Hi Bye My Blue, Belajar Berdamai dengan Luka

Hi Bye My Blue, Belajar Berdamai dengan Luka

Grameds, kamu pasti pernah merasakan kesulitan dalam menjalani kehidupan, bukan? Terdapat satu momen yang terasa amat sulit untuk dilakukan hingga meneteskan air mata. Namun, kehidupan akan terus berputar. Akan ada pelangi setelah hujan, luka yang akan sembuh seiring berjalannya waktu, meski menimbulkan jejak.

Perjalanan yang sulit itu akan mempengaruhi kesehatan mental. Sudah banyak dibahas di sosial media akan pentingnya menjaga kesehatan mental. Mungkin sebagian masyarakat masih tabu akan hal ini. Serta menganggap kesehatan mental menjadi titik lemah kaum Gen Z.

Namun, penting bagi kita mengetahui kesehatan mental. Dengan begitu, kita akan bisa menjalani hari-hari dengan senyuman. Meskipun tidak selalu hari-hari akan bahagia, akan tetapi setidaknya kamu akan lebih mengenal diri.

Memiliki luka dan ketidaksehatan mental bukanlah suatu kekurangan. Itu artinya kamu diberi kesempatan untuk mengenal diri lebih dalam. Tak apa, manusia memang perlu merasakan pahitnya kehidupan. Dengan begitu, akan ada pengalaman yang berharga tentang perjuangan melewati kesulitan hidup.

Gramin mau rekomendasikan buku yang membahas mengenai perjalanan panjang yang penuh kejatuhan dan kebangkitan. Buku ini mengingatkan kita bahwa dalam dunia yang terkadang kejam dan manusia yang tidak selalu bisa kita percayai, kita selalu memiliki alasan untuk bangkit kembali. Ini dia buku Hi Bye My Blue.

Kita simak ulasannya, yuk!

Mental Health dan Luka, Kisah di Setiap Halaman Hi Bye My Blue

hiBaca di Sini!

Menurut sang penulis, Hana Hanifah, mengatakan ini adalah buku paling lama yang pernah ia tulis. Buku ini tidak hanya sekadar kata-kata di atas kertas, melainkan curahan hati Hana Hanifah yang akhirnya menemukan keberanian untuk menghadapi dirinya sendiri. Bukan hal yang mudah untuk menghadapi luka, dan buku ini menjadi cermin bagi banyak dari kita yang mungkin telah lama mengabaikan kehadiran luka itu sendiri.

Buku ini  berbicara tentang bagaimana luka itu bisa hadir dalam berbagai wujud: sebagai pedihnya kita ditinggalkan oleh manusia, sebagai kecewanya kita dikhianati oleh dunia, sebagai sakitnya kita berjuang sendiri, dan sebagai bencinya kita pada diri sendiri. Adakah Grameds yang merasakan hal serupa seperti penulis? Jika iya, maka buku ini sangat cocok untuk kamu baca.

Semua luka ini diungkapkan dengan kata-kata yang sederhana namun mendalam, membuat kita merasa seperti kita berbicara dengan seorang sahabat yang memahami. Buku ini akan menjadi temanmu dalam melewati fase menyembuhkan luka.

Seni Berdamai dengan Diri Sendiri

Dalam dunia yang semakin sadar akan pentingnya kesehatan mental, buku ini memberikan kontribusi berharga dengan membuka pintu menuju pemahaman diri yang lebih dalam dan memberikan harapan untuk kesembuhan.

Dengan latar belakang yang kaya akan konteks sosial dan budaya yang relevan, buku ini bukan hanya sebuah kisah pribadi, tetapi juga cermin bagi banyak orang yang mungkin berjuang dengan luka-luka yang sama. Ini adalah buku yang mengajak kita untuk merenung, berdamai dengan diri sendiri, dan merangkul perjalanan menuju kesembuhan mental.

Berdamai dengan luka adalah seperti proses seni yang membutuhkan waktu yang panjang. Luka itu adalah lukisan perasaan pedih saat ditinggalkan oleh orang yang kita cintai, kekecewaan terhadap dunia, rasa sakit saat berjuang sendiri, dan kebencian pada diri sendiri.

Melalui buku ini, Hana Hanifah ingin mengajakmu untuk menjalani proses seni ini bersama-sama, menghargai dan merangkul setiap goresan dalam kanvas kehidupan kita. Kita adalah seniman dalam proses menciptakan kedamaian dalam diri sendiri.

Buku ini akan mengajak kamu memainkan emosi yang menggugah hati ini. Mari berbicara, berbagi, dan merangkul perjalanan menuju kesembuhan mental bersama-sama. Hi Bye My Blue akan menjadi teman yang setia dan menginspirasi kita semua.

Yuk, segera dapatkan buku ini hanya di Gramedia.com! Pastikan kamu mengeklik banner di bawah ini untuk berbelanja lebih hemat, ya! 🛒⤵️

kumpulanTemukan Semua Promo Spesial di Sini!


Sumber gambar header: freepik.com

Penulis: Naela Marcelina

Editor: Puteri C. Anasta


Enter your email below to join our newsletter