(Author’s Interview) Fakhrisina Amalia: Karena Jarang, Jadi Penting

(Author’s Interview) Fakhrisina Amalia: Karena Jarang, Jadi Penting

. 3 min read

Sepertinya kita bisa setuju kalau Isu kesehatan mental jadi begitu santer terdengar akhir-akhir ini. Mengingat Oktober adalah bulan kesehatan mental dunia, dua peristiwa seputar gangguan mental seperti datang beruntun: kemunculan film Joker yang memberikan banyak interpretasi kepada para penonton dan kematian artis K-pop Sulli yang diberitakan bunuh diri. Hal tersebut membuat masyarakat—terutama di media sosial—mulai sadar akan pentingnya kesehatan mental.

Pengarang novel remaja Fakhrisina Amalia sudah memulainya sejak 2015 ketika Happiness diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) dalam lini Young Adult Realistic Novel (YARN). Dalam novel itu, sang pengarang menceritakan seorang gadis bernama Ceria yang tidak tahan pada jurusan kuliah yang dipilihkan oleh orang tuanya dan tidak sesuai dengan keinginannya.

Saat ditemui di sebuah kafe di bilangan Palmerah, Fakhrisina Amalia menjabarkan pentingnya mengedepankan isu kesehatan mental dalam karya tulis seperti novel yang diawalinya dengan sebuah ketertarikan.

“Awalnya dulu saya menulis (genre) romance di dua novel pertama. Ketika Happiness, saya mulai berpikir kok kayaknya menarik ya menulis sesuatu yang bisa relate dengan semua orang yang mana karakternya itu tidak sempurna,” ujar pengarang yang kerap disapa Iis itu.

Pengarang yang sudah menerbitkan lima buku itu berpendapat mengulik karakter cerita adalah krusial. Dalam sebuah karya fiksi, memanusiakan karakter itu diperlukan yang ditandai dengan unsur psikologis yang dimiliki oleh si karakter tersebut. Tokoh dalam sebuah cerita tidak melulu harus merasa bahagia seperti yang acap kali tersaji pada novel-novel remaja pada umumnya.

“Ketika saya menulis saya berusaha memahami bahwa karakter dan psikologisnya si karakter itu adalah sesuatu yang penting,” tegas Iis.


Baca juga:


Happiness menjadi titik balik Iis untuk menulis lebih dari sekadar kisah remaja. Dua novel genre romance sebelum Happiness yaitu Confession (2014) dan All You Need is Love (2015). Saat mulai melanjutkan pendidikan S2-nya, Iis semakin paham bahwa banyak orang yang tidak sadar tentang kesehatan mental.

“Ketika saya mulai benar-benar kuliah psikologi, saya memahami bahwa apa pun yang terjadi dalam hidup setiap orang meskipun itu hal sama, masing-masing bakal berbeda menghadapinya,” ujar Iis.

Cara yang kerap dilakukan untuk menyebarkan pemahaman kesehatan adalah dengan penyuluhan secara konvensional. Namun, hal yang paling bisa dilakukan Iis untuk membantu menyosialisasikannya adalah dengan menulis dalam karya fiksi. Setelah Happiness, karya fiksi remaja Iis bertema kesehatan mental yang telah diterbitkan adalah Persona (2016) dan Represi (2018).

Dekatnya Remaja dengan Isu Kesehatan Mental

Dalam Represi, Iis menciptakan karakter remaja bernama Anna yang awalnya baik-baik saja dengan seorang ibu dan sahabat-sahabatnya yang setia lalu memilih untuk menutup diri dan mengakhiri hidupnya. Dari premis tersebut, pertanyaan yang muncul adalah apa penyebab perubahan psikis Anna dari yang tadinya baik-baik saja menjadi tidak baik-baik saja.

Dalam sebuah wawancara dengan seorang dokter spesialis kedokteran jiwa Indonesia dr. Teddy Hidayat, Kompas.com memberitakan bahwa penderita depresi di Indonesia terbilang tinggi. Mereka yang menderita depresi bila tidak ditangani akan menjadi kronis. Tidak sedikit dari mereka berakhir pada bunuh diri yang merupakan epilog dari isu kesehatan mental yang tidak terjamah.

Masih dalam berita yang sama, sang dokter juga memberi informasi bahwa bunuh diri merupakan penyebab utama kedua kematian pada kelompok remaja dan dewasa muda usia 15-29 tahun.

Hubungan remaja dan isu kesehatan mental seperti depresi yang mengacu pada bunuh diri menurut Iis amat dekat. Hal yang amat bagus apabila menyusupkan isu kesehatan mental ini ke dalam novel-novel remaja. Sayangnya, masih belum banyak novel remaja yang mengusung tema tersebut. Bilapun ada, porsinya sedikit dan tidak mendalam.

“Saya rasa itu sesuatu yang sangat bagus dan bisa membantu mereka (remaja) dalam menghadapi masalah-masalah hidupnya. Seperti, ‘Oh ternyata bukan cuma aku yang mengalami hal ini.’ Atau, ‘Oh ternyata dalam kehidupan remaja ada persoalan kayak gini juga.’ Jadi, bagi saya itu sangat-sangat berhubungan. Dan karena jarang, maka jadi penting,” pungkas Iis.

Bersambung …

Dapatkan buku-buku Fakhrisina Amalia di Gramedia.com!