Lengking Burung Kasuari

entity.title.trim()
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Lengking Burung Kasuari

"Tukang potong kep sedang mencari kepala anak-anak."

Aku bergeming. Tak merasa perlu gemetar seperti ketika pertama kali mengetahui kep itu artinya apa. "Ah, yang macam beginian cuma cerita omong kosong saja," aku menyahut begitu dengan nada tak acuh.

Sendy jadi tersinggung. Ia mendelik, mengangkat kepalanya, dan memelototiku,

"Baik, kalau tidak percaya. Coba saja kalau tidak percaya. Lihat akibatnya nanti."

"Jembatannya sudah jadi. Tidak perlu lagi kepala anak-anak," aku menantangnya.

"Perlu kepala anak-anak," Sendy ngotot. "Tetap perlu."

"Mau ditanam di mana lagi?"

"Di bawah jembatan. Memang mau di mana lagi?"

"Kenapa kamu tidak takut sama dia?" tanyaku. "Kamu anak-anak juga, sama seperti aku."

"Tidak sama. Tukang potong kep suka kepala anak-anak berambut lurus."



----



Dibuka dengan ‘tukang potong kep’, kisah tentang tentara Jawa dan keluarganya yang tinggal di Papua tahun 1970 mengalir dari sudut pandang anak berusia tujuh tahun. Asih, tokoh utama dalam cerita ini, dengan berani sekaligus lugu, memotret kehidupan Jayapura, Papua di awal masa integrasi. Dibalut kisah masa kecil yang menyenangkan, permasalahan domestik hingga politik ditampilkan oleh penulis tanpa mengurangi rasa manis kehidupan anak-anak hingga akhir cerita.

  • Stok Tidak Tesedia