Hindu ada sebuah aturan yang melarang kaum Brahmana untuk menyeberangi lautan. Seseorang yang sudah mendapatkan kasta Brahmana jika melanggar aturan tersebut, maka orang tersebut akan kehilangan kasta Brahmana. Jika kasta Brahmana sudah tidak melekat pada diri seseorang, maka orang tersebut hanya menjadi rakyat biasa.

2. Bahasa Sanskerta dan Aksara Pallawa

Sementara Bahasa Sanskerta dan aksara Pallawa yang ada di dalam kitab weda merupakan faktor yang dapat melemahkan teori Brahmana. Hal ini dikarenakan bahasa dan aksara tersebut tidak dapat dibaca oleh para raja, sehingga untuk memahami makna dari bahasa dan aksara tersebut memerlukan kemampuan Brahmana.

Kesimpulan

Dengan teori Brahmana ini kita bisa mengetahui bahwa masuknya Hindu Buddha bisa terjadi karena ada kaum Brahmana yang dipanggil oleh kerajaan untuk mengajarkan atau menyebarkan ajaran agama Hindu Buddha. Kaum Brahmana ini merupakan orang-orang yang cukup dipandang dalam lingkungan masyarakat terutama dalam kerajaan (pada saat itu).

Pencetus dari teori Brahmana merupakan seorang sejarawan yang sangat dikenal dengan kemampuannya dalam membuat karya tulis dan ia sering dikenal dengan nama J.C. Van Leur. Berkat kemampuannya dalam menulis, ia membuat pemikiran baru tentang penulisan sejarah Indonesia bukan hanya menggunakan sudut pandang Belanda, tetapi yang harus menggunakan sudut pandang bangsa Indonesia atau masyarakat lokal.

Beli Buku di GramediaSumber: Dari berbagai macam sumber

Layanan Perpustakaan Digital B2B Dari Gramedia

ePerpus adalah layanan perpustakaan digital masa kini yang mengusung konsep B2B. Kami hadir untuk memudahkan dalam mengelola perpustakaan digital Anda. Klien B2B Perpustakaan digital kami meliputi sekolah, universitas, korporat, sampai tempat ibadah.

logo eperpus

  • Custom log
  • Akses ke ribuan buku dari penerbit berkualitas
  • Kemudahan dalam mengakses dan mengontrol perpustakaan Anda
  • Tersedia dalam platform Android dan IOS
  • Tersedia fitur admin dashboard untuk melihat laporan analisis
  • Laporan statistik lengkap
  • Aplikasi aman, praktis, dan efisien