Valentine Tanpa Pasangan? Belajar 'Legowo' dari Wuthering Heights Tanpa Jadi Toxic!"
“Be with me always. Take any form. Drive me mad!”
Grameds, bayangkan kamu merayakan Valentine tanpa coklat dan mawar. Lalu satu pertanyaan muncul: bagaimana rasanya jadi yang tidak dipilih?
Setiap 14 Februari, dunia sepakat memainkan lagu romantis. Story Instagram pun penuh dengan caption bunga dan hati. Bahkan kisah cinta yang paling berantakan pun bisa disulap jadi konten romantis. Cinta yang menggebu-gebu disebut passionate. Cinta obsesi disebut cinta sejati. Dan suatu penolakan dianggap plot twist yang puitis.
Lalu di sudut rak sastra klasik, datanglah Wuthering Heights menatap kita dengan tatapan badai. Karya Emily Brontë atau sering yang dijuluki “Queen of Heartbreak” ini kembali lagi diadaptasikan menjadi film dengan Margot Robbie dan Jacob Elordi sebagai dua tokoh utamanya.
Dan yang paling menarik? Ini kisah tentang seseorang yang tidak dipilih. Valentine selalu merayakan yang terpilih. Jarang sekali kita mengangkat gelas dan bersulang untuk yang kalah.
Nah, sudah siapkah kamu untuk masuk menerjang badai bersama Catherine dan Heathcliff, Grameds? 🌪️
The ‘Greatest’ Love Story of All Time
Berlatar di dataran tinggi Yorkshire, Inggris, ketika angin kencang dianggap angin sepoi-sepoi, Wuthering Heights menceritakan sebuah kisah cinta tragis, destruktif, dan obsesif antara Catherine Earnshaw dan Heathcliff. Catherine adalah anak liar yang berjiwa bebas dan gampang bosan. Sedangkan Heathcliff adalah anak yatim misterius pendiam yang dibawa oleh Mr. Earnshaw, ayah Catherine. Catherine dan Heathcliff langsung klop karena mereka merasa dua jiwa yang nyasar ke dunia yang salah. Seiring dewasa, Heathcliff tumbuh menjadi brutal. Dan kebrutalan itu semakin menjadi ketika Catherine tidak memilihnya sebagai pasangan hidupnya.
Untuk kalian yang benar-benar membaca novel ini a.k.a the purist, mungkin akan berpikir ulang setelah menonton karya adaptasi garapan sutradara Emerald Fennell (‘Saltburn’ &’ Promising Young Woman’) ini. Terlepas dari berbagai mixed reviews di Rotten Tomatoes oleh kritikus film maupun audiens penonton biasa, film berdurasi 2 jam 16 menit sudah bisa kamu tonton di bioskop sejak 11 Februari 2026 dan siap memanjakan matamu dengan costume & production designer-nya yang fantastis. Begitu pula dengan tagline promo yang dipasarkan oleh “The Greatest Love Story of All Time’, bukankah kita pernah setidaknya satu kali mengalami kisah patah hati yang luar biasa dalam hidup kita? 👀
Penasaran dengan badai yang dibuat oleh Emerald Fennell? Cek di sini untuk lihat trailer-nya!
Setiap Catherine Punya Hak Memilih & Setiap Heathcliff Punya Luka
Ketika Catherine membuat keputusan untuk tidak bersama Heathcliff, ia membuat keputusan yang manusiawi. Dia memilih stabilitas dan status. Dia memilih Edgar Linton, pengusaha tekstil kaya raya dan juga sekaligus tetangga barunya. Di sisi lain, berdiri Heathcliff. Tidak dipilih karena miskin & asal usulnya tidak jelas, walaupun Catherine mencintai Heathcliff. Valentine jarang membicarakan momen itu. Kita fokus pada kisah cinta legendaris keduanya. Padahal, being the unchosen bukan plot twist langka. Itu pengalaman universal. (Bahkan Harry Potter pun ingin menukar takdirnya untuk bisa mendapatkan ordinariness tersebut).
Lalu kamu seakan diajak untuk alergi pada kenyataan bahwa beberapa cinta memang tidak rampung dengan pita merah yang menghiasinya. Kenapa kita begitu terobsesi pada yang menang? Kenapa kita jarang membicarakan harga diri yang ‘tidak dipilih’? Tidak dipilih bukan berarti tidak layak. Tidak dipilih bukan berarti gagal.
Mari kita jujur. Heathcliff bukan sekadar pria patah hati. Ia tidak hanya berkata, “Aku tidak dipilih.” tapi juga, “Karena aku tidak dipilih, dunia harus merasakannya.” Ironisnya, kita sering meromantisasi rasa sakit seperti Heathcliff ini. Dan energi itu bukan energi yang kita butuhkan di tahun 2026 ini. Kita hanya butuh cukup keberanian untuk berkata, “Ya aku tidak dipillih. Belum. Dan aku akan tetap utuh.
