Biologi

Pengertian Dinamika Populasi dan Faktor Dinamika Populasi

Written by Nandy

Dinamika populasi – Setiap spesies yang ada di bumi pasti memiliki habitat atau sebuah tempat untuk bertahan hidup. Habitat itu sendiri dapat dikatakan sebagai tempat tinggal makhluk hidup bagi tumbuhan atau hewan. Maka dari itu, habitat tidak hanya ditinggali oleh satu spesies saja, tetapi ada banyak sekali spesies yang tinggal dalam satu habitat. Banyaknya spesies yang tinggal dalam satu habitat karena untuk menunjang rantai makanan, sehingga setiap spesies dapat bertahan hidup dengan semestinya.

Berbicara tentang hewan memang tidak akan pernah habis, selalu ada hal yang bisa dibicarakan. Banyaknya spesies hewan dalam satu habitat sudah bukan hal asing lagi, mulai dari hewan yang berada paling rendah di rantai makanan dan hewan paling tinggi di rantai makanan. Oleh sebab itu, akan selalu ada hewan yang mati di dalam suatu habitat. Dengan adanya hewan yang mati dan bertahan hidup, maka pertumbuhan spesies hewan akan selalu mengalami perubahan.

Selain itu, dalam suatu habitat hewan yang mati bukan hanya dimangsa oleh para predator, tetapi ada juga hewan yang mati karena perebutan suatu wilayah dan hal seperti ini dikenal sebagai kompetisi yang terjadi pada hewan. Pada habitat aslinya kompetisi yang terjadi pada hewan merupakan hal yang wajar, sehingga tak perlu ada yang dicemaskan.

Adanya perubahan atau pertumbuhan pada spesies pada hewan dapat disebut juga dengan istilah dinamika populasi hewan. Terjadinya dinamika populasi hewan bukan hanya disebabkan karena kematian dan kehidupan spesies hewan, baik itu yang secara alami (predator dan hewan yang dimangsa) atau dari kompetisi.

Grameds, ingin tahu lebih lanjut tentang pengertian dinamika populasi hewan dan penyebab-penyebab terjadinya? Artikel ini akan membahas pengertian dinamika populasi hingga penyebab-penyebab terjadinya dinamika populasi.

Pengertian Dinamika Populasi

Dinamika populasi tidak bisa dilepaskan dari ilmu ekologi. Ilmu ekologi adalah cabang ilmu yang membahas atau mempelajari tentang makhluk hidup dapat bertahan hidup di habitatnya dengan cara melakukan hubungan dengan makhluk hidup lainnya serta benda yang tidak hidup yang ada di lingkungannya.

Pada masa itu, ilmu ekologi berkembang sangat cepat bila dibandingkan dengan dinamika populasi. Perkembangan ilmu ekologi ini dikembangkan ke dalam bidang-bidang lain, seperti bidang botani dan bidang zoologi. Berkembangnya ilmu ekologi diawali dengan mempelajari geografi tumbuhan yang dapat tumbuh dan berkembang menjadi satu komunitas tumbuhan, sehingga menghasilkan ekologi tumbuhan.

Munculnya ekologi tumbuhan membuat para ilmuwan mulai mengembangkan studinya dengan membahas atau mempelajari dinamika populasi atau ekologi populasi. Seiring berjalannya waktu, ilmu dinamika populasi ini mengalami perkembangan. Para ahli yang mengembangakn teori dinamika populasi ini, seperti Lotka (1925) dan Volterra (1926). Kedua ahli tersebut mengembangkan dinamika sosial menggunakan pendekatan secara eksperimen.

Bukan hanya dua ahli itu saja, pada tahun 1940-an hingga 1950-an ada dua tokoh lagi yang mengembangkan dinamika populasi ini dengan konsep-konsep tingkah laku yang sifatnya intrinsik dan agresif.

Berdasarkan dari perkembangan yang sudah terjadi pada dinamika populasi, maka dinamika populasi dibagi menjadi dua kata, dinamika adalah suatu pertumbuhan atau penurunan yang terjadi pada suatu makhluk hidup. Sedangkan populasi adalah sekelompok spesies yang hidup dan berkembang serta tinggal di suatu habitat dengan menggunakan sumber daya alam di habitat itu untuk bertahan hidup.

Jadi, dinamika populasi adalah naik dan turunnya jumlah spesies yang terjadi pada suatu habitat yang disebabkan oleh berbagai macam hal, mulai dari persaingan antar jenis, pemangsaan, hingga kondisi alam yang berubah.

