Saat Ingatan Menjadi Saksi Bisu yang Berdusta di ‘Forgotten Petals’
Ada sesuatu yang mengerikan dari tidak bisa mempercayai ingatan sendiri. Bukan sekadar lupa menaruh kunci, salah mengingat percakapan, atau tiba-tiba tidak yakin kapan terakhir kali bertemu seseorang.
Yang jauh lebih menakutkan adalah ketika ingatan menjadi satu-satunya bukti yang kita punya tentang sesuatu yang mungkin benar-benar terjadi.
Lalu bagaimana jika sesuatu itu adalah pembunuhan?
Premis inilah yang dibawa Handi Namire dalam Forgotten Petals. Bercerita tentang Mentari, seorang perempuan yang melarikan diri setelah yakin telah membunuh suaminya.
Namun ketika dunia di sekitarnya justru bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa, keyakinan tersebut perlahan berubah menjadi pertanyaan yang jauh lebih mengganggu:
Mungkinkah orang yang paling sulit dipercaya dalam kasus ini justru adalah dirinya sendiri?
Ketika Melarikan Diri Terasa Seperti Satu-Satunya Jalan Keluar
Sejak usia 13 tahun, hidup Mentari selalu ditentukan orang lain.
Ia diadopsi Ali Darma, mantan politikus ternama, tetapi kehadirannya di keluarga tersebut ternyata bukan sekadar tentang menemukan rumah. Mentari justru menjadi bagian dari citra politik keluarga itu, sementara pernikahannya dengan Faisal kembali membawanya ke kehidupan yang dipenuhi kekerasan.
Sampai suatu malam, semuanya berubah. Mentari menemukan Faisal telah meninggal dan yakin dialah yang membunuh suaminya.
Untuk pertama kalinya, ia memilih pergi. Mentari meninggalkan rumah, keluarga, pernikahan, bahkan namanya sendiri. Dengan bantuan teman lamanya, ia memulai hidup baru sebagai Rea Jasmine.
Seharusnya semuanya berakhir di sana.
Namun kematian Faisal ternyata tidak sesederhana yang Mentari ingat.
Baca juga: The Book of’ Trilogi Karya Lala Bohang: Monolog Sunyi dalam Balutan Cover Baru
Kelopak yang Terlupakan, Hal-Hal yang Tak Pernah Benar-Benar Hilang 🥀
Kelopak bunga bisa jatuh, tertinggal, lalu dilupakan. Namun sesuatu yang tak lagi terlihat bukan berarti benar-benar hilang. Begitu pula dengan trauma, ingatan, rasa bersalah, identitas, dan masa lalu yang berusaha kita kubur dalam-dalam.
Dalam Forgotten Petals, semuanya perlahan kembali ke permukaan.
Nuansa itu bahkan terasa sejak melihat sampulnya. Dominasi warna gelap, sosok perempuan yang menjadi pusat perhatian, serta elemen bunga di sekelilingnya menghadirkan kesan rapuh sekaligus ganjil. Cantik pada pandangan pertama, tetapi menyimpan sesuatu yang terasa tidak beres jika diperhatikan lebih lama.
Dan mungkin, atmosfer itulah yang paling tepat menggambarkan kisah Mentari.
Kisahnya tidak hanya dibangun dari misteri kematian, tetapi juga dari kekerasan dalam rumah tangga, manipulasi, trauma, politik, pencitraan, hubungan keluarga yang tidak sehat, hingga obsesi. Lapisan-lapisan tersebut membuat misterinya terasa semakin rapat, sekaligus menyisakan satu pertanyaan yang terus menghantui: Siapa yang sebenarnya bisa dipercaya?
Di balik kehidupan Mentari yang dari luar tampak seperti keberuntungan karena diangkat keluarga terpandang, tersimpan perjuangan seorang perempuan untuk merebut kembali hidup yang sejak awal ditentukan orang lain.
Dan semakin banyak rahasia terbuka, semakin sulit membedakan mana yang benar, mana yang diingat, dan mana yang sengaja dilupakan.
Mungkin itulah permainan terbesar Forgotten Petals: hal-hal yang kita kubur tidak selalu ikut hilang.
