Tamasya Kota Hantu: Koleksi Puisi Terbaru dari Theoresia Rumthe Siap Mengajakmu Berkelana Ngeri!
Grameds, siapa nih yang sudah lama nungguin koleksi puisi Theoresia Rumthe? 🤷
Kalau kamu adalah salah satunya, maka Gramin punya kabar baik nih buat kamu! Soalnya, penulis sekaligus penyair asal Ambon ini baru saja merilis buku kumpulan puisi terbarunya, Tamasya Kota Hantu, pada 30 September 2026 lalu.
Ay ay! Kalau dilihat sekilas dari judulnya, buku ini bakal kelihatan seru banget nggak sih, Grameds? Nuansanya mengingatkan kita pada perjalanan santai dan menyenangkan karena ada unsur tamasya yang bertengger di sana.
Rasanya, kita seperti akan diajak berkeliling di sekitaran rimbun kata-kata yang dirangkai ciamik oleh Theo, seperti biasanya.
Eh, tapi, tapi, tapi, kali ini Theo mengajak pembaca bertamasya ke tempat yang jauh lebih ganjil, sebuah kota yang dihuni hantu, ingatan, trauma, juga berbagai suara yang terus hidup di dalamnya.
Lantas, seperti apa sebenarnya “kota hantu” yang ingin ia ajak kita datangi? Yuk, Gramin ajak kamu berkenalan lebih dekat dengan Tamasya Kota Hantu! 🚎🍃
Proses Kelahiran Tamasya Kota Hantu
Dalam proses penulisannya, Theo mengaku awalnya masih berkutat dengan berbagai pertanyaan tentang rumah yang muncul dalam buku sebelumnya, Kadang Rumah Tak Memberimu Pulang (2023).
Dari sana, ia kemudian mencoba menarik dirinya sedikit menjauh. Ia membayangkan dirinya seperti sedang menaiki bianglala, terhempas ke tempat yang lebih tinggi sehingga bisa melihat semuanya dengan lebih jelas.
Theo menyebut ruang tersebut sebagai ruang ambang. Secara spasial, ruang ambang dapat berupa pintu, jembatan, tangga, senja, kabut, atau tepian laut. Ruang-ruang tersebut berada di antara dua keadaan. Ia bukan tujuan akhir, melainkan tempat untuk melintas.
Dari ruang ambang itu pula muncul perasaan asing karena Theo seolah sedang menyaksikan dirinya sendiri dari luar. Jarak tersebut membuatnya dapat mendengar suara-suara yang lebih dalam, suara yang bahkan mungkin sudah hidup lebih lama daripada dirinya sendiri di dalam tubuh dan sebuah kota.
Dari “bianglala” itulah berbagai kerusakan mulai terlihat. Hal-hal yang sudah terjadi, hal-hal yang mungkin sulit diperbaiki, semuanya menjadi bagian dari lanskap yang ia saksikan.
Maka, jangan bayangkan perjalanan dalam Tamasya Kota Hantu sebagai tamasya yang ceria, Grameds. Theo sendiri menyebut buku ini sebagai karya yang tidak bergembira. Ia menerima bahwa ada masa ketika sesuatu memang perlu ditulis dari dalam kegelapan.
Jika saat ini kita sedang berada di dalam gelap, mungkin yang bisa dilakukan adalah menerimanya dan bertahan di sana.
Menariknya, proses kreatif Theo juga kembali mempertemukannya dengan ilustrator Hai Rembulan, kolaborasi tersebut menjadi bagian penting dalam menghadirkan dunia Tamasya Kota Hantu hingga akhirnya terbit dan bisa ditemui di toko-toko buku.
Tamasya, Kota Hantu, Kelana Hendak Ke Mana?
“Mereka tidak tidur, mereka melihat apa yang terjadi dan menghitung waktu.”
Dalam bukunya kali ini, Theo banyak menaruh gambaran tentang “hantu” yang hidup di dalam kota.
Hantu tersebut dapat hadir secara nyata, terutama jika melihat Ambon dengan berbagai tragedi dan peristiwa yang pernah terjadi di masa lalu. Namun, hantu juga dapat hadir sebagai ingatan dan trauma yang terus mengikuti manusia hingga hari ini.
