Proses pembentukan gunung berapi – Proses pembentukan gunung berapi dimulai jauh di dalam perut bumi, puluhan kilometer di bawah pijakan kita. Di sana, lempeng tektonik terus bergeser dan lelehan batuan panas yang disebut magma perlahan mencari celah untuk naik ke permukaan.
Dorongan magma ini akhirnya menembus kerak Bumi, menumpuk material vulkanik, dan membeku seiring berjalanannya waktu. Penumpukan berlapis inilah yang perlahan membentuk puncak kokoh yang kita lihat hari ini.
Nah, berikut adalah tahapan lengkap perjalanan magma dari kedalaman Bumi hingga menjadi gunung berapi!
Daftar Isi
Mengapa Lempeng Tektonik Bumi Selalu Bergerak?
Ternyata, Bumi yang kita pijak tidak pernah benar-benar diam. Di bawah tanah yang kokoh ini, lempeng-lempeng tektonik raksasa terus bergeser. Pergerakannya memang lambat, hanya beberapa sentiter per tahun. Namun dalam jutaan tahun, pergeseran ini sanggup merombak total wajah Bumi.
Saat dua lempeng bertabrakan, salah satunya menunjam ke bawah dalam proses subduksi. Pelepasan zat volatil di kedalaman lalu melelehkan batuan mantel dan membentuk magma. Karena lebih ringan, magma merambat naik mencari celah hingga menembus permukaan, Proses inilah yang melahirkan deretan gunung berapi di Indonesia yang berada di jalur Pacific Ring of Fire.
Namun, cerita ini tidak selalu dimulai dari benturan lempeng.
Saat dua lempeng justru saling menjauh, tekanan di bawahnya menurun dan memicu material mantel meleleh. Magma lalu naik mengisi celah kosong yang terbuka. Fenomena ini banyak terjadi di dasar samudra, tepatnya di sepanjang mid-ocean ridge.
Pada akhirnya, gunung berapi yang berdiri kokoh hanyalah babak akhir. Perjalanannya sudah dimulai jutaan tahun lalu dari pergeseran sunyi jauh di bawah kaki kita.
Dari Magma hingga Menjadi Gunung, Ternyata Tidak Terjadi Sekali Jadi
Setelah terbentuk jauh di dalam Bumi, magma masih punya perjalanan panjang. Magma tidak langsung meluncur menuju kawah, tetapi perlahan mencari celah di antara batuan, berhenti di suatu tempat, lalu kembali bergerak ketika kondisinya memungkinkan.
Lalu, bagaimana perjalanan panjang ini akhirnya bisa membentuk sebuah gunung?
-
Magma perlahan mencari jalan ke atas
Bayangkan magma seperti sedang mencari jalan keluar dari ruangan tanpa pintu yang jelas. Karena massa jenisnya lebih rendah daripada batuan di sekitarnya, magma cenderung bergerak naik melalui rekahan dan bagian kerak yang lebih lemah. Kadang, magma juga berkumpul lebih dulu di bawah permukaan.
Semakin mendekati permukaan, tekanan di sekitarnya menurun sehingga gas yang terlarut dalam magma dapat membentuk gelembung dan mengembang. Tekanan pun meningkat. Ketika tersedia jalur menuju permukaan dan kondisinya memungkinkan, terjadilah erupsi.
Tapi, Grameds, satu erupsi belum tentu langsung menghasilkan sebuah gunung.
-
Gunung tumbuh dari erupsi demi erupsi
Setiap erupsi dapat membawa lava, abu, dan pecahan batuan ke permukaan. Lava kemudian mendingin dan mengeras, sementara material lainnya mengendap di sekitar pusat erupsi.
Lalu erupsi berikutnya datang. Lapisan baru menumpuk di atas lapisan lama. Proses yang sama terus berulang dalam rentang waktu yang sangat panjang.
