Gramedia Logo
Product image
Product image
Product image
Product image
Product image
Product image
Product image
Product image
Product image
Product image
Henderikus Nayuf

Gereja Digital dan Kosmologi Atoni Pah Meto

free shipping icon

Ambil di Toko, Bebas Biaya Pengiriman

Layanan tersedia di toko yang memiliki ikon bertanda khusus.

Format Buku
Deskripsi
Ciri masyarakat baru yang berkontribusi dalam hubungan antarindividu di tengah penetrasi digital adalah kecenderungan pragmatis yang kemudian merelatifkan nilai-nilai tradisi, religius, maupun kultural. Ciri itu menguat ketika masyarakat dunia terpola dalam menghadapi bencana global Covid-19. Tradisi Gereja yang menempatkan nilai dogmatik—historis— konstruktif sebagai fondasi eklesia berhadapan dengan spirit digitalisasi yang menawarkan metode kerja real time yang serba-terkoneksi dan menawarkan pilihan: tergerus atau mengikuti alur globalisasi. Sementara itu, tradisi dan nilai kearifan yang menjadi falsafah hidup dan kekerabatan berada pada pilihan yang tidak mudah: memanfaatkan digitalisasi sebagai panggung ekspresi dan ekplorasi atau terekploitasi di atas podium globalisasi. Merespons tarikan-tarikan tersebut, Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) membangun jembatan konsensus agar tradisi Gereja, kearifan, dan pengetahuan yang dimiliki serta dihidupi oleh suku-suku di wilayah GMIT berdialog dan saling berinteraksi. Dalam proses itu, pertanyaan yang mengemuka adalah: ”Di mana posisi masyarakat suku Atoni Pah Meto?” Apakah masyarakat Atoni Pah Meto bertahan di tengah gempuran digitalisasi dengan keragaman varian serta kecerdasan buatan? Ataukah masyarakat suku Atoni Pah Meto menikmati tariantarian baru dalam ragam global yang perlahan menggerus identitas diri? Buku ini menawarkan gagasan Gereja digital yang melihat kosmologi masyarakat suku Atoni Pah Meto dan tradisi Gereja dalam pola relasi simetris antara individu, hubungan sosial, dan struktur masyarakat yang mengarahkan kepada harmonisasi. Pola relasi ini, menjadi fondasi refleksi untuk memahami posisi masyarakat suku Atoni Pah Meto, yang di dalamnya melekat identitas religius (GMIT) dan identitas kultural (Atoni Pah Meto). Di samping itu, pola relasi ini hendak mempertegas posisi masyarakat suku Atoni Pah Meto sebagai subjek yang kreatif, baik bagi dirinya sendiri maupun bagi pengembangan masyarakat di luar dirinya.
Detail Buku
    customer sercive