Masih yakin tahu siapa yang bisa dipercaya? Kalau begitu, mungkin sudah waktunya mencari tahu sendiri apa yang sebenarnya terjadi…di sini
Baca Kisah Seru Lainnya di Sini!
Handi Namire: Melepas Jas Perbankan, Memeluk Dunia Cerita ✍️
Sebelum dikenal sebagai Handi Namire, Indah, nama aslinya, sempat berkarier di dunia perbankan. Lahir di Tegal dan merupakan lulusan Universitas Sebelas Maret, ia kemudian memilih menekuni dunia kepenulisan yang selama ini menjadi bagian dari hobinya.
Baginya, menulis bukan sekadar pekerjaan, tetapi juga bentuk terapi untuk menyenangkan diri. Meski menyukai genre romansa, ia justru mengaku bukan pribadi yang romantis. Kontradiksi kecil ini terasa menarik dari seorang penulis yang gemar mengeksplorasi hubungan dan emosi manusia.
Sejumlah novelnya telah terbit, seperti Seventeen Once Again, Rashi & Sketsa Rahasia, Karet dan Setip, dan The Drummer. Karyanya, Marriage with Benefits, bahkan telah diadaptasi menjadi Original Series VIU.
Kini, di tengah kesibukannya sebagai ibu rumah tangga, Handi tetap menulis dan sesekali terlibat dalam kegiatan literasi di kota kelahirannya.
Dari romansa hingga thriller psikologis seperti Forgotten Petals, perjalanan Handi menunjukkan bahwa satu penulis bisa membuka banyak dunia, selama masih punya cerita untuk diceritakan.
Baca juga: Novel Hunter with a Scalpel: Ketika Kebenaran Terlalu Mengerikan untuk Diautopsi
Saat Hidup Terlalu Lama Ditentukan Orang Lain
Menjalani hidup dengan pilihan yang selalu ditentukan orang lain bisa membuat kita lupa satu hal sederhana: sebenarnya, kita ingin menjadi siapa?
Pertanyaan itu mengikuti perjalanan Mentari. Sejak kecil, ia terbiasa menjalani peran yang sudah ditentukan untuknya, dari putri angkat keluarga politik hingga seorang istri. Berbagai identitas melekat padanya, tetapi ruang untuk mengenali dirinya sendiri justru semakin sempit.
Karena itu, menjadi Rea Jasmine bukan sekadar upaya melarikan diri. Identitas baru tersebut memberinya kesempatan untuk perlahan mengenali dirinya di luar label yang selama ini diberikan kepadanya.
Dan mungkin, di situlah perjalanan Mentari terasa dekat.
Menemukan jati diri tidak selalu berarti menjadi seseorang yang benar-benar baru. Kadang, kita hanya perlu ruang untuk akhirnya mendengar suara diri sendiri. ✨
Masih Terjebak Dusta Forgotten Petals? Lima Buku Ini Siap Memainkan Pikiranmu Lagi 👀📚
Kalau yang membuatmu tertarik pada Forgotten Petals bukan hanya misteri pembunuhannya, tetapi juga karakter yang menyimpan luka, identitas yang dipertanyakan, dan masa lalu yang belum selesai, lima buku berikut bisa menjadi bacaan selanjutnya.
Intip beberapa rekomendasinya di sini!
The Silent Patient — Ketika Diam Justru Menyimpan Jawaban
Alicia Berenson adalah pelukis terkenal yang ditemukan berdiri di samping jasad suaminya dengan pistol di dekatnya. Sejak malam itu, ia tidak pernah berbicara lagi. Bahkan ketika dituduh sebagai pembunuh, Alicia tetap bungkam. Seorang psikoterapis kemudian berusaha menguak alasan di balik kebisuannya.
Cocok untuk kamu yang suka psychological thriller dengan karakter misterius, rahasia yang dikupas perlahan, dan twist yang membuatmu ingin membaca ulang petunjuk-petunjuk sebelumnya.
Malice: Catatan Pembunuhan Sang Novelis — Kenapa Ia Melakukannya?
