Benarkah Cinta Sejati Tak Selamanya Berakhir Bersama? Cari Tahu Jawabannya di Masih Banyak yang Belum Sempat!
Grameds, kira-kira apa yang akan kamu lakukan kalau tahu waktu bersama orang yang kamu sayangi itu cuma terbatas? 🤷‍♀️
Mungkinkah kamu akan menghabiskannya dengan hal-hal besar, berusaha mengejar semua mimpi bersama yang tertunda, atau justru menikmati momen-momen sederhana yang selama ini sering kita lewatkan?
Pertanyaan seperti inilah yang terasa kuat memancar dalam novel Masih Banyak yang Belum Sempat karya Tessia.
Lewat pertemuan Senara dan Kaidar, novel ini membawa kita pada kisah cinta yang tumbuh di tengah keterbatasan waktu, sekaligus tentang keberanian untuk tetap berharap ketika perpisahan sudah menunggu di depan mata.
Penasaran dengan kisahnya? Yuk, kita bahas bareng-bareng dalam artikel ini, Grameds! 🚀
Sinopsis Masih Banyak yang Belum Sempat
Apa jadinya jika seorang editor perfeksionis jatuh cinta kepada penulis yang sedang sekarat?
Masa lalu Kaidar membuatnya sulit percaya kepada cinta. Setidaknya, sampai ia bertemu Senara, seorang perempuan yang tetap mampu tersenyum lebar meski nafasnya terus berpacu dengan waktu.
Pertemuan dengan Senara perlahan membuat Kaidar kembali percaya bahwa masih banyak hal dalam hidup yang layak diperjuangkan. Sampai akhirnya, tanpa sadar, ia melakukan hal yang paling ditakutinya, jatuh cinta.
Namun, bersama dengan perasaan yang berbunga-bunga, cinta juga membawa sebuah kenyataan yang sulit diterima. Pada sebuah pertanyaan: bagaimana jika orang yang akhirnya membuatmu percaya kepada cinta justru ditakdirkan untuk pergi lebih dulu?
Dari pertanyaan itulah kisah Senara dan Kaidar berkembang, membawa kita pada cerita tentang kesempatan, mimpi, dan waktu yang terasa semakin berharga ketika kita tahu jumlahnya terbatas.
Baca juga: Sempat Meledak di Wattpad, Kisah Ladinda dan Lelaki Patah Hati Kini Hadir dalam Bentuk Buku!
Ketika Waktu Terasa Begitu Berharga
Kisah tentang seseorang yang memiliki sisa hidup terbatas mungkin sudah sering kita temui dalam banyak karya. Namun, Masih Banyak yang Belum Sempat punya cara sendiri dalam menempatkan harapan di tengah situasi yang sulit.
Senara sempat berada di titik ketika ia ingin menyerah. Namun, ia kemudian memilih untuk menjalani satu hari lagi. Keputusan sederhana itu membawanya bertemu Kaidar dan membuka ruang bagi berbagai hal yang sebelumnya terasa mustahil, termasuk jatuh cinta dan kembali memiliki sesuatu yang ingin diperjuangkan.
Hubungan mereka kemudian tumbuh dengan kesadaran bahwa waktu yang dimiliki bersama tidak panjang. Meski begitu, kondisi tersebut justru membuat hal-hal kecil terasa lebih berarti. Percakapan, mimpi, pertemuan, hingga kesempatan untuk melakukan sesuatu yang selama ini tertunda bisa menjadi begitu berharga.
Dari sini, Tessia mengajak kita melihat waktu dengan cara yang lebih dekat. Kita sering merasa masih punya banyak kesempatan untuk mengatakan sesuatu, mengejar impian, atau menghabiskan waktu bersama orang-orang terkasih. Padahal, tidak semua hal bisa terus menunggu.
Masih Banyak yang Belum Sempat terasa seperti ajakan untuk menjalani setiap hari dengan lebih utuh. Sebab, satu hari bisa menjadi begitu berarti ketika diisi dengan hal-hal yang benar-benar penting.
