minuman khas makassar – Saat berkunjung ke Makassar, mata dan lidah kita pasti langsung tertuju pada kekayaan kuliner yang nggak ada habisnya, dari Coto hingga Konro. Tapi, tahukah kamu, identitas kota pelabuhan ini tidak hanya ada di makanan beratnya? Justru, minuman khas makassar lah yang menjadi penutup sempurna dan simbol kehangatan budaya Bugis-Makassar.
Minuman di sini unik karena punya dua karakter ekstrem: ada yang super dingin, creamy, dan manis, seperti Es Pisang Ijo yang ikonik, dan ada juga yang sangat hangat dan berempah seperti Sarabba. Ini mencerminkan budaya pesisir yang dinamis, di mana orang butuh penyegar setelah panas-panasan, atau booster hangat untuk menghadapi malam.
Kalau kamu tertarik nyobain Makassar secara utuh, kamu wajib banget cicipin minuman-minuman ini. Aku akan bedah 5 minuman paling ikonik dan wajib kamu icip. Kita mulai dari yang paling terkenal, yang selalu jadi highlight setiap kali nama Makassar disebut!
Daftar Isi
Es Pisang Ijo, Mahkota Segar Kuliner Makassar

Es Pisang Ijo adalah dessert sekaligus minuman khas makassar yang ikonik, terdiri dari pisang yang dibungkus adonan tepung beras berwarna hijau dari air daun suji, disajikan dengan bubur sumsum putih, sirup merah, dan es serut. Es Pisang Ijo tidak hanya sekadar makanan. Ia adalah ikon yang melambangkan kekayaan kuliner Sulawesi Selatan. Kalau kamu belum nyobain ini, berarti kamu belum ke Makassar!
Kenapa Es Pisang Ijo Begitu Ikonik?
- Pisang Raja atau Kepok matang dibungkus adonan tepung beras yang sudah dicampur air daun suji atau pandan, ngasih warna hijau cerah yang cantik.
- Kuahnya creamy, disajikan dengan bubur sumsum putih yang lembut dan gurih dibuat dari santan kental, yang menjadi kuah utama.
- Rasanya segar banget, karena ditambah sirup merah (sirup frambozen) dan es serut yang melimpah.
Perpaduan rasa dingin, manis, gurih, dan tekstur lembut bubur ini menjadikannya penutup yang sempurna!
Es Pallu Butung, Kesederhanaan dalam Kelezatan

Minuman khas Makassar berikutnya ini mirip Pisang Ijo, namun pisangnya tidak dibungkus adonan hijau. Pisang disajikan langsung bersama kuah bubur sumsum putih yang manis dan hangat, walaupun disajikan dingin.
Banyak orang sering salah membedakan Pallu Butung dengan Pisang Ijo. Padahal, perbedaannya ada di “kemasan” pisang.
- Pallu Butung fokus pada rasa pisang yang original dan kuah bubur sumsum yang creamy.
- Lalu untuk penyajiannya Pisang Kepok atau Pisang Raja dipotong-potong, lalu disajikan langsung di dalam kuah bubur sumsum, es serut, dan sirup merah, tanpa dibungkus adonan tepung hijau.
Baik Es Pisang Ijo maupun Es Pallu Butung sama-sama menjadi simbol kebanggaan kuliner Makassar yang wajib kamu cicipi. Setelah ngadem, sekarang saatnya kita bahas minuman yang menghangatkan dan punya fungsi kesehatan. Kamu bisa tebak?
Sarabba, Booster Stamina Berempah Pesisir

Sarabba disajikan panas, terbuat dari ramuan jahe, gula merah, santan, dan sering ditambahi kuning telur untuk meningkatkan stamina. Minuman ini populer di kalangan nelayan dan pekerja keras. Kalau ngomongin minuman rempah di Makassar, Sarabba adalah juaranya. Ini tidak hanya soal rasa, tapi soal fungsi.
- Menggunakan ramuan kekuatan, Sarabba dibuat dari perasan jahe yang kuat, dicampur dengan gula merah dan sedikit santan biar creamy.
- Sarabba sangat populer di kalangan nelayan atau pekerja yang harus begadang, karena dikenal ampuh menghangatkan badan dan menjaga stamina.