Novelis terkenal Hidaka Kunihiko ditemukan tewas di ruang kerjanya yang terkunci. Istri dan sahabatnya sama-sama memiliki alibi kuat. Namun Detektif Kaga Kyoichiro menemukan bahwa hubungan Hidaka dan sahabatnya, Nonoguchi Osamu, ternyata tidak sederhana yang diceritakan. Alih-alih mencari tahu siapa pembunuhnya, Kaga mengejar sesuatu yang lebih sulit: motif di balik kejahatan tersebut.
Cocok untuk kamu yang menikmati cerita misteri pembunuhan yang membuatmu ikut menyusun potongan fakta dan mempertanyakan setiap versi cerita.
The Unmaking of June Farrow — Bagaimana Jika Rahasia Keluarga Ternyata Ikut Menentukan Siapa Dirimu?
June Farrow tinggal di kota kecil di North Carolina, tempat keluarganya dikenal memiliki perkebunan bunga sekaligus kutukan misterius yang telah menghantui mereka selama beberapa generasi. June mengikuti serangkaian petunjuk tentang hilangnya sang ibu dan sejarah kelam kota tersebut, hingga membawanya pada sebuah pintu misterius.
Kalau Forgotten Petals membuatmu tertarik pada identitas, trauma keluarga, rahasia masa lalu, dan perempuan yang mencoba memahami hidupnya sendiri, buku ini membawa elemen-elemen tersebut ke misteri yang lebih fantastis.
Convenience Store Woman — Tidak Semua Pencarian Diri Harus Dimulai Dengan Melarikan Diri
Keiko sudah bertahun-tahun bekerja di sebuah minimarket dan justru merasa paling nyaman ketika hidupnya mengikuti ritme pekerjaan tersebut. Namun dunia menuntutnya menjadi “normal” sesuai standar orang lain. Perlahan, Keiko harus menentukan sendiri seperti apa kehidupan yang membuatnya bahagia.
Tidak ada pembunuhan atau misteri kelam di buku ini. Namun ada benang merah yang kuat dengan perjalanan Mentari: bagaimana menemukan diri sendiri ketika terlalu lama hidup berdasarkan ekspektasi orang lain.
The Kamogawa Food Detectives — Tidak Semua Yang Hilang Dicari Dengan Cara yang Menegangkan
Di sebuah restoran kecil di Kyoto, Nagare Kamogawa dan putrinya, Koishi, menjalankan pekerjaan yang tidak biasa: food detectives. Mereka membantu pelanggan menemukan kembali hidangan dari masa lalu berdasarkan ingatan dan potongan cerita yang tersisa. Bagi sebagian orang, makanan tersebut menjadi penghubung dengan orang terkasih, kenangan lama, atau masa depan yang ingin kembali dijalani.
Cocok untuk kamu yang ingin membaca cozy mystery, slice of life, penuh makanan, hubungan keluarga, dan cerita-cerita kecil yang diam-diam menyentuh.
Detik Terakhir Membongkar Dusta, Yakin Mau Menunda Sebelum Semuanya Lenyap? 👀
Masih yakin tahu siapa yang bisa dipercaya?
Kalau rasa penasaranmu sudah terlanjur tumbuh, saatnya membuka Forgotten Petals dan mengikuti jejak Mentari sampai halaman terakhir. Cari tahu sendiri apa yang sebenarnya terjadi, karena dalam cerita ini, kebenaran mungkin tidak sesederhana yang kamu ingat.
Nah, kebetulan nih Grameds, selama periode 19-25 Agustus 2026, ada Special Offer Forgotten Petals untuk menemani perjalananmu membongkar misterinya. Yang lebih asyik lagi, setiap pembelian buku ini akan mendapatkan bonus cermin saku bunga! ✨
Jadi, tunggu apalagi?
👉Jangan sampai bayangan di cerminmu tahu kamu terlambat. Jemput promonya di sini dan cermin sakunya sebelum lenyap tanpa jejak! 🛒
Temukan Special Offer-nya di Sini!
✨Jangan lupa juga untuk cek promo spesial lainnya di Gramedia.com supaya belanjamu makin hemat dan bermakna! ⤵
Temukan Bukunya di Sini!
Temukan Bukunya di Sini!
Temukan Bukunya di Sini!
Temukan Bukunya di Sini!
Temukan Bukunya di Sini!
Temukan Bukunya di Sini!
Temukan Semua Promo Spesial di Sini!