Sapardi Djoko Damono, Maestro Puisi dan Penulis Lintas Generasi

Sapardi Djoko Damono, Maestro Puisi dan Penulis Lintas Generasi

. 7 min read

"Puisi itu bukan untuk dipahami, melainkan untuk dihayati," - Sapardi Djoko Damono.

Saya bangga sekali kini puisi digemari generasi muda. Terutama untuk kalian yang mencintai karya Pak Sapardi. Rasanya begitu syahdu dapat menghayati puisi dan syair yang beliau goreskan. Mari kita hayati puisinya ini.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya debu
aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
(Aku Ingin, SDD)

Tidak terhitung berapa seringnya membaca puisi di atas. Entah pada undangan pernikahan, pada lagu, merayu seseorang, dan sampai detik ini selalu saja ada perasaan yang berbeda setiap kali meresapinya.

Begitu pula dengan puisi satu ini.

Yang fana adalah waktu. Kita abadi:
memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga
sampai pada suatu hari
kita lupa untuk apa.
“Tapi, yang fana adalah waktu, bukan?”
Tanyamu.
Kita abadi.
(Yang Fana Adalah Waktu, SDD)

Cukup singkat, namun kata-kata dalam kedua puisi tersebut begitu indah dan menjadi salah satu masterpiece sang penyair, Sapardi Djoko Damono.

“Sebagai pembaca, kita harus punya tafsir sendiri mengenai sebuah karya sastra yang mungkin berbeda dengan orang lain dan berbeda dengan pengarang, tapi itu tidak apa-apa.”

Eyang juga selalu bilang,

“Puisi itu tidak untuk dipahami, puisi itu untuk dihayati”.

Tak bisa dijelaskan dengan kata, namun puisi beliau melembutkan banyak hati, meresap jauh dalam dada, dan menginspirasi kita semua.

Tapi sebelum bercerita jauh lagi, kami ingin mengucapkan selamat ulang tahun kepada Eyang Sapardi, yang hari ini tepat berulang tahun ke-79. Kami doakan semoga Eyang panjang umur, selalu sehat, bahagia, dan terus berkarya, karena kami akan selalu menantikan karya-karya Eyang Sapardi.


Kilas balik ke Surakarta, penyair kebanggaan Indonesia ini lahir pada tanggal 20 Maret 1940, di mana masa muda beliau dihabiskan di kota tersebut.

Kecintaannya menulis dimulai sejak bangku SMA, di mana karyanya sudah sering diterbitkan di majalah. Dan ketika menempuh kuliah bidang bahasa Inggris di Universitas Gadjah Mada (UGM), beliau semakin menggeluti dunia menulis. Selama periode ini Pak Sapardi juga terlibat dalam siaran radio dan teater.

Karir sastra beliau pun berkembang, Pak Sapardi sempat menjadi Direktur Pelaksana Yayasan Indonesia yang menerbitkan majalah sastra Horison. Dan sudah tak terhitung berapa banyak penghargaan yang dianugerahkan kepada beliau.

Kecintaannya pada dunia sastra pun ia dedikasikan dengan mengajar di sejumlah tempat, termasuk Madiun, Solo, Universitas Diponegoro Semarang, Fakultas Sastra Universitas Indonesia, Institut Kesenian Jakarta, dan sempat menjadi dekan dan guru besar.

SAPARDI
Sumber: Gramedia.com

“Menulis puisi tidaklah gampang, tapi bisa dengan bahasa yang sederhana.”

Mengutip wawancara Pak Sapardi dengan Institut Kesenian Jakarta, beliau mengungkapkan jika sosok yang menjadi referensinya saat pertama kali mulai menulis adalah W.S. Rendra.

Saat itu, Pak Sapardi yang duduk di kelas 2 SMA menemukan buku kumpulan puisi yang ditulis W.S. Rendra. Setelah membaca sajak-sajaknya, beliau terkesima dan mengungkapkan jika menulis puisi tidaklah gampang, tapi bisa dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami orang.

“Itulah sebabnya saya berpikiran, siapa tahu saya juga bisa nulis. Dan akhirnya kelas 2 SMA saya mulai menulis.”

Beliau juga bercerita,

“Waktu itu belum ada komputer, belum ada internet, dan satu-satunya untuk bisa belajar adalah membaca. Dan membaca karya sastra itu hanya bisa lewat buku, majalah, atau koran.
Dulu itu mencari karya sastra tidaklah mudah. Saya tinggal di Solo dan cari majalah sangat sulit. Jika majalah sastra itu dianggap tidak laku, ya tidak ada di Solo.
Untunglah di Solo ada perpustakaan pusat dan di sekeliling rumah saya di kampung ada tempat penyewaan buku. Disitulah saya membaca dan belajar menulis.”
SAPARDI
Sumber: keluargaesjepe.wordpress.com

Sebelum mengenal mesin tik dan komputer, eyang Sapardi kerap menulis sajak-sajaknya di buku tulis. Jika kamu perhatikan, tulisan tangan Pak Sapardi cukup unik loh, tulisan beliau miring ke kiri.