Sedikit demi sedikit, tumpukan material vulkanik itu membangun tubuh gunung menjadi semakin tinggi dan lebar. Bentuk akhirnya pun berbeda-beda, tergantung karakter magma dan jenis erupsi yang terjadi.
Jadi, gunung yang hari ini terlihat seperti sudah “selesai” sebenarnya menyimpan proses panjang di balik bentuknya. Bagi kita gunung mungkin tampak diam, tetapi dalam waktu geologi, ceritanya masih terus berjalan.
Tidak Semua Gunung Berapi Lahir di Batas Lempeng, Lho!
Kalau banyak gunung berapi muncul karena pergerakan lempeng, seharusnya gunung berapi hanya ditemukan di sekitar batas lempeng, kan?
Ternyata tidak. Ada yang tumbuh di tengah lempeng, bahkan memulai ceritanya jauh di dasar laut.
-
Ketika gunung berapi muncul di atas hotspot
Hawaii adalah contoh yang menarik. Kepulauan ini berada jauh dari batas lempeng, tetapi dipenuhi jejak aktivitas vulkanik. Kok bisa?
Di bawahnya terdapat hotspot, wilayah tempat material mantel yang sangat panas naik dari kedalaman dan memicu terbentuknya magma. Magma kemudian bergerak menembus kerak hingga aktivitas vulkanik membangun gunung berapi.
Nah, bagian serunya ada di sini, Grameds. Lempeng di atas hotspot terus bergerak, sementara sumber panas di bawahnya relatif tetap. Bayangkan selembar kertas yang perlahan digeser di atas satu titik panas. Titik yang tadinya berada tepat di atas sumber panas akan bergeser, lalu posisi berikutnya mengambil tempat.
Dalam waktu yang sangat panjang, proses tersebut dapat membentuk rangkaian gunung berapi dengan usia berbeda. Karena itu, deretan pulau seperti Hawaii sebenarnya bisa dibaca sebagai jejak perjalanan sebuah lempeng.
-
Ketika gunung berapi memulai cerita dari dasar laut
Sekarang kita turun ke tempat yang lebih dalam, yaitu dasar samudra.
Di sana, magma juga dapat keluar melalui retakan kerak dan bertemu air laut. Bagian luar lava mendingin dengan cepat dan membeku, terkadang membentuk pillow lava yang bentuknya menyerupai tumpukan bantal.
Satu erupsi mungkin belum mengubah banyak hal. Namun ketika erupsi terjadi berulang kali, lapisan material vulkanik terus menumpuk. Gunung bawah laut pun perlahan tumbuh semakin tinggi.
Ratusan meter. Ribuan meter. Hingga suatu saat, puncaknya dapat menembus permukaan laut dan membentuk pulau vulkanik baru.
Menarik, bukan? Sebuah pulau yang hari ini terlihat kokoh di tengah lautan bisa saja memulai perjalanannya dari tumpukan lava jauh di dasar samudra.
Pada akhirnya, pertanyaan tentang bagaimana gunung berapi terbentuk membawa kita jauh lebih dalam daripada sekadar magma dan letusan. Gunung yang terlihat diam ternyata menyimpan perjalanan jutaan tahun, mulai dari lempeng yang terus bergeser, magma yang mencari jalan, hingga lapisan demi lapisan batuan yang perlahan membentuk puncak.
Jadi, lain kali melihat gunung berdiri di kejauhan, mungkin kita tidak lagi melihatnya sebagai sekadar bagian dari pemandangan. Di balik bentuknya yang sekarang, ada cerita panjang Bumi yang masih terus ditulis.
Setelah Tahu Ceritanya, Gunung Terasa Sedikit Berbeda, Ya?
Sekarang coba bayangkan melihat gunung dari kejauhan sekali lagi. Bentuknya mungkin masih sama, tapi setelah tahu cerita panjang di baliknya, rasanya ada yang berbeda, bukan?
Di balik puncak yang terlihat tenang, ada lempeng yang terus bergerak, magma yang mencari celah, dan proses jutaan tahun yang masih berlangsung sampai sekarang. Bahkan dari sana, manusia menciptakan begitu banyak cerita tentang bencana, misteri, perjalanan, sampai harapan.
