Ke Mana Perginya Benda-Benda yang Sudah Tiada: Barangkali Puisi, Atau Mungkin Luapan Melankoli
Dahulu, kamu mungkin pernah memiliki barang-barang kesayangan. Benda-benda yang setia menemani hari-hari, yang kamu rawat meski bentuknya perlahan berubah karena waktu. 🧸⌛️
Namun, kehidupan terus berjalan. Kamu bertemu dengan hal-hal baru, mengenal orang-orang baru, dan tanpa sadar mulai mengumpulkan barang-barang baru pula.
Kehadiran sesuatu yang baru ini perlahan menggeser perhatianmu dari benda-benda lama. Sampai pada suatu hari, di tengah kesunyian, ingatan tentang mereka kembali muncul.
Kamu pun mulai bertanya-tanya, ke mana perginya benda-benda yang dahulu begitu akrab dengan keseharianmu?
Pertanyaan sederhana itulah yang menjadi pintu masuk menuju Ke Mana Perginya Benda-Benda yang Sudah Tiada, kumpulan puisi karya Mashdar Zainal yang mengajak kita menengok kembali hubungan antara benda, ingatan, dan waktu.
Tentang Apa Ke Mana Perginya Benda-Benda yang Sudah Tiada?
Ke Mana Perginya Benda-Benda yang Sudah Tiada merupakan kumpulan puisi karya Mashdar Zainal yang naskahnya terpilih sebagai nominasi dalam Sayembara Manuskrip Puisi Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) 2023.
Sesuai judulnya, buku ini berangkat dari pertanyaan tentang benda-benda yang pernah menjadi bagian dari kehidupan kita. Ada buku catatan SMA, perkakas gerabah, kaset pita dan lagu-lagu Nasida Ria, buku catatan lirik lagu, hingga kartu kwartet Yoko dan Bibi Lung. Benda-benda yang tampak sederhana itu menyimpan jejak masa lalu sekaligus pengalaman yang membentuk kehidupan seseorang.
Melalui puisi-puisinya, Mashdar mengajak pembaca menelusuri kembali kenangan yang mungkin sudah lama tersimpan. Benda-benda tersebut menjadi penghubung antara masa lalu dan masa kini, menghadirkan kembali suasana, perasaan, serta orang-orang yang pernah mengisi hari-hari kita.
Lahir dari nostalgia, kumpulan puisi ini juga membuka ruang untuk merenungkan hubungan kita dengan benda-benda di sekitar. Barangkali, setelah membacanya, kamu akan tergerak untuk mengingat kembali barang-barang kesayangan yang pernah dimiliki, mencari tahu ke mana perginya, atau merawat lebih baik benda-benda yang masih ada dalam genggaman.
Baca juga: Tamasya Kota Hantu: Koleksi Puisi Terbaru dari Theoresia Rumthe Siap Mengajakmu Berkelana Ngeri!
Benda Usang dan Pertanyaan Lintas Waktu
Puisi-puisi dalam naskah ini menjadikan benda sebagai jalan untuk mengintip dunia batin subjek sekaligus memahami caranya memandang dunia di luar dirinya.
Benda-benda tersebut hadir melalui tuturan dan pernyataan yang menghubungkan pengalaman personal dengan ingatan kolektif. Kehadirannya tidak berhenti sebagai penanda identitas, melainkan juga menjadi representasi waktu yang berlalu. Sebuah benda dapat menyimpan sejarah pribadi sekaligus memancarkan pengalaman yang mungkin juga akrab bagi banyak orang.
Kelekatan pada masa silam kemudian disuarakan melalui beragam bentuk dan sikap puitis. Mashdar mengolah objek-objek sederhana menjadi perantara untuk membicarakan kenangan, perubahan, dan pengalaman manusia dalam menghadapi waktu.
Pada sejumlah puisi, ia juga menunjukkan kelincahan dalam mengonkretkan gagasan abstrak melalui majas perbandingan, terutama metafora dan simile. Deskripsi yang detail, jernih, dan tepat membuat benda-benda sehari-hari memperoleh makna yang lebih luas.
Salah satu puisi yang dapat kamu temukan dalam buku ini berjudul Menanam Harapan.
Meski terkadang tidak berbuah,
harapan bisa menjadi kayu.
Suatu saat mungkin akan berguna.
Tanam saja, bijinya kecil dan mudah tumbuh.
