Terjebak di Antara Dua Zaman: Kisah Dunia yang Perlahan Berakhir dalam The Setting Sun
Sebuah zaman bisa berakhir sebelum orang-orang yang hidup di dalamnya siap mengucapkan selamat tinggal.
Ketika nilai-nilai lama mulai kehilangan makna dan masa depan belum menawarkan jawaban, seseorang bisa terjebak di antara keduanya: terlalu jauh untuk kembali ke masa lalu, tetapi belum tahu bagaimana hidup di dunia yang baru.
Di ruang antara itulah The Setting Sun karya Osamu Dazai membawa kita, Grameds.
Berlatar Jepang setelah Perang Dunia II, novel ini mengikuti Kazuko dan keluarganya saat kehidupan aristokrat yang selama ini membentuk mereka perlahan runtuh.
Namun, yang hilang bukan hanya rumah, status, atau kemewahan. Bersama sebuah zaman yang perlahan tenggelam, mereka juga harus mencari tahu siapa diri mereka ketika dunia lama tak lagi bisa dipertahankan.
Dan bagi Kazuko, mungkin inilah pertanyaan yang paling sulit: ketika satu kehidupan telah berakhir, bagaimana seseorang menemukan keberanian untuk memulai yang baru?
Di Ujung Senja, Sebuah Pilihan Harus Ditentukan
Kazuko pernah mengenal hidup sebagai bagian dari keluarga aristokrat (bangsawan). Namun, setelah perang, ia dan sang ibu harus meninggalkan kehidupan yang selama ini mereka kenal.
Sementara itu, Naoji, adik Kazuko, pulang dari perang membawa luka yang membuatnya tak lagi menjadi orang yang sama.
Di tengah keluarga yang perlahan kehilangan pijakan, Kazuko justru mulai mengambil jalan berbeda. Pilihan-pilihannya menentang harapan, kebiasaan, bahkan batas yang selama ini menentukan bagaimana seorang perempuan seharusnya menjalani hidup.
Namun, keberanian untuk memilih jalan sendiri tidak selalu membawa seseorang menuju tempat yang lebih mudah.
Dan bagi Kazuko, beberapa pilihan mungkin akan mengubah lebih dari sekadar hidupnya.
Baca juga: Drakor Mousetrap: Mimpi Buruk Kehilangan Identitas Saat Dunia Tak Lagi Mengenalmu
Dari Sebuah Novel hingga Nama untuk Sebuah Zaman
Saat The Setting Sun terbit pada 1947, kisah tentang keluarga aristokrat yang kehilangan pijakan ini ternyata meninggalkan gema yang jauh melampaui halaman-halamannya.
Pengaruhnya bahkan melahirkan istilah shayo-zoku (斜陽族), atau “people of the setting sun”, untuk menggambarkan kelompok aristokrat Jepang yang mengalami kemunduran setelah perang.
Di tengah runtuhnya dunia lama itu, Kazuko hadir bukan sekadar sebagai sosok yang kehilangan kehidupan nyaman. Ia juga menjadi perempuan yang perlahan mulai menentang batas-batas yang selama ini membentuk hidupnya.
Perjalanan novel ini sendiri pun terus berlanjut jauh setelah pertama kali terbit. The Setting Sun awalnya dimuat secara bersambung di majalah Shinchō pada 1947 sebelum kemudian diterbitkan dalam bentuk buku.
Namun, yang membuat novel ini terus dibicarakan bukan hanya kisah tentang sebuah keluarga yang kehilangan status sosialnya. The Setting Sun juga kerap dibaca sebagai potret sebuah negara yang sedang mengalami krisis identitas.
Jepang pasca-Perang Dunia II berada di tengah perubahan besar. Struktur sosial lama mulai runtuh, nilai-nilai yang selama ini dianggap mapan kehilangan pijakan, sementara dunia baru belum sepenuhnya menawarkan arah yang jelas.
Di tengah peralihan itulah, keluarga Kazuko menjadi potret kecil dari kegelisahan yang jauh lebih besar.