Penyebab Dinamika Populasi Pada Hewan

Dinamika populasi pada hewan tidak terjadi begitu saja, tetapi ada penyebab-penyebab yang membuat dinamika populasi terjadi. Di bawah ini akan dijelaskan tentang penyebab-penyebab dinamika populasi pada hewan.

1. Interaksi Predasi

Setiap kehidupan yang dijalani oleh makhluk hidup pasti akan selalu ada yang namanya interaksi. Salah satu interaksi yang terjadi pada suatu ekosistem hewan adalah interaksi predasi. Interaksi predasi adalah interaksi yang terjadi pada hewan predator atau pemangsa dengan prey atau hewan yang dimangsa. Adanya interaksi ini menunjukkan bahwa hewan pemangsa berada di atas hewan yang dimangsa dalam suatu rantai makanan yang terjadi pada satu ekosistem.

Pemangsa atau predator adalah hewan yang akan memangsa buruannya untuk bertahan hidup. Dengan kata lain, keberlangsungan hidup pemangsa sangat bergantung dengan kehadiran mangsa tau buruannya. Jika mangsa sudah tidak ada lagi dalam suatu ekosistem, maka pemangsa atau predator perlahan-lahan tidak akan mampu bertahan hidup dan mengalami kepunahan.

Mangsa atau prey adalah hewan yang dimangsa oleh pemangsa. Mangsa juga dapat diartikan sebagai sumber bahan makanan untuk hewan pemangsa. Mangsa dapat bertahan hidup dengan memakan makanan yang ada di habitatnya. Jika tidak ada pemangsa yang memakan mangsa, maka secara berkala populasi mangsa akan terus bertambah.

2. Interaksi Kompetisi

Jika interaksi predasi berkaitan dengan pemangsa dan mangsa, maka lain halnya dengan interkasi kompetisis. Interaksi kompetisi adalah interaksi yang terjadi pada hewan dengan spesies yang sama atau dengan spesies yang berbeda untuk merebutkan sesuatu, seperti pasangan atau kekasih, wilayah, kepemimpinan, dan sebagainya.

Pada interaksi ini, hewan akan saling beradu kekuatan satu sama lain, hingga memunculkan pemenang. Pemenang akan mendapatkan atau memperoleh suatu hal yang sudah diperebutkan dan hewan yang mengalami kekalahan akan terluka serta perlahan-lahan akan mengalami kematian. Kematian hewan atas pertarungan tadi menandakan bahwa terjadi pengurangan spesies walaupun tidak begitu signifikan.

Interaksi kompetisi ini dapat dikatakan sebagai sebuah ajang untuk menunjukkan atau memperlihatkan kekuatan dan siapa yang lebih layak untuk mendapatkan suatu hal yang diperebutkan. Jika yang kalah akan mengalami luka dan kematian, maka pemenang dari pertarungan itu akan disegani oleh para hewan, baik dari spesies yang sama atau beda.

Interaksi kompetisi dibagi menjadi dua yaitu interaksi kompetisi intraspesifik dan interaksi kompetisi interspesifik. Kompetisi intraspesifik adalah kompetisi yang terjadi pada individu-individu dengan spesies yang sama. Sedangkan kompetisi interspesifik adalah kompetisi yang terjadi pada individu-individu dengan spesies yang berbeda.

beli sekarang

3. Bencana Alam

Di bumi pasti terjadi yang namanya bencana alam. Terjadinya bencana alam tidak bisa diprediksi, mulai dari gempa bumi, gunung meletus, tsunami, dan banjir. Semua bencana itu akan memengaruhi dinamika populasi pada hewan. Hal ini disebabkan karena habitat hewan yang terkena dampak bencana alam akan mengalami kerusakan, sehingga membutuhkan waktu yang cukup lama untuk pulih seperti semula.

Dalam proses pemulihan itulah ada hewan yang mampu bertahan hidup dan ada juga yang harus mati karena tidak mampu bertahan hidup. Adanya kematian pada spesies hewan itulah yang menunjukkan terjadinya dinamika populasi. Hewan yang tidak mampu bertahan hidup bisa disebabkan karena tidak adanya sumber makanan atau mati karena terkena dampak bencana alam.

Misalnya, bencana alam gunung meletus, banyaknya tumbuhan yang terbakar akan mengakibatkan para hewan kelaparan karena kesulitan mencari makan. Bukan hanya itu, ada beberapa hewan yang mati karena ikut terbakar saat kebakaran hutan terjadi. Adanya kematian hewan pada bencana alam membuat spesies hewan mengalami kekurangan yang bisa mengganggu suatu ekosistem.

