Environment Feature

Membedah 8 Penyebab Kekeringan dan Dampaknya!

Written by Laura Saraswati

penyebab kekeringan – Krisis air bersih bukan lagi ancaman masa depan. Bencana ini sudah mengetuk pintu rumah kita.

Halo Grameds! Fenomena tanah retak dan waduk yang mengering kini makin sering menghiasi linimasa berita. Sayangnya, banyak yang masih menganggap kekeringan hanyalah siklus kemarau tahunan yang biasa.

Padahal dari kacamata sains lingkungan, ada masalah yang jauh lebih kompleks. Keterbatasan air bersih merupakan hasil dari perpaduan ekstrem antar dinamika iklim global dan kecerobohan aktivitas manusia yang menganggu siklus air bumi.

Yuk, bedah 8 pemicu utama kekeringan berikut agar kita bisa lebih bijak memahami kondisi lingkungan hari ini!

Daftar Isi

Penyebab Kekeringan dari Faktor Alam dan Fenomena Atmosfer

Kekeringan paling utama dipicu oleh kondisi dinamika atmosfer dan laut yang tidak seimbang. Mari kita bahas pemicu utamanya secara mendetail.

Minimnya Curah Hujan dan Perubahan Sirkulasi Angin Monsun

Indonesia merupakan negara tropis yang sangat dipengaruhi oleh sirkulasi angin monsun. 

Ketika angin Monsun Australia (Angin Timuran) mendominasi, massa udara yang dibawa ke wilayah Nusantara cenderung kering karena berhembus dari daratan Benua Australia yang luas dan didominasi gurun.

Jika pergerakan angin monsun ini tertahan atau berlangsung lebih lama dari biasanya, jumlah hari tanpa hujan (HTH) akan membengkak. 

Minimnya pembentukan awan hujan (konveksi) secara terus-menerus ini menjadi fondasi awal munculnya kekeringan meteorologis.

Fenomena El Niño di Pasifik Tropis

Grameds pasti sudah tidak asing dengan istilah yang satu ini. Dikutip dari World Meteorological Organization (WMO), El Niño adalah fenomena pemanasan suhu permukaan laut (SPL) di atas normal yang terjadi di Samudra Pasifik bagian tengah hingga timur.

Bagaimana cara El Niño menjadi penyebab kekeringan di Indonesia?

  • Pemanasan air laut di Pasifik timur membuat pusat pertumbuhan awan hujan bergeser menjauhi wilayah Indonesia menuju Pasifik tengah.
  • Akibatnya, wilayah Indonesia mengalami penurunan curah hujan yang sangat signifikan di bawah rata-rata tahunan.
  • Angin pendorong massa air hangat melemah, membuat wilayah perairan Indonesia menjadi lebih dingin dari biasanya dan meminimalkan proses penguapan pembentuk hujan.

Indian Ocean Dipole (IOD) Positif

Selain El Niño dari Samudra Pasifik, Indonesia juga terpengaruh oleh fenomena di Samudra Hindia yang dinamakan Indian Ocean Dipole (IOD).

Ketika IOD berada pada fase Positif, suhu permukaan laut di Samudra Hindia sebelah barat Sumatra mendingin, sementara sebelah timur Afrika menghangat. 

Dampaknya, pergerakan udara basah tertarik ke arah Afrika, menyebabkan wilayah barat Indonesia (seperti Sumatra dan Jawa) kehilangan potensi awan hujannya. 

Jika El Niño dan IOD Positif terjadi secara bersamaan, Indonesia akan dihantam kekeringan ekstrem yang panjang!

Ripley Readers - Cuaca

Letak Geografis dan Topografi Wilayah

Tidak semua daerah di Indonesia memiliki tingkat kerentanan yang sama. Wilayah-wilayah yang berada di balik bayangan hujan (sisi leeward pegunungan) atau wilayah dengan tipe iklim monsunal yang tegas.

Wilayah seperti Nusa Tenggara Timur (NTT), Nusa Tenggara Barat (NTB), Bali, dan pesisir selatan Jawa, secara alami memiliki durasi musim kemarau yang lebih panjang dibanding wilayah tropis basah seperti Kalimantan atau Papua.

Penyebab Kekeringan Akibat Aktivitas dan Intervensi Manusia

Alam memang menyediakan skenario dinamika cuaca, tetapi aktivitas manusia sering kali menjadi “akselerator” yang memperparah intensitas dan durasi kekeringan tersebut.

Deforestasi dan Alih Fungsi Lahan

Pohon dan hutan tropis berfungsi sebagai “spons alami” bumi. Lewat sistem perakaran yang luas, pohon menyerap air hujan saat musim basah dan menyimpannya di dalam tanah sebagai cadangan air tanah (akuifer).

