Sebab Satu Percakapan Bisa Berarti: Kenapa Kita Perlu Lebih Peduli soal Suicide Prevention?
Kamu sudah tahu belum Grameds, kalau setiap bulan September dunia memeringati momentum untuk meningkatkan kesadaran tentang suicide prevention atau pencegahan bunuh diri?
Momentum ini kemudian mencapai puncaknya pada 10 September melalui World Suicide Prevention Day. Pada tahun ini, International Association for Suicide Prevention (IASP) memasuki tahun terakhir dari tema tiga tahunnya, “Changing the Narrative on Suicide”.
Tema ini mengajak masyarakat mengubah cara memandang dan membicarakan bunuh diri, dari stigma dan keheningan menuju percakapan yang lebih terbuka, penuh empati, serta dukungan.
Semangat tersebut mengingatkan kita bahwa pencegahan bunuh diri juga bisa dimulai dari lingkungan terdekat.
Lantas, kenapa kita perlu lebih peduli soal suicide prevention, dan apa yang bisa kita lakukan ketika seseorang di sekitar kita sedang menghadapi masa sulit?
Bunuh Diri Masih Menjadi Persoalan Kesehatan Global
Menurut data World Health Organization (WHO), lebih dari 720.000 orang meninggal karena bunuh diri setiap tahun di seluruh dunia.
Data tersebut juga menunjukkan bahwa bunuh diri menjadi penyebab kematian ketiga pada kelompok usia 15–29 tahun secara global. Adapun, sekitar 73 persen kematian akibat bunuh diri terjadi di negara berpendapatan rendah dan menengah.
WHO juga memperkirakan bahwa untuk setiap orang yang meninggal karena bunuh diri, terdapat lebih dari 20 orang lain yang melakukan percobaan bunuh diri, meski angkanya dapat berbeda menurut negara, wilayah, usia, jenis kelamin, dan faktor lainnya.
Di Indonesia, data WHO mencatat angka kematian akibat bunuh diri sebesar 1,6 per 100.000 penduduk pada 2019. WHO juga menjelaskan bahwa estimasi tingkat kematian berdasarkan negara perlu dibaca dengan mempertimbangkan kualitas dan kelengkapan sistem pencatatan kematian di masing-masing negara.
Angka tersebut memberi gambaran tentang skala persoalan, tetapi setiap angka tetap mewakili kehidupan seseorang, keluarga, dan lingkungan yang terdampak.
Dari situ, pencegahan membutuhkan perhatian dari berbagai sisi, termasuk akses terhadap layanan kesehatan jiwa dan dukungan dari lingkungan terdekat.
Baca juga: Terjebak di Antara Dua Zaman: Kisah Dunia yang Perlahan Berakhir dalam The Setting Sun
Apa yang Bisa Membuat Seseorang Berada dalam Kondisi Rentan?
Bunuh diri memiliki penyebab yang kompleks. Satu pengalaman atau satu masalah biasanya nggak cukup untuk menjelaskan kondisi seseorang.
WHO menyebut berbagai faktor dapat saling berkaitan, termasuk tekanan hidup, masalah hubungan, pengalaman kekerasan atau trauma, isolasi sosial, gangguan kesehatan mental, penggunaan alkohol atau zat tertentu, kondisi kesehatan kronis, serta pengalaman kehilangan atau krisis.
Situasi tersebut juga bisa berinteraksi dengan kondisi lain dalam kehidupan seseorang. Tekanan pekerjaan, masalah finansial, konflik keluarga, perundungan, diskriminasi, atau perubahan besar dalam hidup dapat terasa semakin berat ketika seseorang menghadapi semuanya sendirian.
Karena itu, memahami suicide prevention berarti melihat seseorang secara utuh. Fokusnya bukan mencari satu penyebab, melainkan memahami bahwa seseorang yang sedang mengalami tekanan membutuhkan ruang untuk bercerita, dukungan sosial, dan akses terhadap bantuan yang tepat.
Lalu, sebagai orang terdekat, apa yang bisa kita lakukan untuk membantu?
5 Hal yang Bisa Kita Lakukan untuk Membantu
Berikut beberapa hal sederhana yang bisa dilakukan, Grameds:
1. Mulai dengan Bertanya
Perhatian bisa dimulai dari check-in sederhana. Ketika melihat teman, keluarga, atau rekan kerja mengalami perubahan atau tampak sedang menghadapi masa sulit, tanyakan kabarnya dengan tulus.
