apa itu kata arkais – Pernah menemukan kata-kata dalam buku lama atau cerita rakyat yang terasa asing dan jarang terdengar di percakapan sehari-hari?
Kata-kata yang kamu temukan tersebut kemungkinan besar adalah kata arkais. Meskipun sering ditemukan, tidak banyak ada orang yang memahami jenis kata ini secara mendalam.
Untuk mempelajarinya, mari kita pelajari bersama apa itu kata arkais, ciri-ciri, fungsi, dan contoh kata yang ditemukan dalam sastra Indonesia klasik!
Daftar Isi
Apa Itu Kata Arkais?
Kata arkais adalah kata yang sudah jarang atau tidak lagi digunakan dalam bahasa Indonesia modern.
Umumnya, kata ini banyak digunakan dalam teks-teks lama seperti hikayat, sastra klasik, atau dokumen bersejarah.
Meski sekarang sudah jarang dipakai, kata arkais tetap memiliki makna yang jelas meskipun bergantung pada konteks zaman dan penggunaannya.
Perbedaan Arkais dan Klasik
Kata arkais sering disebut mirip dengan istilah klasik. Meskipun sama-sama merupakan bahasa lama, keduanya memiliki perbedaan mendasar.
Mari simak perbedaan kata arkais dan klasik dalam tabel di bawah ini:
| Aspek Perbedaan | Arkais | Klasik |
| Penggunaan | Sudah jarang atau tidak digunakan | Masih digunakan dalam konteks tertentu |
| Contoh Teks | Hikayat lama, naskah kuno | Sastra klasik yang masih dipelajari |
| Pemahaman | Perlu penjelasan tambahan | Umumnya masih bisa dipahami |
| Fungsi | Penanda bahasa lama | Penanda gaya bahasa sastra |
Ciri-ciri Kata Arkais
Ada beberapa ciri khas kata arkais yang membuatnya unik dari kosakata lainnya, yaitu jarang digunakan di era modern, ditemukan dalam teks lama, memiliki padanan kata yang lebih modern, dan hanya bisa dipahami dalam konteks sejarah atau sastra.
1. Jarang Digunakan dalam Komunikasi Modern
Kata arkais hampir tidak ditemukan dalam percakapan sehari-hari karena digantikan oleh padanan kata yang lebih sederhana dan modern. Inilah yang menyebabkan kata arkais terasa asing di masa kini.
2. Umumnya Ditemukan dalam Teks Lama
Kamu akan banyak menemukan kata arkais dalam hikayat, manuskrip kuno, atau karya sastra lama. Teks-teks tersebut berasal dari periode ketika bahasa Indonesia belum berkembang seperti sekarang.
3. Memiliki Padanan Kata yang Lebih Modern
Saat ini, sebagian besar kata arkais sudah memiliki padanannya sendiri dalam bahasa Indonesia modern. Padanan ini mendorong agar komunikasi berjalan dengan efektif dan mudah dipahami.
4. Dipahami dalam Konteks Sejarah atau Sastra
Tanpa disadari, makna kata arkais sering kali baru jelas jika dilihat dari konteks sejarah atau sastra. Tanpa konteks tersebut, arti kata bisa terasa kabur.
Fungsi Penggunaan Kata Arkais
Walaupun jarang digunakan, kata arkais tetap memiliki fungsi penting dalam dunia bahasa dan sastra.
Berikut adalah beberapa fungsi kata arkais dalam karya sastra:
- Memperkaya Nuansa Bahasa dalam Karya Sastra: Dalam karya sastra, pilihan kata arkais ini memberi warna dan kedalaman makna, seakan-akan mengajak masuk pembaca ke suasana masa lampau.
- Memberi Kesan Klasik, Historis, atau Estetis: Penggunaan kata arkais memberikan kesan klasik dan historis pada sebuah teks. Bahasa yang selaras dengan setting cerita membuat suasana teks terasa lebih hidup!
- Menjaga Warisan Bahasa dan Budaya: Kata arkais merupakan bagian dari warisan bahasa Indonesia. Dengan mempelajarinya, kamu juga turut menjaga keberlanjutan budaya bahasa Indonesia!
- Digunakan dalam Konteks Akademik dan Sastra: Penelitian bahasa, filologi, dan sastra klasik sangat bergantung pada pemahaman kata arkais. Tanpa pemahaman tersebut, mereka akan kesulitan untuk menganalisis teks lama.
Contoh Kata-kata Arkais dan Maknanya
Agar lebih mudah dipahami, Grameds perlu melihat contoh nyata penggunaan kata arkais. Kata-kata ini banyak ditemukan dalam teks lama dan sastra tradisional.
Yuk, simak contoh kata-kata arkais di bawah ini beserta maknanya!