Dilansir dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), penggundulan hutan untuk alih fungsi lahan perkebunan, permukiman, atau pertambangan merusak struktur resapan alami ini. Tanpa tutupan vegetasi:

  • Air hujan langsung mengalir sebagai air permukaan (runoff) menuju laut tanpa sempat meresap ke dalam tanah.
  • Saat musim kemarau tiba, cadangan air tanah sudah habis karena tidak ada lagi pasokan simpanan alami dari akar pohon.

Eksploitasi Air Tanah Secara Berlebihan

Di wilayah perkotaan dan kawasan industri, penggunaan air tanah melalui sumur bor dalam (deep well) dilakukan secara masif tanpa kontrol ketat. 

Pengambilan air tanah yang melebihi kapasitas pengisian kembalinya (safe yield) menyebabkan penurunan muka air tanah secara drastis. Akibatnya, sumur-sumur dangkal milik warga sekitar mengering dan area pesisir terancam intrusi air asin.

Kerusakan Daerah Aliran Sungai (DAS)

Daerah Aliran Sungai yang rusak akibat pendangkalan, erosi, dan pencemaran limbah akan kehilangan daya tampungnya. 

Ketika musim hujan, DAS yang rusak kerap memicu banjir bandang karena air tidak terserap, namun ketika musim kemarau tiba, aliran sungai langsung menyusut drastis atau mengering total karena tidak memiliki sistem simpanan air yang stabil.

Pemanasan Global dan Perubahan Iklim

Aktivitas industri, emisi bahan bakar fosil, dan efek rumah kaca meningkatkan suhu rata-rata permukaan bumi. Peningkatan suhu global ini memicu dua hal utama:

  • Tingkat Penguapan (Evapotranspirasi) Tinggi: Air di danau, sungai, serta tanah menguap jauh lebih cepat ke atmosfer, meninggalkan tanah dalam kondisi serba kering.
  • Pergeseran Pola Musim: Musim hujan menjadi lebih singkat dengan intensitas ekstrem, sementara musim kemarau menjadi jauh lebih panjang dan sulit diprediksi.

Memahami Apa Itu Kekeringan dalam Kacamata Sains

Sebelum tahu ke deretan faktor pemicunya, penting buat Grameds paham dulu bahwa kekeringan itu punya tingkatan dan jenis yang berbeda-beda. 

Para ahli meteorologi membagi kekeringan menjadi beberapa fase berantai.

Dikutip dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), fenomena kekeringan umumnya berkembang melalui empat fase utama:

  • Kekeringan Meteorologis

Tahap awal yang dipicu oleh minimnya curah hujan dalam jangka waktu tertentu di bawah kondisi rata-rata iklim normal suatu wilayah.

  • Kekeringan Hidrologis

Terjadi ketika minimnya hujan mulai berdampak pada penurunan volume air permukaan dan air tanah (seperti debit sungai, danau, waduk, serta muka air sumur yang drop).

  • Kekeringan Pertanian

Terjadi saat kelembapan tanah (soil moisture) sudah tidak mampu lagi memenuhi kebutuhan vegetasi atau tanaman pangan, memicu kelayuan permanen hingga gagal panen (puso).

  • Kekeringan Sosial-Ekonomi

Tahap paling krisis ketika pasokan air yang menipis mengganggu aktivitas ekonomi, memicu lonjakan harga pangan, krisis air minum, hingga konflik akses air bersih di masyarakat.

Educomics Plants Vs Zombies : Cuaca Dan Iklim

Dampak Sistemik Kekeringan bagi Kehidupan

Mengapa pemahaman mendalam tentang penyebab kekeringan ini sangat krusial untuk kita kuasai? Karena ketika kekeringan menghantam, dampaknya merembet bagaikan efek domino ke berbagai sektor kehidupan:

  • Krisis Air Bersih dan Sanitasi

Keterbatasan air bersih memaksa warga mengonsumsi air yang kurang higienis, berisiko tinggi memicu penyakit kulit dan gangguan pencernaan seperti diare.

  • Ancaman Ketahanan Pangan

Sektor pertanian yang kekurangan air irigasi memicu krisis produksi pangan utama seperti beras, jagung, dan kedelai.

  • Risiko Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla)

Dedaunan dan ranting kering di area lahan gambut menjadi sangat mudah terbakar, menghasilkan asap pekat yang mengganggu kesehatan serta penerbangan.

  • Kerugian Ekonomi Nasional

Sektor industri yang bergantung pada pasokan air dan energi hidroelektrik (PLTA) mengalami penurunan produktivitas secara signifikan.

Solusi Mitigasi dan Upaya Pencegahan Kekeringan

Memahami penyebabnya membuat kita tahu langkah penanganan apa yang paling efektif untuk diterapkan, baik secara individual maupun komunal.