Mimpi yang sempat tertunda bisa kembali diperjuangkan, percakapan yang lama disimpan akhirnya tersampaikan, atau kebersamaan sederhana justru menjadi momen yang paling berharga untuk dikenang.
Lebih Dekat dengan Tessia
Kisah tentang waktu, kehilangan, cinta, dan berbagai hal yang belum sempat disampaikan tersebut lahir dari tulisan Evangelina Tessia Pricilla, atau yang lebih dikenal sebagai Tessia.
Tessia sudah menekuni dunia kepenulisan sejak usia muda dan telah menghasilkan berbagai karya dalam beragam genre. Beberapa karya awalnya antara lain The Soccer Girl (2012), Adventure in Story Land (2012), hingga Fantasteen: Kutukan Naskah Drama (2015).
Menariknya, dunia menulis bukan satu-satunya perjalanan yang ia jalani. Tessia menempuh pendidikan Teknik Biomedis di Universitas Airlangga dan pernah menjadi salah satu dari 22 finalis Nutrifood Leadership Award 2019.
Perjalanan panjang tersebut turut mewarnai karya-karya Tessia yang mengeksplorasi berbagai cerita tentang hubungan, keluarga, perasaan, hingga perjalanan memahami diri. Setelah menghasilkan karya seperti 100 Things I Wish I Could Talk to My Parents (2024), Toko Buku Bekas Warisan Ayah (2025), dan Red String Theory (2025), Tessia kembali menghadirkan kisah tentang cinta dan kesempatan lewat Masih Banyak yang Belum Sempat (2026).
Intip Juga Karya Tessia Lainnya!
Kalau kisah Senara dan Kaidar membuatmu penasaran dengan karya-karya Tessia lainnya, kamu bisa menemukan cerita dengan warna yang berbeda lewat beberapa buku berikut.
1. Unstoppable Woman
Menjadi versi terbaik dari diri sendiri sering kali membutuhkan keberanian untuk menghadapi pengalaman yang tidak selalu menyenangkan. Unstoppable Woman mengajak pembaca melihat kembali hubungan antara perasaan, logika, dan berbagai keputusan yang diambil dalam hidup.
Buku ini membahas berbagai “tamparan” kehidupan, mulai dari proses move on, perselingkuhan, jatuh cinta, pertemanan, hingga perjuangan mengejar impian. Dilengkapi tips ringan yang sejalan dengan ilmu psikologi, lembar refleksi, dan ruang untuk menuangkan emosi, buku ini bisa menjadi teman untuk mengenali diri sekaligus belajar mengelola perasaan dengan lebih sehat.
2. Toko Buku Bekas Warisan Ayah
Bagaimana kalau sebuah toko buku bisa membawamu kembali ke masa lalu?
Naraya Atmadja mewarisi toko buku bekas dari ayah kandung yang paling ia benci. Namun, toko tersebut justru membawanya kembali ke tahun 1995, saat kedua orang tuanya masih muda dan baru saling jatuh cinta. Naraya melihat perjalanan waktu ini sebagai kesempatan untuk mengubah masa lalu dan menyelamatkan dirinya serta sang ibu dari akhir yang menyakitkan.
Namun, usahanya justru menyeret Naraya ke dalam kasus penculikan dan pembunuhan yang menggemparkan tahun 1995 dan belum terpecahkan hingga masa kini. Perpaduan drama keluarga, perjalanan waktu, dan misteri membuat novel ini mengajak kita mempertanyakan satu hal: kalau diberi kesempatan mengubah masa lalu, apakah kita benar-benar tahu konsekuensinya?
3. Red String Theory
Bagi Amos, enam belas tahun adalah waktu yang ia habiskan untuk mencintai Iliana dalam diam. Selama itu pula ia memberikan segalanya, meski kesempatan untuk mengungkapkan perasaan tidak pernah benar-benar datang.
Sampai sebuah malam mengubah segalanya. Waktu seolah berhenti, begitu pula impiannya untuk terus menemani Iliana, tumbuh bersama, dan menua bersamanya. Red String Theory membawa kisah cinta yang berbicara tentang penantian, perasaan yang tak sempat disampaikan, dan hubungan yang harus berhadapan dengan akhir yang tidak diharapkan.
