IPA

Jenis-jenis Lava: Proses Pembentukan, Karakteristik, hingga Dampaknya

jenis lava
Written by Vania Andini

Jenis-jenis lava – Pernakah Grameds menonton video erupsi gunung berapi di media sosial lalu terpana melihat cairan merah membara yang mengalir deras melintasi lereng? Sekilas, cairan panas tersebut terlihat sama saja di setiap gunung api. Padahal, dalam kacamata geologi, cairan pijar yang kita sebut lava itu punya karakter, komposisi kimia, hingga perilaku mengalir yang berbeda-beda.

Memahami jenis-jenis lava bukan sekadar hafalan materi pelajaran Geografi saat sekolah. Lebih dari itu, karakteristik lava menentukan seberapa berbahaya sebuah erupsi gunung berapi, bagaimana bentuk bentang alam yang dihasilkannya, hingga seberapa subur tanah di sekitarnya jutaan tahun kemudian.

Biar nggak tertukar lagi antara magma dan lava, yuk kita bedah tuntas mulai dari proses terbentuknya, klasifikasi jenis-jenis lava, hingga perannya bagi ekosistem bumi!

Jenis-Jenis Lava

Lava bisa dibedakan berdasarkan komposisi kimianya dan  berdasarkan pembekuan fisik.

Klasifikasi Jenis-Jenis Lava Berdasarkan Komposisi Kimia

Penentu utama viskositas (kekentalan) dan perilaku aliran lava adalah kandungan Silika (SiO2​) serta suhunya. Dikutip dari literatur geologi modern, berikut adalah jenis-jenis lava berdasarkan kandungan kimianya:

1. Lava Basaltis

Lava basaltis adalah jenis lava yang paling umum ditemukan di lempeng samudra. Karena kandungan silikanya rendah, ikatan molekul di dalam cairan ini tidak terlalu kuat, membuatnya bersifat sangat encer. 

Lava basaltis bisa mengalir hingga puluhan kilometer dari pusat erupsi dengan kecepatan tinggi sebelum akhirnya membeku menjadi batuan basalt yang gelap dan padat.

2. Lava Andesitis

Lava andesitis merupakan jenis lava yang paling mendominasi gunung-gunung api di Indonesia. Berada di zona subduksi Ring of Fire, magma penyuplainya telah bercampur dengan kerak benua yang kaya silika. 

Karena sifatnya yang cukup kental, lava andesitis sering kali tersumbat di mulut kawah dan membentuk kubah lava. Jika kubah lava ini gugur akibat tekanan dari bawah, terjadilah awan panas guguran (pyroclastic flow).

3. Lava Riolitis

Lava riolitis memiliki viskositas tertinggi. Saking kentalnya, lava ini jarang sekali mengalir jauh dari kepundan. 

Karena cairan pekat ini menyumbat pelepasan gas vulkanik, tekanan di bawahnya akan terus menumpuk hingga akhirnya meledak dalam erupsi dahsyat. Hasil pembekuan lava riolitis yang sangat cepat sering menghasilkan batuan kaca hitam yang anggun, yaitu obsidian.

Berikut adalah tabel jenis lava berdasarkan kandungan kimianya:

Jenis Lava Kandungan Silika (SiO2​) Suhu Rata-rata Karakter & Sifat Aliran Contoh Gunung Api / Lokasi
Lava Basaltis (Basa) Rendah (<52%) Sangat Tinggi (1.000℃−1.200℃) Encer, mengalir cepat dan jauh, erupsi cenderung efusif (non-eksplosif). Kilauea & Mauna Loa (Hawaii), Iceland
Lava Andesitis (Menengah) Sedang (52%−63%) Sedang (800℃−1.000℃) Cukup kental, aliran merayap lambat, sering membentuk kubah lava (lava dome). Gunung Merapi & Semeru (Indonesia)
Lava Riolitis (Asam) Sangat Tinggi (>63%) Lebih Rendah (650℃−800℃) Sangat kental dan pekat, menahan gas, memicu erupsi eksplosif dahsyat. Yellowstone Caldera (AS), Gunung Toba purba

Klasifikasi Jenis-Jenis Lava Berdasarkan Bentuk Pembekuan Fisik

Selain komposisi kimianya, jenis-jenis lava juga dikelompokkan berdasarkan tekstur dan morfologi pembekuannya di lapangan. Istilah-istilah ini umumnya diadopsi dari bahasa Hawaii:

1. Lava Pahoehoe

Lava Pahoehoe (dibaca pah-hoy-hoy) berasal dari aliran lava basaltis yang encer. 

Saat bagian permukaan atasnya mulai mendingin dan membentuk lapisan kulit tipis yang elastis, aliran lava cair di bawahnya terus terdorong maju. 