  • Membuat Resapan Air Mandiri

Membuat Lubang Resapan Biopori dan Sumur Resapan di halaman rumah untuk memaksimalkan tabungan air tanah saat musim hujan.

  • Melakukan Penanaman Pohon (Reboisasi)

Memperbanyak area hijau dan pohon berakar dalam yang ampuh mengikat air di dalam tanah.

  • Penghematan Konsumsi Air Harian

Membiasakan gaya hidup hemat air, mematikan keran yang tidak terpakai, serta mendaur ulang air bekas cucian (greywater) untuk menyiram tanaman.

  • Modernisasi Irigasi Pertanian

Mengubah sistem irigasi konvensional menjadi irigasi tetes (drip irrigation) yang jauh lebih efisien dalam memanfaatkan air di lahan pertanian.

Pemanfaatan Hujan Buatan Saat Kekeringan

Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) atau yang populer disebut hujan buatan adalah intervensi ilmiah untuk mempercepat proses fisika pembentukan hujan di dalam awan.

TMC bukan menciptakan awan dari langit yang cerah, melainkan mengoptimalkan awan potensial yang sudah ada agar mencairkan seluruh kandungan uap airnya di area sasaran (target area) seperti catchment area waduk yang mengering.

  • Prinsip Fisika Dasar: Mengapa Awan Perlu “Disemai”?

Di alam, uap air di atmosfer membutuhkan inti kondensasi (condensation nuclei). 

Seperti partikel debu atau garam laut untuk menempel dan berubah menjadi tetes-tetes air.

  • Kondisi Awan Alami

Kadang awan memiliki kandungan air melimpah, tetapi jumlah inti kondensasinya minim atau ukuran tetes airnya terlalu kecil. Akibatnya, tetesan air mengapung di udara dan menguap kembali sebelum menyentuh tanah.

  • Prinsip TMC

Menyuntikkan bahan higroskopis (penyerap air) dalam jumlah terukur ke dalam awan. Bahan ini bertindak sebagai inti kondensasi buatan yang memaksa tetes-tetes air kecil saling bergabung (koalesensi) menjadi butiran yang cukup berat untuk jatuh sebagai hujan.

  • Bahan Semai yang Gunakan dalam TMC

Bahan semai dipilah berdasarkan jenis awannya:

  • Awan Hangat (Warm Cloud )

Menggunakan garam dapur halus (Natium Klorida ) berukuran mikron (1–10mikron). Garam bersifat higroskopis tinggi sehingga sangat cepat mengikat uap air di awan tropis Indonesia.

  • Awan Dingin (Cold Cloud )

Menggunakan Prakarsai Perak Iodida (Silver Iodide) atau Es Kering (Dry Ice)untuk membentuk kristal-kristal es secara mendadak.

Tahapan dan Prosedur Operasional TMC

Tahap 1: Analisis Radar dan Meteorologi (BMKG)

Sebelum pesawat lepas landas, tim mendeteksi keberadaan awan potensial jenis Cumulus Humilis atau Cumulus Mediocris menggunakan radar cuaca dan satelit. 

Parameter yang dilihat mencakup ketebalan awan (minimal 1–2km), kandungan air olahan (Liquid Water Content), serta arah dan kecepatan angin.

Tahap 2: Penentuan Titik Semai (Targeting)

Hujan tidak disemai tepat di atas waduk, melainkan di Daerah Tangkapan Air (Catchment Area/DTA) atau kawasan hulu sungai yang mengalir ke waduk. 

Tim menghitung pergerakan angin (drift) agar saat awan mencair menjadi hujan, presipitasinya jatuh pas di area hulu.

Tahap 3: Eksekusi Penerbangan dan Penyemaian (TNI AU & BRIN)

Pesawat khusus (seperti Cassa 212 atau C-130 Hercules) terbang memasuki atau melintas di atas puncakan awan sasaran pada ketinggian 4.000–10.000 kaki.

  • Bahan semai NaCl bubuk ditaburkan secara mekar menggunakan sistem konsul khusus (flare/powder dispenser).
  • Partikel garam menyebar ke dalam arus udara naik (updraft) di dalam awan.

Tahap 4: Proses Pembentukan Hujan (Kondensasi Cepat)

Dalam waktu15 – 30 menit  setelah penaburan:

  • Partikel garam menyerap uap air di sekitarnya dengan sangat cepat.
  • Tetesan air bertambah besar dari ukuran mikron menjadi beberapa milimeter.
  • Ketika gaya gravitasi melebihi kekuatan arus udara naik (updraft), hujan deras berdurasi 1 – 2 jam jatuh merata membasahi area catchment area.

Seri Melindungi Bumi - Bagaimana Cuaca Hari ini?

