Edogawa Ranpo
Naomi
Format Buku
Deskripsi
Joji mengira ia sedang menyelamatkan Naomi dari lumpur kemiskinan. la memberinya pendidikan, pakaian indah, dan nama yang terdengar asing. Namun, di tengah gemerlap jazz dan dansa Ginza, Joji tersadar-bukan ia yang membentuk Naomi, melainkan Naomi-lah yang sedang menghancurkan setiap kepingan jiwanya.
Naomi: Cinta Seorang Bodoh adalah potret tragis tentang lelaki yang rela menjadi "bodoh" demi menjaga bayang-bayang keindahan yang fana. Sebuah karya klasik Junichiro Tanizaki yang tetap relevan, provokatif, dan menghantui hingga hari ini.
"Sebuah eksplorasi yang tajam dan tak kenal ampun mengenai obsesi seksual dan benturan budaya. Tanizaki dengan brilian menggambarkan bagaimana pemujaan terhadap modernitas bisa menjadi jerat yang menghancurkan."
-The New York Times
"Naomi bukan sekadar cerita tentang cinta yang bodoh; ia adalah potret Jepang yang sedang kehilangan jati dirinya di tengah arus Westernisasi. Tanizaki menuliskan komedi gelap ini dengan presisi yang memukau."
-Donald Keene, Pakar Sastra Jepang
Tentang Penulis:
"Jun’ichirō Tanizaki adalah seorang maestro yang menghabiskan hidupnya menelusuri labirin antara obsesi manusia dan bayang-bayang tradisi. Jika sastra Jepang awal abad ke-20 adalah sebuah panggung, maka Tanizaki adalah sutradara yang paling berani memainkan kontras antara cahaya terang modernisme Barat dan kegelapan elegan estetika Timur.
Lahir di Tokyo pada 1886, masa muda Tanizaki dipenuhi dengan pemujaan terhadap segala hal yang berbau “Barat”. Ia dikenal sebagai sosok kosmopolitan yang gemar mengeksplorasi gaya hidup modern, sebuah fase yang tercermin dalam novelnya, Naomi. Dalam periode ini, ia sering menggambarkan ketertarikan yang hampir gila terhadap kemajuan zaman dan transformasi budaya yang mendobrak nilai-nilai lama.
Namun, titik balik besar terjadi setelah Gempa Besar Kanto tahun 1923. Bencana ini seolah meruntuhkan keterpukauannya pada modernitas fisik. Ia pindah ke wilayah Kansai—Kyoto dan Osaka—di mana ia justru menemukan kembali akar budayanya yang sempat ia tinggalkan. Di sana, Tanizaki jatuh cinta lagi pada arsitektur kayu yang tua, teater tradisional, dan ritme hidup yang lebih lambat.
Perubahan ini melahirkan salah satu esai paling berpengaruh dalam sejarah estetika dunia, In Praise of Shadows. Melalui narasinya, ia berargumen bahwa keindahan Jepang yang sesungguhnya tidak terletak pada benda itu sendiri, melainkan pada pola bayangan dan kegelapan yang tercipta saat cahaya bertemu dengan benda tersebut. Baginya, kemajuan Barat yang membawa lampu listrik terlalu terang justru sering kali membunuh misteri dan kedalaman seni.
Secara naratif, karya-karya Tanizaki selalu terasa intim dan provokatif. Ia tidak takut menyelami sisi gelap psikologi manusia—tentang laki-laki yang memuja perempuan hingga ke titik perbudakan diri, atau tentang keluarga aristokrat yang berpegang teguh pada martabat di ambang keruntuhan zaman, seperti yang ia tulis dengan sangat apik dalam The Makioka Sisters.
Hingga akhir hayatnya pada tahun 1965, Tanizaki tetap menjadi sosok yang enigmatik. Ia adalah seorang tradisionalis sekaligus pemberontak; seorang penulis yang mampu membuat hal yang tabu terasa begitu puitis, dan membuat kegelapan di sudut ruangan terasa lebih indah daripada cahaya yang benderang. Melalui penanya, ia tidak sekadar bercerita, ia sedang melukis bayangan.
Baca Selengkapnya
Detail Buku




