Sindhunata
Opo Jare Tekek

Bebas Ongkir, Rp0.
Pilih toko terdekat dan opsi pengiriman “Ambil di Toko” saat checkout.
Format Buku
Deskripsi
Memang bagi saya, ludruk bukanlah teater yang sekadar romantis atau fantastis: ludruk adalah teater yang mengolah emosi, pergulatan, penderitaan, dan perlawanan wong cilik, rakyat biasa, pada zaman dan situasinya. Terhadap lakon-lakon klasik dan baku pun, ludruk selalu bisa menyematkan tema-tema kehidupan dan perlawanan yang dialami rakyat dalam kesehariannya. Kesan tentang ludruk yang demikian itulah inspirasi yang selalu menyertai perjalanan kepenulisan saya. (“Opo Jare Tekek”, Sindhunata)
Lama bermukim di Yogyakarta tak melunturkan warna masa kecil Sindhunata di Kota Batu dan Malang yang gemar nonton ludruk. Warna ini malah semakin mengemuka dan menguat. Begitulah kita pengunjung setia Bentara Budaya Yogyakarta terbiasa dengan pengantar catatan kurasinya yang dilengkapi dengan untaian sastra jula juli. Ia menggubahnya komplet tiga bagian: pembuka, isi, dan penutup. Bait-bait yang bersuara, karena sejatinya kidungan jula juli adalah sastra lisan khas Jawa Timur.
Buku ini merekam permenungan dan kreativitas Sindhunata dalam merayakan seni ludruk. Esai-esainya yang menggambarkan apa, siapa, dan bagaimana ludruk, diperkaya dengan jula juli karangannya. Bukan cuma dinikmati orang Jawa Timur, jula juli ini sudah menasional sejak dipopulerkan dalam irama hip hop oleh JHF, Jogja Hip Hop Foundation.
Profil Penulis:
Sindhunata
Lahir pada 12 Mei 1952 di Kota Batu, Jawa Timur, saat ini sehari-hari Sindhunata berperan sebagai Pemimpin Umum Majalah Kebudayaan BASIS di Yogyakarta dan kurator senior di Bentara Budaya Yogyakarta. Kedua peran ini membuatnya selalu menulis setiap saat, entah dalam bentuk esai atau katalog pameran. Kiranya ini semata-mata kelanjutan karier yang dimulainya sejak dini sebagai wartawan muda di Majalah Teruna, Jakarta, pada tahun 1974-1977, yang kemudian dilanjutkannya dengan menjadi wartawan di Harian KOMPAS, Jakarta. Di harian ini ia dikenal sebagai penulis feature dan kolumnis sepak bola dunia, serta menulis esai kebudayaan sebagaimana renjananya yang tak pernah padam.
Kumpulan tulisannya di kolom Piala Dunia telah dibukukan menjadi trilogi bola dengan judul Air Mata Bola (2002, 2018), Bola di Balik Bulan (2002, 2018), dan Bola-Bola Nasib (2002, 2018). Sementara kumpulan feature-nya dibukukan menjadi pentalogi pada tahun 2006 dan 2007, yaitu Dari Pulau Buru ke Venezia, Segelas Beras Untuk Berdua, Ekonomi Kerbau Bingung, Petruk Jadi Guru, dan Burung-burung di Bundaran HI. Sebagai tambahan adalah kumpulan tulisannya Cikar Bobrok (1997) dan Bayang-bayang Ratu Adil (1999). Pengalamannya berkarier sebagai wartawan dia tuangkan ke dalam buku Belajar Jurnalistik dari Humanisme Harian Kompas (2019).
Baca Selengkapnya
Detail Buku