1. Adapun
Adapun merupakan kata penghubung yang digunakan untuk mengawali penjelasan atau peralihan topik dalam sebuah uraian.
Contoh kalimat: Adapun maksud kedatangannya ke negeri itu ialah untuk menuntut ilmu.
2. Alkisah
Alkisah adalah kata pembuka cerita yang umum dipakai dalam sastra lama untuk menandai dimulainya sebuah kisah atau peristiwa.
Contoh kalimat: Alkisah, hiduplah seorang raja adil di sebuah kerajaan makmur.
3. Syahdan
Syahdan digunakan sebagai kata penghubung antarkalimat atau antar peristiwa dalam cerita klasik. Fungsinya untuk melanjutkan kisah dengan gaya bertutur khas sastra Melayu lama.
Contoh kalimat: Syahdan, setelah peristiwa itu, sang pangeran pun meninggalkan istana.
4. Hatta
Hatta merupakan kata arkais yang digunakan untuk menunjukkan kelanjutan waktu atau peristiwa dalam cerita lama.
Contoh kalimat: Hatta beberapa lama kemudian, negeri itu kembali tenteram.
5. Maka
Dalam teks klasik, kata maka bukan berfungsi sebagai konjungsi sebab-akibat saja, tetapi juga sebagai penanda lanjutan cerita.
Contoh kalimat: Maka raja itu pun berangkat menuju medan perang.
6. Bahwasanya
Bahwasanya adalah kata penghubung yang digunakan untuk memperkenalkan pernyataan atau isi pikiran secara formal. Kata ini kini dianggap arkais karena telah digantikan oleh kata “bahwa” dalam bahasa modern.
Contoh kalimat: Ia menyampaikan bahwasanya keputusan itu telah final.
7. Gerangan
Gerangan merupakan kata tanya bernuansa klasik yang digunakan untuk mengekspresikan rasa heran atau penasaran.
Contoh kalimat: Apakah gerangan yang menyebabkan keributan itu terjadi?
8. Tatkala
Tatkala berarti “pada saat” atau “ketika” dan banyak digunakan dalam teks sastra lama untuk menggambarkan waktu kejadian secara naratif.
Contoh kalimat: Tatkala malam tiba, suasana desa menjadi sunyi.
9. Serta-merta
Serta-merta adalah kata arkais yang bermakna “langsung” atau “seketika tanpa jeda”. Kata ini masih dipahami, tetapi lebih sering muncul dalam tulisan formal daripada percakapan sehari-hari.
Contoh kalimat: Ia serta-merta meninggalkan ruangan setelah mendengar kabar itu.
10. Niscaya
Niscaya digunakan untuk menyatakan kepastian yang kuat atas suatu akibat atau hasil. Kamu bisa menemukannya dalam teks lama, pidato resmi, dan tulisan bernuansa sastra.
Contoh kalimat: Jika engkau bersungguh-sungguh, niscaya keberhasilan akan tercapai.
11. Sebermula
Sebermula adalah kata pembuka yang menandai awal cerita atau penjelasan dalam hikayat dan naskah klasik. Kata ini berfungsi memperkenalkan latar atau keadaan awal suatu kisah.
Contoh kalimat: Sebermula tersebutlah sebuah kerajaan yang aman dan makmur.
12. Peri
Dalam bahasa arkais, peri berarti “tentang” atau “mengenai”, bukan makhluk khayalan seperti pemahaman modern.
Contoh kalimat: Ia menulis sebuah kisah peri perjuangan rakyat kecil.
Pentingkah Mempelajari Kata Arkais?
Tak hanya mengenal kata-kata lama, mempelajari kata ini juga membantumu memahami perkembangan bahasa dari waktu ke waktu.
Berikut adalah beberapa manfaat yang kamu dapatkan:
Membantu Memahami Teks Lama
Dengan memahami kata arkais, kamu bisa membaca teks lama dengan lebih baik. Selain itu, kemampuan ini juga melatih daya analisis bahasa para pelajar.
Sebagai Bentuk Nyata Perkembangan Bahasa
Kata arkais menunjukkan bagaimana perkembangan bahasa dari masa ke masa. Dengan begini, kamu bisa mempelajari bahasa baru dan juga sejarah di baliknya.
Memahami Teks Lama yang Sarat Akan Sumber Pengetahuan
Banyak teks lama yang menjadi sumber pengetahuan dan budaya. Tanpa memahami kata arkais, kamu akan sulit memahami isi teks tersebut secara utuh.
Kata Arkais, Jejak Bahasa yang Tak Lekang Waktu
Apa itu kata arkais? Singkatnya, kata arkais adalah kata-kata kuno yang sudah tidak digunakan di era modern.
Meskipun jarang digunakan, keberadaannya juga sangat penting karena membantu memperkaya sastra, menjaga warisan budaya, dan memahami teks lama secara mendalam.
