6 Buku Self Improvement Paling Fenomenal

6 Buku Self Improvement Paling Fenomenal

. 3 min read

Selalu ada ruang buat buku self improvement alias pengembangan diri. Buku-buku jenis itu menawarkan kita cara bagaimana jadi orang lebih baik, jadi karyawan lebih baik, bos panutan, teman menyenangkan, kekasih idaman, suami/istri pujaan, sampai bagaimana jadi orang kaya harta dan kaya rohani.

Entah sudah berapa judul buku jenis ini terbit. Jejak tulisan jenis ini bisa ditelusuri hingga masa Mesir kuno. Di zaman Romawi kuno, Abad Pertengahan, serta Renaisans di Italia, terbit tulisan maupun buku yang kini bisa dikategorikan sebagai self improvement atau self help.

Buku-buku jenis ini jadi bagian fenomena budaya modern. Judul-judul baru datang silih berganti ditujukan bagi remaja, karyawan, ibu rumah tangga, suami, wanita karier, manajer, hingga kakek-nenek.

Meski judul-judul baru buku self improvement terus bermunculan, beberapa buku jenis ini terus dikenang, dibaca dari satu generasi ke generasi lain.

Apa saja buku-buku tersebut? Empat buku dalam daftar ini kami salin dari laman Reader’s Digest, sambil kami modifikasi kontennya. Yuk, disimak.

1. How to Win Friends and Influence People, karya Dale Carnegie (1939)

DALE CARNEGIE

Buku ini digadang-gadang sebagai nenek moyang buku self help atau self improvement. Terbit pertama kali hampir delapan puluh tahun silam, buku ini terus dibaca dan dicetak ulang.

Isinya tak lekang dimakan waktu karena topiknya universal dan selalu diperlukan setiap orang di setiap zaman. Dale Carnegie memberi tuntunan praktis bagaimana menambah teman, menjadi pemimpin organisasi hingga sukses mengelola rumah tangga.

Edisi versi terbarunya terbit tahun 2011. Buku ini nangkring di urutan 19 di daftar 100 buku paling berpengaruh sepanjang masa versi majalah Time bersanding dengan novel-novel epik klasik, karya sastra, buku sejarah, iptek dll.

2. The Seven Habits of Highly Effective People, karya Stephen R. Covey (1989)

STEPHEN COVEY

Setiap manajer hingga karyawan rasanya tahu buku ini. Hingga sekarang, bukunya telah terjual lebih dari 25 juta eksemplar serta beranak-pinak jadi beragam spin-off, termasuk versi untuk remaja yang ditulis Sean, anak Stephen R. Covey.

Presiden AS Bill Clinton bahkan pernah mengundang Covey ke Camp David untuk berdiskusi bagaimana menerjemahkan yang ada di buku dalam pemerintahannya. Pada 2011, majalah Time menempatkan buku ini di daftar “25 Buku Manajemen Bisnis Paling Berpengaruh.”

3. Men Are from Mars, Women Are from Venus, karya John Gray, PhD (1992)

JOHN GRAY

Buku ini dimulai dengan premis yang mengatakan pria dan wanita pada dasarnya berbeda, dan bila setiap orang memahami lawan jenisnya maka akan lahir hubungan yang bahagia dan sehat.

Semua orang tahu itu. Namun, tetap saja orang butuh sebuah buku yang menegaskan hal itu. Hasilnya, buku ini terjual hingga 50 juta kopi dan menurut CNN buku ini adalah “buku non-fiksi terlaris sepanjang 1990-an.”

4. Who Moved My Cheese?, karya Spencer Johnson, MD (1998)

SPENCER JOHNSON

Spencer Johnson, MD mengenalkan kita pada dua tikus Sniff (endus) dan Scurry (lacak) serta manusia Hem (kaku) dan Haw (aman). Mereka tinggal dalam labirin dan kerjanya mencari keju. Tokoh-tokoh imajiner itu menggambarkan sikap dalam diri kita masing-masing.

Begitu banyak orang terbius oleh perumpamaan yang dibuat Johnson. Buku ini bertahan selama lima tahun di daftar buku terlaris dan terjual 26 juta eksemplar di seluruh dunia dalam 37 bahasa.

5. Rich Dad Poor Dad, karya Robert T. Kiyosaki (2000)

ROBERT KIYOSAKI

Buku ini mengajarkan pengelolaan keuangan lewat perumpamaan tentang kisah dua ayah dan dua anak. Kisahnya sendiri terinpirasi dari cerita hidup Robert T. Kiyosaki saat besar di Hawaii.

Oprah Winfrey kemudian membicarakan buku ini di acara bincang-bincangnya, lalu buku ini kian ngetop dan terjual kini hingga 26 juta eksemplar.

6. Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat, karya Mark Manson (2016)

MARK MANSON

Judul asli buku ini adalah The Subtle Art of Not Giving a Fck: A Counterintuitive Approach to Living a Good Life. Pertama terbit tahun 2016. Edisi Indonesia-nya rilis sejak Februari 2018. Hingga awal tahun ini bukunya sudah terjual 2 juta eksemplar.

Boleh dibilang, buku ini adalah anti-self improvement. Mark Manson memandang buku-buku self improvement yang serba positif dianggapnya tak praktis dan tak membantu.
Poinnya, alih-alih selalu mencoba bahagia ia malah mengajak kita berjuang jatuh-bangun menjalani hidup.