Bahasa Jawa

5 Contoh Peribahasa Jawa Terpopuler Disertai Makna dan Penjelasannya

Kumpulan Peribahasa Jawa dan Maknanya
Written by Fandy

Contoh Peribahasa Jawa – Mayoritas masyarakat Jawa dikenal sebagai pribadi yang mempunyai sopan santun dan inspirasi hidup yang penuh makna dari leluhurnya. Mereka menggunakan bahasa Jawa sebagai percakapan dalam kehidupan sehari-hari.

Bahasa Jawa menjadi salah satu bahasa daerah yang cukup populer sampai saat ini. Selain dikarenakan memiliki banyak penutur, bahasa Jawa juga sering digunakan sebagai dialog dalam film hingga lagu.

Selama ini, bahasa Jawa juga dikenal memberikan pengajaran sopan santun dan budi pekerti. Ajaran tersebut di antaranya dituangkan ke dalam peribahasa Jawa. Sama halnya dengan peribahasa dalam bahasa Indonesia, peribahasa Jawa menjadi salah satu di antara sekian banyak karya sastra yang mengandung kata-kata bijak dan nilai positif di dalamnya.

Bentuk peribahasa Jawa memang cukup ringkas, tetapi memiliki arti yang mendalam. Peribahasa tersebut sering digunakan oleh para orang tua untuk menasihati anak-anaknya agar lebih siap dalam menjalani kehidupan.

Jika teman-teman penasaran mengenai peribahasa Jawa, berikut telah dirangkum kumpulan peribahasa Jawa, yang dapat dijadikan sebagai pelajaran.

1. Adhang-adhang tètèsé embun (tegesé: njagakaké barang mung trima saolèh-olèhé)

Arti peribahasa ini secara umumnya adalah mengharapkan hasil yang seadanya sesuai dengan yang telah dikerjakan, serta tidak mengharapkan hasil yang berlebihan.

2. Adigang, adigung, adiguna (tegesé: aja ngandhelaké kaluwihané dhéwé waé)

Peribahasa ini merupakan suatu nasihat agar seseorang tidak menjadi sombong. Nasihat itu biasanya diperuntukkan kepada para pemimpin atau orang-orang yang mempunyai kekuasaan pada zaman dahulu. Masyarakat Indonesia, khususnya Jawa, tidak boleh melupakan kebudayaan dari para leluhurnya.

Adigang, adigung, adiguna merupakan tuturan verbal yang merupakan cermin dari keinginan agar memiliki sifat rendah hati. Selain itu, peribahasa tersebut juga menggambarkan rasa tidak ingin menyakiti hati orang lain dalam berbicara maupun bertindak.

Nasihat tersebut bertujuan supaya setiap orang memiliki sifat rendah hati. Umumnya, orang tua selalu mengingatkan adagium tersebut kepada siapa pun, entah dalam bentuk pemberian nasihat, peringatan, atau kritikan. Seseorang yang mendengarkan ungkapan tersebut diharapkan dapat tumbuh dan berkembang dengan sikap rendah hati terhadap orang lain.

Kesombongan seseorang diibaratkan seperti sifat gajah yang mengandalkan kekuatannya (adigung), sifat ular yang mengandalkan bisanya (adigang), dan sifat kijang yang mengandalkan kemampuan melompatnya (adiguna).

3. Agama ageming aji (tegesé: agama dadi panuntun tingkah laku lan bisa ngatonaké jatining dhiri)

Kalimat dari peribahasa ini jika diartikan menurut kata per kata, yaitu agem artinya “pakai”, ageman artinya “pakaian”, dan aji berarti “bernilai” atau “mulia”, bisa juga berarti “raja”. Dua arti ini masih berkaitan karena raja biasanya di-aji-aji alias dihormati.

Agama ageming aji bisa berarti “agama adalah pakaian para raja”, bisa juga berarti “agama adalah pakaian orang mulia”. Berdasarkan dua pengertian itu, kita ambil pengertian yang terakhir karena lebih universal dan berlaku kepada semua orang. Ungkapan orang Jawa untuk memeluk agama adalah ngrasuk, misalnya ngrasuk agami Islam. Rasukan adalah sinonim dari ageman, yang artinya “pakaian”. Seseorang yang memeluk agama diibaratkan memakai pakaian.

K.G.P.A.A. Mangkunegara IV.

Ungkapan agama ageming aji terdapat dalam pada Serat Wedatama karya K.G.P.A.A. Mangkunegara IV, Pupuh Pangkur, bait pertama. Tembang selengkapnya adalah sebagai berikut.

Mingkar mingkuring angkara,
Akarana karenan mardisiwi.
Sinawung resmining kidung,
Sinuba sinukarta.
Mrih kretarta pakartining ngelmu luhung,
Kang tumrap neng tanah Jawa,
agama ageming aji.

