la nina adalah – Halo Grameds! Pernah bingung tidak, kenapa kadang musim kemarau di Indonesia rasanya malah sering hujan deras? Atau kenapa curah hujan di tempat tinggalmu tiba-tiba naik drastis sampai bikin beberapa wilayah kebanjiran?
Banyak yang mengira iklim kita cuma soal “musim hujan dan musim kemarau”. Padahal, di balik pola cuaca kita yang dinamis, ada aktor utama di tingkat global yang memegang kendali. Aktor iklim yang dimaksud tidak lain adalah La Nina.
Nah, artikel ini akan mengupas tuntas apa itu La Nina, bagaimana mekanisme fisika atmosfernya bekerja, dampaknya terhadap wilayah Indonesia, hingga langkah mitigasi konkret yang bisa Grameds lakukan.
Daftar Isi
Apa Itu La Nina? Definisi dan Istilah Dasar
Secara ilmiah, La Nina adalah fenomena anomali iklim global yang ditandai dengan mendinginnya suhu permukaan laut (Sea Surface Temperature / SST) di Samudra Pasifik tropis bagian tengah dan timur di bawah rerata kondisinya.
Istilah “La Niña” berasal dari bahasa Spanyol yang berarti “gadis cilik”. Nama ini diberikan oleh para nelayan di Amerika Selatan untuk membedakannya dengan fenomena lawannya, yaitu El Niño (“anak laki-laki”), yang ditandai dengan pemanasan suhu permukaan laut di kawasan yang sama.
Perbedaan Utama: La Nina vs El Nino
Dikutip dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), fenomena El Niño dan La Niña adalah dua fase ekstrem dari siklus iklim yang dikenal sebagai ENSO (El Niño-Southern Oscillation).
1. Fase El Nino
Suhu air laut Pasifik tengah-timur menghangat → pusat pembentukan awan hujan bergeser ke tengah Pasifik → wilayah Indonesia mengalami penurunan curah hujan drastis (kekeringan/kemarau panjang).
2. Fase La Nina
Suhu air laut Pasifik tengah-timur mendingin → angin pasat meng dorong air hangat ke arah perairan Indonesia → pembentukan awan hujan berpindah ke Pasifik Barat/Indonesia → curah hujan di Indonesia melonjak drastis di atas normal.
3. Fase Netral
Kondisi suhu permukaan laut dan sirkulasi atmosfer berada pada kisaran rerata iklim normalnya.
Mekanisme Kerja La Nina di Samudra Pasifik
Bagaimana peristiwa mendinginnya air laut di Pasifik timur bisa berdampak langsung pada banjir di Jakarta atau curah hujan di Jawa dan Sumatra? Mari kita bedah mekanisme fisika atmosfernya secara ringkas.
Tahapan Terjadinya La Nina
- Penguatan Angin Pasat Timur (Trade Winds)
Dalam kondisi normal, angin pasat berhembus dari timur ke barat melintasi Pasifik. Saat La Nina aktif, angin pasat ini mengencang secara signifikan.
- Penumpukan Massa Air Hangat (Warm Pool)
Angin pasat yang kuat mendorong massa air permukaan laut yang hangat menuju ke wilayah Pasifik Barat, tepatnya di perairan Indonesia dan sekitarnya.
- Fenomena Upwelling di Pasifik Timur
Di Pasifik timur (lepas pantai Peru/Ekuador), air dingin dari dasar laut naik ke permukaan menggantikan air hangat yang terdorong ke barat. Hal ini membuat suhu Pasifik timur menjadi jauh lebih dingin dari biasanya.
- Sirkulasi Walker yang Intensif
Penumpukan air hangat di Indonesia memicu penguapan masif dan proses konveksi tinggi. Udara basah naik dan membentuk awan-awan konvektif tebal (seperti Cumulonimbus) di atas kepulauan Indonesia, memicu hujan lebat konstan.
