Pikiran, cerita, dan gagasan tentang buku dengan cara yang berbeda.

Menatap Indonesia dari Suara Pinggiran: Tiga Buku Nominasi Penghargaan Sastra yang Layak Dibaca

Menatap Indonesia dari Suara Pinggiran: Tiga Buku Nominasi Penghargaan Sastra yang Layak Dibaca

Grameds, seberapa jauh kamu mengenal Indonesia dari cerita-cerita yang selama ini didengar?

Di balik hiruk-pikuk kehidupan sehari-hari, ada kisah tentang ketidakadilan, idealisme yang diuji oleh kekuasaan, hingga perubahan budaya yang perlahan menggeser cara hidup masyarakat. Cerita-cerita ini mungkin tak selalu menjadi sorotan, tetapi menyimpan banyak hal yang layak kita pahami lebih dalam.

Lewat sastra, kita diajak melihat Indonesia dari sudut pandang yang berbeda—menyimak suara yang jarang terdengar, memahami pengalaman yang tak selalu kita jumpai, dan menemukan makna di balik persoalan yang mungkin selama ini terasa jauh dari kehidupan kita.

Semangat inilah yang bisa Grameds temukan dalam tiga buku terbitan Gramedia Pustaka Utama yang masuk nominasi Penghargaan Sastra 2026, ajang apresiasi karya sastra yang diselenggarakan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kemendikdasmen.

Ketiganya adalah Bia dan Kapak Batu karya Intan Andaru, Medan Medan karya Muram Batu, dan Suara dari Makam Tak Bernama karya Kaisar Deem. Meski mengangkat cerita dan persoalan yang berbeda, ketiga buku ini sama-sama mengajak kita menengok realitas Indonesia melalui pengalaman manusia yang kompleks, dekat, dan penuh makna.

Menjelang pengumuman pemenang pada 28 Oktober 2026, bertepatan dengan puncak acara Bulan Bahasa dan Sastra, yuk, kenali lebih dekat ketiga buku nominasi ini! Siapa tahu, salah satunya bukan hanya menarik untuk dibaca, tetapi juga membuat Grameds melihat Indonesia dengan cara yang baru. 👀📚


Kumpulan Cerita: Suara dari Makam Tak Bernama—Kaisar Deem

Ketika Suara Dipaksa Bungkam

novelTemukan Bukunya di Sini!

Jauh dari hiruk-pikuk kota, sepasang suami istri terpaksa menggendong pulang jenazah anak mereka karena ambulans tak kunjung datang. Di balai kota, seorang petugas kebersihan mengintip rapat para tikus yang mengatur pemerintahan. Sementara itu, seorang pemuda mendapat pekerjaan menjaga makam tak bernama, tempat suara-suara yang dianggap terlalu lantang seolah ikut dikubur bersama mereka yang telah tiada.

Dalam Suara dari Makam Tak Bernama, Kaisar Deem merangkai kisah-kisah getir dan satir untuk menelusuri kehidupan di sebuah negeri yang riuh oleh kepentingan, tetapi kerap acuh terhadap mereka yang membutuhkan pertolongan. Lewat potret-potret yang menyentil, pembaca diajak melihat bagaimana ketidakadilan dapat tumbuh subur ketika suara mereka yang terdampak justru tenggelam dari percakapan.

Di antara suara-suara yang berusaha mencari tempat, sebuah makam tanpa nama menyimpan misteri tersendiri. Siapa yang terkubur di sana, dan suara apa yang membuatnya harus dibungkam?


Baca juga: Topeng Bangsawan Taipan Tersingkap: Saat Pesta ‘Yang Mulia’ Berubah Menjadi Jamuan Berdarah


Novel Medan Medan—Muram Batu

Saat Idealisme Berhadapan dengan Kekuasaan

novelTemukan Bukunya di Sini!

Mendirikan koran cetak di tengah derasnya arus media daring terdengar seperti keputusan nekat. Bagi Laung, justru tantangan itulah yang ingin ia hadapi. Berbekal pengalaman di dunia pers dan gagasan yang berbeda dari koran-koran lain di Medan, ia mendirikan Medan Raya, sebuah koran sore yang terbit dengan dialek khas kota tersebut.

Dalam perjalanannya, Laung bertemu Pilu, seorang wartawan gadungan yang memahami bisnis sekaligus seluk-beluk penerbitan koran. Bersama Pilu dan sejumlah rekan dengan pengalaman serupa, ia berusaha membangun media yang mampu bertahan di tengah perubahan zaman.

Membangun koran ternyata baru permulaan. Persaingan media yang semakin ketat dan intrik politik yang mulai mengusik perlahan membawa Laung berhadapan dengan kenyataan yang tak selalu sejalan dengan idealismenya.

