‘The Book of’ Trilogi Karya Lala Bohang: Monolog Sunyi dalam Balutan Cover Baru
Grameds, hidup ternyata tidak hanya dibentuk oleh keputusan-keputusan besar.
Lebih sering, ia bergerak diam-diam melalui tiga hal yang nyaris tak terlihat: perasaan yang kita sembunyikan, pertanyaan yang tak pernah kita tanyakan, dan keyakinan yang jarang kita pikirkan ulang. 💭
Kita lebih mudah berkata, “Aku baik-baik saja,” daripada mengakui ada sesuatu yang sebenarnya mengganggu pikiran. Lebih mudah mengikuti jalan yang sudah tersedia daripada berhenti sejenak dan bertanya, “Memangnya ini jalan yang aku mau?”
Lewat The Book of Forbidden Feelings, The Book of Invisible Questions, dan The Book of Imaginary Beliefs, Lala Bohang membuka ruang untuk hal-hal yang biasanya kita simpan sendiri.
Bukan melalui nasihat panjang, melainkan puisi, ilustrasi, dan kalimat-kalimat singkat yang terlihat sederhana, tetapi bisa terasa sangat personal ketika kita membacanya.
Dan kini, ketiga bukunya hadir dengan wajah baru yang minimalis dengan permainan warna magenta, biru, serta hijau. Rasanya seperti mengeksplorasi penjelajahan intim untuk kembali merasakan, mempertanyakan, dan mempercayai sesuatu yang telah lama kita pendam.
Karena semuanya, dimulai dari sesuatu yang paling sulit untuk diakui. 👣
The Book of Forbidden Feelings : Semua Berawal dari Perasaan yang Tidak Pernah Kita Akui
“Suffocated by all the set ups, destiny, and whatnot. And all the systems.”
Tidak semua perasaan nyaman untuk dibicarakan.
Ada iri yang disembunyikan di balik ucapan selamat, ada kesepian yang ditutup dengan tawa, ada marah yang dipendam karena takut dianggap berlebihan—bahkan, terkadang kita sendiri tak tahu bagaimana menamai perasaan yang sedang dirasakan
Di sinilah The Book of Forbidden Feelings masuk tepat ke wilayah tersebut.
Melalui puisi berbahasa Inggris dan ilustrasi khas Lala, buku ini menelusuri emosi yang sering terasa terlalu pribadi untuk diucapkan, mulai dari hubungan, kesendirian, pencarian diri, hingga kebutuhan untuk dicintai dan diterima.
Buku ini tidak buru-buru menawarkan jawaban. Ia justru memberi ruang untuk berhenti sejenak dan berpikir: “Oh. Ternyata aku pernah merasa seperti ini.” Beberapa kalimat saja bisa membuat kita tinggal lebih lama di sebuah halaman. Bukan karena sulit dipahami, tetapi karena ada sesuatu yang terasa familiar di dalamnya.
Seolah, kita akhirnya menemukan kata-kata untuk perasaan yang selama ini hanya berputar di kepala.
Dan ketika kita mulai berani mengakui perasaan itu, berbagai pertanyaan pun muncul.
Baca Kisah Seru Lainnya di Sini!
The Book of Invisible Question : Usai Mengakui Perasaan, Bersiaplah Menghadapi Tanda Tanya
“How to magically disappear from every awkward situation?”
“We’re raised by the internet. What’s more awkward than that?”
Mengakui perasaan ternyata bukan garis akhir. Justru setelahnya, kepala bisa mulai bekerja lembur.
Apa sebenarnya yang aku cari? Apakah hidup yang kujalani benar-benar pilihanku? Atau selama ini aku hanya mengikuti jalan yang sudah dibuat orang lain?
Pertanyaan-pertanyaan semacam itulah yang menjadi napas The Book of Invisible Questions.
Jika buku pertama mengajak kita melihat ke dalam hati, buku kedua membawa kita lebih jauh ke wilayah makna, tujuan hidup, hubungan, dan identitas diri. Namun, Lala tidak datang membawa daftar jawaban. Ia justru memberi ruang untuk menerima bahwa tidak semua pertanyaan harus selesai hari ini.