Dampak Fenomena La Nina terhadap Wilayah Indonesia
BMKG mencatat bahwa dampak La Nina tidak seragam di seluruh wilayah Indonesia. Efeknya bervariasi tergantung pada intensitas La Nina (lemah, sedang, atau kuat), monsun, serta topografi lokal.
Dampak Positif dan Negatif di Berbagai Sektor
- Sektor Bencana Hidrometeorologi:
- Dampak Negatif: Peningkatan curah hujan bulanan sebesar 20% hingga 40% di atas normal memicu risiko tinggi bencana hidrometeorologi, seperti banjir bandang, tanah longsor, luapan sungai, dan angin puting beliung.
- Sektor Pertanian:
- Dampak Positif: Lahan pertanian tadah hujan mendapatkan pasokan air yang melimpah. Petani bisa memperpanjang masa tanam padi karena air ketersediaannya terjaga.
- Dampak Negatif: Curah hujan ekstrem saat masa panen berisiko menggenangi sawah, merusak kualitas bulir padi, serta meningkatkan serangan hama tanaman yang menyukai kelembapan tinggi.
- Sektor Perikanan dan Kelautan:
- Suhu perairan hangat di wilayah Indonesia merangsang migrasi beberapa jenis ikan, namun gelombang laut yang tinggi akibat angin kencang kerap menyulitkan nelayan tradisional untuk melaut secara aman.
- Sektor Kesehatan Masyarakat:
- Lingkungan yang basah dan tergenang menjadi sarang berkembang biaknya nyamuk pembawa penyakit seperti Demam Berdarah Dengue (DBD), serta meningkatkan risiko penyakit kulit dan leptospirosis.
Cara BMKG Memantau dan Mengukur Indikator La Nina
Untuk menentukan apakah status iklim saat ini sedang mengalami La Nina atau tidak, BMKG mengamati beberapa parameter kuantitatif secara real-time:
1. Indeks Nino 3.4
BMKG dan lembaga iklim dunia (seperti NOAA) mengukur anomali suhu permukaan laut di zona Pasifik Tengah (Nino 3.4). Jika anomali suhu bernilai -0.5°C atau lebih dingin selama minimal 5 periode tiga bulanan berturut-turut, maka kondisi dikategorikan sebagai La Nina.
2. Southern Oscillation Index (SOI)
Mengukur perbedaan tekanan udara permukaan laut antara Tahiti dan Darwin (Australia). Nilai SOI positif yang tinggi menunjukkan penguatan angin pasat atau kondisi La Nina.
3. Outgoing Longwave Radiation (OLR)
Mengukur tutupan awan di Pasifik equatorial. Nilai OLR rendah di wilayah Indonesia menunjukkan tutupan awan hujan yang sangat tebal.
Perbandingan Parameter Iklim: Normal vs El Nino vs La Nina
Agar Grameds makin mudah membayangkan perbedaan ketiga fase iklim ini, mari kita cermati tabel perbandingannya berikut:
| Parameter Iklim | Kondisi Normal | Fase El Nino | Fase La Nina |
| Kekuatan Angin Pasat | Normal dari timur ke barat | Melemah / berbalik arah | Mengencang signifikan |
| Pusat Pembentukan Awan | Pasifik Tengah | Pasifik Timur / Tengah | Pasifik Barat (Indonesia) |
| Curah Hujan di Indonesia | Sesuai rerata klimatologis | Berkurang drastis (Kemarau Ekstrem) | Meningkat pesat ($20\%-40\%$ di atas normal) |
| Risiko Bencana Utama | Standar musiman | Kekeringan & Kebakaran Hutan/Lahan | Banjir, Tanah Longsor, Puting Beliung |
Mitigasi dan Kesiapsiagaan Menghadapi La Nina
Mengetahui bahwa informasi iklim sifatnya dinamis, BMKG selalu mengimbau masyarakat untuk mengambil langkah antisipatif sejak dini ketika peringatan dini La Nina dikeluarkan:
Langkah Pra-Bencana untuk Masyarakat & Pemerintah Daerah
- Bersihkan Saluran Air dan Drainase
Pastikan tidak ada sumbatan sampah pada gorong-gorong permukiman untuk mencegah banjir genangan.
