Wiwid Prasetiyo
Self Love
Ambil di Toko, Bebas Biaya Pengiriman
Layanan tersedia di toko yang memiliki ikon bertanda khusus.
Deskripsi
Вagi para filsuf, pertanyaan abadi itu adalah “Siapakah aku?", “Dari mana asalku?”, dan “Apa tujuanku di dunia?" Pertanyaan-pertanyaan itu yang merangsang orang untuk berpikir, menghasilkan aneka rupa teori filsafat yang sampai sekarang belum akan berhenti membincangkannya. Akan tetapi, itu tidak berpengaruh pada jiwa, kecuali sebentuk pertanyaan ini, "Mengapa aku harus mengalami seluruh peristiwa ini?" atau "Mengapa Tuhan harus memilih aku dan bukan orang lain?"
Ada rasa ketakrelaan dan ketidakterimaan yang menyeret manusia dalam kesedihan yang panjang dan menyimpulkan bahwa takdir sungguh kejam. Itu karena ketidakberuntungan nasib atau kedudukan berada di bawah. Seakan-akan ada pengacakan semesta di dalam ketetapan-Nya dan memilih manusiamanusia ini untuk menerima keburukan, kejelekan, dan peran sebagai si miskin, si pecundang, si jahat dalam ‘permainan’ hidup di dunia.
Manusia senantiasa menginginkan jalan yang mulus, lurus, tidak ada aral melintang, tanpa menyadari dunia yang nisbi. Takdir itulah yang menjagal sifat kesementaraan dari dunia yang dipahami manusia, telah memutus kesenangannya. Manusia tak ingin takdir datang terlalu cepat. Musibah, kematian, bencana alam, peperangan, kelaparan, kekeringan yang seolah berada di luar jangkauan manusia untuk mengendalikannya yang akan kita lihat dalam bab-bab berikutnya. Sesungguhnya semua bisa dikendalikan oleh manusia lewat perencanaan dan perhitungan.
Banyak yang menyalahpahami tentang takdir, kemudian menyalahkannya tanpa pernah memahami ilmunya. Ada jenis takdir lain yang dapat diubah, bukan takdir dalam pengertian kadar/ukuran hingga durasi. Banyak yang menyerah, putus asa hingga akhirnya menyalahkan takdir dalam pengertian ini. Padahal dengan sedikit mengubah sudut pandang, takdir dalam pengertian ini bisa dimaknai secara positif.
Tahun Terbit : Cetakan Pertama, Januari 2024
Baca Selengkapnya
Detail Buku