Nah, lewat tulisan tangan yang khas inilah sajaknya yang indah dan bikin hati kebat-kebit, ditulis sejak tahun 1957 hingga 1970. Barulah di dekade 1970-an Eyang pindah ke mesin tik, dan sekarang ia sudah menggunakan laptop untuk menuangkan tulisannya.

Bisa dikatakan, aktivitas menulis dikerjakan beliau hampir setiap pagi, sampai waktu yang tidak terbatas. Bahkan dulu ketika jadi mahasiswa di UGM, dalam satu malam beliau bisa menulis sebanyak 18 puisi.

Penulis Lintas Generasi

Tekun bercengkerama dengan kata, menulis cerita fiksi, nonfiksi, karya sastra terjemahan, dan merakit kalimat puisinya, saya sendiri begitu terpikat oleh kata dan sajak yang beliau goreskan. Begitu pula dengan Joko Pinurbo.

"Sederhana dalam hal pengungkapannya tapi tidak sederhana isinya. Isinya sangat dalam dan kita perlu pemahaman beberapa kali untuk benar-benar bisa masuk ke dalam maknanya. Itu yang unik dari pak Sapardi, karya tampilannya sederhana, tapi kedalamannya matang dan kompleks."

Saya setuju dengan yang dikatakan Joko Pinurbo. Inilah kehebatan Eyang Sapardi, dengan penggunaan kata-kata yang sederhana, ringan, penuh makna dan menyentuh, beliau seorang penyair yang kreatif.

Karyanya bisa masuk ke dalam hati sanubari dan dapat dinikmati semua kalangan. Beliau penulis lintas generasi yang kami kagumi.

SAPARDI
Sumber: Google

Hujan menjadi inspirasinya, namun tak melulu tentang hujan, Sapardi juga senang menulis puisi tentang alam, daun, pagi, bunga, dan malam. Seperti pernyataannya,

“Perkara alam, zaman dulu memang tidak ada apa-apa kan? Saya kenal alam di situ, karena tempat tinggal saya di desa dan keluar masuk kampung bersama seorang teman yang akrab pada masa dulu. Jadi saya betul-betul memerhatikan alam.”

Kepiawaiannya menciptakan puisi begitu terasa lewat sajaknya yang indah dan selalu mendapat apresiasi yang baik. Puisi ‘Sajak Kecil tentang Cinta’ ini tak kalah menyentuh.

Coba baca dan hayati, dengan cara bertutur yang sederhana, puisi ini mempunyai makna yang sangat dalam.

Mencintai angin harus menjadi siut...
Mencintai air harus menjadi ricik....
Mencintai gunung harus menjadi terjal....
Mencintai api harus menjadi jilat....
Mencintai cakrawala harus menebas jarak ....
Mencintaimu harus menjadi aku
(Sajak Kecil Tentang Cinta, SDD)

Begitu pula dengan ‘Mencintaimu dengan Sederhana’, Banyak sekali interpretasi orang terhadap kalimat terkenal ini. Mengutip statement Pak Sapardi di event ASEAN Literary Festival mengenai puisinya tersebut,

“Ya tentu, memang puisi itu hidup atas interpretasinya macam-macam. Kalau cuma satu, ya sekali baca langsung habis.”

Sajak Aku Ingin dan Hujan Bulan Juni memang karya yang istimewa. Dan fakta menarik mengenai kedua sajak tersebut dibuat sekali jadi, dan hanya 15 menit ditulis tangan oleh Sapardi. Begitu pula dengan puisi ‘Hujan Bulan Juni’.

“Namun seandainya sajak tersebut tidak dijadikan lagu dan tidak dinyanyikan Reda, Anda tidak akan mengenal. Siapa yang akan membaca puisi yang dimuat di sudut sebuah koran sore yang tidak terkenal. Siapa yang baca? Tapi ternyata karena lagu itu, Anda sekalian mengenal saya,”

Begitulah celoteh Pak Sapardi kala itu.

SAPARDI
Sumber: Gramedia.com/Fachrio Alhadar

“Puisi itu harus dinyanyikan”

Sapardi mengucapkan kalimat tersebut dengan lantang. Mengutip dari Kumparan,

“Fungsi musikalisasi puisi adalah untuk menyebarluaskan puisi itu sendiri. Sekarang mana ada orang yang mau membaca puisi di koran atau majalah, enggak kan? Sekarang sukanya itu mendengar, karena mendengarkan itu lebih indah.”

Menikmati puisi lewat musikalisasi, ternyata memberikan kedamaian yang begitu syahdu menenangkan hati. Jika kamu belum pernah mencobanya? Tenang, belum ada kata terlambat.