- Seringkali Sarabba disajikan dengan kuning telur yang dikocok (seperti Sarabba Telur), yang ngasih protein boost yang luar biasa.
Sarabba menunjukkan bahwa minuman khas Makassar adalah perpaduan sempurna antara rasa dan fungsi. Penasaran nggak sama rasanya?
Es Kelapa Muda Khas Pesisir

Es Kelapa Muda di Makassar sangat segar karena memanfaatkan kelapa muda yang dipanen langsung dari pohon kelapa di pesisir, disajikan dengan es, sirup, dan irisan daging buah. Meskipun Es Kelapa Muda ada di mana-mana, kelapa muda khas pesisir Makassar punya rasa yang berbeda.
- Air kelapa di daerah pesisir punya rasa yang sangat segar dan nggak terlalu manis alami.
- Disajikan sederhana, hanya dengan es serut, sedikit sirup (gula merah atau sirup frambozen), dan irisan daging kelapa muda yang masih lembut.
Ini adalah minuman alami yang paling ampuh buat ngilangin haus setelah kamu berjalan-jalan di bawah terik matahari Sulawesi.
Ballo’ (Tuak Palm), Tradisi Fermentasi Lokal
Ballo’ adalah minuman tradisional Suku Bugis-Makassar yang disadap dari pohon lontar atau enau. Mirip dengan tuak, minuman ini memiliki versi manis (tidak beralkohol) dan versi fermentasi (beralkohol), yang sering disajikan dalam upacara adat. Ballo’ menjadi minuman tradisional yang sangat berakar pada budaya lokal, terutama di daerah Bugis-Makassar.
Tips Biar Nggak Ketukar: Bedanya Es Pisang Ijo dan Es Pallu Butung, Duo Minuman Khas Makassar yang Legendaris
Banyak wisatawan yang sering tertukar saat mau pesan dua menu ini karena tampilannya yang mirip, yaitu sama-sama pakai pisang, bubur sumsum, dan sirup merah. Padahal, cara bedainnya gampang banget! Kalau Es Pisang Ijo, pisangnya itu “berbaju” alias dibungkus adonan tepung kenyal warna hijau. Teksturnya jadi lebih ramai di mulut dan jujur saja, cukup bikin kenyang karena ada tambahan karbohidrat dari tepungnya.
Nah, kalau Es Pallu Butung, pisangnya tampil “polos” alias dipotong-potong langsung tanpa lapisan tepung. Pallu butung biasanya jadi favorit buat kamu yang pengen rasa pisang aslinya lebih dominan dan nggak pengen terlalu kenyang. Jadi, sebagai penikmat minuman khas Makassar, pastikan dulu kamu lagi pengen yang “berbaju” atau yang “polos” sebelum pesan ke penjualnya, ya!
Nah, satu lagi nih.. Pernah nggak kamu bertanya-tanya, kenapa es-esan di Makassar warnanya merah menyala dan aromanya harum banget? Rahasianya bukan di sirup botolan biasa yang ada di supermarket nasional, tapi pada Sirup DHT. Sirup ini adalah “nyawa” dari hampir semua minuman khas Makassar versi dingin.
Dibuat asli di Makassar sejak puluhan tahun lalu, sirup ini punya rasa pisang ambon yang kental dan kuat banget. Bagi warga lokal, Es Pisang Ijo kalau nggak pakai sirup DHT itu rasanya seperti ada yang kurang, kayak ada bagian sejarah yang hilang. Kalau kamu nanti mampir ke warung es di pinggir Pantai Losari, coba deh intip botolnya; labelnya yang klasik itu sudah jadi jaminan rasa autentik yang nggak akan kamu temukan di kota lain.
Kapan Waktu Terbaik Nyeruput Berbagai Minuman Khas Makassar?
Di Makassar, ada semacam “aturan tak tertulis” soal kapan waktu paling pas buat menikmati deretan minumannya supaya sensasinya makin maksimal di lidah dan badan. Kamu harus tahu kalau cuaca di kota ini bisa sangat kontras, jadi strategi “nyeruput” pun harus menyesuaikan keadaan. Kalau matahari lagi terik-teriknya, yang biasanya terasa sangat menyengat di area pesisir, jangan sekali-kali nekat cari yang panas. Jam satu siang sampai sore hari adalah waktu “kekuasaan” es. Inilah saatnya Es Pisang Ijo yang creamy atau Es Kelapa Muda yang segar beraksi mendinginkan kepala dan tenggorokanmu dari panasnya cuaca Sulawesi. Menikmati es di jam-jam ini rasanya seperti menemukan oase di tengah padang pasir!