“Hantu” dalam buku ini juga berkaitan dengan persoalan kuasa. Tentang pemerintah yang bertindak sewenang-wenang, tanah yang terus dieksploitasi, hingga hutan yang ditebang.
Dengan begitu, perjalanan dalam Tamasya Kota Hantu membawa kita melewati ruang-ruang yang mungkin terasa akrab, tetapi menyimpan banyak hal yang selama ini luput kita lihat.
Jadi, sudah siap ikut berkelana bersama Tamasya Kota Hantu, Grameds?
Cuplikan Perjalanan dari Kota Hantu
Sebelum ikut bertamasya, kamu bisa melihat beberapa cuplikan puisi dari Tamasya Kota Hantu berikut ini.
“Gejolak berkecamuk di dalamku
Rinduku berlayar dan ingin menyetubuhimu
O, Mahalia, lepaskan doa-doa dari pusarmu
Dan bawalah aku menjadi gurun yang berputar”
Kami Menjadi Lilin
(1)
Biarkan kegelapan menjadi bagian dari kami,
Agar kami dapat belajar memejamkan mata
Dan mengembuskan rasa takut kami
Melalui pori-pori dan segenap lubang
Yang terse bar di tubuh kami
Biarkan kegelapan menjadi teman kami.
(2)
Pada tubuh yang telah mengelupas,
Biarkan kami menjadi lilin.
Kami akan membakar diri kami sendiri.
Pada hutan-hutan yang telah gundul,
Biarkan kami menjadi biji.
Kami akan menanam tubuh kami sendiri.
Pada air yang telah cemar, biarkan kami menjadi iman.
Mengubahnya menjadi anggur.
(3)
Jangan ambit gelap itu.
Biarkan kami menadi lilin,
Yang membakar diri kami sendiri.
Setia menjadi abu.
“Kucing-kucing berjalan mendekat. Mereka mengeong pelan.
Dan ada sesuatu yang berulang kali terdengar di dalam hati saya:
Untuk segala upaya, untuk segala daya, untuk segala kerja keras, semua itu tidak akan kembali kepadamu dengan sia-sia.
Sebab hidup akan mengingatnya.”
Lebih Dekat dengan Theoresia Rumthe
Theoresia Rumthe lahir di Ambon pada 16 Oktober 1983. Setelah belasan tahun merantau dan tinggal di Bandung, ia kini kembali ke Ambon dan menetap di kota kelahirannya.
Theo dikenal sebagai penyair yang banyak mengeksplorasi tubuh, perempuan, rumah, dan pengalaman manusia. Ia juga gemar merekam berbagai dialog yang berlangsung di kepalanya, kemudian menuangkannya menjadi puisi.
Selain menulis, Theo mengajar wicara publik dan terlibat dalam berbagai gelaran musik bersama Rempah Gunung dan Aroma Dendang Sahaja.
Sejumlah buku puisinya antara lain Tempat Paling Liar di Muka Bumi (2016), Cara-Cara Tidak Kreatif untuk Mencintai (2018), Selamat Datang, Bulan (2019), dan Percakapan Paling Panjang Perihal Pulang Pergi (2021). Pada 2023, ia menerbitkan Kadang Rumah Tak Memberimu Pulang.
Kini, Tamasya Kota Hantu hadir dan menawarkan perjalanan terbarunya untuk mengajak pembaca melihat kota, tubuh, ingatan, kekuasaan, dan berbagai hantu yang mungkin masih tinggal di sekitar kita.
Masih Ingin Menyelami Puisi?
Kalau Tamasya Kota Hantu berhasil bikin kamu penasaran dengan karya-karya Theo maupun puisi dari penyair lainnya, beberapa judul berikut bisa masuk daftar bacaanmu.
Kadang Rumah Tak Memberimu Pulang — Theoresia Rumthe
“Bagaimana hidup tak pernah mengambil, malah meletakkan. Bagaimana mati tak pernah hilang, melainkan tumbuh.”
