Capek Di-trauma-dump? Kenapa Romcom 2000-an Malah Bikin Tenang


Dulu, dua orang bertabrakan di toko buku, saling tatap, lalu kita sudah tahu: mereka bakal jatuh cinta.

Sekarang, mereka bertabrakan di toko buku, saling follow Instagram, bertukar beberapa pesan, lalu salah satunya mulai bertanya: “Dia sebenarnya tertarik atau cuma ramah?”

Lalu lahirlah sebuah investigasi, Grameds. Sudah berapa lama dia belum membalas pesan? Kenapa cuma like story tapi tidak mengirim pesan? Ini green flag atau red flag? Jangan-jangan avoidant attachment? 🕵️

Kita hidup di zaman ketika percintaan punya kamusnya sendiri: ghosting, breadcrumbing, situationship, love bombing, attachment style, sampai emotional availability.

Lucunya, ketika cinta terasa semakin sulit dibaca, kita justru sering kembali kepada cerita yang sudah kita tahu akhirnya: romcom era 2000-an.

Jadi, siap kembali ke era ketika jatuh cinta belum butuh kamus untuk menerjemahkannya? 💌


Dari “Meet-Cute” ke “Jadi, Kita Ini Apa?” ✨

How To Lose a Guy in 10 Days 

Romcom 2000-an percaya pada satu hal sederhana: dua orang bertemu, lalu sesuatu terjadi.

Salah satu trope favoritnya adalah meet-cute, yaitu pertemuan pertama dua calon pasangan yang terjadi secara tidak sengaja, unik, canggung, atau lucu, lalu menjadi awal kisah cinta. Bisa berupa tabrakan di toko buku, salah paham di tempat kerja, atau pertemuan yang justru dimulai dengan saling kesal.

Di How to Lose a Guy in 10 Days, permainan cinta Andie dan Benjamin bermula dari sebuah taruhan. 13 Going on 30 membawa Jenna pada kesempatan kedua, sementara Ada Apa dengan Cinta? membuat pertemuan Cinta dan Rangga menjadi salah satu kisah cinta yang melekat dalam ingatan penonton Indonesia.

Dulu, kita cukup melihat dua karakter saling tatap untuk ikut percaya pada kemungkinan cinta. Sekarang? Sudah bertukar nomor, saling kirim pesan, like story, bahkan sering jalan bareng. Lalu muncul pertanyaan: “Kita ini apa?”

Kita punya lebih banyak cara untuk bertemu dan lebih banyak bahasa untuk memahami hubungan. Tapi di tengah semua kemudahan itu, ada satu hal yang menarik:

Kenapa ketika hidup terasa semakin rumit, kita justru masih suka kembali ke cerita cinta yang sudah kita tahu akhirnya?


Baca juga: Gara-Gara Aturan 12 Jam: Intip Makna Merdeka di Film One Night Only! 🍿


Rasa Nyaman di Tengah Ketidakpastian 👀

The Holiday

Ternyata, rasa nyaman itu bukan sekadar soal kangen masa lalu, loh, Grameds.

Film yang sudah pernah kita tonton memberi sesuatu yang cukup berharga ketika hidup sedang penuh ketidakpastian: kita tahu apa yang akan terjadi.

Kita tahu kapan konflik muncul, tahu kapan dua karakter mulai sadar bahwa mereka saling suka. Bahkan ketika lupa detail ceritanya, kita lebih tahu ke mana semuanya akan bermuara.

Familiaritas membuat kita tidak perlu terus menebak. Alih-alih menghadapi kejutan baru, kita bisa kembali menikmati perasaan yang sudah kita kenal.

Itulah salah satu alasan comfort movie dapat menjadi pilihan ketika kita ingin mengambil jeda dari dunia nyata. Riset tentang comfort media juga menemukan bahwa familiaritas dan pengalaman nostalgia dapat berperan dalam munculnya rasa nyaman saat menikmati kembali media yang sudah dikenal.

Jadi, yang kita putar ulang bukan hanya filmnya. Kita juga sedang kembali pada perasaan yang sudah kita tahu cara menikmatinya.


Baca Kisah Seru Lainnya di Sini!


“Sihir” Romcom Lawas: Karakter yang Berantakan di Dunia yang Lebih Pelan 🔮

Bridget Jones' Diary

Rasa nyaman mungkin menjelaskan kenapa kita kembali menonton film lama. Tapi ada alasan lain yang membuat romcom 2000-an masih terasa dekat: karakternya tidak datang dengan hidup yang sudah beres.

Seperti karakter Bridget di Bridget Jones’s Diary yang masih canggung dan tidak percaya diri. Amanda dan Iris di The Holiday sama-sama sedang berusaha bangkit dari patah hati. Bahkan Andie dan Benjamin di How to Lose a Guy in 10 Days memulai hubungan dengan agenda masing-masing.

Mereka bisa salah langkah, kikuk, keras kepala, bahkan tidak tahu apa yang sebenarnya mereka inginkan. Persis karena itulah mereka terasa manusiawi.

Di era ketika media sosial membuat hidup orang lain terlihat semakin “rapi”, melihat karakter yang masih berantakan tetapi terus mencari jalan bisa terasa menyenangkan. Kita tidak harus ingin menjadi mereka. Cukup melihat mereka berproses dan berpikir: “Oke, ternyata gue juga nggak sendirian.”

Dan bukan hanya karakternya yang terasa dekat. Dunia tempat mereka hidup pun menawarkan sesuatu yang sekarang terasa semakin langka.