Sebab bertanya bukan berarti tersesat. Bisa jadi, kita sedang mencari arah yang benar-benar terasa milik sendiri.
Dan ketika pertanyaan mulai menyentuh hal-hal yang selama ini kita anggap benar, perjalanan itu pun memasuki wilayah yang berbeda.
Karena yang mungkin bergeser bukan hanya jawaban, melainkan keyakinan kita juga.
Baca juga: Pikiran Lagi Rungkad? Jangan-Jangan Ususmu Lagi Kirim Sinyal!
The Book of Imaginary Beliefs : Ketika Jawaban Tak Lagi Cukup, Keyakinan Pun Diuji
“You go to an unknown war for nothing.”
“We’re too shallow to achieve the holy nothingness.”
Setelah berhadapan dengan perasaan dan pertanyaan, ada satu hal yang mungkin perlu kita periksa kembali: Apa yang sebenarnya kita percaya?
The Book of Imaginary Beliefs membawa perjalanan trilogi ini ke titik tersebut.
Sejak kecil, kita menerima banyak hal sebagai kebenaran. Tentang siapa kita seharusnya menjadi, seperti apa hidup yang ideal, apa arti sukses, bagaimana sebuah hubungan seharusnya berjalan—hingga apa yang dianggap mungkin dan tidak mungkin.
Sebagian keyakinan memang membantu kita tumbuh. Namun, sebagian lainnya mungkin hanya bertahan karena belum pernah benar-benar kita tanyakan ulang. Di sinilah buku ketiga terasa seperti puncak perjalanan.
Setelah berani mengakui apa yang kita rasakan, kita mulai mempertanyakan apa yang kita jalani. Lalu, perlahan, kita sampai pada keberanian yang lebih besar: memeriksa kembali apa yang selama ini kita anggap benar.
Sebab menjadi dewasa bukan hanya tentang menemukan sesuatu untuk dipercaya. Kadang, kita juga perlu cukup berani untuk mengubahnya.
Sebelum Menulis Perasaan, Lala Bohang Lebih Dulu Menjelajahi Ruang Seni 🎨
Di balik trilogi yang mengajak pembacanya masuk ke ruang-ruang batin, ada Lala Bohang, seorang perupa sekaligus penulis yang sejak awal banyak mengeksplorasi identitas, memori, dan berbagai kemungkinan melalui karya-karyanya.
Lahir di Makassar dan merupakan lulusan Arsitektur Universitas Parahyangan, Lala telah berpartisipasi dalam berbagai pameran kelompok sejak 2009, baik di Indonesia maupun luar negeri.
Namanya kemudian semakin dikenal lewat trilogi The Book of Forbidden Feelings (2016), The Book of Invisible Questions (2017), dan The Book of Imaginary Beliefs (2019), yang ketiganya menjadi bagian penting dari perjalanan kepengarangannya.
Pada 2020, Lala bersama Lara Nuberg menerbitkan The Journey of Belonging, yang membawanya meraih International Ronald McDonald Award 2020. Sementara In The Middle of Everything (2023) hadir bukan hanya sebagai buku, tetapi juga sebagai proyek pameran di dia.lo.gue, Jakarta, dan Purga Artspace, Ubud.
Dari arsitektur, seni visual, hingga tulisan, karya Lala terus kembali ke satu wilayah yang sama: labirin pikiran manusia dan segala hal yang terjadi di dalamnya.
Lihat karya Lala Bohang di Instagram:
Baca juga: Gara-Gara Aturan 12 Jam: Intip Makna Merdeka di Film One Night Only! 🍿
Kalau Masih Ingin Mengulik Isi Kepala, Lanjut ke Buku-Buku Ini 📚
Dari perasaan yang sulit diakui, pertanyaan yang tak kunjung selesai, hingga keyakinan yang akhirnya berani kita periksa ulang, trilogi Lala Bohang terasa seperti perjalanan yang diam-diam familiar. Mungkin karena kita semua pernah berada di salah satu titik tersebut.