- Pangkas Dahan Pohon Rindang
Mengurangi beban angin pada pohon tua agar tidak tumbang saat hujan deras disertai angin kencang.
- Cek Keandalan Lereng Bukit
Masyarakat di kawasan lereng pegunungan wajib waspada terhadap retakan tanah yang bisa memicu tanah longsor saat diguyur hujan berdurasi lama.
- Pantau Informasi Resmi BMKG
Gunakan aplikasi InfoBMKG atau kanal media sosial resmi BMKG untuk mendapatkan prakiraan cuaca harian berbasis dampak (Impact-Based Forecast).
Dampak La Nina Pada Lahan Pertanian di Indonesia
Fenomena La Niña memang memicu dilema tersendiri buat sektor pertanian kita. Lonjakan curah hujan sebesar 20% hingga 40% dari batas normal ibarat pisau bermata dua.
Di satu sisi mendatangkan ancaman bencana, tapi di sisi lain menyimpan potensi besar untuk meledakkan produksi pangan nasional, asalkan dikawal dengan strategi adaptasi yang tepat.
1. Sisi Positif dan Risiko La Niña di Lahan Pertanian
Dampak La Niña di lapangan bisa kita bedah dari dua sudut pandang berbeda:
Tantangan Utama (Sisi Risiko)
- Ancaman Banjir dan Puso
Air yang merendam area persawahan dalam waktu lama memicu pembusukan akar hingga gagal panen total. Risiko ini paling rawan menimpa tanaman padi muda serta komoditas hortikultura seperti cabai, bawang, dan sayur-sayuran.
- Serangan Hama dan Disease (OPT)
Kelembapan udara yang ekstrem menjadi sarang ideal bagi perkembangbiakan jamur pembusuk daun/buah, lonjakan populasi wereng batang cokelat, hingga serangan hama tikus pascabanjir.
- Penurunan Kualitas Pascapanen
Sesi pengeringan gabah bakal terhambat karena hujan turun terus-menerus. Petani yang masih mengandalkan penjemuran manual di bawah sinar matahari (sun drying) berisiko mengalami penurunan mutu beras secara signifikan.
Peluang Emas (Sisi Manfaat)
- Ekspansi Area Tanam (PAT)
Dilansir dari data BMKG, La Niña memicu hadirnya fenomena “kemarau basah”. Momen ini memberikan ruang bagi petani sawah tadah hujan dan lahan gogo untuk terus bercocok tanam sepanjang tahun tanpa perlu cemas kehabisan pasokan air.
- Maksimalkan Stok Cadangan Air
Hujan deras yang mengguyur wilayah Indonesia otomatis mengisi ulang pasokan air di waduk, embung, dan jaringan irigasi hingga kapasitas optimal untuk mengamankan musim tanam berikutnya.
Jurus Adaptasi dan Mitigasi bagi Para Petani
Untuk menekan angka puso sekaligus memanfaatkan limpahan air secara efisien, Kementan bersama BMKG membagikan beberapa rekomendasi langkah adaptif:
- Penanaman Varietas Padi Tahan Rendaman
Petani di wilayah rawan banjir diimbau beralih ke varietas padi VUB (Varietas Unggul Baru) yang sanggup bertahan di bawah genangan air selama 10–14 hari, seperti seri Inpara 1–10, Inpari 29, maupun Inpari 30 Pasong.
- Optimalisasi Saluran Drainase dan Pompanisasi
Pembenahan tata kelola air (in-out) pada petakan sawah serta normalisasi saluran irigasi penting dilakukan agar aliran air tidak tertahan saat debit memuncak. Siapkan juga pompa air untuk menyedot genangan di area rawan.