Mungkin itu juga yang membuat alam selalu menarik untuk dipelajari, Grameds. Semakin banyak yang kita tahu, semakin terasa bahwa masih banyak hal yang belum kita ketahui.
Jadi, lain kali ada gunung terlihat dari balik jendela perjalanan atau berdiri di kejauhan, coba lihat sedikit lebih lama. Siapa tahu, yang terlintas bukan lagi sekadar, “Wah, bagus,” tapi juga, “Ternyata panjang banget cerita sampai kamu bisa berdiri di sana.”
Rekomendasi Buku Terkait
Laut Pasang 1994 — Lilpudu
Bayangkan satu malam yang awalnya terasa biasa, lalu dalam hitungan singkat semuanya berubah. Gelombang pasang datang tanpa belas kasihan, menghancurkan kota sekaligus memisahkan tujuh bersaudara yang selama ini percaya bahwa mereka adalah satu jiwa dalam tujuh raga.
Laut Pasang 1994 bukan sekadar cerita tentang bencana. Di balik ganasnya air laut, ada keluarga, kehilangan, dan genggaman tangan yang berusaha dipertahankan sampai detik terakhir. Cerita yang mungkin membuat Grameds bertanya: kalau alam bisa mengambil segalanya dalam sekejap, apa yang masih bisa manusia pegang?
Ramalan Ghaib Sabdo Palon Noyo Genggong — Ki Puspo Negoro
Bagaimana kalau letusan Gunung Merapi bukan hanya dipandang sebagai peristiwa alam, tetapi juga dipercaya sebagai tanda dari ramalan berusia ratusan tahun?
Berlatar masa akhir Majapahit, kisah Sabdo Palon dan Noyo Genggong membawa kamu ke tengah perubahan besar di tanah Jawa. Kekecewaan, runtuhnya kerajaan, hingga sumpah untuk kembali 500 tahun kemudian dirangkai dengan ramalan tentang Merapi dan berbagai bencana alam. Pertanyaannya tinggal satu: benarkah ramalan itu akan menemukan jalannya menuju kenyataan?
Sendang Banyu Getih — Diosetta
Ada tempat-tempat di alam yang membuat kita penasaran untuk mendekat. Tapi bagaimana kalau semakin dekat justru semakin terasa bahwa seharusnya kita tidak berada di sana?
Sendang Banyu Getih membawa Grameds masuk ke hutan yang nyaris tak pernah dijamah manusia. Gemericik air terdengar seperti panggilan, sementara seorang pria penuh luka berjalan semakin dalam sambil menyeret sesuatu di belakangnya. Apa yang menunggu di ujung perjalanan itu? Mungkin setelah membacanya, suara air di tengah hutan tidak akan terdengar sama lagi.
- Arti Status Gunung Berapi
- Bahaya Abu Vulkanik
- Cara Mencegah Karhutla
- Cara Mengatasi Karhutla
- Dampak Karhutla
- Dampak Karhutla
- Jalur Evakuasi Gunung Meletus
- Memahami Iklim Schmidt Ferguson
- Mengenal Danau Terbesar di Indonesia
- Mengenal Proses Pembentukan Gunung Berapi
- Menyapa Matahari dari Puncak Dewata Gunung Batur Bali
- Misteri Sebaran Abu Vulkanik Mengapa Bisa Menyebrangi Negara
- Migrasi Kupu-Kupu
- Oase Hijau Curug Subang
- Perbedaan Gunung Aktif Dan Tidak Aktif
- Perbedaan Lava dan Lahar
- Perlengkapan Darurat Bencana
- Peta Kadaster
- Puyuh Bertelur
- Refinery
- Sistem Pemantauan Karhutla
- Sumber Daya Alam yang Dapat Diperbaharui
- Sumber Daya Alam yang Tidak Dapat Diperbaharui




