8 Novel Terbaik Berlatarkan Kisah Kelam Sejarah Indonesia

8 Novel Terbaik Berlatarkan Kisah Kelam Sejarah Indonesia

. 5 min read

Presiden pertama Indonesia yaitu Ir. Soekarno, pernah berkata bahwa,

Jangan pernah melupakan sejarah. Ini akan membuat dan mengubah siapa diri kita.

Mau tidak mau, suka tidak suka, baik atau buruk, sejarah telah menjadi bagian dari perjalanan hidup yang dapat menjadi pembelajaran untuk menatap masa depan.

Kita bisa mengetahui dan mempelajari sejarah dengan menyenangkan dan mudah, salah satunya dengan membaca novel.

Beruntung, kami punya banyak koleksinya. Berikut rekomendasi novel berlatarkan sejarah Indonesia terbaik versi Gramedia.com.

Novel-novel ini dapat memantik rasa ingin tahumu terhadap kisah kelam perjuangan bangsa Indonesia.  Ada novel apa saja ya?

1. Laut Bercerita - Leila S. Chudori

rekomendasi
Beli bukunya di sini

Kita semua tahu bahwa peristiwa yang dialami oleh negeri ini pada tahun 1998 sangat menguras emosi. Geliat perjuangan untuk melengserkan Orde Baru benar-benar menyesakkan hati.

Meski novel ini adalah fiksi, Laut Bercerita menunjukkan kepada pembacanya bahwa negeri ini pernah memasuki masa pemerintahan yang kelam. Suara aktivis dibatasi, serta diberantas habis.

Novel terbagi menjadi dua bagian. Menceritakan sosok Laut Biru, bagian pertama menunjukkan segala kepedihan dan ketakutan sebagai aktivis.

Bagian kedua bercerita mengenai sosok keluarga yang kehilangan saudara. Perjalanan panjang yang sampai sekarang tidak pernah terlihat titik terangnya.

2. Pulang - Leila S. Chudori

rekomendasi
Beli bukunya di sini

Sebelum Laut Bercerita, Leila Chudori juga pernah menceritakan kisah mengenai sejarah negeri ini saat Orde Baru lewat Pulang.

Novel ini bercerita mengenai perjalanan hidup tahanan politik eks peristiwa G30S tahun 1965, yaitu Dimas Suryo yang kini tinggal di Prancis. Ia berhasil selamat dari peristiwa pembersihan orang-orang 'golongan kiri’.

Selama rezim Orde Baru masih berlangsung, ia tetap dianggap sebagai tahanan politik. Keinginan Dimas sebenarnya sederhana, hanya ingin pulang dan mati di tanah kelahirannya, Indonesia. Apakah keinginan Dimas tersebut bisa terwujud?

Meski terdengar berat karena memiliki unsur politik yang kental, namun novel ini sangatlah mudah untuk dibaca berkat penuturan apik Leila.

Tak perlu bahasa sastra yang tinggi, ia menjadikan karyanya sangat membumi.

3. Orang-Orang Proyek - Ahmad Tohari

rekomendasi
Beli bukunya di sini

" Dengan mental "orang-orang proyek" yang merajalela di mana-mana, bisakah orang berharap akan terbangun tatanan hidup yang punya masa depan? "

Menceritakan tentang idealisme dari seorang insinyur bernama Kabul. Ia dipekerjakan sebagai pelaksana proyek jembatan pada masa Orde Baru.

Namun, ia dihadapkan pada realita bahwa proyek jembatan tersebut telah menjadi ‘bancakan’, akibat budaya korupsi yang masif.

Hal ini memunculkan keraguan pada Kabul tentang standar mutu jembatan. Jika jembatan hanya sekadar jadi demi mengejar target, jembatan itu tak akan awet, dan proyek ini terasa sia-sia.

Apakah Kabul bisa tetap bertahan pada pekerjaannya ini?

4. Ronggeng Dukuh Paruk - Ahmad Tohari

rekomendasi
Beli bukunya di sini

Novel ini merupakan gabungan dari tiga buku seri, yaitu Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang Kemukus Dini Hari, dan Jantera Bianglala, yang rilis pertama kali pada tahun 2003.

Karya Ahmad Tohari yang satu ini juga diadaptasi menjadi film berjudul Sang Penari yang rilis tahun 2011.

Menceritakan sosok Srintil, seorang ronggeng baru di Dukuh Paruk. Bagi pedukuhan yang miskin, terpencil dan bersahaja ini, ronggeng membuat kehidupan kembali menggeliat. Tanpanya, dukuh itu seperti kehilangan jati diri.

Srintil kemudian menjadi tokoh yang amat digandrungi. Cantik, menggoda, semua ingin menari bersamanya.