Terjemahan dalam bahasa Indonesia adalah sebagai berikut.

Menjauhkan dan membelakangi sifat angkara,
karena berkehendak mendidik anak.
Dibingkai dalam keindahan lagu,
dihias dan diperbagus (syairnya).
Agar berkembang perbuatan yang berdasar ilmu luhur.
Yang bagi orang di tanah Jawa,
agama adalah pakaian orang mulia.

Kajian per kata:

Mingkar (menghindar) mingkuring (membelakangi) angkara (sifat angkara), akarana (karena) karenan (hendak) mardisiwi (mendidik anak). Menjauhkan dan membelakangi sifat angkara, karena berkehendak mendidik anak.

Pendidikan yang paling efektif bagi anak adalah memberikan contoh. Para orang tua di sini memberi perintah untuk melakukan hal-hal yang baik dan melarang yang buruk sebelum melakukannya sendiri terlebih dahulu. Seorang ayah yang ingin mendidik anaknya, hendaknya menghindari perilaku buruk agar kelak si anak dapat mencontoh ayahnya.

Sinawung (dibingkai, disamarkan) resmining (dalam keindahan) kidung (lagu), sinuba (dihias) sinukarta (dibuat lebih bagus). Dibingkai dalam keindahan lagu, dihias dan dibuat lebih bagus (syairnya).

Ketika mendidik anak, hendaknya dilakukan dengan bahasa yang baik dan cara yang bijaksana. Sinawung resmining kidung artinya nasehat tadi dibingkai dalam bentuk lagu, seperti bait-bait Serat Wedatama ini. Dengan bentuk lagu, seseorang yang mendengar nantinya akan berkesan dan mengingat selalu nasihat yang disampaikan.

Ini juga mengandung kiasan agar dalam memberi nasihat hendaknya dilakukan dengan perkataan baik, agar yang mendengar senang dan berkesan, bukan malah marah dan tersinggung.

Sinuba sinukarta bermakna si anak harus diperlakukan dengan selayaknya dan dengan perlakuan yang baik dan mempesona. Semua itu agar si anak tidak tertekan dan merasa disayang, sehingga timbul kecenderungan terhadap kebaikan.

Mrih (agar) kretarta (berkembang) pakartine (perbuatan) ngelmu (ilmu) luhung (luhur). Agar berkembang perbuatan yang berdasar ilmu luhur.

Setelah si anak terbiasa melihat contoh dan sudah cenderung ke arah kebaikan, dia akan mudah untuk dibiasakan melakukan perbuatan baik. Segala amalan kebaikan akan dijiwai dengan sepenuh hati. Si anak akan mengembangkan kebaikan-kebaikan dalam dirinya, sehingga si anak pada akhirnya akan mencapai tahap ilmu luhung.

Ilmu luhung adalah kesempurnaan ilmu menurut ajaran Jawa, yakni ilmu batin dan akhlak, bukan sekadar petuah-petuah dan juga bukan sekadar gerak tubuh, tetapi pencapaian jiwa. Ini adalah konsep sufistik dari ajaran Jawa, membiasakan diri agar kemampuan batin berkembang.

Kang (yang) tumrap (bagi) ing (orang di) tanah Jawa (tanah Jawa), agama (agama) ageming (pakaian) aji (orang mulia). Yang bagi orang Jawa, agama adalah pakaian orang mulia.

Nah, inilah pamungkas dari seluruh rangkaian pendidikan, yakni kemuliaan jiwa. Seseorang yang berjiwa mulia akan sangat pantas berbaju agama. Inilah yang menyebabkan akhir tembang tersebut adalah agama ageming aji, yang artinya agama adalah pakaian orang mulia.

Jika seseorang berbaju (ngrasuk) agama, tetapi belum ada kesiapan mental-spritual, yang terjadi adalah kemunafikan. Berbaju agama, tetapi culas. Lain di bibir, lain di hati. Justru yang seperti ini berbahaya karena akan merusak tatanan kehidupan dan memakai agama untuk kepentingan nafsunya sendiri.

Kemuliaan di sini disyaratkan terlebih dulu sebelum ngrasuk agama. Ini bukan berarti orang jahat tidak boleh beragama, yang dimaksud adalah membersihkan hati terlebih dulu dari kehendak jahat atau menjalani pertobatan, agar siap menjalani perintah agama.

Seperti halnya kita jika akan berpakaian seyogyanya mandi dulu agar kotoran yang menempel di tubuh tidak menodai pakaian kita.

