Banjir 2020, Greta Thunberg, dan Buku tentang Perubahan Iklim

Tahun baru 2020 disambut dengan bencana banjir di beberapa wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek). Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), curah hujan ekstrem di tiga titik di Jakarta dan sekitarnya adalah penyebabnya.

Dilansir dari Kompas.com, ahli hidrologi dan dosen Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM) M. Pramono Hadi mengatakan curah yang merata dan jumlahnya banyak menjadi salah satu faktor banjir. Faktor lainnya adalah infrastruktur wilayah, topografi, dan drainase yang berpengaruh pada munculnya bencana banjir.

Normalisasi sungai Ciliwung menjadi salah satu upaya pemerintah DKI Jakarta untuk mengatasi banjir. Namun, normalisasi yang seharusnya sepanjang 33 km itu baru dikerjakan 16 km. Hal tersebut membuat kecewa Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono.

"Mohon maaf bapak gubernur, selama penyusuran kali Ciliwung ternyata sepanjang 33 km itu yang sudah dinormalisasi baru 16 km," ujar Basuki kepada Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan pada Rabu (1/1) dikutip dari Detik.com.


Baca juga:


Namun, selain penyebab di atas, ada hal paling penting yang harus disadari yaitu fenomena perubahan iklim yang juga turut serta menimbulkan keniscayaan bencana alam termasuk banjir. Hal tersebut menjadi perhatian The Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ).

Ketua Umum SIEJ Rochimawati mengingatkan pentingnya menyampaikan informasi seputar kualitas lingkungan hidup yang baik dan sehat. Dan penyertaan informasi seputar fenomena perubahan iklim belum banyak disampaikan oleh para jurnalis, padahal mereka bisa menjadi actor utama untuk menyebarkan informasinya.

"Kami memandang fenomena perubahan iklim masih kurang mendapatkan porsi di media massa karena memang tidak mudah untuk membumikannya. Banjir, bisa jadi salah satu titik masuk bagi jurnalis atau media massa guna menjelaskan dampak dari perubahan iklim terhadap masyarakat perkotaan," kata Rochimawati dikutip dari Kontan.co.id.

Greta Thunberg Si Aktivis Muda Perubahan Iklim

Sampul depan majalah TIME tampilkan Greta Thunberg sebagai Person of the Year (Sumber: BBC)

Bicara soal perubahan iklim, salah satu sorotan utama dalam dua tahun terakhir adalah Greta Thunberg. Ia baru 15 tahun saat berdiri di depan gedung parlemen Swedia dengan membawa papan putih bertuliskan “Mogok Sekolah untuk Iklim” dalam bahasa Swedia.

Itu terjadi pada Agustus 2018 dan kepada BBC ia mengatakan, “Rasanya cuma saya satu-satunya yang peduli pada iklim dan krisis ekologi.” Perhatiannya pada iklim berawal saat ia memenangkan kompetisi esai tentang perubahan iklim di koran lokal pada Mei 2018.

Setelah peristiwa itu, gadis yang lahir pada 3 Januari 2003 itu semakin lantang bersuara tentang betapa semua orang di seluruh dunia harus peduli dengan bumi yang ditinggali mereka. Bahwa perubahan iklim sedang mengancam siapa pun yang ada di bumi.

Puncaknya adalah konferensi iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York yang dihadiri Greta Thunberg pada September 2019 lalu. Ia dinominasikan sebagai penerima Nobel Peace Prize. Majalah TIME bahkan menobatkan Greta Thunberg sebagai Person of the Year 2019.

Pada Mei 2019 lalu, Greta Thunberg merilis buku pertamanya berjudul No One is Too Small to Make A Difference. Di dalamnya berisi sebelas pidato seputar pemanasan global dan perubahan iklim yang sudah ditulisnya dan disampaikan di berbagai kesempatan. Beberapanya adalah di organisasi PBB, Uni Eropa, dan Forum Ekonomi Dunia.

Betapa Bumi Sudah Tak Layak Huni

Bumi yang Tak Dapat Dihuni karya David Wallace-Wells

Salah satu karya nonfiksi yang tidak bisa dilepaskan dari perubahan iklim adalah The Uninhabitable Earth karya David Wallace-Wells. Buku tersebut seperti memberikan gambaran tentang betapa bumi sudah terpapar pemanasan global dan perubahan iklim.

Buku yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Bumi yang Tak Dapat Dihuni itu konon membuat pembacanya frustrasi karena isinya yang faktual dan tidak bisa dihindari. Wallace-Wells tidak hanya menjabarkan tentang meningkatnya level air laut, tetapi juga banjir yang setiap tahun hadir di berbagai belahan bumi.

David Wallace-Wells adalah jurnalis asal Amerika Serikat yang fokus pada fenomena perubahan iklim. Pada 2017, ia menulis esai berjudul "The Uninhabitable Earth" yang kemudian dikembangkan menjadi sebuah buku dengan judul yang sama pada 2019.

Bumi yang Tak Dapat Dihuni karya David Wallace-Wells sepertinya benar-benar menjabarkan betapa bumi sudah tak layak huni.

Pada akhirnya, mari kita sama-sama buka mata dengan fenomena yang sedang menyerang bumi sedikit demi sedikit ini. Perubahan iklim itu betulan terjadi dan kita harus bersiap untuk menghadapinya.

Semoga pada tahun 2020 ini, kita bisa lebih peduli pada apa yang terjadi di sekililing kita terutama perihal perubahan iklim.


Sumber gambar header: Shutterstock / PopTika


Baca juga: