Jajang Jahroni
Secangkir Kopi Terakhir Ayah
Format Buku
Deskripsi
Musim panas 1991. Berbekal sebundel surat tua dan wasiat terakhir ibunya di Belanda, seorang anggota parlemen Indo-Belanda menginjakkan kaki di bumi Indonesia. Misinya hanya satu: mencari sosok ayah yang tak pernah ia kenal seumur hidupnya.
Pencarian itu membawanya ke Panebong, sebuah desa terpencil di pedalaman Banten. Di sana, nama ayahnya-Kartiwa-dikenal sebagai pahlawan lokal sekaligus pria pendiam yang menyimpan sejuta rahasia. Semakin dalam ia menggali, semakin banyak luka masa lalu yang terkuak: cinta segitiga yang mengiris hati, pengorbanan berdarah, dan satu teka-teki besar-mengapa sang pejuang memilih mengasingkan diri di gubuk tua dan menolak uang pensiunnya?
Tepat ketika kebenaran berada di ujung jari, derap langkah sepatu laras mendadak mengepung malam. Akankah secangkir kopi terakhir menyatukan kembali kerinduan dua generasi yang terpisah bangsa? Ataukah kedatangannya justru membuka kembali kotak pandora dari dendam masa lalu yang belum usai?
Keunggulan Buku:
1. Struktur Penceritaan Ganda (Dual Timeline) yang Apik
Novel ini menggunakan teknik framing narrative (alur berbingkai) dengan dua garis waktu yang saling berkelindan secara harmonis:
• Masa Modern (1991): Pencarian identitas dan akar keturunan oleh sang anak yang merupakan anggota parlemen asal Belanda.
• Masa Lalu (Era Kolonial): Rekonstruksi ingatan tentang kehidupan Kartiwa, kehangatan Desa Panebong, serta sejarah perjuangan Banten.
Penggabungan dua garis waktu ini menciptakan rasa penasaran (suspense) yang konsisten, di mana pembaca diajak menyusun puzzle kehidupan Kartiwa bersama sang anak.
2. Kekayaan Lokalitas dan Budaya Banten yang Autentik
Novel ini tidak hanya sekadar menjadi latar tempat, tetapi menjadikan budaya Banten sebagai bagian dari "jiwa" cerita. Hal ini tercermin dari Tiga Pilar Kehidupan Desa Panebong:
• Tradisi Kopi: Kopi bukan sekadar minuman, melainkan media kehangatan, pengikat silaturahmi, dan simbol penerimaan cinta.
• Seni & Tradisi Silat: Penggambaran jurus dan filosofi silat sebagai sarana pertahanan diri sekaligus simbol perlawanan rakyat terhadap ketidakadilan.
• Kehidupan Agraris: Suasana mengangon kerbau dan riuhnya panen raya (Ketam Jemari Emas) yang dilukiskan secara puitis dan hidup.
3. Konflik Asmara yang Kompleks dan Emosional
Dinamika hubungan antar tokoh disajikan secara manusiawi dan menyentuh hati:
• Cinta Segitiga & Pengorbanan: Pertautan rasa antara Kartiwa, Arbaiyah, dan Mariam.
• Kedalaman Karakter Mariam: Sosok Mariam (Si Rintik) digambarkan sangat kompleks; ia harus berjuang mengatasi rasa cemburu, keharusan mengalah sebagai kakak, serta penerimaan atas takdir lamaran Dulmukti.
4. Mitos dan Folklor Lokal sebagai Penebal Atmosfer
Penulis secara cerdas menyisipkan mitos dan cerita rakyat Banten untuk memperkuat suasana mistis dan firasat emosional tokoh-tokohnya:
• Elemen kisah pementasan Sumaringgi-Curanggana yang tragis.
• Kehadiran mitos sosok Atiyah (wanita pengeretan).
• Suara burung kedasih di malam hari yang menjadi simbol pertanda buruk atau takdir yang membayang.
5. Isu Pencarian Identitas dan Rekonsiliasi Sejarah
Novel ini menghadirkan tema universal tentang pencarian akar keturunan. Sosok sang anak yang tumbuh di Amsterdam dan menjadi pejabat Belanda melambangkan jembatan antara dua dunia (Indonesia dan Belanda). Perjalanannya menelusuri jejak sang ayah menunjukkan bahwa hubungan darah dan kasih sayang ibu mampu menembus batasan negara, sejarah kelam, dan waktu.
Tentang Penulis:
Prof. Jajang Jahroni, Ph.D
Jajang Jahroni lahir di Cikande Serang Banten pada 1967. Sejak kecil ia adalah pengunjung setia perpustakaan di sekolahnya, dan di malam hari, di rumahnya, dengan lampu teplok, ia membaca buku-buku yang dipinjamnya. Seorang ustaznya pandai bercerita tentang pahlawan-pahlawan Islam, membuat dirinya semakin tertarik dengan dunia tulis-menulis. Waktu Tsanawiyah, ia mulai membaca novel-novel angkatan Balai Pustaka. Mulai terbersit di hatinya untuk menulis novel. Namun, perjalanan hidupnya membawanya ke dunia yang berbeda.
Prestasinya di dunia akademik terbilang bagus. Setelah menyelesaikan kuliahnya di IAIN pada 1991, ia mendapat beasiswa ke Leiden Belanda pada 1994. Di sana, ia membaca karya-karya Ahmad Tohari, Pramudya Ananta Toer, Umar Khayam, Kuntowijoyo, dan YB Mangunwijaya. Di sela-sela pengerjaan disertasinya di Boston pada 2007, ia mulai membuat sketsa. Seorang temannya dengan iseng berkata. “You are not writing a dissertation; you are writing a novel.”
Kini ia mengajar di almamaternya. Di sela-sela kesibukannya, keinginan untk menulis novel tidak pernah sirna. Akhirnya sejak beberapa tahun terakhir, ia bertekad menulis novel yang sudah ada di benaknya sejak lama. Secangkir Kopi Terakhir Ayah adalah novel pertamanya. Rencananya akan ada novel kedua dan ketiga melengkapi cerita ini.
Jajang Jahroni menikah dengan Siti Rahmawati dan dikarunia tiga anak: Rifqi, Gabriel, dan Rose. Selain menulis novel, ia pun aktif menulis buku dan artikel yang terbit di berbagai jurnal. Kini ia sibuk menyiapkan novel keduanya.
Baca Selengkapnya
Detail Buku