Hal ini menyebabkan permukaan atasnya terlipat dan membeku membentuk tekstur halus bergelombang atau menyerupai pilinan tali (ropy lava).

2. Lava Aa (A’a)

Berbeda dengan Pahoehoe, lava Aa (dibaca ah-ah) memiliki permukaan yang sangat kasar, tajam, dan berbatu-batu pecah (blocky lava). 

Fenomena ini terjadi ketika lava mengalir dengan kecepatan lebih tinggi atau saat suhunya sudah mulai mendingin sehingga kehilangan kelenturannya. 

Nama “Aa” konon berasal dari ungkapan masyarakat Hawaii yang mengaduh kesakitan saat berjalan di atas batuan tajam ini!

3. Lava Bantal (Pillow Lava)

Lava bantal terbentuk khusus ketika erupsi terjadi di dasar laut atau saat aliran lava darat meluncur masuk ke dalam air. 

Karena kontak langsung dengan air laut yang dingin, bagian luar lava langsung membeku seketika (quenching), membentuk cangkang keras. Namun, tekanan lava cair di dalamnya terus mendesak keluar, menciptakan tumpukan batuan bulat lonjong yang menyerupai susunan bantal.

3478 Mdpl: Tentang Cinta, Gunung, dan Makna

Memahami Fondasi: Apa Bedanya Magma dan Lava? 

Sebelum melangkah lebih jauh membahas jenis-jenis lava, ada satu salah kaprah populer yang perlu kita luruskan. Banyak orang menganggap magma dan lava adalah dua hal yang sama persis. 

Padahal, dikutip dari publikasi resmi United States Geological Survey (USGS), pembeda utama antara magma dan lava terletak pada lokasi keberadaannya terhadap permukaan bumi.

  • Magma

Merupakan batuan cair pijar yang masih tersimpan di bawah permukaan bumi (tepatnya di mantel bumi atau dapur magma/magma chamber). Karena berada di bawah tekanan ekstrem, magma masih mengikat gas-gas terlarut seperti uap air, karbon dioksida (CO2​), dan sulfur dioksida (SO2​).

  • Lava

Adalah magma yang sudah berhasil menerobos dan keluar ke permukaan bumi melalui kepundan, celah, atau retakan gunung api. Saat magma keluar menjadi lava, penurunan tekanan atmosfer secara mendadak membuat sebagian besar gas terlarutnya menguap ke udara.

Kesimpulannya: Magma berada di dalam perut bumi, sedangkan lava berada di permukaan bumi.

Elevasi 3726 : Bukan Gunung yang Kita Taklukkan, Melainkan Diri Sendiri

Perjalanan Panjang: Bagaimana Batuan Cair Bisa Menjadi Lava?

Bagaimana batuan padat di kedalaman puluhan kilometer bisa berubah menjadi lava cair di permukaan? Dikutip dari buku Geologi Fisik karya Profesor Sukandar Rumoko, proses geologi ini terbagi menjadi empat fase utama:

1. Pelelehan Batuan Parsial (Partial Melting)

Di kedalaman 50 hingga 200 kilometer di bawah permukaan bumi, suhunya sangat ekstrem, berkisar antara 700 hingga 1.300. Batuan di sana tidak meleleh sekaligus karena ditahan oleh tekanan beban batuan di atasnya (overburden pressure). Pelelehan batuan terjadi melalui tiga mekanisme utama:

  • Penurunan Tekanan (Decompression Melting)

Terjadi di batas lempeng divergen (lempeng saling menjauh). Ketika tekanan berkurang, titik leleh batuan turun sehingga batuan padat meleleh.

  • Peningkatan Suhu (Heat Transfer)

Terjadi saat batuan kontak langsung dengan gelombang panas naik (mantle plume) dari inti bumi.

  • Penambahan Flux/Air (Flux Melting)

Terjadi di zona subduksi (penunjaman lempeng samudra ke bawah lempeng benua). Air laut yang terbawa masuk menurunkan titik leleh batuan mantel.

2. Pengumpulan di Dapur Magma (Magma Chamber)

Batuan yang meleleh parsial ini massa jenisnya (densitas) menjadi lebih ringan dibandingkan batuan padat di sekitarnya. Akibat gaya apung (buoyancy), magma merambat naik mencari retakan dan berkumpul di kantong penampungan yang disebut dapur magma.

3. Diferensiasi Magma

Di dalam dapur magma, magma mengalami proses kimiawi. Mineral ber-titik leleh tinggi seperti olivin dan piroksen mengkristal lebih awal dan mengendap di dasar. Proses ini mengubah komposisi sisa magma cair di atasnya menjadi semakin kaya akan kandungan silika (SiO2​).

