Gramedia Logo
Product image
Product image
Tyo Guritno

Becoming Powerhuman Manusia Berdaya di Era AI

free shipping icon

Ambil di Toko, Bebas Biaya Pengiriman

Layanan tersedia di toko yang memiliki ikon bertanda khusus.

Format Buku
Deskripsi
Pada awal 2000-an, dunia digital mulai tumbuh pesat, meski belum serumit sekarang. Media sosial kala itu hanya sebatas Facebook dan MySpace, istilah seperti digital detox dan mental health awareness pun hampir belum dikenal. Namun, bahkan di fase awal itu, dampak psikologis dari kehadiran teknologi sudah mulai terasa. Salah satu pengalaman yang dikisahkan dalam buku ini datang dari masa ketika penulis bekerja di Pandora, sebuah perusahaan musik digital di Oakland, California. Seorang rekan bercerita sedang mencoba “detoks media sosial”. Alasannya sederhana: setiap kali melihat unggahan orang lain—tentang pernikahan, rumah baru, atau pekerjaan idaman—muncul perasaan tertinggal dan tidak cukup. Media sosial yang seharusnya menjadi ruang interaksi justru menghadirkan perbandingan sosial yang melelahkan, menciptakan rasa kecil, kehilangan arah, bahkan hilangnya percaya diri. Dari pengalaman inilah muncul kesadaran bahwa teknologi tidak lagi sekadar alat, melainkan juga pembentuk mentalitas manusia. Seiring berjalannya waktu, kesadaran ini makin relevan. Media sosial, teknologi digital, hingga kini Artificial Intelligence (AI), membawa manfaat besar sekaligus keresahan mendalam. AI kerap dianggap sebagai mesin yang lebih cepat, lebih logis, dan lebih efisien. Kehadirannya membuat sebagian orang merasa pekerjaan mereka terancam, seakan-akan manusia akan tergantikan. Namun, buku ini menekankan bahwa yang sesungguhnya dipertaruhkan bukan hanya pekerjaan, melainkan kepercayaan diri bahkan jati diri manusia. Krisis teknologi pada akhirnya berkembang menjadi krisis eksistensi. Sejarah pemikiran manusia sudah lama menyentuh tema ini. Lao Tzu, dalam Tao Te Ching, menulis: “Knowing others is intelligence; knowing yourself is true wisdom.” Kalimat ini menjadi semakin relevan di era AI. Tantangan terbesar manusia bukan sekadar bersaing dengan mesin, melainkan menjaga keyakinan terhadap dirinya sendiri. Filsuf Prancis Bernard Stiegler juga menjadi salah satu rujukan penting. Ia menyebut bahwa teknologi bukan hanya membentuk perhatian kita, melainkan juga membentuk identitas kita. Dalam ritme hidup yang makin cepat, manusia berisiko kehilangan kepedulian terhadap dirinya sendiri: kehilangan kasih sayang, kehilangan perhatian, hingga kehilangan kemampuan untuk sungguh-sungguh merasakan hidup.
Detail Buku
    customer sercive