4. Bu, Anakmu Ini Tidak Baik-Baik Saja
Ada kalanya seorang anak memiliki begitu banyak hal yang ingin disampaikan kepada ibunya, tetapi semuanya hanya berhenti di tenggorokan. Lewat Bu, Anakmu Ini Tidak Baik-Baik Saja, Tessia menghadirkan suara seorang anak yang memilih menulis ketika belum mampu berbicara.
Buku ini menjadi ruang bagi berbagai perasaan yang lama tersimpan, sekaligus gambaran tentang hal-hal yang ingin disampaikan kepada orang tua tetapi belum menemukan keberanian dan kesempatan.
5. 100 Things I Wish I Could Talk to My Parents
Jika diberi kebebasan untuk mengungkapkan apa pun ke orangtua, apa yang akan kamu katakan?
Pertanyaan tersebut menjadi pintu masuk untuk membicarakan berbagai hal yang sering kita simpan sendiri setelah beranjak dewasa. Rasa takut, gengsi, kekhawatiran mengecewakan, hingga kata-kata yang tak pernah menemukan waktu untuk disampaikan.
100 Things I Wish I Could Talk to My Parents mengajak kita membuka kembali percakapan-percakapan yang belum sempat terjadi. Tentang rasa sayang, kekhawatiran, penyesalan, hingga berbagai kata yang selama ini hanya berputar di kepala.
Pada akhirnya,
Masih Banyak yang Belum Sempat berbicara tentang sesuatu yang sederhana tetapi sering terlupakan: waktu bersama orang yang kita sayangi selalu layak dihargai. 🤗❤
Senara dan Kaidar menunjukkan bahwa sebuah hubungan tidak harus berlangsung selamanya untuk meninggalkan arti yang dalam. Terkadang, waktu yang singkat justru membuat kita lebih sadar tentang apa yang ingin kita perjuangkan, siapa yang ingin kita temui, dan perasaan apa yang ingin kita sampaikan.
Lewat kisah mereka, Tessia seperti mengajak kita berhenti menunda hal-hal yang berarti. Mengatakan sayang, mengejar mimpi, menemui seseorang, atau sekadar menikmati satu hari bersama orang yang kita cintai. Karena pada akhirnya, yang paling sering kita sesali bukan hanya waktu yang hilang, tetapi hal-hal yang belum sempat kita lakukan ketika kesempatan itu masih ada.
Kalau kamu tertarik mengikuti kisah Senara dan Kaidar, Masih Banyak yang Belum Sempat sudah bisa kamu dapatkan melalui Pre-Order di Gramedia.com ya.
Selama periode penawaran spesial 26 Agustus–5 September 2026, kamu juga bisa mendapatkan sejumlah bonus, berupa buku bertanda tangan penulis, bookmark, bag charm, dan overlay pages.
Jadi, selagi masih sempat, barangkali sekarang adalah waktu yang tepat untuk melakukan hal-hal yang selama ini ingin kamu lakukan bersama orang-orang yang kamu sayangi. Â
Oh iya, jangan lewatkan juga promo Road to 9.9 di Gramedia.com! Ada banyak buku menarik dengan diskon hingga 35% untuk buku terbitan Gramedia.
Yuk, cek promonya sebelum periodenya berakhir! 🛒📚
Baca juga: Bangkrut & Pindah ke Apartemen Sempit: Pelajaran Menjadi Dewasa di 'Rumah Sunrye'
Jangan lupa juga untuk mengecek berbagai promo menarik lainnya di Gramedia.com supaya pengalaman belanjamu semakin hemat dan menyenangkan! ⤵
Ikuti Kisahnya di Sini!
Ikuti Kisahnya di Sini!
Ikuti Kisahnya di Sini!
Ikuti Kisahnya di Sini!
Ikuti Kisahnya di Sini!
Ikuti Kisahnya di Sini!
Temukan Promonya di Sini!
Temukan Promonya di Sini!
Temukan Semua Promo Spesial di Sini!