- Modernisasi Teknologi Pascapanen
Penggunaan alat pengering mekanis (bed/vertical dryer) serta penggilingan padi modern (RMU) menjadi solusi ampuh agar kualitas gabah tetap terjaga meski cuaca tidak bersahabat.
- Proteksi melalui Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP)
Mendaftarkan lahan ke program AUTP sangat krusial sebagai jaring pengaman financial, sehingga petani bisa mengklaim ganti rugi per hektar jika sawah mereka diterjang puso.
Ancaman Kesehatan Publik di Musim Basah
Musim basah yang diiringi fenomena La Niña memang membawa keberkahan pasokan air, tetapi di sisi kesehatan publik, genangan dan banjir adalah “bom waktu” bagi munculnya berbagai penyakit infeksi.
Berikut adalah pembongkaran detail mengenai tiga ancaman kesehatan publik utama saat musim basah beserta mekanisme penularan dan pencegahannya.
1. Demam Berdarah Dengue (DBD): Pemburu di Genangan Air Bersih
Banyak yang mengira nyamuk Aedes aegypti berkembang biak di air selokan yang keruh dan kotor.
Ini adalah persepsi yang keliru. Vektor utama virus Dengue ini justru menyukai genangan air tenang yang relatif bersih dan tidak bersentuhan langsung dengan tanah.
Mekanisme Lonjakan Kasus saat La Niña
- Genangan Bening Pasca-Hujan
Hujan deras bergantian dengan cuaca hangat meninggalkan genangan di pot bunga, talang air menyumbat, ban bekas, hingga sampah plastik. Tempat-tempat ini menjadi media ideal (breeding place) bagi nyamuk betina meletakkan telurnya.
- Siklus Menetas yang Melonjak
Dikutip dari Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes), telur nyamuk Aedes sanggup bertahan di tempat kering hingga berbulan-bulan. Begitu terguyur air hujan saat musim basah, telur-telur tersebut menetas serentak dalam hitungan hari.
- Suhu & Kelembapan Optimal
Kelembapan udara tinggi memanjangkan umur nyamuk dewasa sekaligus memperpendek masa inkubasi ekstrinsik virus Dengue di dalam tubuh nyamuk. Akibatnya, frekuensi nyamuk menggigit manusia meningkat pesat.
2. Leptospirosis: Ancaman Tersembunyi dari Air Kencing Tikus
Dari seluruh penyakit pascabanjir, Leptospirosis adalah salah satu yang paling mematikan jika terlambat ditangani.
Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Leptospira yang menginfeksi tubuh manusia melalui kontak kulit.
Jalur Penularan dan Bahayanya
- Tikus sebagai Inang Utama
Bakteri Leptospira hidup di ginjal hewan pengerat (terutama tikus) dan dikeluarkan melalui urine/air kencing mereka.
- Tercemarnya Air Banjir
Saat air banjir meluap dan menggenangi permukiman serta saluran air, urine tikus bercampur rapat dengan air genangan.
- Penetrasi via Luka Terbuka & Mukosa
Bakteri masuk ke tubuh manusia saat seseorang menerobos air banjir (nyemplung) tanpa pelindung. Bakteri menginfeksi melalui luka kecil di kulit, goresan, atau selaput lendir (mata, hidung, dan mulut).
- Risiko Komplikasi Berat (Weil’s Disease)
Jika tidak segera diobati dengan antibiotik, infeksi ini berisiko memicu kerusakan hati (ditandai mata kuning), gagal ginjal akut, hingga pendarahan paru-paru yang mengancam jiwa.
3. Masalah Kebersihan Air Bersih dan Penyakit Saluran Pencernaan
Saat banjir meluas, infrastruktur sanitasi adalah hal pertama yang lumpuh. Luapan air banjir mencemari sumber-sumber air minum warga secara masif.
Kontaminasi dan Jenis Penyakit Saluran Cerna
- Tercemarnya Sumur dan Perpipaan
Water table (muka air tanah) yang naik membuat air banjir yang kotor masuk ke dalam sumur gali warga. Saluran Septic Tank yang kelebihan muatan (overflow) ikut meluap dan bercampur dengan air banjir.
