Biar Bulan Ber, Ber, Ber Makin Berasa, Mari Kenalan dengan 2 Buku Puisi dari Sapardi Djoko Damono!
Menyelami Sisi Lain Sapardi Djoko Damono lewat Babad Batu dan DukaMu Abadi
Nama Sapardi Djoko Damono rasanya memang tak bisa dipisahkan dengan judul puisinya yang sangat populer, Hujan Bulan Juni. Puisi tentang cinta, hujan, dan kesederhanaan itu telah menjadi salah satu karya paling dikenal dalam sastra Indonesia, termasuk diadaptasi ke dalam bentuk novel hingga film. 📚🎬
Sekalipun begitu, nama besarnya itu tak cuma eksis semata dalam satu karya tersebut. Lebih jauh dari itu, Pak Sapardi juga banyak menerbitkan banyak buku puisi yang tak kalah menariknya.
Sepanjang hidupnya, ia telah melahirkan begitu banyak karya dalam bentuk puisi, prosa, cerita pendek, hingga tulisan tentang sastra dan kepenulisan. Karya-karyanya pun terus memperlihatkan berbagai sisi pemikirannya, dari hal-hal yang dekat dengan keseharian hingga renungan tentang kehidupan, kematian, ingatan, dan spiritualitas.
Dua di antaranya bisa kamu temukan dalam Babad Batu dan DukaMu Abadi. Keduanya sama-sama merupakan kumpulan puisi Sapardi, tetapi menawarkan pengalaman membaca yang berbeda.
Bila kamu penasaran, mari kita berkenalan lebih dekat dengan dua buku ini dan melihat sisi lain dari puisi-puisi Sapardi. 📝
Babad Batu, Puisi dengan Jejak Spiritual yang Pekat
Puisi-puisi Sapardi dikenal memiliki bentuk yang beragam, mulai dari sajak yang ringkas hingga puisi naratif dengan cerita yang lebih panjang. Babad Batu menjadi salah satu karya yang memperlihatkan eksplorasi tersebut.
Salah satu sajak yang menjadi bagian dari buku ini menggunakan judul yang sama, Babad Batu. Penggalannya berbunyi:
“kau mendobrak
ke sisa ruang
menggelandang bayang-bayang
menggelandang jarak
yang ternyata hanya bayang-bayang…”
Babad Batu terdiri atas puluhan puisi yang terbagi ke dalam tiga kitab. Kitab pertama banyak bersinggungan dengan batu dan berbagai praktik spiritual. Kitab kedua bergerak ke wilayah ritual keagamaan sekaligus hal-hal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Sementara itu, kitab ketiga menghadirkan puisi-puisi naratif dengan bentuk yang lebih panjang. Judulnya pun mengikuti gaya tersebut:
Berbicara tentang Perkara yang Meskipun Mungkin Tidak Ada Kait-mengaitnya dengan Kami dan Tidak Berguna tetapi Kalau Tidak Dijalani Tidak Akan Pernah Diketahui Berguna atau Tidaknya.
Dari struktur hingga temanya, Babad Batu memperlihatkan eksplorasi Sapardi terhadap wilayah yang terasa lebih simbolis dan spiritual. Suasananya pun cenderung pekat, memberikan pengalaman membaca yang berbeda dari puisi-puisi Sapardi yang lebih populer.
Buat kamu yang ingin melihat sisi kepenyairan Sapardi dari sudut yang berbeda, Babad Batu bisa menjadi salah satu karya yang menarik untuk diselami.
Baca juga: Terjebak di Antara Dua Zaman: Kisah Dunia yang Perlahan Berakhir dalam The Setting Sun
DukaMu Abadi, Menyusuri Puisi-Puisi dari Masa Muda
Kalau Babad Batu memperlihatkan eksplorasi Sapardi dalam tema spiritual dan puisi naratif, DukaMu Abadi membawa kita kembali ke karya-karya awalnya.
Buku ini terbagi menjadi dua bagian berdasarkan tahun penciptaannya, yaitu bagian 1967 yang berisi 24 puisi dan bagian 1968 yang memuat 18 puisi.
Salah satu puisinya membuka suasana dengan gambaran hujan dan kesunyian:
“hujan turun sepanjang jalan
hujan rinai waktu musim berdesik-desik pelan
kembali bernama sunyi
kita pandang: pohon-pohon di luar basah kembali”
Nuansa seperti hujan, sunyi, ingatan, dan perasaan yang tertahan terasa kuat dalam kumpulan puisi ini. Dari sana, pembaca bisa melihat bagaimana Sapardi mengolah pengalaman batin menjadi bahasa yang sederhana sekaligus penuh ruang untuk ditafsirkan.
Menariknya, DukaMu Abadi juga memberi kesempatan untuk melihat karya Sapardi dari periode awal kepenyairannya. Membacanya seperti membuka kembali lembaran lama dan mengikuti bagaimana gaya serta gagasan seorang penyair tumbuh dari waktu ke waktu.
Baca Kisah Seru Lainnya di Sini!
Dua Buku, Dua Sisi Sapardi
Babad Batu dan DukaMu Abadi sama-sama memperlihatkan kepiawaian Sapardi dalam merangkai kata, tetapi keduanya menawarkan pintu masuk yang berbeda.
Babad Batu bergerak melalui simbol, spiritualitas, ritual, dan puisi naratif. Sementara itu, DukaMu Abadi membawa pembaca ke karya-karya awal Sapardi yang dekat dengan suasana sunyi, hujan, ingatan, dan perasaan manusia.