Banyak sekali karya Sapardi yang dimusikalisasikan. Di antaranya, kamu bisa mendengarkan Budhe Tatyana Soebianto dengan suaranya yang indah, atau duet folk AriReda, yang terdiri dari almarhum Ari Malibu dan Reda Gaudiamo yang juga jadi favorit saya.

“Puisi itu bisa dijadikan macam-macam, bisa dijadikan lagu, gambar, komik, jadi novel, film.”

Mari dengarkan suara Budhe Tatyana Soebianto yang indah...

Duet AriReda terbentuk di tahun 1982, mereka berdua dulunya adalah mantan mahasiswa Pak Sapardi di Fakultas Sastra Universitas Indonesia.

Di tahun 1987 mereka menggarap proyek apresiasi seni, yang diprakarsai Pak Sapardi dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan kala itu, Fuad Hassan.

Ternyata misi proyek seni ini tiada lain, ingin membuat orang-orang menikmati puisi lewat lagu. Dan juga merupakan mimpi Pak Sapardi yang ingin memasyarakatkan puisi ke seluruh lapisan masyarakat. Nah, sejak itulah duet AriReda kerap menyanyikan sajak-sajak penyair Indonesia.

Alunan nada begitu syahdu, dan lewat petikan gitar almarhum Ari Malibu berbagai puisi yang mereka nyanyikan sangat memikat hati.

Satu kata buat Eyang, SALUT! Di usianya ini beliau terus produktif menulis dan menelurkan berbagai karya yang selalu ditunggu-tunggu para penggemarnya.

Terus menulis memang jadi motivasinya agar dirinya tidak mandeg, pikiran terus jalan, dan berusaha sebaik-baiknya agar tidak pikun. SALUT!

Bahkan hingga kini kami masih belum move on bagaimana heboh dan ramainya pengunjung yang datang, ketika sang legenda hadir di event kami, The Readers Fest 2018 yang diadakan di Gedung Tjipta Niaga, Kota Tua, Jakarta. Antusiasme para pengunjung sukses bikin kami terharu.

SAPARDI
Sumber: Gramedia.com/Fachrio Alhadar

Kami merasa istimewa dan bahagia bisa bertemu Eyang yang merilis buku “Perihal Gendis” di event ini. Beliau juga melakukan book signing yang antreannya super panjang, lalu ada musikalisasi puisi oleh Budhe Tatyana Soebianto yang sukses bikin terharu-biru.

SAPARDI
Foto: Gramedia.com/Fachrio Alhadar

Bagi Pak Sapardi puisi yang bagus itu yang enak dibaca. “Sebetulnya semua orang itu bisa menulis puisi kalau mau. Apa yang ditulis, lahir bersama-sama dengan kata-kata ketika saya tulis,” sambung Pak Sapardi.

Mengutip wawancara dengan Iwan Esjepe,

“Banyak tulisan saya yang awalnya adalah kata, frasa, atau kalimat yang tiba-tiba muncul. Susunan kalimat itu tersimpan dalam kepala saya mungkin 3 hari, setahun, atau dua tahun baru muncul. Ada kata-kata yang tersimpan di dalam benak saya, di dalam pikiran saya dan ketika saya nulis lancar sekali.”
“Nah, pikiran, perasaan, emosi mencari bentuknya di dalam puisi. Bentuknya itu adalah kata-kata. Menulis puisi adalah memberikan bentuk kepada yang saya pikirkan abstrak, supaya bisa dikenal orang dalam tulisan.”

Ia melanjutkan,

“Satu-satunya yang bisa saya sampaikan kepada mereka yang masih muda dan mencoba ingin menulis, kalau mau menulis ya harus belajar banyak-banyak, caranya adalah membaca. Semakin banyak yang dibaca, semakin mudah menulis.”
SAPARDI
Sumber: Gramedia.com

Sapardi Djoko Damono merupakan maestro puisi kebanggaan Indonesia. Menggunakan kata-kata yang sederhana dan apa adanya, menjadi kekuatan puisi-puisi Sapardi. Karya-karyanya dapat menyelami alam pikiran dan menyejukkan benak. Sepertinya pernyataannya berikut ini kala menyambangi event kami di acara The Readers Fest 2018.

"Sajak yang paling saya sukai adalah sajak yang belum saya tulis. Kalau saya sudah suka, saya berhenti nulis. Untuk apa? Saya selalu berpikir kalau saya harus membuat sajak yang lebih bagus lagi. Itu dorongan bagi saya dan itu tidak pernah selesai sampai sekarang.''

Saran saya, cobalah cicipi karyanya ditemani secangkir teh hangat setelah selesai beraktivitas, wah rasanya damai sekali. Puisi-puisinya menyentuh dengan kata-kata yang sederhana, namun memiliki arti yang dalam...indah bagaikan senja.


“Saya bisa nulis di bis, pesawat terbang, atau kereta api, tempat nggak jadi masalah. Yang perlu itu bagi saya adalah niat untuk menulis. Niat itu lebih penting dari segala-galanya.”
(Sapardi Djoko Damono)