Akankah Medan Raya berhasil menemukan tempatnya di tengah riuhnya industri media, atau justru tumbang sebelum gagasan nekat Laung sempat membuktikan nilainya?


kumpulanBaca Artikel Lainnya di Sini!


Novel Bia dan Kapak Batu—Intan Andaru

Siapa yang Berhak Menentukan Masa Depan?

novelTemukan Bukunya di Sini!

Paskalina, Kosmas, dan Urbanus tumbuh di tengah pergeseran budaya di tanah Papua. Sagu dan ikan perlahan tergantikan oleh beras dan mi instan, sementara patung-patung sakral mulai dipandang melalui nilai mata uang. Di tengah perubahan cara hidup tersebut, busung lapar dan campak masih merenggut nyawa anak-anak.

Kehadiran para pendatang berkulit terang memperkenalkan Paskalina dan Kosmas pada cara pandang baru. Merasa tertinggal dari dunia luar, keduanya terdorong mengejar kehidupan yang mereka anggap lebih maju. Urbanus memilih jalan berbeda: tetap tinggal di kampung dan merawat tradisi yang diwariskan kepadanya.

Seiring waktu, jalan hidup ketiganya kian menjauh. Kosmas terbang ke ibu kota, Urbanus bertahan di tanah kelahirannya, sedangkan Paskalina berusaha menentukan arah hidupnya sendiri. Di tengah perubahan yang mengusik nilai-nilai masyarakat, pilihan mereka mencerminkan pergulatan yang lebih besar daripada sekadar menentukan tempat tinggal atau masa depan.

Ketika kemajuan menawarkan kehidupan yang berbeda, mampukah mereka menentukan maknanya sendiri tanpa kehilangan hak untuk menjadi tuan di tanah kelahiran?


Baca juga: Ke Mana Perginya Benda-Benda yang Sudah Tiada: Barangkali Puisi, Atau Mungkin Luapan Melankoli


Tak Semua Suara Didengar, Tak Semua Jalan Bisa Dipilih 🛣️

Ketidakadilan, idealisme, dan tuntutan untuk terus maju hadir dalam bentuk yang berbeda, tetapi menyimpan pertanyaan yang saling beririsan: siapa yang mendapat kesempatan untuk bersuara, prinsip apa yang mampu bertahan saat keadaan mendesak, dan siapa yang berhak menentukan arah perubahan?

Ketika kepentingan saling berbenturan, apakah setiap suara memiliki kesempatan yang sama untuk didengar? Seberapa jauh seseorang bisa mempertahankan idealismenya ketika kenyataan menuntut kompromi? Dan di tengah dunia yang terus berubah, apakah kemajuan harus selalu mengikuti arah yang ditentukan orang lain?

Melalui Suara dari Makam Tak Bernama, Medan Medan, dan Bia dan Kapak Batu, pembaca diajak menelusuri pertanyaan-pertanyaan tersebut dari sudut pandang yang jarang mendapat sorotan. Ketiganya memperlihatkan bahwa di balik suara yang mencari ruang, prinsip yang diuji keadaan, dan pilihan hidup yang dibatasi banyak hal—selalu ada perjuangan untuk menentukan apa yang layak dipertahankan.


Lima Buku, Lima Cara Membaca Realitas Indonesia 📚

Kalau tiga buku barusan belum cukup dan kamu ingin menyelami sisi lain dari realitas Indonesia, lima buku berikut bisa menjadi pemberhentian berikutnya. Intip rekomendasinya di sini ✨


Corat-Coret di Toilet — Eka Kurniawan

novelTemukan Bukunya di Sini!

Dinding toilet ternyata bisa menjadi tempat menyampaikan pendapat yang tak selalu mendapat ruang di meja kekuasaan. Melalui kumpulan cerita pendek Corat-Coret di Toilet, Eka Kurniawan menghadirkan kisah-kisah dengan sentilan sosial dan politik yang tajam. Berangkat dari kehidupan sehari-hari, cerita-ceritanya mengusik cara masyarakat memandang kekuasaan, ketidakadilan, dan berbagai hal yang kerap diterima begitu saja.

Kekuatan buku ini terletak pada caranya menyampaikan kritik tanpa harus selalu terdengar seperti pidato. Ada ironi, absurditas dan humor yang membuat personal serius terasa dekat, sekaligus mengundang pembaca untuk mempertanyakan hal-hal yang selama ini dianggap wajar.


Laut Bercerita — Leila S. Chudori

novelTemukan Bukunya di Sini!

