AUTHOR OF THE MONTH: Regis Machdy Tertarik Psikologi Sejak Baca Sheila

Pernahkah kamu membaca sebuah buku dan terinspirasi untuk berprofesi seperti tokoh yang ada dalam buku tersebut? Bila pernah, beberapa dari kamu mungkin hanya menganggapnya sebagai cita-cita sambil lalu. Namun, sebagian yang lain bersungguh-sungguh untuk meraih profesi impiannya tersebut. Salah satunya adalah Regis Machdy.

Regisda Machdy Fuadhy atau yang dikenal dengan nama Regis Machdy tertarik dengan ilmu psikologi setelah membaca sebuah novel terjemahan Sheila karya Torey Hayden kala SMP. Novel yang berjudul asli One Child itu bercerita tentang seorang anak perempuan berusia 6 tahun yang dibantu bangkit oleh seorang guru.

“Jadi kenapa saya ambil psikologi itu karena baca bukunya judulnya Sheila. Itu tentang anak kecil yang dapat perlakuan abusive terus yang kacau perilakunya terus sama psikolog ditolong dan dia bisa jadi anak yang better lah. Dia bisa kerja dia bisa punya penghidupan sendiri. Terus di sana saya mikir, mau ah jadi psikolog,” terang Regis saat ditemui tim Gramedia.com di tempat tinggalnya di Tangerang.

Setelah itu, Regis yang harus menggunakan kursi roda setelah sebuah kecelakaan berkelakar bahwa dialah si pasien yang membutuhkan jasa psikolog. Ia kemudian bercerita tentang riwayat gangguan depresi yang dialaminya. Dirinya sadar mengalami gangguan depresi pada 2014. Dalam tulisan yang ditayangkan di situs edukasi kesehatan mental kreasinya bernama Pijar Psikologi, pria berkacamata itu menyebutkan dirinya telah mengunjungi psikolog sebanyak 42 kali.


Baca juga:


Sebetulnya, Regis sudah mengalami gejala depresi sejak usia 12 tahun. Kala itu dirinya jarang merasa gembira. Namun, ia mengalami episode besarnya pada saat selesai kuliah kala dirinya mengalami quarter-life crisis yang terus berlanjut sampai empat tahun kemudian. Ia merasa kaget karena dirinya yang menimba ilmu psikologi tapi tidak tahu apa-apa tentang gejala yang dialaminya.

“Empat tahun kuliah itu belajar apa ya!? Jadi akhirnya baru mulai mendalami lagi apa itu depresi dan psikologi yang lebih klinis setelah didiagnosis—pelan-pelan,” ujar Regis sambil tertawa.

Salah satu yang dilakukan Regis adalah membuka lagi buku teks Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders yang merupakan panduan wajib bagi para mahasiswa psikologi baik jenjang S-1 maupun S-2 profesi. Ia mempelajari lagi gejala-gejala gangguan mental dan cara penyembuhannya secara lebih mendalam.

Regis Machdy cerita tentang gangguan depresi (Gramedia.com/M. Fachrio Alhadar)

Menemukan Ide Menulis di Inggris

Seiring berjalannya waktu, Regis yang merasa sudah sembuh memutuskan untuk melanjutkan studi di Inggris. Ia mengambil program Master of Global Mental Health. Namun, Regis mengalami depresi lagi di negeri orang tersebut. Ternyata dirinya hanya berpura-pura sembuh dan baik-baik saja serta baru menyadari bahwa depresi itu bisa relaps atau terulang.

“Prosesnya panjang juga. Jadi episode depresi yang kedua itu dari nol lagi. Masak sih depresi lagi? Nggak mungkin! Tapi akhirnya setelah ke psikolog, saya diberitahu bahwa saya relaps. Akhirnya, diterima lagi pelan-pelan,” terang Regis.

Saat menimba ilmu di Inggris jugalah Regis Machdy menemukan ide menulis buku yang sekarang sudah diterbitkan dengan judul Loving the Wounded Soul: Alasan dan Tujuan Depresi Hadir di Hidup Manusia. Draf buku yang terbit pada Oktober 2019 lalu dan sudah cetak ulang kedua itu sudah ada di kepalanya. Bahkan Regis sudah memikirkan setiap babnya akan menulis tentang apa.

Loving the Wounded Soul adalah karya perdana Regis Machdy yang berisi penjelasan secara komprehensif tentang depresi—mulai dari jawaban apakah depresi sebuah penyakit sampai bahasan tentang spiritualitas dan cinta kasih sebagai salah satu pencegahan gangguan depresi. Seperti yang dikutip dari Loving the Wounded Soul halaman 240 berikut:

“Depresi adalah guru spiritual terbaik dalam kehidupan saya.”

Bersambung …


Dapatkan Loving the Wounded Soul karya Regis Machdy di Gramedia.com!