4. Aktivitas Manusia

Rusaknya habitat hewan bukan hanya disebabkan karena bencana alam, tetapi bisa juga disebabkan karena aktivitas manusia. Tak bisa dipungkiri bahwa zaman yang semakin berkembang malah membuat suatu habitat hewan menjadi rusak. Rusaknya habitat ini bisa membuat hewan mencari makanan hingga lingkungan manusia. Manusia yang merasa terganggu akan kedatangan hewan-hewan yang dapat merugikan dirinya, maka berusaha untuk mengusir hewan-hewan itu.

Rusaknya habitat yang disebabkan karena aktivitas manusia sudah banyak sekali terjadi. Contohnya bisa kita lihat pada pencemaran air laut karena banyaknya sampah plastik atau non-plastik. Sampah-sampah itu ada yang masih mengapung di permukaan air laut dan ada yang sudah tenggelam ke bawah laut.

Bukan hanya habitat laut saja yang rusak karena ulah manusia, tetapi kebakaran hutan bisa dikatakan sebagai rusaknya habitat hewan yang disebabkan karena manusia juga. Kebakaran hutan ini bisa disebabkan secara langsung atau tidak langsung. Kebakaran hutan secara tidak langsung berupa pemanasan global, sehingga iklim mengalami kerusakan. Rusaknya iklim bisa memunculkan musim kemarau yang sangat lama, dari musim kemarau itulah kemungkinan besar kebakaran hutan terjadi.

Rusaknya habitat hewan yang disebabkan karena aktivitas manusia bisa menyebabkan ekosistem pada hewan menjadi rusak, sehingga hewan akan sulit untuk bertahan hidup karena tidak bisa mencari makanan.  Berkurangnya hewan di suatu habitat akan memunculkan suatu dinamika populasi hewan. Jika dinamika populasi menunjukkan bahwa spesies hewan mengalami penurunan jumlah yang sangat signifikan, maka spesies hewan tersebut diambang kepunahan.

beli sekarangEkosistem

Dalam dinamika populasi yang terjadi pada hewan tidak bisa dilepaskan dari suatu ekosistem. Ekosistem dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti keanekaragaman suatu komunitas dan lingkungannya yang berfungsi sebagai suatu satuan ekologi alam. Dengan kata lain, ekosistem merupakan suatu kesatuan lingkungan hidup dan makhluk hidup yang saling memberikan pengaruh.

Sedangkan dalam Undang-Undang Lingkungan Hidup Nomor 23 Tahun 1997, ekosistem adalah tatanan unsur lingkungan hidup yang merupakan kesatuan utuh menyeluruh dan saling mempengaruhi dalam membentuk keseimbangan, stabilitas, dan produktivitas lingkungan hidup.

Ekosistem itu sendiri memiliki dua komponen pembentuk, yaitu biotik dan abiotik. Komponen biotik adalah komponen-komponen ekosistem yang terdiri dari makhluk hidup, seperti tumbuhan, hewan, dan manusia. Sedangkan komponen abiotik adalah komponen-komponen yang terdiri dari sesuatu yang tidak hidup, seperti udara, air, tanah, suhu, kelembapan, cahaya matahari, mineral, tingkat keasaman, dan topografi.

Dengan adanya ekosistem, maka setiap hewan bisa mendapatkan makanan, baik yang berasal dari manusia atau dari alam itu sendiri. Ekosistem yang baik menunjukkan bahwa hubungan hewan dengan manusia dan lingkungannya tidak bermasalah, sehingga hewan mampu bertahan hidup dengan semestinya. Semakin banyak spesies hewan yang mampu bertahan hidup, maka semakin kecil spesies hewan mengalami kepunahan.

Habitat

Habitat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah tempat hidup organisme tertentu atau tempat hidup yang alami (bagi tumbuhan dan hewan) atau lingkungan kehidupan asli. Berdasarkan KBBI, maka dinamika populasi hewan akan selalu berkaitan dengan habitat dari hewan itu sendiri. Untuk mempertahankan hidupnya, maka hewan harus mampu beradaptasi dengan habitat atau lingkungannya, baik itu cuaca, kelembapan, hingga iklim. Jika tidak mampu beradaptasi dengan habitatnya, maka spesies hewan tersebut akan mengalami kematian.

Habitat bukan hanya sebagai tempat untuk bertahan hidup, tetapi habitat juga merupakan tempat untuk para hewan berkembang biak. Hewan yang berkembang biak, maka akan menghasilkan keturunan yang baik juga, sehingga populasi dari spesies hewan tersebut terjaga. Terjaganya populasi hewan, maka rantai makanan pada satu ekosistem tetap terjaga. Untuk menjaga keturunan, maka pejantan dan betina harus menjaga dan melindungi anak-anaknya dari pemangsa hingga tumbuh dewasa.