- Diare Akut dan Kolera
Bakteri seperti Escherichia coli, Salmonella, serta Vibrio cholerae menyebar cepat melalui air tercemar yang digunakan untuk minum, memasak, atau mencuci peralatan makan.
- Demam Tifoid (Tipes)
Sanitasi buruk dan minimnya air bersih untuk mencuci tangan sebelum makan memicu lonjakan kasus tipes di pengungsian atau area terdampak banjir.
Tabel Rangkuman Ancaman Kesehatan Musim Basah
| Jenis Penyakit | Vektor / Penyebab | Media Penularan Utama | Gejala Khas yang Wajib Diwaspadai |
| Demam Berdarah (DBD) | Nyamuk Aedes aegypti | Gigitan nyamuk di genangan bersih | Demam tinggi mendadak, nyeri sendi/otot, bintik merah, trombosit turun. |
| Leptospirosis | Bakteri Leptospira | Air banjir bercampur kencing tikus | Nyeri betis hebat, demam tinggi, mata kuning, urine berwarna gelap. |
| Diare Akut & Tipes | Bakteri E. coli & Salmonella | Air minum / makanan tercemar | BAB cair berulang, mual, muntah, kram perut, demam naik-turun. |
Pentingnya Literasi Iklim bagi Masyarakat Indonesia
Sebagai negara kepulauan yang terletak di garis khatulistiwa dan dihimpit dua samudra besar, Indonesia sangat rentan terhadap variabilitas iklim global.
Memahami fenomena seperti La Nina, El Nino, maupun Dipole Mode bukan lagi sekadar pengetahuan akademik, melainkan kebutuhan dasar keselamatan (safety awareness) seluruh warga negara.
Dengan literasi iklim yang baik, kita tidak hanya bisa menyelamatkan diri dan keluarga dari ancaman bencana alam, tetapi juga bisa memanfaatkan pasokan air yang berlimpah secara produktif di sektor pertanian dan energi terbarukan.
Yuk, Perluas Literasi Geografi dan Sains Bersama Gramedia!
Apakah Grameds makin penasaran ingin mempelajari lebih dalam seputar sains atmosfer, meteorologi, geofisika, hingga dinamika perubahan iklim global?
Jangan berhenti sampai di sini! Lengkapi koleksi buku sains, geografi, dan lingkungan hidup terlengkapmu hanya di Gramedia.com.
Dapatkan berbagai pilihan buku edukatif, ensiklopedia sains anak dan remaja, hingga buku sains populer karya akademisi tepercaya.
Nikmati penawaran diskon spesial, diskon promo menarik setiap hari, dan pengiriman aman langsung ke rumah Grameds. Mari tingkatkan literasi sains dan jaga bumi kita bersama Gramedia!
- Banjir Lahar
- Budidaya
- Ciri Sumber Daya Alam Dapat Diperbaharui
- Ciri Sumber Daya Alam Tidak Dapat Diperbaharui
- Curug di Bandung
- Contoh Barang Setengah Jadi
- Contoh Sampah Residu
- Fauna Tipe Australis
- Fenomena La Nina
- Gunung Agung
- Gunung Bromo
- Gunung Gede
- Gunung Papandayan
- Gunung Sindoro
- Karakteristik Fauna Oriental
- Menatap Sunyi Di Batas Urban Menemukan Keasrian Wisata Alam Gunung Dago Bogor
- Mengenal Bioetanol
- Mengenal Danau Terbesar di Indonesia
- Menyapa Matahari dari Puncak Dewata Gunung Batur Bali
- Migrasi Kupu-Kupu
- Oase Hijau Curug Subang
- Peta Kadaster
- Puyuh Bertelur
- Refinery
- Sumber Daya Alam yang Dapat Diperbaharui
- Sumber Daya Alam yang Tidak Dapat Diperbaharui