Membaca keduanya sekaligus memberikan gambaran yang lebih luas tentang Sapardi sebagai penyair. Sosok yang dikenal lewat puisi-puisi sederhana tentang cinta dan hujan ternyata memiliki bentang karya yang jauh lebih luas.
Mengenal Sapardi Djoko Damono
Sapardi Djoko Damono lahir di Solo pada 20 Maret 1940. Ia menyelesaikan pendidikan di Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada pada 1964.
Sejak menjadi mahasiswa, Sapardi telah aktif dalam berbagai kegiatan seni dan sastra. Ia pernah mengasuh acara sastra di RRI Yogyakarta, menyelenggarakan diskusi dan lomba kesenian, menerjemahkan karya sastra, serta terlibat dalam pementasan drama sebagai pemain dan sutradara.
Perjalanan akademiknya kemudian membawanya menjadi pengajar di sejumlah perguruan tinggi. Ia mengajar di IKIP Malang dan Universitas Diponegoro sebelum bergabung dengan Universitas Indonesia. Di UI, Sapardi kemudian menjadi guru besar Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya.
Sepanjang kariernya, Sapardi menghasilkan berbagai karya yang kemudian menjadi bagian penting dari sastra Indonesia. Beberapa di antaranya adalah DukaMu Abadi (1969), Mata Pisau (1974), Akuarium (1974), Perahu Kertas (1983), Sihir Hujan (1984), Hujan Bulan Juni (1994), Ayat-Ayat Api (2000), hingga Babad Batu (2020).
Kiprahnya di dunia sastra juga membawanya menerima berbagai penghargaan, termasuk SEA Write Award pada 1986, Khatulistiwa Literary Award pada 2004, serta penghargaan Lifetime Achievement dari Ubud Writers & Readers Festival pada 2018.
Sapardi wafat pada 19 Juli 2020, tetapi karya-karyanya terus dibaca dan diperkenalkan kepada generasi baru.
Masih Ingin Membaca Karya Sapardi?
Kalau dua kumpulan puisi tadi membuatmu ingin menyelami karya Sapardi lebih jauh, beberapa judul berikut juga bisa masuk ke daftar bacaanmu.
Ayat-Ayat Api
Kumpulan puisi yang mempertemukan api dengan kehidupan, kehancuran, dan pengalaman manusia. Salah satu puisinya membuka dengan baris yang kuat:
“api adalah lambang kehidupan
itu sebabnya ia tak bisa
menjadi fosil
api adalah lambang kehidupan
itu sebabnya kita luluh-lantak
dalam kobarannya”
Sepasang Sepatu Tua
Dalam buku ini, benda-benda sehari-hari mendapatkan suara dan cerita. Sepasang sepatu bahkan bisa terlibat dalam percakapan tentang asal-usul mereka sendiri.
Lewat benda-benda yang menjadi pencerita, Sapardi menghadirkan cerita yang jenaka sekaligus reflektif.
Sunyi Adalah Minuman Keras
Novel ini mengikuti Rara, seorang penulis muda yang dikenal melalui media sosial, tetapi menyimpan kesepian dalam kehidupan nyata.
Pertemuannya dengan seorang teman virtual kemudian membawa cerita ke arah yang lebih dalam tentang ingatan, kehilangan, dan kesunyian.
Ia tiada lain ingatan.
Tiada lain ingatan
yang tidak pernah berhasil dilemparkannya
keluar dari dirinya sebab manusia
pada akhirnya adalah ingatan belaka
Hujan Bulan Juni Sebuah Novel
Novel yang dikembangkan dari dunia Hujan Bulan Juni. Sapardi membawa kembali tema hubungan, kasih sayang, dan kerumitan perasaan manusia melalui cerita yang penuh renungan.
Masih Ingatkah Kau Jalan Pulang
Buku kolaborasi Sapardi dengan Rintik Sedu yang mempertemukan puisi dengan prosa reflektif. Pertanyaan tentang pergi, pulang, dan ingatan menjadi benang merah yang mengikat keduanya.
Saatnya Membaca Sapardi dari Sisi yang Berbeda
Karya Sapardi punya cara sendiri untuk membuat pembaca berhenti sejenak. Baris-barisnya sederhana, tetapi sering menyimpan ruang yang panjang untuk direnungkan.
Lewat Babad Batu dan DukaMu Abadi, kamu bisa melihat dua sisi dari perjalanan kepenyairannya. Satu membawa kita ke wilayah spiritual dan simbolis, sementara satu lagi mengajak menyusuri karya-karya awal yang lekat dengan kesunyian dan perasaan.
Kalau kamu tertarik mengikuti perjalanan tersebut, Babad Batu dan Duka Mu Abadi sudah bisa kamu dapatkan melalui Pre-Order di Gramedia.com ya.
Selama periode penawaran spesial berlangsung, kedua buku puisi ini juga bisa kamu dapatkan dengan harga 15% lebih murah dari harga normal.
Jangan lupa, Road to 9.9 di Gramedia.com juga masih berlangsung dengan berbagai pilihan buku menarik dan diskon hingga 35% untuk buku terbitan Gramedia.
Yuk, cek promonya dan temukan bacaan yang paling ingin kamu bawa pulang!
Jangan lupa juga untuk mengecek berbagai promo menarik lainnya di Gramedia.com supaya pengalaman belanjamu semakin hemat dan menyenangkan! ⤵
Temukan Bukunya di Sini!
Temukan Bukunya di Sini!
Temukan Bukunya di Sini!
Temukan Bukunya di Sini!
Temukan Bukunya di Sini!
Temukan Bukunya di Sini!
Temukan Bukunya di Sini!
Temukan Promonya di Sini!
Temukan Promonya di Sini!
Temukan Semua Promo Spesial di Sini!