5 Quotes Abadi dari Bumi Manusia untuk Pedoman Hidupmu

5 Quotes Abadi dari Bumi Manusia untuk Pedoman Hidupmu

Pembaca novel Bumi Manusia pasti ingat dengan kalimat di akhir buku yang diucap tokoh Nyai Ontosoroh pada Minke, menantunya, setelah pengadilan memutuskan Annelies diboyong ke Eropa, dipisahkan dari suaminya.

"Kita sudah melawan, Nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya." Kalimat itu begitu membekas karena novelnya berakhir tragis.

Pramoedya Ananta Toer, sangat jenius, mengakhiri buku pertama Tetralogi Buru dengan akhir begitu. Kalimat itu jadi undangan untuk membaca tiga novel lanjutannya, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca.

Selain akhir yang menohok, Bumi Manusia punya segudang kata-kata yang layak kutip. Simak, misalnya, kalimat romantis berikut yang dijamin tak kalah dari kata-kata roman di novel Dilan.

“Mas, kan kita pernah berbahagia bersama?"
"Tentu, Ann."
"Kenangkan kebahagiaan itu saja, ya Mas, jangan yang lain.”

Namun Bumi Manusia tak semata berisi kutipan romantis. Ada banyak quotes yang bisa jadi inspirasi hidup kamu. Gramedia.com pilihkan lima di antaranya. Sisanya bisa kamu baca sendiri di novelnya.

"Seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan.”

Kalimat ini sering dipendekkan ke inti kalimatnya jadi, "adil sejak dalam pikiran." Maksudnya jelas, bersikap adil sudah harus dimulai bahkan saat masih dalam benak.

Di zaman post-truth atau pasca-kesunyataan begini orang kerap menginginkan kebenaran atau mempercayai hal yang sudah diyakini sebelumnya. Itu tidak adil namanya.

“Berbahagialah dia yang makan dari keringatnya sendiri bersuka karena usahanya sendiri dan maju karena pengalamannya sendiri.”

Kalau kamu sukses karena usaha sendiri, bukan karena nepotisme atau kronisme, lalu kamu kaya bukan karena korupsi atau tidak makan harta yang bukan hakmu, maka kamu berhak bahagia.

"Memerintah pekerja pun kau tak bisa karena kau tak bisa memerintah dirimu sendiri. Memerintah diri sendiri kau tak bisa karena kau tak tahu bekerja."

Kalimat di atas diucapkan Annelies Mellema kepada kakaknya, Robert Mellema yang mau enaknya saja. Pesannya, sebelum memerintah orang, cobalah bertanggung jawab pada diri sendiri. Hal itu bisa dimulai dengan sikap profesional dan bertanggung jawab pada pekerjaan kita.

"Sekali dalam hidup orang mesti menentukan sikap. Kalau tidak, dia takkan menjadi apa-apa."

Kalimat itu disampaikan Nyai Ontosoroh kepada Minke di antara banyak wejangannya. Maksudnya, orang harus punya prinsip.

Prinsip ini harus pula teguh dipegang. Sebab, bila tak punya prinsip atau tak bisa menentukan sikap, orang tersebut akan mudah disepelekan.

"Kalian boleh maju dalam pelajaran, mungkin mencapai deretan gelar kesarjanaan apa saja, tapi tanpa mencintai sastra, kalian tinggal hanya hewan yang pandai."

Diucapkan Magda Peters, guru Minke. Pesannya begitu jelas, berotak pintar bahkan dengan gelar sarjana yang berderet tak ada artinya bila tak mencintai sastra. Memangnya apa gunanya mencintai sastra?

Sastra bukan sekadar cerita suatu hal bertokoh anu. Lebih dari itu, membaca karya sastra yang baik, semisal Bumi Manusia, adalah upaya untuk memahami kemanusiaan.

Dalam karya sastra kita berjumpa beragam tipe manusia, ada yang baik, yang jahat, serta abu-abu. Semua dengan latar belakang  dan motivasi masing-masing. Pengalaman hidup dan pengetahuan akan kemanusiaan bisa ditimba dari sastra.

Karena memahami berbagai perangai manusia setelah banyak membaca sastra, kamu berpotensi jadi orang dengan budi pekerti yang luhur.

Buku


Sumber foto header: Falcon Pictures instagram


Ade Irwansyah

Ade Irwansyah

Contributing Writer for Gramedia.com

Enter your email below to join our newsletter