Apa yang terjadi pada mereka ternyata juga sedang terjadi pada sebuah bangsa: dunia lama telah berakhir, tetapi cara hidup yang baru belum sepenuhnya ditemukan.
Baca Kisah Seru Lainnya di Sini!
Saat Fiksi Berjalan Terlalu Dekat dengan Kehidupan
Ada satu hal yang membuat The Setting Sun terasa semakin menghantui ketika dibaca berdampingan dengan kisah hidup Osamu Dazai.
Novel ini dihuni oleh manusia-manusia yang kehilangan arah, berhadapan dengan keputusasaan, dan hidup di dunia yang terasa tak lagi menyediakan tempat untuk pulang. Setahun setelah buku The Setting Sun terbit, kehidupan Dazai sendiri berakhir tragis. Ia memilih untuk mengakhiri hidupnya.
Sulit untuk sepenuhnya memisahkan kegelisahan yang hidup di halaman-halaman karyanya dari bayangan kehidupan sang penulis. Batas antara apa yang ia tulis dan apa yang ia jalani terkadang terasa begitu tipis.
Kini, puluhan tahun kemudian, kegelisahan itu kembali hadir dalam edisi bahasa Indonesia dengan visual cover yang sama-sama menangkap suasana senja di jantung ceritanya. Matahari merah yang perlahan turun di atas lanskap Jepang seolah menjadi isyarat tentang sebuah dunia yang sedang menuju akhirnya.
Namun, seperti Kazuko, mungkin masih ada sesuatu yang belum benar-benar padam.
Kalau kamu ingin mengikuti kisah mereka sebelum senja selesai, temukan The Setting Sun di sini 🌆
Baca juga: No Longer Human: Pengakuan Pahit tentang Gagalnya Menjadi Manusia
Osamu Dazai, Sang Maestro yang Melukis Jiwa dari Luka Paling Dalam ✍️
Di balik The Setting Sun, ada Osamu Dazai, salah satu nama yang tak bisa dilepaskan dari perjalanan sastra Jepang abad ke-20.
Lahir dengan nama Shūji Tsushima, Dazai kemudian dikenal lewat karya-karya seperti Run, Melos!, Otogi-zōshi, dan No Longer Human, yang kini menjadi bagian dari jajaran klasik modern Jepang.
Yang membuat tulisan Dazai terus membekas bukan hanya cerita yang ia pilih, tetapi caranya mendekati manusia. Lewat gaya semi-autobiografis, ia membuka ruang bagi sisi-sisi kehidupan yang sering kali disimpan rapat: keterasingan, hubungan yang rumit, pergulatan batin, hingga kegelisahan hidup di tengah dunia yang terus berubah.
Namun, di tengah manusia-manusia yang rapuh dan dunia yang sering terasa kehilangan arah, Dazai tetap memberi mereka satu hal: pilihan untuk terus berjalan.
Seperti Kazuko yang berdiri di tengah runtuhnya dunia yang selama ini dikenalnya, manusia dalam cerita Dazai mungkin tidak selalu menemukan jawaban.
Tetapi ketika segalanya telah berubah, mereka masih memiliki kesempatan untuk menentukan langkah berikutnya. 🌅
Satu Matahari Terbenam, Masih Ada Lima Senja yang Menunggu 🌆
Dunia Kazuko mungkin sedang berakhir, tetapi kegelisahan tentang kehilangan tempat, menghadapi perubahan, dan mencari arti hidup tidak berhenti di The Setting Sun.
Kalau Grameds ingin melanjutkan perjalanan ke cerita-cerita lain yang sama-sama mengajak kita melihat manusia saat hidupnya tidak lagi berjalan seperti yang diharapkan, lima buku ini bisa menjadi perhentian berikutnya.
Cek beberapa rekomendasinya di sini ✨
No Longer Human — Osamu Dazai
Lewat tokoh Oba Yozo, Osamu Dazai membawa pembaca masuk ke dalam kehidupan seseorang yang terus merasa asing di tengah manusia lain. Di balik topeng yang ia kenakan untuk menghadapi dunia, Yozo menyimpan pergulatan yang semakin sulit ia sembunyikan.