4. Terobosan Erupsi & Degasifikasi

Ketika tekanan gas di dapur magma sudah tidak tertahankan, magma terdorong naik menembus kepundan. Begitu menyentuh permukaan bumi, gas-gas terlarut lepas ke atmosfer, dan lelehan batuan tersebut resmi menjadi lava.

Dampak Lava Terhadap Lingkungan & Kehidupan

Proses terbentuknya lava yang berujung pada erupsi memang sering dianggap bencana menakutkan. Tapi dari kacamata geologi, lava adalah bentuk “pembaruan” kulit bumi!

Dampak Positif

  • Menyuburkan Tanah

Lava yang sudah membeku dan mengalami pelapukan ribuan tahun akan terurai menjadi tanah Andosol. Tanah ini sangat subur dan kaya nutrisi mineral (magnesium, besi, kalsium, fosfor) untuk sektor pertanian dan perkebunan.

  • Membentuk Daratan Baru

Erupsi lava basaltis kepulauan (seperti di Hawaii atau Indonesia) terus menambah luas daratan bumi melalui pembekuan lava di garis pantai (lava delta).

  • Kaya Mineral Berharga

Pembekuan lava dan fluida hidrotermal di sekitarnya sering kali membawa deposit mineral berharga seperti emas, perak, tembaga, dan bijih besi.

Dampak Negatif

  • Merusak Infrastruktur

Aliran lava pijar bersuhu tinggi mampu melahap dan meratakan pemukiman, jalan raya, dan hutan seketika.

  • Ancaman Lahar Dingin

Material erupsi dan endapan lava di lereng gunung bisa hanyut terbawa air hujan lebat, memicu banjir lahar dingin yang menerjang kawasan hilir dengan kecepatan 20−60 km/jam.

Gunung Api - Perjalanan Menjelajahi Gunung Api Dahsyat di Dunia

Rangkuman Perbandingan: Magma vs Lava

Untuk memudahkan Grameds mengingat perbedaan mendasar antara magma dan lava untuk kebutuhan akademis maupun wawasan umum, berikut tabel ringkasannya:

Parameter Komparasi Magma Lava
Lokasi Di dalam perut bumi (mantel & dapur magma) Di permukaan bumi (lereng & kepundan)
Kandungan Gas Tinggi (terlarut dalam tekanan tinggi) Rendah (sebagian besar terlepas saat erupsi)
Suhu Rata-rata 700℃−1.300℃ (lebih panas) 650℃−1.100℃ (mulai mendingin)
Kecepatan Membeku Sangat lambat (membentuk batuan plutonik) Cepat (membentuk batuan vulkanik ekstrusif)

Manfaat Ekologis & Geowisata dari Lava

Meskipun aliran lava kerap diidentikkan dengan bencana dan kehancuran serba-seketika, dalam kacamata sains kebumian, lava adalah bentuk pembaruan (regeneration) utama planet Bumi. 

Tanpa aktivitas magma dan lava, permukaan Bumi tidak akan memiliki tanah yang subur, bentang alam yang megah, maupun deposit mineral yang menopang peradaban manusia.

Berikut adalah penjelasan detail mengenai manfaat lava dari sudut pandang ekologis dan potensi geowisata:

Manfaat Ekologis: Regenerasi Tanah & Ekosistem Baru

1. Pembentukan Tanah Andosol (Vulkanik) yang Sangat Subur

Lava yang telah mendingin dan membeku akan mengalami proses pelapukan (weathering) oleh air hujan, perubahan suhu, dan aktivitas mikroorganisme selama ratusan hingga ribuan tahun. Pelapukan batuan lava ini menghasilkan tanah Andosol, jenis tanah paling subur di dunia.

  • Sifat Kimiawi

Batuan lava kaya akan mineral esensial seperti kalsium, magnesium, besi, kalium, dan fosfor. Saat batuan pelapuk terurai, mineral-mineral ini terlepas ke dalam tanah sebagai nutrisi alami bagi tanaman.

  • Kapasitas Retensi Air

Tanah Andosol memiliki struktur remah dengan pori-pori mikroskopis yang sangat baik dalam menyimpan air dan mengikat bahan organik, menjadikannya lahan pertanian ideal untuk sayuran, teh, dan kopi (seperti kawasan perkebunan di lereng Gunung Semeru atau Tangkuban Perahu).

2. Pembentukan Rekayasa Daratan Baru (Constructive Volcanism)

Ketika lava basaltis encer mengalir mencapai laut (lava delta), cairan pijar tersebut membeku seketika saat kontak dengan air. Proses ini secara harfiah menambah luas daratan bumi secara alami.

  • Contoh: 

Kepulauan Hawaii dan Islandia terus membesar wilayah daratannya setiap kali terjadi erupsi efusif yang meluncur ke samudra.

3. Pembentukan Endapan Mineral dan Sumber Energi Geotermal

Aliran lava dan fluida hidrotermal yang menyertainya menjadi pembawa utama deposit mineral bernilai tinggi.

