mBoel, Karya Terakhir dan Tanda Cinta Sapardi untuk Sang Istri

mBoel, Karya Terakhir dan Tanda Cinta Sapardi untuk Sang Istri

Tidak lengkap rasanya jika berbicara mengenai sastra dan puisi, tanpa menyebut nama Sapardi Djoko Damono, atau akrab disapa Eyang.

Dikenal sebagai salah satu sastrawan dan penyair terbaik negeri ini, telah banyak karyanya yang masyhur, seperti Hujan Bulan Juni, Yang Fana Adalah Waktu, dan karya-karya populer lainnya.

Bahkan, pada tahun 2020 ini, di usia senjanya Eyang berhasil merilis tiga buku baru, yaitu Masih Ingatkah Kau Jalan Pulang bersama Rintik Sedu, Segi Tiga, dan Mantra Orang Jawa.

Namun, Tuhan berkata lain. Eyang meninggalkan kita semua pada tanggal 19 Juli 2020 yang lalu. Tentu saja kepergiannya merupakan sebuah kehilangan besar bagi dunia sastra Indonesia.

Belum genap sebulan setelah kepergiannya, buku berjudul mBoel, yang merupakan kumpulan sajak karya mendiang Eyang Sapardi yang ditulis untuk sang istri, resmi dirilis oleh penerbit Gramedia Pustaka Utama (GPU).

mBoel,
Peluncuran buku mBoel karya Sapardi Djoko Damono (sumber: Gramedia Pustaka Utama)

Peluncuran buku ini berlangsung sederhana pada Senin siang (10/8/2020) di kediaman Eyang, Ciputat, Tangerang Selatan, yang juga disiarkan melalui Instagram Live @bukugpu dan @gramediabooks.

Mirna Yulistianti, Kepala Bidang Sastra Gramedia Pustaka Utama, mengatakan bahwa buku mBoel merupakan karya paling personal dari Sapardi Djoko Damono.

“Yang terakhir adalah untuk yang paling dicintai. Begitu pula dengan mBoel, kumpulan puisi paling personal karya Pak Sapardi Djoko Damono yang ditulis untuk istrinya.” ujarnya.

Mirna menambahkan bahwa, mBoel juga menjadi karya Eyang Sapardi yang penuh sayang dan cinta.

“80 sajak terakhir karya Pak Sapardi di buku ini merekam percakapan hati Bapak dan mBoel yang saling diucapkan dengan penuh sayang dan cinta.” tambahnya.

Baca juga: Quotes Penggugah Jiwa dari Buku Segi Tiga, Sapardi Djoko Damono


Proses penciptaan mBoel bermula saat empat sajak Sapardi yaitu Hujan Bulan Juni, Aku Ingin, Di Restoran, dan Ketika Kau Tak Ada, dimuat di surat kabar pada tahun 1989.

Ia kemudian memfotokopi dan menyimpan bagian koran itu, sementara aslinya dikirim kepada Sonya, atau mBoel, yang waktu itu sedang studi di Paris. Seharusnya, keempat dari sajak legendaris tersebut yang akan mengawali buku mBoel.

Namun, karena telah lebih dahulu dikenal, dijadikan lagu, dan dibaca oleh banyak pendengar dan pembaca, hanya satu sajak saja yang berhasil masuk dalam buku mBoel, yaitu Ketika Kau Tak Ada, setelah visualnya diubah.

Sonya Sondakh yang merupakan istri dari mendiang Sapardi, mengatakan bahwa ternyata buku mBoel sudah disiapkan Sapardi sejak lama.

“Naskahnya sudah disiapkan Bapak sejak kira-kira dua tahun silam, direncanakan untuk terbit di hari ulang tahun saya, Agustus tahun ini. Bapak merencanakan semuanya sendiri.” tutur Sonya.

Keinginan tersebut akhirnya tetap dapat terwujud, meskipun tanpa kehadiran sang perencana.

mBoel,
Beli bukunya di sini

mBoel, yang merupakan persembahan terima kasih Sapardi kepada teman hidupnya selama puluhan tahun ini, akhirnya berhasil terbit pada ulang tahun sang istri.

Setelah resmi diluncurkan, mBoel dijadwalkan terbit reguler dalam format hardcover mulai 17 Agustus mendatang.

Buku ini menjadi kado istimewa terakhir dari Eyang Sapardi bagi para penggemar karya-karyanya, karena seluruh sajak yang dimuat di dalam buku ini adalah baru, dan belum dimuat dalam media cetak apa pun.


Baca juga: Sapardi Djoko Damono dan 5 Karya Terbaiknya untuk Literasi Indonesia


Temukan banyak koleksi terbaik karya sang legenda Sapardi Djoko Damono lainnya, hanya di Gramedia.com!


Photo header by Gramedia Pustaka Utama


Albin Sayyid Agnar

Content Writer

Enter your email below to join our newsletter