Dan kalau perjalanan ini membuatmu ingin melihat diri sendiri, kehidupan, atau dunia dari sudut yang berbeda, ada beberapa bacaan lain yang bisa menjadi teman berikutnya.
Intip rekomendasi bukunya dan temukan bacaan yang paling sesuai dengan perjalananmu. ✨
Stories for Rainy Days – Untuk Hari-Hari yang Butuh Sedikit Kehangatan
Naela Ali mengumpulkan cerita-cerita pendek tentang hal-hal sederhana yang terasa dekat dengan keseharian, lalu melengkapinya dengan ilustrasi cat air khasnya.
Buku ini memang dirancang sebagai bacaan yang hangat. Cocok untuk menemani hari hujan, secangkir minuman hangat atau momen ketika kita hanya ingin membaca sesuatu tanpa harus berpikir terlalu keras.
Maaf Aku Lahir ke Bumi — Ketika “Nggak Apa-Apa” Mulai Terasa Berat
Lewat Maaf Aku Lahir ke Bumi, Marchella Fp mengangkat rasa bersalah, kebiasaan memaklumi, dan kecenderungan mendahulukan perasaan orang lain sampai lupa memberi ruang untuk diri sendiri.
Cocok untuk kamu yang sering merasa tidak enak hati, terlalu banyak memaklumi, atau sedang belajar mengenali batas dan kebutuhan diri sendiri.
Milk and Honey — Untuk Luka yang Belum Selesai Diberi Nama
Dalam Milk and Honey, Rupi Kaur membagi perjalanan emosionalnya ke dalam empat bagian yang berbicara tentang kekerasan, kehilangan, cinta, serta proses menemukan kembali diri dan kekuatan setelah terluka.
Buku ini merupakan kumpulan puisi dan prosa yang bergerak dari pengalaman paling pahit menuju kemungkinan menemukan sesuatu yang manis di dalamnya.
The Things You Can See Only When You Slow Down — Karena Tidak Semua Hal Harus Dikejar
Dunia bergerak cepat, tetapi Haemin Sunim mengingatkan bahwa kita tidak selalu harus ikut berlari. Alih-alih memberikan daftar tips yang harus langsung dipraktikkan, Haemin menyajikan gagasan-gagasan pendek yang bisa direnungkan sesuai pengalaman masing-masing pembaca.
Cocok untuk kamu yang ingin mulai membaca buku pengembangan diri karena hidup terasa terlalu cepat.
Selesaikan Obrolannya: Peluk Bukunya Sekarang! 🫂
Kalau trilogi Lala Bohang membuatmu ingin terus mengulik perasaan, pertanyaan, dan keyakinanmu sendiri, BOX SET The Book of Siblings lengkap dengan Card of Questions bisa menjadi teman untuk membacanya, sekaligus memberi ruang untuk pertanyaan-pertanyaan yang belum sempat kamu ucapkan 🔈
Dan kalau sudah waktunya menambah isi rak sekaligus isi kepala, manfaatkan Promo Teman Membaca, karena ada diskon hingga 70% untuk buku terbitan Gramedia, selama periode 14 hingga 24 Agustus 2026!
Yuk, tunggu apa lagi? Baca satu halaman. Temukan satu pertanyaan. Siapa tahu, jawabannya sedang menunggumu di halaman berikutnya. ✨
Waktunya terbatas, Grameds! Jangan biarkan buku-buku ini keburu dipeluk orang lain! 🛒
Temukan BOX SET Lala Bohang di Sini!
Temukan Special Offer-nya di Sini!
✨Jangan lupa juga untuk cek promo spesial lainnya di Gramedia.com supaya belanjamu makin hemat dan bermakna! ⤵
Temukan Bukunya di Sini!
Temukan Bukunya di Sini!
Temukan Bukunya di Sini!
Temukan Bukunya di Sini!
Temukan Bukunya di Sini!
Temukan Bukunya di Sini!
Temukan Bukunya di Sini!
Temukan Semua Promo Spesial di Sini!