Saat semuanya terasa semakin cepat dan terkoneksi, film-film itu membawa kita ke dunia dengan toko buku, telepon kabel, pesta dansa, soundtrack yang mengiringi perjalanan pulang, dan percakapan yang tidak harus berakhir dengan typing…

Bukan berarti romcom masa kini kehilangan pesonanya. Film-film baru tetap punya cara sendiri untuk merekam dinamika cinta zaman sekarang. Hanya saja, romcom lawas menawarkan fantasi yang berbeda: dunia yang tidak selalu menuntut kita untuk terus terhubung.

Mungkin kita tidak benar-benar merindukan tahun 2000-an. Kita hanya rindu masuk sebentar ke dunia yang terasa lebih pelan. 🦥


Baca juga: The Book of’ Trilogi Karya Lala Bohang: Monolog Sunyi dalam Balutan Cover Baru


Butuh Dosis Happy Ending? Lanjutkan Racikan Romantis Magisnya di Halaman Ini! ⭐

Film mungkin hanya memberi kita dua jam untuk tinggal di sebuah cerita. Buku bisa membuat kita tinggal sedikit lebih lama. Dan kalau yang kamu cari adalah karakter yang berantakan, chemistry yang bikin senyum sendiri, serta kisah cinta yang tidak terlalu sibuk menjelaskan dirinya sendiri, lima buku ini bisa menjadi tempat berlabuhmu berikutnya ✨

Intip beberapa rekomendasinya di sini!

1. Work-Love Balance — Michelle Che

Temukan Bukunya di Sini!

Karier sudah punya arah. Hati malah tidak ikut briefing.

Rawi Baskara punya karier yang cemerlang dan kehidupan yang tampak terencana. Sampai sebuah situasi tak terduga dengan rekan kerjanya, Rhysaka, membuat batas antara urusan profesional dan perasaan pribadi mulai kabur.

Dengan dinamika office romance dan kehidupan urban, kisah ini membawa formula romcom ke ruang yang lebih dekat dengan keseharian pembaca dewasa. Cocok untuk kamu yang suka romansa lokal dengan dunia kerja, chemistry yang tumbuh di antara kesibukan, dan sedikit kekacauan setelah jam kantor.


2. Pacar Pura-Pura (The Spanish Love Deception) — Elena Armas

Temukan Bukunya di Sini!

Tidak ada yang lebih romcom daripada pura-pura pacaran lalu lupa bahwa semuanya cuma “pura-pura”.

Catalina Martin membutuhkan pasangan untuk menghadiri pernikahan kakaknya di Spanyol. Aaron Blackford, koleganya yang selama ini dianggap menyebalkan, tiba-tiba menawarkan diri menjadi pasangan pura-puranya. Masalahnya semakin lama mereka menjalani peran tersebut, semakin sulit Catalina menganggap Aaron sebagai sekadar bagian dari rencana.

Cocok untuk pecinta fake dating, slow burn, banter, dan trope “kenapa orang yang paling ngeselin malah jadi yang paling bikin deg-degan?”


3. Wedding with Stranger — Filda Pratiwi

Temukan Bukunya di Sini!

Delapan tahun bersama ternyata bukan jaminan bahwa cerita akan berakhir sesuai rencana.

Setelah mengetahui perselingkuhan Bima menjelang pernikahan mereka, rencana hidup Naya runtuh begitu saja. Kehadiran dua pria lain kemudian membawanya pada kemungkinan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Cocok untuk pembaca yang suka kisah patah hati, memulai kembali, dan romance lokal yang dekat dengan dilemma kehidupan sehari-hari.


4. Book Lovers — Emily Henry

Temukan Bukunya di Sini!

Untuk kamu yang percaya bahwa rival belum tentu berakhir sebagai musuh.

Nora Stephens adalah agen buku yang sukses dan Charlie Lastra adalah editor yang sudah lama menjadi rivalnya. Ketika Nora pergi ke kota kecil Sunshine Falls, ia justru terus bertemu Charlie, dalam serangkaian kebetulan yang nyaris seperti adegan romcom.

Cocok untuk pembaca yang kangen chemistry, dialog cerdas, dan romansa yang terasa dewasa tanpa kehilangan sisi playful-nya.

5. Bukan Tipe Romantis (Lucie Yi is Not a Romantic) — Lauren Ho

Temukan Bukunya di Sini!

Ketika hidup sudah punya rencana, cinta malah datang membawa revisi.

Setelah kisah cintanya berantakan, Lucie Yi memilih jalan yang tidak biasa untuk membangun keluarga. Namun ketika mantan tunangan kembali dan berbagai tekanan hidup ikut tertumpuk, ia harus menghadapi pertanyaan yang lebih besar: sebenarnya hidup seperti apa yang ia inginkan?

Romcom ini terasa lebih dewasa karena tidak hanya membahas pasangan, tetapi juga keluarga, pekerjaan, pilihan hidup, dan keberanian menentukan jalan sendiri.


Tak Perlu Mesin Waktu untuk Merasakan “Sihir” yang Sama ✨

The Holiday

Dunia nyata boleh bikin capek, tapi happy ending-mu nggak harus ditunda!

Biarkan layar ponselmu istirahat sejenak, pilih satu buku, dan temukan kembali rasa hangat yang sempat hilang. ✨

🚨 Peringatan FOMO: Pas banget! Promo Teman Membaca cuma datang 4 hari (21–24 Agustus 2026). Kamu bisa borong novel-novel terbitan Gramedia dengan diskon hingga 30%! Yuk, checkout bukumu sekarang sebelum promonya lewat begitu saja! 💖

Temukan Special Offer-nya di Sini!

✨Jangan lupa juga untuk cek promo spesial lainnya di Gramedia.com supaya belanjamu makin hemat dan bermakna! ⤵

Temukan Semua Promo Spesial di Sini!