4. Aja dumèh (tegesé: aja ngagungaké kalungguhan, kasudibyan, utawa kalungguhané)

Peribahasa Jawa aja dumèh terdiri atas dua kata, yaitu aja dan dumèh. Aja memiliki arti “jangan”, yaitu larangan atau perintah untuk tidak melakukan. Adapun pengertian dumèh sendiri memiliki ketidaksamaan dan pemaknaan dalam berbagai literatur kamus bahasa Jawa.

Kamus Daring Jawa menyebutkan bahwa dumèh memiliki arti mentangmentang, yaitu suatu perilaku atau tindakan tidak baik kepada orang lain, sedangkan kamus Jawa–Indonesia dan Indonesia–Jawa menyatakan bahwa dumèh memiliki arti “hanya karena”, yang pemahamannya sebagai sebab terjadinya perilaku atau tindakan yang dilarang.

Jadi, keduanya memiliki perbedaan sudut pandang pemaknaan, yaitu antara sudut pandang akibat “mentang-mentang” dan sudut pandang sebab “hanya karena”. Merunut kedua pendapat itu, kata dumèh merupakan perilaku yang disebabkan oleh sesuatu.

Sukamdani (2011) memaknai aja dumèh, yaitu seseorang tidak boleh bertindak semena-mena, takabur, dan sombong dengan menggunakan jabatan, kekuatan, dan kekuasaannya. Semua hal itu merupakan awal dari kehancuran. Sementara itu, kata aja dumèh yang diartikan oleh Kamus Daring Jawa dapat dipahami maksudnya sebagai larangan untuk berbuat semaunya sendiri atau tidak boleh melakukan perbuatan yang tidak beralasan.

Berdasarkan berbagai pertimbangan dari pengertian yang tersaji, sebagaimana telah diuraikan di atas, diperoleh kesimpulan bahwa peribahasa Jawa aja dumèh secara komprehensif mengandung pengertian sebagai larangan untuk bersikap dan berperilaku tidak baik, serta anggapan subjektif terlalu tinggi.

Menurut kesimpulan pengertian tersebut, dapat dijelaskan bahwa aja dumèh berfungsi sebagai amanat para leluhur Jawa kepada penerusnya, yang berisi perintah, petunjuk atau ajakan agar tidak melakukan perbuatan jelek, serta menganggap dirinya sebagai orang yang paling tinggi dalam segala hal.

Indikator-indikator yang dapat diidentifikasikan sebagai ciri khas sikap dan perilaku melaksanakan amanat aja dumèh antara lain:

  • Jujur, bukan kamuflase yang penuh kepura-puraan;
  • Tidak merugikan orang lain, tidak memfitnah, dan tidak menjelek-jelekkan pihak lain;
  • Menghormati siapa pun, rendah hati, dan menghargai orang lain;
  • Sabar, tidak terburu nafsu, tidak mau menang sendiri, penuh berbagai pertimbangan, serta menghindari perselisihan dan konfrontasi;
  • Amanah, tidak berkhianat, tidak ingkar janji, taat beribadah, dan rajin bekerja.

Demikian ciri khas sebagai indikator sikap dan perilaku orang yang melaksanakan Peribahasa Jawa aja dumèh. Selain itu, bahwa manusia memiliki sifat-sifat yang tertanam dalam dirinya sesuai dengan kodratnya. Sifat-sifat tersebut adalah luamah atau serakah, amarah atau pemarah, sufiah atau nafsu seks, dan mutmainah atau sifat kebaikan.

Dari keempat nafsu tersebut, terdapat tiga sifat jelek dan hanya satu sifat baik. Jadi, setiap orang yang melakukan perbuatan baik, manakala orang itu mampu mengalahkan sifat buruknya. Terkait dengan pengejawantahan peribahasa Jawa aja dumèh, seseorang harus memiliki sikap dan perilaku yang baik, serta sudah barang tentu harus terbebas dari sifat luamah, amarah, dan sufiah.

Semua perbuatan yang dijiwai oleh sifatsifat serakah, kemarahan, dan pelampiasan nafsu birahi merupakan perbuatan dumèh, yaitu perbuatan tidak baik yang dilarang oleh leluhur Jawa untuk tidak dilakukan.

Apakah ungkapan itu masih ada relevansinya dengan kehidupan kita sekarang? Apa bukannya sudah ketinggalan zaman karena ternyata tidak ditemukan di literatur-literatur? Apa para leluhur ingin mengajak mundur ke dalam kehidupannya dan kembali ke kehidupan orang kuno? Kalau sulit dipahami, apa semua orang Jawa mengerti dan memahami maknanya? Apa ungkapan ini hanya berlaku bagi orang Jawa saja?