Lewat Kadang Rumah Tak Memberimu Pulang, Theo kembali menyelami persoalan rumah, kehilangan, ingatan, dan perjalanan pulang.
Salah satu puisinya, “Seseorang Telah Menombak Matahari”, menghadirkan gambaran sureal tentang sebuah kampung yang kehilangan cahaya dan perlahan dikuasai ketakutan.
Tempat Paling Liar di Muka Bumi — Theoresia Rumthe & Weslly Johannes
“Aku ingin menjadi tenang dan mencintaimu tanpa banyak kekhawatiran.”
Tempat Paling Liar di Muka Bumi mempertemukan puisi Theoresia Rumthe dan Weslly Johannes dalam larik-larik yang intim dan penuh perasaan.
Diksi yang kuat membuat setiap puisinya terasa dekat dengan pengalaman manusia, sementara ilustrasi yang menyertainya ikut memperkaya perjalanan membaca.
Percakapan Paling Panjang Perihal Pulang Pergi — Theoresia Rumthe & Weslly Johannes
Buku ini hadir seperti percakapan panjang antara Theo dan Weslly yang dituangkan melalui puisi-puisi berbentuk korespondensi. Tema yang dibawa cukup luas, mulai dari kematian, kerinduan, keluarga, penantian, hingga pengalaman selama pandemi.
Format tersebut membuat kumpulan puisinya terasa seperti perjalanan yang terus bergerak dari satu percakapan menuju percakapan berikutnya.
Cica — Cyntha Hariadi
Berisi 96 puisi yang ditulis Cyntha Hariadi pada 2016–2020, Cica menyimpan kenangan, pertanyaan tentang identitas, serta berbagai peristiwa yang berusaha dihapus oleh kekuasaan.
Puisinya menawarkan ruang untuk melihat kembali hubungan antara ingatan personal dan peristiwa yang lebih besar.
Ke Mana Perginya Benda-Benda yang Sudan Tiada — Mashdar Zainal
Buku ini menggunakan benda-benda sederhana sebagai jalan untuk melihat ingatan, waktu, sejarah personal, dan pengalaman kolektif.
Dengan permainan metafora dan simile yang kuat, puisi-puisinya mengubah benda sehari-hari menjadi pintu untuk memahami dunia dan diri sendiri.
Pada akhirnya,
Tamasya kali ini mungkin membawa kita ke tempat yang gelap, penuh ingatan, dan menyimpan banyak suara. Namun, justru dari sanalah Tamasya Kota Hantu mengajak kita melihat kembali apa yang terjadi di sekitar kita. 🌚🌿
Kalau kamu penasaran dengan cara Theoresia Rumthe merangkai tubuh, kota, ingatan, trauma, dan berbagai persoalan sosial ke dalam puisi, saatnya kamu mengikuti perjalanannya dalam Special Offer Tamasya Kota Hantu yang sedang berlangsung di Gramedia.com.
Selama periodenya berlangsung, kamu berkesempatan untuk ikutan berkelana menyisiri dunia “kota hantu” dan mendapatkan bonus sticker pack serta pembatas buku yang bisa menemani perjalanan kamu.
Selamat bertamasya menyusuri dunia Tamasya Kota Hantu, Grameds. Siapa tahu, di tengah perjalanan nanti, kamu justru menemukan hantu yang selama ini diam-diam tinggal di dalam dirimu. 👻😨
Baca juga: Sejarah Baru Sastra Indonesia! Novel Intan Paramaditha Unjuk Gigi di Kancah Global
Jangan lupa juga untuk bertamasya ke Gramedia.com dan temukan berbagai promo menarik lainnya, supaya pengalaman belanjamu jadi makin seru dan bermakna! ⤵
Temukan Bukunya di Sini!
Baca Artikel Lainnya di Sini!
Temukan Bukunya di Sini!
Temukan Bukunya di Sini!
Temukan Bukunya di Sini!
Temukan Bukunya di Sini!
Temukan Bukunya di Sini!
Temukan Promonya di Sini!
Temukan Semua Promo Spesial di Sini!