Namun, peristiwa politik di tahun 1965 membuat dukuh ini hancur, baik secara fisik maupun mental. Mereka terbawa arus dan dicap ikut andil dalam peristiwa tersebut.

Pengalaman pahit ini membuat Srintil sadar akan hakikatnya sebagai manusia. Karena itulah, ia berniat memperbaiki citra dirinya.

Apakah Srintil berhasil keluar dari stigma negatif seorang penari ronggeng?


Baca juga: Rekomendasi Novel Distopia Terbaik


5. Amba - Laksmi Pamuntjak

rekomendasi
Beli bukunya di sini

Jika kamu familiar dengan karya Laksmi Pamuntjak seperti Kekasih Musim Gugur atau Aruna dan Lidahnya, novel Amba tidak boleh kamu lewatkan.

Ini adalah kisah dua manusia, yaitu Amba dan Bhisma, di tengah ketegangan dan kekerasan politik setelah peristiwa G30S tahun 1965.

Kisah cinta Amba dan Bhisma merupakan pengantar bagi pembacanya memasuki peristiwa mencekam di bulan September 1965. Di mana peristiwa G30S merupakan sejarah kelam dan berdarah yang pernah dialami bangsa ini.

Amba adalah sebuah kisah pencarian romansa dua manusia di era Orba. Dengan apik, Laksmi menampilkan sejarah kelam bangsa, namun dibalut dengan manusia-manusia yang mencinta.

6. Bumi Manusia - Pramoedya Ananta Toer

rekomendasi
Beli bukunya di sini

Tetralogi Buru yang diawali dengan cerita Bumi Manusia, merupakan seri novel yang sangat baik menjelaskan bagaimana diskriminasi terjadi pada bangsa kita pada zaman Hindia Belanda.

Kita akan mengetahui peliknya kisah Minke, baik itu perjuangannya lewat tulisan dan pikiran, serta kisah percintaannya dengan Annelies Mellema.

Juga kisah perjuangan dari sosok Nyai Ontosoroh, wanita pribumi yang berusaha memertahankan usahanya yang telah ia bangun.

Pram dengan baik memadukan antara kisah perjuangan di era kolonial, dengan kisah percintaan yang sakral. Layaknya membaca buku sejarah, namun dengan roman sebagai pemanisnya.

Ketahui perjuangan Minke selanjutnya pada Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca.

7. Entrok - Okky Madasari

rekomendasi
Beli bukunya di sini

Entrok dengan gamblang memperlihatkan bagaimana sikap negara terhadap rakyat kecil pada masa Orde Baru.

Marni, adalah seorang remaja yang sangat menginginkan entrok atau bra. Pada masa itu, entrok bisa dikatakan sebagai pakaian orang berada.

Diawali keinginan besarnya, Marni bekerja keras dan menabung. Tak disangka, usaha kerasnya membuahkan hasil. Saat ini ia hidup serba berkecukupan dan telah berkeluarga.

Kisah dimulai ketika Marni yang masih memuja leluhur, tak pernah mengenal Tuhan. Berbeda pandangan dengan anaknya, Rahayu, generasi yang mengenyam bangku sekolah, pemeluk agama yang taat, dan penjunjung akal sehat.

Selama bertahun-tahun, mereka hidup dalam perbedaan pemikiran, sampai akhirnya mereka menyadari ada kesamaan dalam hidup mereka.

Keduanya sama-sama menjadi korban orang-orang yang berkuasa, sama-sama melawan senjata.

8. Gadis Kretek - Ratih Kumala

rekomendasi
Beli bukunya di sini

Dengan latar waktu dari periode penjajahan Belanda hingga kemerdekaan, para pembacanya akan dibawa berkenalan dengan perkembangan industri kretek di Indonesia.

Lebas, Karim, dan Tegar, yang merupakan pewaris Kretek Djagad Raja, sedang gelisah. Ayah mereka sekarat. Dalam penantian ajalnya, ia menyebut nama perempuan lain yang bukan istrinya, yaitu Jeng Yah.

Mereka memutuskan untuk menelusuri ke seluruh penjuru Jawa mencari Jeng Yah, sebelum sang ayah tiada. Perjalanan ini bagaikan napak tilas bisnis, serta menguak rahasia keluarga.

Siapakah sebenarnya Jeng Yah? Apakah mereka berhasil menemukannya?


Baca juga: Rekomendasi Novel Jepang Terjemahan yang Seru Abis!


Membaca novel fiksi sejarah dapat membuatmu merasa seperti memasuki mesin waktu. Sudah siap untuk mengarungi imajinasi kembali ke masa lampau?


Photo header by Personal Blog Claudia Ramadhani