Jika Kazuko mencoba menemukan setelah dunianya runtuh, Yozo justru mempertanyakan tempatnya di dunia sejak awal. Cocok untuk pembaca yang suka kisah psikologis dan cerita tentang sisi manusia yang paling rapuh.
The Metamorphosis — Franz Kafka
Suatu pagi, Gregor Samsa terbangun dan mendapati dirinya telah berubah menjadi seekor serangga. Bersamaan dengan tubuhnya, tempat Gregor dalam keluarga pun perlahan ikut berubah.
Absurd, gelap, dan mengganggu, kisah Kafka menelusuri apa yang terjadi ketika seseorang tak lagi mampu menjalankan peran yang selama ini membuatnya diterima. Kalau dunia tiba-tiba berubah dan tidak lagi mengenalmu seperti sebelumnya, masihkah kamu punya tempat di dalamnya?
Orang Aneh — Albert Camus
Mersault menjalani hidup dengan cara yang sulit dipahami orang-orang disekitarnya. Ketika serangkaian peristiwa membawanya ke dalam situasi yang semakin ekstrem, cara Mersault memandang hidup justru menjadi pusat dari pertanyaan yang lebih besar tentang kebebasan dan absurditas.
Berbeda dengan Kazuko yang mulai menentang dunia lama, Mersault seolah sejak awal memang tidak pernah sepenuhnya mengikuti aturan dunia tersebut. Cocok untuk pembaca yang memilih meninggalkan kegelisahan daripada memberikan jawaban.
Klara and The Sun — Kazuo Ishiguro
Klara adalah seorang Artificial Friend yang mengamati manusia sambil menunggu seseorang memilihnya. Dari sudut pandangnya, dunia manusia terlihat penuh kasih, tetapi juga dipenuhi kesepian dan hal-hal yang sulit dijelaskan.
Lewat Klara, perubahan dunia kembali membuka satu pertanyaan lama: ketika teknologi ikut mengubah cara kita hidup, apa sebenarnya yang membuat seseorang menjadi manusia? Cocok untuk kamu yang suka fiksi reflektif dan pertanyaan-pertanyaan yang terus tinggal setelah halaman terakhir.
Kotak Pandora — Osamu Dazai
Kembali ke Jepang pasca perang, Kotak Pandora membawa pembaca pada manusia-manusia yang mencoba menata hidup setelah dunia mereka dihantam perubahan besar.
Jika The Setting Sun memperlihatkan apa yang terjadi ketika sebuah dunia runtuh, novel in menawarkan sisi lain dari perjalanan tersebut: apa yang bisa tumbuh setelahnya? Untuk kamu yang ingin tetap berada di semesta kegelisahan Dazai, tetapi mencari secercah cahaya setelah melewati reruntuhan.
Setelah Menjelajah Reruntuhan, Saatnya Membawa Pulang Sebuah Cerita! 📚
Dari Kazuko hingga tokoh-tokoh dalam cerita lain yang sama-sama kehilangan pijakan, satu hal terasa jelas: akhir tidak selalu menjadi tempat segalanya berhenti.
Kalau The Setting Sun sudah masuk ke daftar bacaanmu, sekarang waktunya menyambut kisahnya sebelum matahari benar-benar terbenam!
Selama periode 27 Agustus hingga 9 September 2026, kamu bisa mengikuti Pre-order The Setting Sun dan dapatkan bonus postcard, stiker, serta bookmark dalam setiap pembelian buku! 📚
Sebelum senja berlalu, bawa pulang kisah Kazuko dan biarkan The Setting Sun menemukan tempatnya di rak bukumu! ✨
🛒Pre-order The Setting Sun di sini sekarang sebelum kehabisan bonusnya!
✨Jangan lupa juga untuk cek promo spesial lainnya di Gramedia.com supaya belanjamu makin hemat dan bermakna! ⤵
Temukan Bukunya di Sini!
Temukan Bukunya di Sini!
Temukan Bukunya di Sini!
Temukan Bukunya di Sini!
Temukan Bukunya di Sini!
Temukan Bukunya di Sini!
Temukan Promonya di Sini!
Temukan Semua Promo Spesial di Sini!