 

 

Dampak dan Efektivitas terhadap Pengisian Waduk 

Indikator Tanpa Intervensi TMC Dengan Intervensi TMC
Peluang Awan Jadi Hujan 30%−50% (Banyak awan lewat tanpa hujan) Melonjak hingga 70%−80%
Volume Hujan (Rainfall Yield) Normal sesuai respon alami awan Meningkat 15%−30% dari kondisi alami
Kondisi Air Waduk Muka air terus menyusut saat kemarau Elefasi air waduk terjaga untuk PLTA & Irigasi

Dengan mengarahkan pembentukan hujan secara presisi di kawasan hulu waduk, TMC terbukti menjadi solusi teknis paling efektif untuk menjaga level muka air waduk (water storage elevation), menjamin keandalan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), dan mengamankan pasokan irigasi bagi ribuan hektar lahan pertanian saat kemarau panjang. 

Penerapan Zero Waste Sebagai Wujud Efisiensi Penggunaan Air

Penerapan gaya hidup zero waste bukan hanya soal mengurangi sampah plastik, melainkan juga meminimalkan pemborosan sumber daya alam, khususnya air bersih. 

Dalam skala rumah tangga, sebagian besar air yang kita gunakan terbuang begitu saja menjadi limbah. Padahal, dengan pendekatan efisiensi dan pemanfaatan ulang (reuse), kita bisa menghemat penggunaan air secara signifikan sekaligus menjaga cadangan air tanah saat musim kemarau.

Berikut pembahasan detail mengenai konsep greywater, diferensiasinya, serta langkah teknis pemanfaatannya di rumah.

Memahami Jenis Limbah Cair Rumah Tangga

Sebelum memanfaatkan kembali air bekas, Grameds perlu memahami dua kategori limbah cair domestik:

  • Blackwater

Air limbah yang berasal dari toilet/kloset. Limbah ini mengandung patogen berbahaya, tinja, dan urin sehingga tidak boleh digunakan kembali tanpa pengolahan biologis/kimia yang kompleks.

  • Greywater

Air bekas pakai yang berasal dari aktivitas non-kakus, seperti sisa cucian piring, air bekas mandi, air bilasan pakaian, serta buangan pendingin ruangan (AC). Greywater mengandung bahan organik yang jauh lebih rendah sehingga relatif aman dan mudah diolah untuk kebutuhan non-konsumsi.

Langkah Teknis Menghemat dan Memanfaatkan Greywater

Pemanfaatan Air Buangan AC (Condensate Water)

Air hasil kondensasi AC memiliki tingkat kemurnian yang sangat tinggi karena terbentuk dari pengembunan uap air di udara (bebas kaporit, mineral berat, atau sabun).

  • Penggunaan: Sangat ideal untuk menyiram tanaman, mengisi air radiator kendaraan, mencuci kendaraan, atau sebagai air wiper mobil.
  • Langkah Praktis: Tampung pipa pembuangan AC menggunakan galon atau ember tertutup di area bawah unit outdoor.

Pemanfaatan Air Bilasan Cucian Pakaian

Air dari proses cuci pakaian terbagi menjadi dua tahap: air sabun (detergent water) dan air bilasan terakhir.

  • Penggunaan: Air bilasan terakhir (yang sudah relatif jernih) dapat digunakan untuk mengepel lantai, menyiram area parkir/paving block, atau mencuci ban kendaraan.
  • Catatan Teknis: Gunakan detergen ramah lingkungan (biodegradable) agar sisa air tidak merusak struktur tanah atau membahayakan mikroorganisme jika terpapar ke halaman.

Pemanfaatan Air Mencuci Bahan Pangan (Beras, Sayur, dan Buah)

Air bekas cuci beras (air lindi/cucian beras) dan sayuran mengandung nutrisi organik seperti karbohidrat, nitrogen, dan fosfor dalam jumlah kecil.

  • Penggunaan: Air cuci beras sangat baik dijadikan pupuk cair alami untuk menyiram tanaman hias atau sayuran hidroponik/pot.
  • Langkah Praktis: Sediakan wadah khusus di dekat wastafel dapur untuk menampung air saat membersihkan beras dan sayur sebelum dimasak.

Untuk air greywater yang mengandung sisa sabun mandi atau sisa minyak dapur ringan, disarankan melakukan penyaringan fisik sederhana sebelum disiramkan ke tanaman

Melalui kebiasaan kecil ini, rumah tangga tidak hanya menekan tagihan bulanan, tetapi juga berperan aktif menjaga keberlanjutan pasokan air tanah di lingkungan sekitar.

Mau memperdalam pengetahuan seputar sains atmosfer, rekayasa lingkungan, dan inovasi teknologi iklim di Indonesia? Lengkapi koleksi buku referensi sains dan teknologimu hanya di Gramedia.com

About the author

Laura Saraswati

Gramedia Literasi