Maka dari itu, yuk biasakan dirimu untuk membaca teks sastra dan karya klasik Indonesia. Siapa tau, kamu bisa menemukan beberapa kata arkais di atas dan banyak menggunakannya juga dalam berkomunikasi sehari-hari!
Rekomendasi Buku Sastra Klasik Indonesia
1. Bumi Manusia (Lentera Dipantara)
Roman bagian pertama Tetralogi Buru; Bumi Manusia, sebagai periode penyemaian dan kegelisahan di mana Minke sebagai aktor sekaligus kreator adalah manusia berdarah priyayi yang semampu mungkin keluar dari kepompong kejawaannya menuju manusia yang bebas dan merdeka, di sudut lain membelah jiwa ke-Eropa-an yang menjadi simbol dan kiblat dari ketinggian pengetahuan dan peradaban.
2. Ronggeng Dukuh Paruk
Novel Ronggeng Dukuh Paruk mengisahkan kehidupan Dukuh Paruk, sebuah pedukuhan kecil dan miskin yang menggantungkan jati dirinya pada keberadaan seorang ronggeng. Kebangkitan dukuh ini dimulai ketika Srintil dinobatkan sebagai ronggeng baru, sosok yang cantik, memikat, dan menjadi pusat perhatian banyak orang dari berbagai lapisan masyarakat. Namun, ketenaran Srintil justru menyeret Dukuh Paruk ke dalam pusaran tragedi politik 1965 yang menghancurkan kehidupan sosial dan batin warganya.
Akibat kebodohan dan ketidaktahuan, warga Dukuh Paruk dituduh terlibat dalam gejolak politik dan harus menerima hukuman kejam, termasuk pembakaran dukuh dan penahanan Srintil. Pengalaman sebagai tahanan politik membuka kesadaran Srintil akan martabat dirinya sebagai manusia. Setelah bebas, ia bertekad mengubah hidup dan meninggalkan dunia ronggeng, meskipun harapan akan kebahagiaan kembali runtuh dan membuat jiwanya kian terluka.
3. Max Havelaar
Max Havelaar adalah novel fiksi sejarah karya Multatuli yang mengungkap kerasnya penindasan kolonial Belanda di Hindia-Belanda, khususnya di wilayah Lebak, Banten. Melalui tokoh Max Havelaar, Multatuli menyuarakan kritik tajam terhadap praktik ketidakadilan, perampasan hak, dan penderitaan rakyat pribumi akibat sistem kolonial.
Novel ini terinspirasi dari pengalaman pribadi Eduard Douwes Dekker yang pernah menjadi pejabat kolonial, tetapi justru menentang kebijakan pemerintah Belanda. Ditulis pada tahun 1859, Max Havelaar membuka mata dunia internasional tentang realitas pahit kolonialisme dan menjadi karya sastra penting yang mengandung pesan kemanusiaan, keadilan, dan keberanian melawan penindasan.
4. Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck
Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk merupakan salah satu novel yang cukup populer, saking populernya novel sampai dibuatkan sebuah film dengan judul yang sama dan hasilnya juga cukup banyak penikmat yang semakin suka dengan cerita tersebut. Novel yang ditulis oleh Abdul Malik Karim Amrullah ini berkisah tentang persoalan adat yang berlaku di daerah Minangkabau (Sumatera Barat). Selain masalah adat, dalam novel ini juga digambarkan tentang adanya diskriminasi yang terjadi di masyarakat Minangkabau pada waktu itu.
Perbedaan latar belakang / status sosial yang menghalangi kisah cinta dua anak manusia bernama Hayati dan Zainudin hingga berakhir dengan kematian tragis berupa tenggelam dalam sebuah kapal yang mereka berdua naiki saat itu. Dalam novel ini terdapat banyak majas-majas yang digunakan terutama oleh Zainudin saat sedang bercakap.
5. Aku Ini Binatang Jalang (Edisi Cover Spesial HUT GPU 50 Tahun)
Aku Ini Binatang Jalang adalah kumpulan puisi terlengkap karya penyair terbesar Indonesia Chairil Anwar. Selama ini puisi-puisinya tersebar dalam beberapa buku seperti Deru Campur Debu, Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang Putus. Sebagian lagi ada dalam Tiga Menguak Takdir dan Chairil Anwar Pelopor Angkatan 45.
Selain keseluruhan sajak asli, dalam koleksi ini juga dimuat untuk pertama kalinya surat surat Chairil—yang menggambarkan “keadaan jiwa”-nya—kepada karibnya H.B. Jassin. Dalam hidupnya yang singkat, Chairil Anwar telah menghasilkan puisi-puisi yang akan terus hidup seribu tahun lagi.