Kamu pasti juga suka: People We Meet on Vacation: Mengapa Kita Menemukan Diri yang Paling Jujur Saat Liburan?
Merayakan yang Tidak Terpilih
Ada sesuatu yang sangat manusiawi dalam rasa yang tidak dipilih. Hal itu menyentuh ego, harga diri, bahkan konsep diri kita. Kadang yang menyakitkan bukan kehilangan orangnya, tapi kehilangan kemungkinan. Dan ini menakutkan. Akan tetapi, kamu bisa membaca rekomendasi buku-buku ini supaya tahu kalau bukan hanya kamu seorang yang mengalami hal ini ☺️
1. The Seven Husbands of Evelyn Hugo – Taylor Jenkins Reid
Pada usianya di 79 tahun, Evelyn Hugo, seorang ikon Hollywood fiktif, yang mengungkapkan kisah hidupnya dan tujuh pernikahannya yang penuh glamor dan skandal kepada newbie reporter, Monique Grant.
Novel ini bukan sekadar romansa, tapi eksplorasi hidup, skenario tersembunyi dari sebuah hubungan dan bagaimana satu keputusan bisa membentuk seluruh narasi hidup seseorang. Cocok untuk kamu yang merasa “Siapa yang dipilih bukan akhirnya. Pilihan itu sendiri yang jadi cerita.”
2. The Night Circus – Erin Morgenstern
The Night Circus mengisahkan persaingan sihir antara dua pesulap muda, Celia Bowen dan Marco Alisdair yang dipaksa bertarung di Sirkus Mimpi. Tanpa menyadari bahwa duel ini bisa mematikan, keduanya saling jatuh cinta dan mempertaruhkan nyawa mereka dari nasib sirkus yang hanya buka saat senja, dan tutup saat fajar.
Novel ini mengeksplorasi tentang dua orang yang ditakdirkan bersama, tapi cinta mereka bukan pilihan mudah. The Night Circus penuh metafora, estetika, dan pilihan hidup yang tidak pernah sederhana. Cocok untuk kamu yang suka vibes elegan, sedikit magis, dan suka membaca tentang pilihan yang tidak pernah mudah.
3. The Song of Achilles – Madeline Miller
Cerita bermula ketika Patroclus, seorang pangeran muda yang canggung dan diasingkan, bertemu Achilles, putra dewi laut Thetis. Keduanya tumbuh menjadi pemuda yang cakap dalam seni perang dan pengobatan. Dan semakin tidak terpisahkan walaupun ibu Achilles tidak suka dengan Patroclus.
Diambil dan diceritakan ulang dari mitologi Yunani, kisah The Song of Achilles adalah kisah cinta yang tidak sempurna, penuh konflik dan pilihan sulit dan tidak dipilih menjadi tema besar dalam kisah ini. Cocok untuk kamu yang merasa “cinta yang membentukmu bukan selalu yang memelukmu di akhir, tapi yang meninggalkan bekas.”
4. Saman – Ayu Utami
Yasmin, Laila, Cok, dan Shakuntala adalah empat wanita yang sudah bersahabat lama. Mereka memiliki permasalahan masing-masing. Laila terjebak dalam hubungan terlarang karena mencintai suami orang. Yasmin tidak dapat melupakan masa lalunya dan tega berselingkuh dari suaminya. Shakuntala memiliki masalah dengan keluarganya, karena ia pemberontak. Sedangkan Cok adalah wanita yang senang berkencan dengan banyak laki-laki. Masalah muncul ketika mereka kembali lagi bertemu dengan Saman, senior di SMA mereka.
Novel ini orientasinya lebih politis, kompleks dan mengusung kesetaraan gender. Tapi salah satu temanya adalah keinginan yang tidak terpenuhi dan kekuatan memori emosional. Cocok untuk kamu yang suka konflik batin yang dalam dan perspektif cinta yang lebih besar dari sekadar hubungan dua orang.
Jadi, Kalau Tahun ini Kamu Tidak Dipilih?
Selamat datang di klub manusia biasa. Kamu tidak gagal dalam narasi romantis. Kamu sedang menjalani bagian hidup yang juga penting. Karena pada akhirnya, Valentine bukan hanya tentang siapa yang menggenggam tanganmu. Kadang tentang bagaimana kamu tetap berdiri tegak, bahkan sangat tanganmu kosong. Dan hal itu sangat pas karena… buku diskon Wuthering Heights masih bisa menjadi alasan agar tanganmu ada yang “genggam” 😝
Yuk, cek promonya di Gramedia.com untuk penawaran diskon menarik lainnya sebelum kehabisan! 🎉🔥
Beli di Sini!
Beli di Sini!
Beli di Sini!
Beli di Sini!
Beli di Sini!
Temukan Semua Promo Spesial di Sini!