Cuci Gudang Kesedihan: Puisi untuk Kamu yang Ingin Menyusun Ulang Perasaan!
Habis puasa, terbitlah puisi. Yup, kali ini, Gramin mau mengajak kamu berkenalan dengan kumpulan puisi terbaru dari Adhan Akram yang berjudul Cuci Gudang Kesedihan. 📝
Dengan melihat sekilas dari judulnya saja, rasanya kita sudah bisa menebak kalau kumpulan puisi ini tak cuma hadir sebagai barisan kata-kata belaka. Lebih jauh, ia juga turut menghadirkan ruang untuk merapikan perasaan.
“Jika kau bertanya dari mana datangnya bandang, mungkin dari aku. mungkin pula dari sumur kesedihan di belakang rumahku”
Sepenggal larik itu seperti memberi gambaran awal tentang isi buku ini. Tenang, reflektif, tapi menyimpan sesuatu yang dalam.
Dan kalau kamu sudah kepalang penasaran untuk mengikutinya lebih jauh lagi, mari kita intip bersama-sama dalam artikel ini! 🚀
Sekilas Tentang Cuci Gudang Kesedihan
Antologi ini ditulis sebagai cara untuk “menguras” kesedihan yang masih tersisa.
Lewat bahasa yang puitis namun tetap ringan, Adhan Akram menghadirkan puisi-puisi yang terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari, baik dalam ranah personal maupun komunal.
Puisinya terasa sederhana saat dibaca, tapi perlahan turut memantik rekaman lama yang sempat tersimpan di kepala untuk berjalan beriringan dengan tiap bait yang dihadirkan.
Dingin di permukaan, tapi diam-diam menenangkan. Buku ini juga akan terasa relevan untuk pembaca masa kini, terutama kamu yang sedang mencari jeda di tengah rutinitas.
Baca juga: Saat Hati Lagi Capek, Senja, Hujan & Cerita yang Telah Usai Bisa Jadi Pelipur Lara
Beberapa Larik yang Bisa Kamu Lirik!
Sebelum kamu membaca bukunya secara utuh, berikut beberapa potongan larik yang bisa kamu nikmati:
Di belakang rumahku,
ada sebuah sumur kesedihan.
jika waktu kosong tiba,
aku kerap menimba air mata & iba
yang terus keluar dari tanah.
jika kau bertanya
dari mana datangnya bandang,
mungkin dari aku.
mungkin pula dari sumur kesedihan
di belakang rumahku.
/
Tak akan hilang setelah ini,
hanya potongan kecil dari makna-makna yang hilang dari bahasa nusantara,
berulang kali.
lagi & lagi.
/
Tetapi
di kota ini,
kami menyembah kesedihan
seperti ia memberi kami makanan enak
dan mempermudah kehidupan kami.
/
Aku hendak menguburkan diri katanya,
hendak membenamkan mimpi-mimpi yang
terlalu tinggi.
hendak mengadakan upacara kremasi.
/
Sudahkah
aku menjadi bagian dari masa depan
yang kau tinggalkan
jauh di belakang?
Tentang Ia yang Membuka Gudang Kesedihan
Cuci Gudang Kesedihan merupakan karya dari Adhan Akram. Ia merupakan penulis yang aktif berkarya dalam bentuk prosa dan puisi.
Sebelumnya, ia telah merilis novel Kaleidoscope of Memories (2019) dan Kaleidoscope of Fate (2020), serta antologi puisi Tantrum (2021).
Buku ini menjadi antologi puisi keduanya yang diterbitkan bersama Bhuana Sastra. Lewat karya ini, Adhan kembali menunjukkan ciri khasnya dalam merangkai emosi menjadi kata-kata yang terasa dekat dengan pembaca.
Dapatkan Kesedihannya dengan Lebih Hemat!
Yup, serupa dengan judulnya, kamu berkesempatan untuk mendapatkan karya terbaru dari Adhan Akram ini dengan lebih hemat, Grameds. Serupa harga cuci gudang.
Tak hanya itu, kesedihannya juga bisa kamu rasakan secara nyata, lengkap beserta bonus laundry bag untuk menemanimu melewati perjalanan ke perjalanan berikutnya.
Rekomendasi Puisi Lainnya
Selain Cuci Gudang Kesedihan, kamu juga bisa menikmati puisi lainnya melalui buku-buku berikut, Grameds. Cek daftarnya di bawah ini ya!
1. Karena Cinta, Semua akan Gila pada Waktunya – Farid Nur Ihsan
Buku puisi ini menghadirkan potret cinta yang pelan-pelan tumbuh, melebur, dan pada akhirnya menemukan bentuknya sendiri di semesta.
Lewat diksi yang lembut dan reflektif, Farid Nur Ihsan mengajak pembaca menyelami hubungan yang terasa sederhana, tapi diam-diam menyimpan kedalaman makna. Ada nuansa doa, harapan, dan ketulusan yang terasa hangat di setiap baitnya.
Dan kita berangsur melebur pada semesta
yang menyatukan dua nama, melalui setiap doa.
