Pikiran, cerita, dan gagasan tentang buku dengan cara yang berbeda.

Oasis Don't Look Back in Anger: Momen Comeback Liam dan Noel Gallagher Siap Tampil dalam Sajian Dokumenter!

Oasis Don't Look Back in Anger: Momen Comeback Liam dan Noel Gallagher Siap Tampil dalam Sajian Dokumenter!

“But don’t look back in anger, I heard you say,”

Buat kamu yang ngefans abis sama scene musik Britpop, nama Oasis tentu sudah tidak asing di telinga kamu. Dengan kiprah panjangnya dalam dunia musik, band asal Manchester ini punya perjalanan karier yang rasanya cocok banget dijadikan bahan film.

Meledak lewat album pertama, menguasai tangga lagu, menggelar konser dengan ratusan ribu penonton, jadi salah satu band populer di dunia, lalu bubar gara-gara hubungan dua bersaudara, Liam Gallagher dan Noel Gallagher, yang makin lama makin panas, semua itu menjadi warna dari lika-liku perjalanan mereka dalam bermusik.

Hubungan abang-adik yang penuh senggolan ego ini bahkan sempat membuat Oasis berhenti beraktivitas selama bertahun-tahun. Sampai akhirnya, pada 2025, keduanya memutuskan rujuk dan kembali berdiri di atas panggung yang sama lewat tur Oasis Live ’25.

Momen comeback tersebut sekarang diabadikan lewat film dokumenter Oasis: Don’t Look Back in Anger, sebuah tontonan yang memberi kesempatan bagi para penggemarnya untuk mengikuti perjalanan reuni Oasis dari balik panggung, ruang latihan, sampai konser-konser mereka di berbagai negara.

Kalau kamu penasaran seperti apa kisah comeback salah satu band paling ikonik di era Britpop ini, ayolah kita bahas langsung dalam artikel ini, Grameds! 🎸🔌


Bakal Ada Apa Saja di Filmnya Nanti?

Sebelum Oasis: Don’t Look Back in Anger, kita sudah lebih dulu melihat kisah para musisi besar diangkat ke layar lebar. Ada Michael (2026) tentang Michael Jackson serta A Complete Unknown (2025) yang membawa kisah Bob Dylan ke layar lebar.

Kalau dua film di atas menggunakan format biopik dengan aktor yang memerankan sosok musisi aslinya, Oasis: Don’t Look Back in Anger mengambil pendekatan yang berbeda. Film ini hadir sebagai dokumenter yang berpusat pada Oasis Live ’25, tur reuni Liam dan Noel Gallagher setelah Oasis berpisah pada 2009.

Source: NME

Dalam film ini, kamu bakal melihat Oasis dalam bentuk yang memang sebagaimana mestinya. Liam tetap menjadi Liam, Noel tetaplah Noel, dan dinamika keduanya tetap menjadi bagian penting dari ceritanya.

Dokumenter ini disutradarai oleh Dylan Southern dan Will Lovelace, sementara Steven Knight, kreator Peaky Blinders, ikut berada di balik proyeknya. Materinya juga punya akses yang cukup spesial karena kamera mengikuti berbagai momen di balik layar, mulai dari rehearsal, backstage, penampilan di atas panggung, sampai interaksi para personelnya.

Yang paling menarik, film ini menghadirkan wawancara bersama Liam dan Noel Gallagher. Keduanya duduk bersama untuk pertama kalinya dalam lebih dari 20 tahun dan membicarakan kembali perjalanan Oasis, termasuk masa lalu mereka serta pengalaman menjalani reuni tersebut.


Baca juga: Mengenal Protest Fashion: Saat Pakaian Menjadi Suara di Ruang Publik


Kenapa Mesti Ditonton?

Source: Britannica

Pertama, tentu saja karena ini film tentang Oasis. Buat kamu yang tumbuh dengan Wonderwall, Live Forever, Supersonic, Champagne Supernova, atau Don’t Look Back in Anger, dokumenter ini tentunya bakalan menyajikan daya nostalgia yang cukup kuat.