Untuk memberi jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan itu yang paling gampang adalah melakukan telaah melalui uraian yang kadang-kadang diseling dengan contoh-contoh dalam kehidupan untuk mempermudah pemahaman terhadap maknanya. Tergantung dari konteksnya, pemahaman falsafah hidup ini begitu luwesnya, sehingga dapat berlaku untuk berbagai konteks.

Seseorang yang mempunyai sesuatu yang dapat diunggulkan mudah untuk membanggakan dan menyombongkannya. Sesuatu ini bisa saja umur (tua bisa muda), kondisi kesehatan, kemampuan fisik, penampilan, harta benda, kedudukan, pendidikan, kawan-kawan, dan sebagainya.

Sebagai contoh, sesseorang yang mempunyai penampilan fisik yang bagus, kulitnya bersih, mukanya putih, hidungnya mancung, matanya hitam bulat menarik, dan seterusnya, akan mudah untuk menjadi sombong – mentang-mentang, bisa jadi “menghina” orang lain yang tidak mempunyai penampilan seperti dia.

Orang ini kemudian menjadi dumèh. Dumèh kulitnya bersih dan putih, lalu sombong, menonjolkan diri, dan mengejek orang lain yang kulitnya tidak bersih dan putih. Namun, misalnya jika ada lebah yang iseng mampir dan menyengat pipinya, kelebihan parasnya dalam sekejap akan musnah. Betapa mudahnya hal itu dapat berubah! Lalu, apa gunanya kita dumèh?

5. Ajining dhiri dumunung ana ing lathi, ajining raga ana ing busana (tegesé: aji pamulyaning utawa kakurmataning wong ana ing tutur pangucapé)

Berdasarkan struktur kalimatnya, peribahasa ini memiliki arti, yaitu ajining dhiri dumunung ing Lathi (nilai pribadi terletak di bibir), ajining raga saka busana (nilai raga tercermin dari pakaian).

Adapun terjemahan bebasnya, yaitu nilai pribadi seseorang ditentukan oleh ucapan atau kata-katanya, sedangkan nilai penampilan sering diukur dari busana atau pakaian yang dikenakannya.

Peribahasa ini merupakan nasihat agar seseorang berhati-hati terhadap tutur kata yang diucapkannya. Sebab, apa saja yang terucap dari mulut kita akan didengarkan, diperhatikan, dan dipercaya orang lain. Contohnya, apabila sering berbohong, lama-kelamaan seseorang akan kehilangan kepercayaan.

Siapa yang suka mengucapkan kata-kata pedas yang menyakitkan hati, dia akan sulit membangun persahabatan. Sebab, orang lain akan merasa tidak senang karena ucapannya banyak melukai perasaan.

Selain ajining dhiri dumunung ing lathi, nilai seseorang dapat juga ditentukan oleh pakaiannya. Pakaian yang dimaksud oleh masyarakat Jawa bukan sekadar penutup aurat, melainkan juga menjadi tolok ukur nilai penampilan seseorang.

Contohnya, seseorang yang menghadiri pesta perkawinan, tetapi dia hanya menggunakan sandal jepit dan pakaian ala kadarnya, tentu dia akan menjadi rerasan (bahan pergunjingan). Selain itu, dia juga bisa dianggap tidak menghargai atau meremehkan pemilik rumah dan tamu undangan lainnya.

Nah, itulah penjelasan singkat mengenai 5 Peribahasa Jawa Terpopuler: Makna dan Penjelasannya. Grameds dapat mengunjungi koleksi buku Gramedia di www.gramedia.com untuk memperoleh referensi tentang karya-karya sastra selain geguritan.

Berikut ini rekomendasi buku Gramedia yang bisa Grameds baca untuk mempelajari tentang aliran kepercayaan di Jawa agar bisa memahaminya secara penuh. Selamat membaca.

Temukan hal menarik lainnya di www.gramedia.com. Gramedia sebagai #SahabatTanpaBatas akan selalu menampilkan artikel menarik dan rekomendasi buku-buku terbaik untuk para Grameds.

 

Penulis: Fandy Aprianto Rohman

BACA JUGA:

Layanan Perpustakaan Digital B2B Dari Gramedia

ePerpus adalah layanan perpustakaan digital masa kini yang mengusung konsep B2B. Kami hadir untuk memudahkan dalam mengelola perpustakaan digital Anda. Klien B2B Perpustakaan digital kami meliputi sekolah, universitas, korporat, sampai tempat ibadah.

logo eperpus

  • Custom log
  • Akses ke ribuan buku dari penerbit berkualitas
  • Kemudahan dalam mengakses dan mengontrol perpustakaan Anda
  • Tersedia dalam platform Android dan IOS
  • Tersedia fitur admin dashboard untuk melihat laporan analisis
  • Laporan statistik lengkap
  • Aplikasi aman, praktis, dan efisien