Jika habitat dari hewan-hewan sudah mulai mengalami kerusakan, maka hewan-hewan tersebut harus tinggal di mana? Oleh sebab itu, sudah seharusnya bagi setiap manusia untuk berusaha menjaga habitat yang ditinggali oleh para hewan.

beli sekarangKomponen Habitat

Berdasarkan National Geographic, komponen-komponen habitat terbagi menjadi empat, yaitu ruang, makanan, air, dan tempat berlindung.

1. Ruang

Suatu habitat yang ditinggali oleh makhluk hidup harus memiliki ruang agar setiap makhluk hidup yang tinggal dapat berkembang biak dan mencari makan dengan baik. Jika habitat tidak memiliki ruang, maka hewan-hewan yang hidup di habitat tersebut akan kesulitan untuk berkembang biak dan mencari makan. Hal ini bisa menyebabkan populasi spesies hewan mengalami pengurangan yang cukup cepat.

Setiap hewan membutuhkan ruang yang berbeda-beda tergantung dari kebutuhan setiap spesies. Misalnya saja, ruang yang dibutuhkan oleh seekor semut berbeda dengan ruang yang dibutuhkan oleh seekor singa. Semut yang hanya membutuhkan beberapa sentimeter saja untuk menciptakan ruang. Ruang yang dibuat oleh semut berfungsi untuk menyimpan makanan, sehingga para semut dapat bertahan hidup.

Sedangkan, singa membutuhkan ruang yang lebih luas agar dapat memangsa mangsanya dengan mudah. Selain itu, singa juga membutuhkan ruang yang cukup luas untuk mencari dan mendapatkan sang betina.

2. Makanan

Setiap hewan tidak akan mampu bertahan hidup tanpa adanya makanan. Dengan makanan, maka energi yang dimiliki oleh hewan terkumpul kembali, sehingga terhindar dari kematian. Ketersediaan makanan pada suatu habitat harus dipastikan cukup, jika tidak cukup tidak menutup kemungkinan sesama spesies akan saling memangsa. Akan tetapi, ketersediaan makanan yang terlalu banyak juga tidak bagi suatu habitat, sehingga bisa menyebabkan rusaknya suatu ekosistem.

Misalnya, tumbuhan algae yang terlalu banyak akan menyebabkan kandungan nitrogen di dalam air melebihi batasnya, sehingga oksigen yang diserap oleh algae menjadi berlebihan. Hal seperti ini bisa mengurangi oksigen di dalam air, sehingga makhluk air lainnya terganggu.

3. Air

Semua makhluk hidup pasti memerlukan air tak terkecuali hewan. Dengan adanya air, maka hewan tidak akan mengalami yang namanya dehidrasi. Dehidrasi ini bisa menyebabkan kematian pada hewan. Setiap makhluk hidup membutuhkan air dalam jumlah yang berbeda. Selain itu, kandungan air dalam suatu habitat juga berbeda-beda juga.

Contohnya saja, kebutuhan air makhluk hidup yang hidup di perairan berbeda dengan kebutuhan air makhluk hidup yang hidup di daratan.

beli sekarang4. Tempat Berlindung

Habitat harus bisa dijadikan sebagai tempat berlindung bagi hewan. Dalam hal ini, tempat berlindung yang dimaksud adalah terlindung dari hewan pemangsa dan tempat berlindung dari cuaca. Tempat berlindung ini biasanya berupa pohon-pohon yang besar dan rerumputan. Selain itu, ada sebagian hewan yang berlindung di bawah tanah.

Kesimpulan

Dinamika populasi hewan sangat dipengaruhi dengan aktivitas manusia dan spesies hewan itu sendiri. Aktivitas manusia bisa memberikan dampak positif atau dampak negatif terhadap dinamika populasi. Sedangkan spesies hewan bisa memengaruhi dinamika populasi dengan cara melakukan interaksi predasi atau interaksi kompetisi. Jika kita ingin melihat populasi hewan lebih lama, maka kita sebagai manusia harus menjaga habitat dan ekosistemnya.

beli sekarangSumber: Dari berbagai macam sumber

Penulis: Restu Nasik Kamaluddin

About the author

Nandy

Perkenalkan saya Nandy dan saya memiliki ketertarikan dalam dunia menulis. Saya juga suka membaca buku, sehingga beberapa buku yang pernah saya baca akan direview.

Kontak media sosial Linkedin saya