Kedua, ada kesempatan melihat Liam dan Noel dalam satu proyek setelah perjalanan panjang yang penuh konflik. Wawancara bersama keduanya menjadi salah satu bagian yang paling ditunggu karena mereka sudah sangat lama enggak duduk bersama untuk membicarakan Oasis dalam format seperti ini.

Ketiga, dokumenter ini juga memperlihatkan bagaimana musik Oasis tetap punya tempat di berbagai generasi. Momen comeback mereka pada 2025 lalu juga  menunjukkan bahwa lagu-lagu yang lahir dari era Britpop 1990-an masih mampu menggerakkan jutaan orang puluhan tahun kemudian.

Buat penggemar Oasis, pengalaman menontonnya tentu bisa terasa seperti membuka kembali album foto lama. Bedanya, kali ini fotonya bergerak, suaranya menggelegar, dan Liam serta Noel kembali berdiri di panggung yang sama.


Pasang Surut Perjalanan Oasis

Source: Britannica

Berawal dari The Rain

Sebelum dikenal sebagai Oasis, band ini memiliki nama The Rain. Grup tersebut dibentuk pada 1991 dengan Liam Gallagher sebagai vokalis, Paul Arthurs atau Bonehead pada gitar, Paul McGuigan pada bass, dan Tony McCarroll pada drum.

Liam kemudian mengajak kakaknya, Noel Gallagher, bergabung. Noel menerima tawaran tersebut dengan syarat dirinya mendapat kendali kreatif yang lebih besar dan menjadi penulis utama lagu-lagu band. Setelah Noel bergabung, nama The Rain pun berubah menjadi Oasis.

Perubahan tersebut membawa mereka menuju fase yang jauh lebih besar. Pada 1994, Oasis merilis album debut Definitely Maybe, sebuah album yang langsung mencuri perhatian dan berhasil menjadi album debut dengan penjualan tercepat di Inggris pada masanya.

Album tersebut juga membawa Oasis ke posisi pertama tangga album Inggris dan menjadi pondasi awal perjalanan mereka sebagai salah satu wajah utama Britpop.

Setahun kemudian, mereka kembali dengan (What’s the Story) Morning Glory? yang kemudian melahirkan lagu-lagu ikonik seperti Wonderwall, Don’t Look Back in Anger, dan Champagne Supernova.

Nama Oasis pun semakin besar. Lagu-lagu mereka terdengar di mana-mana, album mereka merajai tangga musik, dan konser mereka berkembang menjadi pertunjukan berskala raksasa.

kumpulanBaca Kisah Seru Lainnya di Sini!


Ketika Oasis Menguasai Knebworth

Salah satu titik paling fenomenal dalam perjalanan Oasis terjadi pada Agustus 1996.

Oasis menggelar dua konser besar di Knebworth House, Hertfordshire, pada 10 dan 11 Agustus 1996. Masing-masing malam dihadiri sekitar 125.000 orang, sehingga total penontonnya mencapai sekitar 250.000 orang.

Tiket yang dibanderol £22,50 itu ludes dalam waktu singkat. Antusiasme terhadap Oasis saat itu bahkan membuat lebih dari 2,5 juta orang dilaporkan berusaha mendapatkan tiket, jumlah yang menunjukkan betapa besarnya fenomena Oasis pada pertengahan 1990-an.

Knebworth kemudian menjadi salah satu momen paling ikonik dalam sejarah Oasis. Band yang beberapa tahun sebelumnya masih bermain di klub-klub kecil kini berdiri di hadapan ratusan ribu orang dalam salah satu konser musik terbesar Inggris pada era tersebut.

Namun, sebesar apa pun Oasis di atas panggung, hubungan Liam dan Noel di belakangnya tetap punya cerita sendiri.