  • Bijih Logam

Pembekuan lambat di sekitar rekahan lava mengendapkan cebakan emas, perak, tembaga, hingga tembaga sulfida.

  • Energi Terbarukan

Batuan lava yang tersimpan di bawah permukaan menahan panas bumi (geothermal heat). Air tanah yang terpanaskan oleh struktur batuan ini menghasilkan uap panas daya tinggi yang dimanfaatkan sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) yang ramah lingkungan.

Potensi Geowisata & Laboratorium Alam

Bentang alam (geomorphology) unik yang ditinggalkan oleh pembekuan jenis-jenis lava memiliki nilai estetika tinggi sekaligus nilai edukasi sains. Hal ini mendorong berkembangnya konsep geowisata (geotourism) dan penetapan situs Geopark.

1. Fenomena Pillow Lava (Lava Bantal) Purba

Lava bantal yang membeku di dasar laut jutaan tahun lalu dapat terangkat ke permukaan daratan akibat aktivitas tektonik lempeng.

  • Nilai Geowisata & Edukasi

Menyediakan bukti visual unik mengenai sejarah geologi masa lalu.

  • Contoh di Indonesia

Situs Lava Bantal Berbah di Sleman, Yogyakarta. Batuan lava bantal di tempat ini merupakan hasil erupsi gunung api purba di dasar laut sekitar 30 juta tahun lalu yang kini menjadi situs warisan geologi (geosite) dan objek wisata edukasi unggulan.

2. Pembentukan Tabung Lava (Lava Tubes) & Gua Vulkanik

Saat lava basaltis mengalir, bagian permukaan atasnya yang terpapar udara akan membeku membentuk atap batuan keras, sementara bagian dalamnya terus mengalir deras. 

Ketika erupsi mereda dan bagian dalam lava habis mengalir, tersisa rongga lorong panjang berbentuk tabung yang disebut lava tube.

  • Nilai Geowisata

Lorong-lorong ini berubah menjadi gua alam eksotis yang aman dijelajahi oleh wisatawan (speleotourism).

  • Contoh: 

Manjanggul Lava Tube di Pulau Jeju, Korea Selatan (Situs Warisan Dunia UNESCO) dan beberapa lorong lava di kawasan Gunung Tambora.

3. Basalt Kolom (Columnar Jointing)

Ketika hamparan lava tebal membeku dan menyusut secara perlahan, terjadi retakan pendinginan yang teratur hingga membentuk struktur tiang-tiang batuan bersudut segi enam (heksagonal) atau segi lima yang sangat simetris.

  • Nilai Geowisata

Fenomena estetika alami yang sangat populer sebagai latar fotografi alam dan daya tarik turisme internasional.

  • Contoh

Giant’s Causeway di Irlandia Utara atau struktur batu kolom di kawasan situs Megalitikum Gunung Padang dan berbagai titik geosite di Indonesia.

Kesimpulan

Lava merupakan magma yang telah keluar ke permukaan bumi dan kehilangan sebagian besar fase gasnya. 

Sifat dan viskositas lava sangat dipengaruhi oleh kandungan silika serta suhunya. Berdasarkan komposisi kimia, lava terbagi menjadi tiga jenis utama, yakni lava basaltis yang encer dan mengalir cepat, lava andesitis yang berkadar silika sedang dan cenderung kental membentuk kubah lava, serta lava riolitis yang sangat kental hingga berpotensi memicu erupsi eksplosif dahsyat.

Berdasarkan tekstur pembekuannya di lapangan, lava menghasilkan morfologi fisik yang khas. Lava Pahoehoe memiliki permukaan halus bergelombang menyerupai pilinan tali, lava Aa berstruktur kasar dan tajam berbingkai batuan pecah, sedangkan lava bantal (pillow lava) terbentuk akibat pembekuan mendadak di bawah air.

Meskipun aliran lava pijar bersifat merusak secara singkat, pelapukan batuan lava dalam jangka panjang menghasilkan tanah Andosol yang sangat subur, menyimpan potensi energi panas bumi (geotermal), mengendapkan mineral berharga, serta membentuk bentang alam unik yang kaya nilai geowisata.

Tertarik untuk memperdalam wawasan seputar geologi, ilmu kebumian, atau persiapan ujian Geografi? Grameds bisa menemukan berbagai pilihan buku teks sains, ensiklopedia gunung berapi, hingga buku akademik geologi terlengkap hanya di Gramedia.com. Yuk, terus perluas wawasanmu dan tingkatkan literasi sains bersama Gramedia!

About the author

Vania Andini

perempuan di balik layar. mengamati tren dalam industri literasi dan aktif membagikan ulasan buku serta menulis artikel.

Gramedia Literasi