Menengadah ke langit,
mempertemukan telapak tangan,
bersimpuh pada permadani rerumputan.
Lalu yang berulang serupa tutur kata ibu pada anaknya, tak segera sudah.
Sampai tiba paham pada setiap yang dikehendaki.
Dan kita berangsur melebur pada semesta
yang menyatukan dua nama.
Aku dan kau, lebih tepatnya.
2. Dalam Hologram Kafka – Triyanto Triwikromo
Berangkat dari pengalaman residensi menulis di Berlin, Triyanto Triwikromo menyusun kumpulan puisi yang terinspirasi dari sosok Franz Kafka dan jejak kehidupannya di Eropa.
Perjalanan ke Berlin dan Praha menjadi fondasi lahirnya puisi-puisi yang tidak hanya berbicara tentang Kafka sebagai tokoh, tapi juga atmosfer dan rasa yang menyertainya.
Proses panjang selama bertahun-tahun membuat buku ini terasa matang dan penuh lapisan. Kafka di sini tidak sekadar hadir sebagai referensi, tapi sebagai “suasana” yang hidup dalam tiap puisi.
3. Masih Ingatkah Kau Jalan Pulang – Sapardi Djoko Damono
Dalam buku ini, Sapardi Djoko Damono kembali mengajak pembaca merenungkan konsep “pulang” dengan cara yang sederhana tapi mengena.
Lewat pertanyaan-pertanyaan yang terus berulang, ia menggugah kita untuk memikirkan kembali makna pulang, pergi, dan hubungan keduanya dalam hidup.
Puisi-puisi di dalamnya terasa ringan saat dibaca, tapi menyimpan kedalaman yang perlahan terasa setelahnya.
Gaya khas Sapardi yang lirih dan reflektif membuat buku ini cocok untuk kamu yang ingin berhenti sejenak, lalu berdialog dengan diri sendiri tentang arah, tujuan, dan makna perjalanan hidup.
“Masih ingatkah kau jalan pulang? Tak ada jalan dan tak ada pulang kita di atap langit nun di bawah rata belaka suatu saat biru di saat lain merah kesumba. Jadi kau tidak ingat lagi tak percaya lagi akan jalan pulang? Apakah pergi harus juga pulang? apakah pergi harus juga berpikir untuk pulang? Apakah pulang hanya ada kalau kita pergi? Apakah pulang dan pergi harus berpasangan?”
4. Retak, Luruh, Kembali Utuh – Prilly Latuconsina
“Ini jalan yang harus ditempuh.
Rindu, sakit, dan marah tetap harus dilalui.
Dia yang pernah singgah dan menyentuh mimpi indahku, tak selalu jadi
tempat berlabuh yang utuh. “Aku hanya kain pel yang lusuh di matamu.”
Itu kata yang kuingat sebelum malam benar-benar menelannya.”
“Retak, Luruh, Kembali Utuh”, menjadi frasa yang menjadi motif Prilly Latuconsina melihat dirinya sendiri. Berisikan 40 puisi dalam tiga fragmen fase kehidupan: kehilangan, keterpurukan atas kehilangan, hingga proses menata hidup yang baru.
Dalam Retak, Luruh, Kembali Utuh, Prilly mencoba membuka ruang paling privat dalam dirinya ke hadapan publik dengan estetik. Ada tangis yang mengkristal menjadi puisi, ada harapan yang mengeras bersama karang, dan ada kesunyian yang bisa kita rasakan di dasar lautan pikiran Prilly Latuconsina.
5. Maaf Aku Lahir ke Bumi – Marchella FP
Buku ini terasa seperti ruang pengakuan bagi banyak perasaan yang sering dipendam. Marchella FP merangkai kata-kata yang berbicara tentang rasa bersalah, kebiasaan mengalah, dan kecenderungan untuk selalu menempatkan orang lain di atas diri sendiri.
Dengan gaya bahasa yang lugas dan relatable, buku ini mudah terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari. Isinya seperti cermin kecil yang mengajak kamu melihat ulang hal-hal yang sering dianggap sepele, tapi sebenarnya penting.
Cocok untuk kamu yang sedang belajar memahami diri sendiri dan berani menempatkan perasaanmu di posisi yang lebih jujur.
Pada akhirnya,
Hadirnya puisi tak melulu berupa jawaban lewat bait yang dihadirkan. Terkadang, ia hadir untuk secukupnya menemani, memberi ruang, atau sekadar membantu kita memahami apa yang sedang dirasakan.
Dan mungkin, di antara larik-larik dalam Cuci Gudang Kesedihan, kamu akan menemukan satu atau dua kalimat yang terasa seperti sedang berbicara langsung kepadamu. 🦜🍃
Baca juga: Setiap Hari, Hari Ini: Kisah Tentang Waktu, Cinta, dan Kesempatan Kedua
✨Oh iya, jangan lupa juga untuk cek promo spesial lainnya di Gramedia.com supaya belanjamu makin hemat dan bermakna! ⤵