Tapi, suasana akan berubah total begitu matahari terbenam. Begitu masuk waktu magrib, saat angin laut mulai terasa kencang, atau ketika cuaca lagi mendung-mendung syahdu, barulah warga lokal mulai keluar memburu minuman khas Makassar yang sifatnya menghangatkan seperti Sarabba. Minuman jahe berempah ini punya “jam tayang” utama di malam hari, biasanya dinikmati santai di warung-warung pinggir jalan sambil ngemil gorengan panas atau Pisang Epe (pisang bakar jepit) yang manis legit.
Kenapa harus malam? Karena Sarabba punya efek jahe dan rempah yang sangat kuat untuk merilekskan otot, mengusir masuk angin, dan mengembalikan stamina setelah seharian beraktivitas. Kalau kamu minum ini di waktu yang tepat, badan bakal terasa ringan dan tidur pun jadi jauh lebih nyenyak. Jadi, pastikan kamu nggak salah jam ya, es buat mendinginkan siang, dan Sarabba buat memeluk malam!
Satu tips tambahan: Kalau kamu mampir ke kawasan Jalan Sungai Cerekang saat malam hari, suasana berburu minuman khas Makassar yang hangat ini bakal terasa makin hidup. Di sana, deretan penjual Sarabba siap menyambutmu dengan aroma jahe yang harum semerbak di sepanjang jalan.
Nah, setelah kamu ngelihat betapa kayanya minuman khas Makassar ini, kamu pasti sadar kalau kuliner Makassar itu sungguh istimewa. Untuk bisa menikmati dan memahami cerita di balik setiap sajian, kamu butuh insight tambahan. Proses ini akan lebih mudah jika kamu punya panduan yang kuat tentang sejarah, maritim, dan budaya Bugis-Makassar.
1. Backpacking Makassar & Sekitarnya
Buku ini memuat tips perjalanan murah meriah ke Makassar dan sekitarnya, lengkap dengan contoh itinerary, rute transportasi, dan detail destinasi dari wisata kota modern hingga keindahan alam gua purba.
2. Vlaardingen : Menguak Sebuah Kota Yang Hilang Di Makassar
Mengajak pembaca menelusuri sejarah kota elit Vlaardingen yang hilang di Makassar (kini Palladingang), menggali kejayaannya di masa lalu, sekaligus menawarkan gagasan revitalisasi Kota Tua Baru di sekitar Pantai Losari.
3. Ensiklopedia Pulau-Pulau Kecil Nusantara: Laut Sulawesi dan Selat Makassar
Ensiklopedia yang memuat gambaran komprehensif tentang potensi Pulau-Pulau Kecil di Laut Sulawesi dan Selat Makassar, mengungkap kekayaan perairan, potensi perikanan, serta nilai strategis pulau terluar Indonesia.
Semua koleksi ini bisa kamu download dan baca dengan gampang di Gramedia Digital. Setelah bekal insight-mu lengkap, kamu akan lebih siap untuk menyimpulkan, apa sih sebenarnya kekuatan terbesar dari Makassar?
Kekuatan Makassar Ada di Rasa yang Kontras
Setelah bedah tuntas soal minuman ini, kita jadi sadar bahwa minuman khas Makassar adalah cerminan dari budaya yang kaya dan dinamis. Makassar punya dua kekuatan, yaitu kesegaran Es Pisang Ijo dan kehangatan Sarabba. Ini menunjukkan bahwa budaya mereka tahu kapan harus mendinginkan dan kapan harus menghangatkan diri.
Jadi, kalau kamu berkesempatan ke Sulawesi Selatan, jangan lupa cicipi Es Pisang Ijo untuk ngadem di siang hari, dan tutup malammu dengan Sarabba hangat yang ngasih energi. Karena nggak ada cara yang lebih baik untuk mengenal sebuah kota selain melalui rasa autentiknya!




