Merasa Hampa di Balik Rutinitas: Pelajaran Menemukan Keajaiban Hidup di 'The Life Impossible’
Rutinitas bisa berjalan sempurna, bahkan ketika perasaan kita tidak ikut di dalamnya.
Bangun, mandi, makan, bekerja, pulang, tidur. Besoknya mengulang lagi. Kalender berganti, tetapi rasanya seperti tidak ada yang benar-benar ikut bergerak.
Apalagi kita sebagai WNI, Grameds. “Ya sudah, jalanin dulu” kadang sudah seperti sistem operasi bawaan. Mau ganti sistem, ternyata biayanya tidak murah. 😭
Tapi, apa jadinya jika rutinitas yang selama ini terasa biasa tiba-tiba berubah menjadi sesuatu yang asing?
Dari sinilah kisah The Life Impossible karya Matt Haig bermula. Cerita ini mengikuti Grace Winters, seorang perempuan yang telah lama merasa ada sesuatu yang hilang dari kehidupannya.
Sampai sebuah surat wasiat dari seorang teman membawanya keluar dari kehidupan yang selama ini ia kenal.
Lantas, ke mana perjalanan itu akan membawa Grace? 🚶♀️
Ketika Hidup Mulai Membawa Grace ke Tempat yang Tak Terduga 🌊
“Everyone is a flawed person. That’s what being a person is.”
Anhedonia: kondisi ketika seseorang sulit merasakan kesenangan.
Istilah inilah yang menggambarkan kondisi Grace Winters. Hari-harinya berjalan seperti biasa, tetapi dunia di sekitarnya terasa semakin hampa.
Hingga akhirnya, Grace tiba di Ibiza dengan tiket sekali jalan, tanpa panduan maupun rencana yang jelas. Di tengah perbukitan dan pantai keemasan, ia mulai menelusuri kehidupan temannya dan mencari tahu bagaimana kisah tersebut berakhir.
Namun, semakin jauh Grace melangkah, semakin samar pula batas antara hal-hal yang dapat dijelaskan dan sesuatu yang terasa mustahil.
Sebab, ternyata, Ibiza menyimpan jauh lebih banyak kejutan daripada yang pernah Grace bayangkan.
Baca juga: Bangkrut & Pindah ke Apartemen Sempit: Pelajaran Menjadi Dewasa di 'Rumah Sunrye'
Rahasia di Balik Biru Ibiza: Dari Laut Nyata ke Dunia yang Mustahil 🌊
Ibiza ternyata bukan sekadar latar cantik dalam The Life Impossible.
Matt Haig sudah mengunjungi pulau ini sejak 1996, jauh sebelum novel tersebut ditulis. Pengalamannya dengan Ibiza kemudian ikut memberi warna pada cerita, termasuk ketika ia kembali melihat pulau itu bertahun-tahun kemudian.
Yang lebih menarik, ide awal novel ini justru datang dari bawah laut. Haig terinspirasi oleh Posidonia, padang lamun yang tumbuh di sekitar Ibiza dan diperkirakan telah hidup selama sekitar 100.000 tahun.
Dari sesuatu yang benar-benar ada di alam, cerita The Life Impossible kemudian berkembang menuju dunia yang semakin sulit dibedakan antara yang nyata dan yang mustahil.
Tidak heran jika novel ini juga terasa sulit dimasukkan ke satu kotak genre. Penerbit Penguin Random House mencantumkannya dalam kategori fiksi sastra dan fiksi ilmiah, sementara The Guardian melihat perpaduan misteri, fantasi, dan realisme magis di dalamnya. Rupanya, The Life Impossible memang tidak terlalu tertarik untuk memilih satu jalur saja.
Nuansa itu terasa pula dari sampulnya. Biru tua mendominasi hampir seluruh permukaan, dikelilingi ilustrasi kehidupan laut dan tumbuhan, mulai dari ikan, bintang laut, hingga berbagai bentuk kehidupan lain. Di tengahnya, judul berwarna kuning tampil mencolok di antara dunia biru yang mengelilinginya. Di bagian bawah, tampak sosok perempuan kecil yang berdiri sambil menatap sekelilingnya, seolah sedang berhadapan dengan sesuatu yang begitu asing sekaligus menakjubkan.
Sampulnya terasa seperti gambaran kecil dari dunia yang dibangun Haig: indah, alami, sedikit asing, dan menyimpan sesuatu yang belum sepenuhnya terlihat.
Penasaran dengan dunia yang menunggu Grace di balik semua itu?
Matt Haig dan Cerita-Cerita Hidup dari Sudut Pandang Berbeda ✍️
Di balik The Life Impossible, ada Matt Haig, penulis asal Inggris yang gemar mengulik pertanyaan-pertanyaan sederhana tentang hidup. Namun, jawabannya jarang datang dari tempat yang biasa. Haig justru membawanya ke dunia yang penuh kemungkinan.
Nama Haig semakin dikenal lewat The Midnight Library, novel tentang sebuah perpustakaan yang memberi kesempatan untuk melihat berbagai kemungkinan hidup. Buku ini telah terjual lebih dari 14 juta eksemplar di seluruh dunia dan memenangkan Goodreads Choice Award untuk kategori fiksi. Karyanya kini telah diterjemahkan ke dalam 56 bahasa.