Biru Laut adalah seorang mahasiswa sekaligus aktivis yang bersama kawan-kawannya memperjuangkan perubahan di tengah represi politik pada masa Orde Baru. Perjuangan mereka berujung pada penangkapan dan penghilangan paksa. Di bagian berikutnya, kisah beralih kepada Asmara Jati, adik Laut, yang bersama keluarga para korban terus mencari jawaban atas orang-orang terkasih yang tak pernah kembali.\Melalui dua sudut pandang tersebut, Leila S. Chudori memperlihatkan bahwa kekerasan politik tak berhenti pada mereka yang menjadi korban. Luka itu juga menetap dalam kehidupan keluarga dan orang-orang yang ditinggalkan. Laut Bercerita merawat ingatan tentang mereka yang hilang sekaligus mempertanyakan harga yang harus dibayar ketika seseorang memilih memperjuangkan keyakinannya.


Amba — Laksmi Pamuntjak

novelTemukan Bukunya di Sini!

Tahun 2006, Amba pergi ke Pulau Buru untuk mencari Bhisma, lelaki yang dicintainya dan tak pernah kembali setelah ditangkap pemerintah Orde Baru. Pertemuan mereka bermula di Kediri, tetapi hubungan itu terputus di tengah pergolakan politik sekitar Peristiwa 1965. Bertahun-tahun kemudian, pencarian Amba membawanya berhadapan dengan masa lalu yang selama ini menyisakan banyak pertanyaan.

Dalam novel ini, Laksmi Pamuntjak merajut kisah cinta dengan sejarah politik Indonesia, memperlihatkan bagaimana peristiwa besar dapat mengubah arah hidup seseorang sekaligus meninggalkan luka yang bertahan lintas generasi. Sejarah tak hadir semata sebagai latar, tetapi juga sebagai kekuatan yang memisahkan manusia, membentuk ingatan, dan menentukan apa yang masih mungkin ditemukan kembali.


86 — Okky Madasari

novelTemukan Bukunya di Sini!

Arimbi, seorang gadis desa yang bekerja sebagai juru ketik di pengadilan negeri, menjadi kebanggaan keluarganya. Pekerjaan sebagai pegawai negeri dipandang sebagai pencapaian besar, sekaligus harapan akan kehidupan yang lebih mapan. Namun, di tengah lingkungan yang akrab dengan praktik korupsi, keluguan Arimbi perlahan membawanya masuk ke dalam sistem yang semula mungkin tak pernah ia bayangkan.

Melalui perjalanan Arimbi, Okky Madasari menyoroti bagaimana penyimpangan dapat tumbuh menjadi kebiasaan ketika dilakukan berulang kali dan diterima oleh banyak orang. Kritiknya terasa dekat karena persoalan yang diangkat bukan hanya tentang pelaku, tetapi juga tentang lingkungan yang membuat tindakan salah tampak lumrah.


Ronggeng Dukuh Paruk — Ahmad Tohari

novelTemukan Bukunya di Sini!

Kehidupan Dukuh Paruk berubah ketika Srintil dinobatkan sebagai ronggeng baru. Bagi masyarakat desa yang miskin dan terpencil itu, ronggeng bukan sekadar penari, melainkan bagian penting dari identitas dan tradisi mereka. Popularitas Srintil pun tumbuh, tetapi kehidupannya dan masyarakat Dukuh Paruk kemudian diguncang oleh pergolakan politik 1965.

Ahmad Tohari menghadirkan potret masyarakat pedesaan dengan adat, kemiskinan, dan relasi kuasa yang saling berkelindan. Melalui Srintil, pembaca diajak melihat bagaimana seseorang berusaha memahami harga dirinya dan menentukan jalan hidup di tengah tuntutan tradisi serta tekanan dari luar.


Dari Wishlist Abadi, Saatnya Pindah ke Keranjang 🛒✨

Ada cerita yang pudar begitu bukunya ditutup, ada juga yang pertanyaannya nempel terus di kepala. Nah, daripada rekomendasi tadi cuma mengendap jadi wacana di daftar wishlist-mu, yuk eksekusi sekarang!

Mumpung ada Special Offer Nominasi Penghargaan Sastra, kamu bisa memboyong buku-buku keren ini dengan diskon spesial periode 20 Oktober – 1 November 2026! 🤯🤟

👉Langsung meluncur ke Gramedia.com, amankan buku pilihanmu, dan siap-siap menyambut penghuni baru di rak bukumu, Grameds! 👀🛍️

promoTemukan Promonya di Sini!

✨Jangan lupa juga untuk cek promo spesial lainnya di Gramedia.com supaya belanjamu makin hemat dan bermakna!

kumpulanTemukan Semua Promo Spesial di Sini!


Laura Saraswati

Laura Saraswati

In a world full of Ushers, I'd thrive to be Annabel Lee with a little fairy dust on my hands. Actively writing about books, pop culture, everyday life, and anything that refuses to leave my head.

Enter your email below to join our newsletter