Kamu bisa membuka percakapan dengan kalimat seperti, “Belakangan ini perasaan kamu lagi gimana?”, “Apa yang lagi ngeberatin?”, atau “Mau cerita? Sini aku dengerin.”
Pertanyaan-pertanyaan tersebut punya kans memberi ruang bagi seseorang untuk menentukan sendiri apa yang ingin mereka ceritakan.
2. Dengarkan dengan Serius
Ketika seseorang mulai bercerita, berikan perhatian penuh. Dengarkan pengalaman dan perasaan mereka sebelum buru-buru memberikan nasihat atau mencari solusi. Respons yang menunjukkan empati dapat membuat percakapan terasa lebih aman.
Hindari kalimat yang mengecilkan pengalaman mereka seperti “Kamu harus lebih bersyukur”, “Masalahnya juga kecil”, atau “Orang lain juga punya masalah masing-masing kok.”
Kamu bisa menggantinya dengan respons seperti, “Makasih ya sudah mau cerita,” atau “Aku bisa ngerti kalau ini terasa berat buat kamu.”
3. Berani Bertanya Secara Langsung
Ketika muncul kekhawatiran bahwa seseorang sedang memiliki pikiran untuk bunuh diri, pertanyaan langsung bisa menjadi bagian dari percakapan. Sampaikan dengan tenang dan gunakan bahasa yang jelas.
WHO menjelaskan bahwa bertanya secara langsung tentang bunuh diri tidak meningkatkan kemungkinan seseorang melakukan bunuh diri; pertanyaan tersebut justru dapat membuka kesempatan bagi seseorang untuk mengungkapkan apa yang sedang dirasakan dan mendapatkan bantuan.
4. Bantu Terhubung dengan Dukungan
Setelah mendengarkan ceritanya, bantu seseorang menemukan dukungan yang sesuai. Kamu bisa menawarkan untuk menghubungkan mereka dengan psikolog, psikiater, dokter, konselor, anggota keluarga, atau orang lain yang mereka percaya.
Dukungan juga bisa berbentuk hal sederhana, seperti menemani membuat janji dengan tenaga profesional, membantu mencari informasi layanan kesehatan, atau tetap menjaga komunikasi setelah percakapan tersebut.
Kehadiran yang konsisten dapat membantu seseorang merasa tetap terhubung dengan orang lain.
5. Kenali Situasi yang Membutuhkan Pertolongan Segera
Ketika seseorang berada dalam bahaya langsung, menyampaikan keinginan untuk mengakhiri hidup, atau memiliki rencana untuk menyakiti diri, situasinya membutuhkan bantuan segera. Untuk itu, kamu bisa menghubungi layanan kegawatdaruratan, tenaga kesehatan, layanan krisis, atau orang terdekat yang dapat membantu.
Dalam kondisi seperti ini, usahakan orang tersebut tetap bersama orang lain dan mendapatkan bantuan profesional secepatnya.
Butuh Bantuan? Ada Tempat untuk Mencari Pertolongan
Mendampingi seseorang memang bisa dimulai dari percakapan sederhana, tetapi dukungan profesional tetap memiliki peran penting untuk menopang keberlangsungannya.
Jika kamu atau orang terdekat sedang mengalami tekanan emosional berat, keputusasaan, atau pikiran untuk mengakhiri hidup, mencari bantuan merupakan langkah yang penting.
Di Indonesia, pemerintah melalui Kementerian Kesehatan menyediakan Healing119.id, layanan dukungan psikologis awal yang dapat diakses secara gratis. Layanan ini ditujukan bagi masyarakat yang mengalami tekanan psikologis, keputusasaan, pikiran bunuh diri, atau kondisi krisis.
Konsultasi dapat dilakukan secara anonim melalui 119 ekstensi 8 atau melalui layanan chat WhatsApp yang tersedia di situs Healing119.id
Layanan Healing119.id juga dapat digunakan oleh seseorang yang sedang mencari saran untuk mendampingi teman, anggota keluarga, atau orang lain yang sedang mengalami tekanan psikologis.
Untuk kondisi yang membutuhkan pertolongan medis segera, hubungi layanan kegawatdaruratan atau datangi fasilitas kesehatan terdekat.
Pada akhirnya, pencegahan bunuh diri membutuhkan peran banyak pihak. Pemerintah, tenaga kesehatan, komunitas, keluarga, hingga lingkungan pertemanan punya bagian masing-masing dalam menciptakan ruang yang lebih suportif.