Namun, dunia Haig tidak hanya dipenuhi cerita fiksi. Lewat Reasons to Stay Alive, ia menulis dari pengalaman menghadapi krisis kesehatan mental yang dialaminya saat berusia 24 tahun. Buku tersebut kemudian menjadi buku terlaris nomor satu Sunday Times.
Dari novel tentang kemungkinan hidup hingga tulisan yang berangkat dari pengalaman pribadi, Haig punya cara sendiri untuk membicarakan hal-hal yang sangat manusiawi.
Dalam The Life Impossible, benang merah itu kembali hadir melalui perjalanan Grace, yang perlahan mengajak pembaca melihat kembali arti dari benar-benar merasa hidup. 🌱
Baca juga: The Love Hypothesis: Saat Cinta Dicoba Seperti Sebuah Eksperimen!
Lima Buku, Lima Cara Memaknai Hidup 📚
Kalau The Life Impossible mengajak kita melihat kehidupan Grace lewat perjalanan yang tidak biasa, lima novel berikut juga punya cara masing-masing untuk menghadirkan pertanyaan tentang hidup, pilihan, waktu, dan hubungan antar manusia.
Yuk, lihat cerita mana yang paling menarik untuk menemani perjalanan bacamu berikutnya! ✨
Perpustakaan Tengah Malam — Matt Haig
Nora Seed menemukan dirinya di sebuah perpustakaan misterius yang menyimpan berbagai kemungkinan hidup yang bisa ia jalani. Di antara buku-buku tersebut, Nora berkesempatan melihat seperti apa kehidupannya jika ia mengambil pilihan yang berbeda.
Cocok untuk kamu yang suka cerita reflektif tentang pilihan hidup, kemungkinan yang tidak pernah terjadi, dan pertanyaan sederhana yang bisa membuat kita memandang kehidupan dengan cara baru.
Before the Coffee Gets Cold — Toshikazu Kawaguchi
Di sebuah kafe kecil di Tokyo, tersedia satu kursi yang memungkinkan pengunjung kembali ke masa lalu. Namun, ada aturan yang harus dipatuhi, termasuk kenyataan bahwa apa pun yang dilakukan di masa lalu tidak akan mengubah masa kini. Empat pengunjung kemudian datang dengan alasan mereka masing-masing.
Cocok untuk kamu yang suka kisah hangat dengan sentuhan fantasi, pertemuan yang bermakna, dan cerita tentang hal-hal yang ingin dikatakan sebelum kesempatan benar-benar berlalu.
What You Are Looking for Is in the Library — Michiko Aoyama
Tomoka, Ryo, Natsumi, Hiroya, dan Masao sedang berada di persimpangan hidup masing-masing. Lalu, mereka bertemu Sayuri Komachi, pustakawan yang punya cara unik dalam membantu para pengunjungnya. Sebuah rekomendasi buku yang tidak mereka duga perlahan membawa mereka melihat persoalan hidup dari sudut berbeda.
Cocok untuk kamu yang suka cerita hangat tentang kehidupan sehari-hari, pertemuan tak terduga, dan buku yang datang pada waktu yang tepat.
Toko Manisan Ajaib Amberglow — Hiyoko Kurisu
Ada sebuah toko manisan yang muncul ketika seseorang sedang berada di titik persimpangan hidup. Di sana, berbagai tokoh seperti Fumiko, Kohtake, dan Hirai datang membawa cerita serta persoalan mereka masing-masing. Di balik manisan dan kejadian ajaib, tersimpan kisah tentang penyesalan, hubungan, dan kesempatan untuk berdamai dengan masa lalu.
Cocok untuk kamu yang suka cerita dengan sentuhan magis, karakter-karakter yang punya kisah personal, dan bacaan yang manis di permukaan tetapi menyimpan rasa yang lebih dalam.
The Five People You Meet in Heaven — Mitch Albom
Setelah meninggal dalam sebuah kecelakaan di taman hiburan, Eddie justru memulai perjalanan yang membawanya bertemu lima orang dari masa lalunya. Masing-masing memiliki hubungan dengan kehidupannya dan membantu Eddie memahami kembali berbagai peristiwa yang pernah ia jalani.
Cocok untuk kamu yang suka kisah emosional tentang hubungan antar manusia, makna di balik kejadian-kejadian kecil, dan pertanyaan tentang jejak yang kita tinggalkan dalam hidup orang lain.
Cerita yang Kamu Cari, Saatnya Dibawa Pulang ✨
Dari perjalanan Grace di Ibiza hingga berbagai kisah tentang pilihan, waktu, dan makna hidup, setiap buku menawarkan pengalaman membaca yang berbeda.
Kalau sudah menemukan cerita yang ingin dibawa pulang, sekarang waktunya menambahkannya ke rak bacaanmu. Apalagi, Promo PayDay Sale Gramedia hadir dengan diskon hingga 70% untuk buku terbitan Gramedia, ditambah berbagai penawaran menarik dan gratis ongkir! 😍🔥
Jadi, jangan biarkan buku incaran cuma berakhir sebagai penghuni wishlist. Saatnya checkout, buka halaman pertama, dan biarkan ceritanya membawa kamu ke tempat yang belum pernah kamu datangi. 🛒📖
👉 Temukan bukunya dan nikmati penawaran PayDay Sale di sini sekarang!
✨Jangan lupa juga untuk cek promo spesial lainnya di Gramedia.com supaya belanjamu makin hemat dan bermakna!