Lewat larik-larik tersebut, harapan digambarkan sebagai sesuatu yang dapat ditanam dan dirawat, meski manfaatnya belum tentu langsung terasa.
Gambaran kayu yang kelak berguna menghadirkan kemungkinan bahwa sesuatu yang kita pelihara hari ini dapat menemukan maknanya pada masa mendatang.
Gagasan itu terasa selaras dengan cara buku ini memandang benda dan waktu. Sesuatu yang tampak kecil atau biasa saja dapat menyimpan nilai yang baru kita pahami setelah melewati berbagai pengalaman.
Tentang Mashdar Zainal
Mashdar Zainal merupakan penulis kelahiran Madiun pada 1984 yang menekuni penulisan puisi dan prosa. Karya-karyanya telah terbit di berbagai media lokal dan nasional, termasuk Kompas, Jawa Pos, Tempo, Republika, dan Media Indonesia.
Sejumlah cerpennya terhimpun dalam antologi 20 Tahun Cerpen Pilihan Kompas serta Cerpen Pilihan Kompas edisi 2016, 2018, 2021, dan 2023.
Pada 2017, manuskrip kumpulan cerpennya, Lumpur Tuhan, memperoleh penghargaan dalam Sayembara Sastra Dewan Kesenian Jawa Timur untuk kategori prosa.
Pada tahun yang sama, Mashdar juga menerima Penghargaan Acarya Sastra bagi pendidik melalui karyanya, Alona Ingin Menjadi Serangga, dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.
Melalui karya-karyanya, Mashdar terus mengeksplorasi beragam pengalaman manusia, baik melalui cerita maupun puisi. Ke Mana Perginya Benda-Benda yang Sudah Tiada menjadi kesempatan lain untuk menikmati caranya mengolah hal-hal yang dekat dengan keseharian menjadi bahan perenungan.
Ke Mana Perginya Benda-Benda yang Sudah Tiada?
Pertanyaan tentang benda-benda yang telah tiada mungkin tidak selalu memiliki jawaban pasti. Sebagian menghilang karena terlupakan, sebagian rusak dimakan waktu, sementara yang lain masih tersimpan dalam ingatan meski wujudnya sudah lama tak terlihat.
Mashdar Zainal merangkai pertanyaan tersebut menjadi puisi, membuka ruang bagi pembaca untuk menyusuri kenangan masing-masing. Kamu pun bisa mengikuti perjalanan itu melalui Ke Mana Perginya Benda-Benda yang Sudah Tiada.
Kabar baiknya, buku puisi ini sedang hadir dalam Special Offer di Gramedia.com. Selama periode promo berlangsung, kamu bisa mendapatkan potongan harga 15% untuk setiap pembelian buku ini.
Tak selesai sampai di situ, kamu juga berkesempatan memperoleh potongan harga 20% jika membelinya sekaligus dengan Blewah dalam Milky Way karya Emma Hanubun.
Kalau kamu sedang ingin menambah koleksi puisi atau mencari bacaan yang mengajakmu berdamai dengan kenangan, promo ini bisa menjadi kesempatan menarik untuk membawa pulang keduanya.
Yuk, segera cek promonya melalui tautan berikut!
https://www.gramedia.com/promo/special-offer-blewah-dalam-milky-way-dan-kemana
Rekomendasi Buku Puisi Lainnya!
Sebagaimana masih ada hari lain yang mesti dijalani, masih ada pula buku puisi yang bisa menemani kamu di sela-sela waktu luang.
Berikut beberapa rekomendasinya untuk kamu! 📚
Melihat Api Bekerja — M. Aan Mansyur
Kumpulan puisi karya M. Aan Mansyur ini mengajak pembaca menyelami perasaan manusia, terutama kesedihan, kehilangan, dan kegelisahan yang kerap tersembunyi di balik keseharian.
Buku ini juga dilengkapi ilustrasi Emte yang memperkaya pengalaman membaca.
“Aku benci berada di antara orang orang yang bahagia. Mereka bicara tentang segala sesuatu, tapi katakata mereka tidak mengatakan apa-apa. Mereka tertawa dan menipu diri sendiri menganggap hidup mereka baik-baik saja. Mereka berpesta dan membunuh anak kecil dalam diri mereka. Aku senang berada di antara orang-orang yang patah hati. Mereka tidak banyak bicara, jujur, dan berbahaya. Mereka tahu apa yang mereka cari. Mereka tahu dari diri mereka ada yang telah dicuri.”