Bagi kita, langkahnya bisa dimulai dari hal sederhana. Sesederhana berani bertanya, mau mendengarkan, dan membantu seseorang menemukan pertolongan yang tepat.
Sebab, satu percakapan bisa menjadi awal seseorang merasa didengar, ditemani, dan terhubung dengan bantuan yang mereka butuhkan.
Lagi Punya Wishlist Buku Bulan Ini?
Jangan sampai melewatkan promo yang satu ini, Grameds! Promo 9.9 di Gramedia.com sedang berlangsung dengan berbagai pilihan buku menarik dan diskon hingga 70% untuk buku terbitan Gramedia.
Yuk, cek promonya dan temukan bacaan yang sudah masuk wishlist kamu! 🤗✨
Kalau masih bingung, Gramin punya beberapa rekomendasi buku yang bisa menemani kamu. Cek rekomendasinya di bawah ini ya!
A Gentle Reminder – Bianca Sparacino
Lewat kumpulan puisi dan prosa singkat, Bianca Sparacino menghadirkan pengingat lembut tentang perjalanan hidup, penerimaan diri, dan proses menghadapi berbagai perubahan. Buku ini mengajak pembaca untuk tetap melangkah ketika keadaan terasa berat, sekaligus memberi ruang untuk memahami perasaan dan diri sendiri.
Dengan bahasa yang lembut sekaligus tegas, A Gentle Reminder membahas berbagai hal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, mulai dari percintaan, pengembangan diri, hingga proses mengenal dan menguasai diri.
When Things Don’t Go Your Way – Haemin Sunim
Penolakan, ketidakpastian, kesepian, konflik dalam hubungan, hingga kelelahan menjadi bagian dari perjalanan hidup yang bisa datang kapan saja. Melalui When Things Don’t Go Your Way, Haemin Sunim mengajak pembaca melihat berbagai pengalaman tersebut dari sudut pandang Zen.
Buku ini menawarkan refleksi tentang kerentanan, penerimaan, dan cara menemukan pijakan ketika hidup terasa sulit dikendalikan. Cocok untuk kamu yang sedang membutuhkan jeda sekaligus perspektif baru dalam menghadapi berbagai tantangan.
You Can Heal Your Life – Louise Hay
You Can Heal Your Life mengajak pembaca melihat kembali hubungan antara pikiran, keyakinan tentang diri sendiri, dan cara kita menjalani kehidupan. Louise Hay, salah satu tokoh berpengaruh dalam dunia self-help, menghadirkan gagasan tentang penerimaan diri, pola pikir, dan afirmasi positif.
Melalui refleksi dan latihan yang ditawarkan, buku ini mengajak pembaca mengenali pola pikir yang selama ini membatasi diri dan mulai membangun hubungan yang lebih positif dengan diri sendiri.
Selaras – Dee Lestari & Reza Gunawan
Selaras mengajak pembaca mengambil jeda di tengah kehidupan yang serba cepat. Dee Lestari dan Reza Gunawan memadukan refleksi pribadi, kisah personal, serta praktik sederhana untuk membantu pembaca menyadari kembali hubungan antara diri, tubuh, pikiran, dan lingkungan sekitar.
Berbagai tema seperti kesehatan, relasi, pekerjaan, karier, dan parenting dibahas melalui perspektif kesadaran dan keseimbangan. Buku ini bisa menjadi teman untuk kamu yang sedang mencari ruang refleksi dan ingin menjalani hidup dengan lebih selaras.
Healing with Rumi – Muh. Nur Jabir & Wawan Kurniawan
Di tengah rutinitas dan berbagai hal yang memenuhi pikiran, mengambil jeda bisa menjadi kesempatan untuk kembali mendengarkan suara hati.
Healing with Rumi menghadirkan 45 renungan yang terinspirasi dari pemikiran Maulana Jalaluddin Rumi. Setiap renungan mengajak pembaca menyelami makna cinta, kehidupan, dan hubungan dengan diri sendiri serta Sang Pencipta.
Buku ini bisa menjadi teman untuk menikmati momen yang lebih tenang sekaligus menemukan perspektif baru dari kebijaksanaan Rumi.
Jangan lupa juga untuk mengecek berbagai promo menarik lainnya di Gramedia.com supaya pengalaman belanjamu semakin hemat dan menyenangkan! ⤵