Dari Persaingan Abang-Adik hingga Bubarnya Oasis

Source: Sound of Brit

Liam dan Noel memang punya hubungan yang terkenal penuh gesekan. Perbedaan karakter, pandangan soal musik, serta ego masing-masing berkali-kali memunculkan konflik.

Perselisihan keduanya kemudian semakin sering terjadi seiring popularitas Oasis yang terus meningkat. Hubungan tersebut akhirnya mencapai titik paling panas pada 2009.

Menjelang penampilan Oasis di Rock en Seine, Paris, Noel mengumumkan bahwa dirinya keluar dari band. Keputusan tersebut menjadi akhir dari perjalanan Oasis pada era pertamanya.

Setelah itu, Noel melanjutkan karier bersama Noel Gallagher’s High Flying Birds, sementara Liam membentuk Beady Eye sebelum melanjutkan perjalanan sebagai solois.


Oasis Comeback, 16 Tahun Kemudian

Source: Billboard

Selama bertahun-tahun, kemungkinan reuni Oasis terasa seperti sesuatu yang sulit dibayangkan. Sampai akhirnya kabar besar itu datang pada 2024.

Oasis mengumumkan Oasis Live ’25, tur reuni yang mempertemukan kembali Liam dan Noel Gallagher di atas panggung. Tur tersebut dimulai di Cardiff pada 4 Juli 2025 dan menjadi penampilan live Oasis pertama sejak perpisahan mereka pada 2009.

Oasis Live ’25 kemudian berkembang menjadi salah satu tur musik terbesar pada 2025. Tur ini membawa Oasis tampil di berbagai wilayah, termasuk Eropa, Amerika Utara, Asia, Australia, dan Amerika Selatan.

Secara keseluruhan, tur tersebut terdiri dari 41 pertunjukan dan membawa Oasis bertemu jutaan penggemar di berbagai negara. Tur akhirnya ditutup di São Paulo, Brasil, pada November 2025.


Well, I Said Maybe…

Source: Rolling Stone

Film ini bakalan jadi dokumenter yang menarik buat melihat lebih dekat perjalanan salah satu band paling berpengaruh dalam scene musik Britpop.

Kalau kamu termasuk orang yang belajar gitar dari lagu-lagu Oasis, pernah nongkrong sambil muter Wonderwall, atau bahkan pernah menjadikan potongan lirik Oasis sebagai bahan unggahan di media sosial, rasanya film ini punya tempat khusus buat ditonton.

Apalagi, dokumenter ini membawa cerita Oasis sampai ke babak yang mungkin dulu terasa mustahil. Setelah 16 tahun berpisah, Liam dan Noel akhirnya kembali memainkan lagu-lagu Oasis di hadapan jutaan penggemar.

Film Oasis: Don’t Look Back in Anger sendiri dijadwalkan tayang secara terbatas di bioskop Indonesia mulai 11 September 2026 hingga 13 September 2026. Penayangan bioskop ini menjadi kesempatan spesial sebelum film tersebut hadir di  Disney+ pada akhir 2026 nanti.

So, kalau kamu tertarik untuk menyaksikan momen kembalinya salah satu raksasa Britpop dalam pengalaman yang intens, segeralah amankan tiketmu, saksikan pertunjukannya, and dont look back in anger, I heard you say! 😉🚀


Lagi Punya Wishlist Buku Bulan Ini?

Kalau iya, maka sekarang merupakan saat yang pas buat mulai mencoret satu per satu dari daftar tersebut, Grameds!

Promo 9.9 di Gramedia.com sedang berlangsung dengan berbagai pilihan buku menarik dan diskon hingga 70% untuk buku terbitan Gramedia.

Yuk, cek promonya dan siapa tahu ada buku incaranmu yang sedang mendapatkan harga spesial. 🤗✨

suicideTemukan Promonya di Sini!

Kalau masih bingung mau mulai dari mana, Gramin sudah menyiapkan beberapa rekomendasi buku bertema musik, yang tentunya hadir dengan nuansa yang beragam.