Tamasya Kota Hantu — Theresa Rumthe
"mereka tidak tidur, mereka melihat apa yang terjadi dan menghitung waktu."
Melalui Tamasya Kota Hantu, Theoresia Rumthe mengajak pembaca menyusuri kota yang menyimpan ingatan, trauma, dan berbagai persoalan sosial.
Sosok “hantu” dalam buku ini juga menjadi jalan untuk membicarakan masa lalu serta peristiwa yang terus membayangi kehidupan manusia hingga hari ini.
Perjamuan Khong Guan — Joko Pinurbo
Joko Pinurbo mengolah kaleng biskuit yang akrab dengan keseharian masyarakat menjadi pintu menuju berbagai persoalan kehidupan.
Dengan permainan kata yang jenaka dan gaya bahasa yang ringan, buku ini merangkai tema rindu, cinta, kenangan, keluarga, hingga persoalan negara dalam puisi-puisi yang mengundang senyum sekaligus perenungan.
“Mari kita buka apa isi kaleng Khong Guan ini apakah biskuit, peyek, keripik, ampiang, atau rengginang?
Simsalabim. Buka!
Isinya ternyata adalah ponsel, kartu ATM, tiket, voucher, obat, jimat, dan kepingan-kepingan rindu yang sudah membatu.”
Blewah dalam Milky Way — Emma Hanubun
“tuhan kami yang maha manifes
jangan jadikan kepala kami
tempat buang hajat manusia lain”
Kumpulan puisi Emma Hanubun ini menghadirkan suara yang berani, ganjil, dan tajam dalam menanggapi pengalaman manusia serta keadaan di sekitarnya.
Larik-lariknya mengajak pembaca berhadapan dengan kegelisahan melalui pilihan kata yang lugas dan citraan yang tidak terduga.
Museum Kehilangan — Wawan Kurniawan
Melalui kumpulan puisi ini, Wawan Kurniawan menelusuri kehilangan dan jejak peristiwa yang tertinggal dalam ingatan.
Puisi-puisinya juga menyentuh tragedi serta persoalan sosial dan politik, menghadirkan pengalaman kehilangan sebagai sesuatu yang terus menyisakan pertanyaan.
“hari-hari mencuri wajahmu
esok kita hanya mendengar suara tawa seorang nakhoda pemabuk
dari neraka paling celaka dia bawa beribu cerita
perihal menemukan seluruh harta karun yang kita cari
tapi tak seorang pun akan percaya lagi setelah di museum kehilangan: terpajang cermin, terpasung wajahmu dan kesunyian berabad-abad lamanya.”
Pada akhirnya,
Benda-benda mungkin berubah bentuk, rusak, atau hilang dari pandangan. Namun, pengalaman yang menyertainya dapat bertahan jauh lebih lama. 😊😍
Sebuah buku catatan, kaset pita, atau barang kecil yang dahulu kita anggap biasa bisa menjadi pengingat akan masa ketika hidup terasa berbeda.
Melalui Ke Mana Perginya Benda-Benda yang Sudah Tiada, Mashdar Zainal mengajak kita melihat kembali benda-benda tersebut dengan perhatian yang baru.
Setelah membaca kumpulan puisinya, barangkali kamu juga akan menemukan kembali kenangan akan benda-benda yang kini tak lagi ada dalam genggaman. Kenangan yang selama ini hanya tersimpan di sudut ingatan. 😇
Jadi, Grameds, siap menelusuri jejak benda-benda yang pernah menjadi bagian dari hidupmu? Segera dapatkan buku Ke Mana Perginya Benda-Benda yang Sudah Tiada di Gramedia.com dan nikmati potongan harganya selagi periode promonya masih berlaku. 🛒🤩
Baca juga: Saatnya Perluas Referensi Bacaan dari Nominasi Kusala Sastra Khatulistiwa
✨Oh iya, jangan lupa juga untuk cek promo spesial lainnya di Gramedia.com supaya belanjamu makin hemat dan bermakna! ⤵
Temukan Bukunya di Sini!
Baca Artikel Lainnya di Sini!
Temukan Bukunya di Sini!
Temukan Bukunya di Sini!
Temukan Bukunya di Sini!
Temukan Bukunya di Sini!
Temukan Bukunya di Sini!
Temukan Promonya di Sini!
Temukan Semua Promo Spesial di Sini!