Mulai dari kisah para musisi, memoar penuh cerita, biografi legenda musik, sampai manga tentang anak pemalu yang bermimpi punya band.

Cek rekomendasinya di bawah ini, ya! 📚😉

Patti Smith Collected Lyrics 1970-2015 – Patti Smith

oasisDapatkan Bukunya di Sini!

Buku ini mengumpulkan lirik-lirik Patti Smith dari sepanjang perjalanan kariernya, mulai dari karya awal seperti Work Song yang ditulis untuk Janis Joplin pada 1970 hingga karya terbarunya, Writer's Song, yang direkam pada 2015.

Edisi revisi dan perluasan ini juga memuat lebih dari 35 lagu tambahan serta manuskrip lirik asli dari arsip pribadi Smith, sehingga kamu bisa melihat lebih dekat proses kreatif di balik karya-karya seorang musisi yang dikenal punya kekuatan puitis dan pengaruh besar dalam dunia musik.


Fahrenheit-182: A Memoir – Mark Hoppus

oasisDapatkan Bukunya di Sini!

Memoar ini membawa sisi personal di balik perjalanan blink-182 dengan gaya yang cerdas, lucu, dan penuh energi.

Buku ini cocok buat kamu yang ingin mengenal sosok Mark Hoppus sekaligus melihat bagaimana pengalaman hidupnya ikut membentuk perjalanan salah satu band pop-punk paling dikenal di dunia.


John Lennon – Gilbert Choky

oasisDapatkan Bukunya di Sini!

Sosok John Lennon punya perjalanan yang jauh lebih luas daripada sekadar menjadi bagian dari The Beatles.

Buku karya Gilbert Choky ini memotret kehidupan Lennon selama 40 tahun, mulai dari perjalanan bersama The Beatles, kontroversi akibat pernyataannya tentang popularitas band tersebut dan agama, hingga keputusan untuk melanjutkan karier sebagai musisi solo setelah The Beatles bubar pada 1970.


Timun Jelita – Raditya Dika

Apa jadinya ketika seorang akuntan berusia 40 tahun tiba-tiba menemukan kembali hasratnya terhadap musik setelah sang ayah meninggal dan mewariskan sebuah gitar tua?

oasisDapatkan Bukunya di Sini!

Itulah awal cerita Timun Jelita, novel karya Raditya Dika yang mempertemukan seorang pria dengan saudaranya, seorang mahasiswi yang sulit percaya pada orang baru, untuk membentuk sebuah grup musik.

Cerita panjang sekaligus kisah duo musik ini membawa tema tentang keluarga, kehilangan, hubungan antarmanusia, dan keberanian untuk kembali mengejar sesuatu yang pernah ditinggalkan.  


Bocchi The Rock 01 – Aki Himazi

oasisDapatkan Bukunya di Sini!

Sejak SMP, Hitori belajar bermain gitar seorang diri sambil membayangkan dirinya tampil bersama sebuah band di festival budaya. Kemampuan komunikasinya yang sangat rendah membuat impian itu belum terwujud hingga ia lulus SMP, tetapi Hitori kembali membawa harapan tersebut ketika masuk SMA. Pertemuannya dengan dunia band kemudian menjadi awal dari berbagai kejadian yang menguji kemampuan bermusiknya sekaligus kehidupan sosialnya.

Komik Bocchi The Rock! menarik dibaca karena memadukan musik, komedi, kehidupan sekolah, dan karakter introvert dalam cerita yang ringan serta menghibur.


Baca juga: Sebab Satu Percakapan Bisa Berarti: Kenapa Kita Perlu Lebih Peduli soal Suicide Prevention?


Jangan lupa juga untuk mengecek berbagai promo menarik lainnya di Gramedia.com supaya pengalaman belanjamu semakin hemat dan menyenangkan! ⤵

kumpulanTemukan Semua Promo Spesial di Sini!


Enter your email below to join our newsletter