Pernah Jadi Pelaku atau Korban? Alasan 'The Shape of Voice' Adalah Cermin Paling Jujur Tentang Penyesalan

Masa sekolah sering diingat sebagai masa yang menyenangkan. Namun, bagi sebagian orang, periode itu justru meninggalkan luka yang sulit hilang. 🎒😥

The Shape of Voice atau yang dalam bahasa Jepang dikenal dengan Koe No Katachi menghadirkan potret tersebut secara lugas, tanpa dramatisasi yang terlalu berlebihan. Ceritanya bergerak pelan, dengan fokus yang menyorot pada dampak tindakan kecil yang ternyata membawa konsekuensi jangka panjang.

Melalui kisah Shoya Ishida dan Shoko Nishimiya, pembaca diajak melihat bagaimana perundungan, rasa bersalah, dan usaha untuk berubah memiliki kaitan erat. Manga ini tidak menawarkan jawaban instan, tetapi menunjukkan proses yang realistis dan manusiawi.

Kamu penasaran untuk mengetahui kisahnya lebih dalam, Grameds? Mari kita bahas sama-sama dalam artikel ini! 🌸


Saat Hening Menjadi Bahasa

“Senang bertemu dengan kalian. Aku Nishimiya Shoko. Aku akan menggunakan buku ini untuk berkomunikasi dengan kalian semua. Aku tuli.”

Begitulah baris kata-kata yang tercatat pada lembaran kertas milik Shoko, seorang murid baru yang kehadirannya langsung mengusik keseimbangan kelas. Hening yang menyertainya terasa canggung, membuat banyak orang bingung harus bersikap seperti apa.

Lingkungan sekolah yang gemar bercanda kasar dan menguji batas perlahan berubah menjadi ruang yang tak ramah. Perbedaan Shoko memancing rasa ingin tahu yang keliru, lalu berkembang menjadi tindakan yang berlebihan. Perundungan yang ia alami, beberapa kali membuatnya kehilangan alat bantu dengar yang ia gunakan. Di tengah semua itu, Shoya Ishida menjadi sosok yang paling menonjol, ikut menyeret arus hingga semuanya melampaui batas.

Ketika Shoko akhirnya pergi, cerita tak berhenti. Justru dari sanalah perubahan besar dimulai. Shoya harus menghadapi konsekuensi dari perbuatannya, merasakan posisi yang dulu ia abaikan, dan hidup dengan rasa bersalah yang terus membayangi hari-harinya.


Luka yang Berbalik Arah

Telusuri Kisahnya Di Sini!

Waktu berlalu, tapi luka tak serta-merta menghilang. Shoya tumbuh menjadi remaja yang menarik diri, canggung menghadapi orang lain, dan terjebak dalam penyesalan. Dunia yang dulu terasa penuh tawa kini menjadi tempat yang sunyi, seolah menuntutnya untuk memahami apa yang pernah ia lakukan.

Pertemuan kembali dengan Shoko menjadi titik krusial. Bukan sebagai penghapus masa lalu, tapi sebagai awal dari upaya memahami dan memaafkan. Proses ini jauh dari mudah, dipenuhi kesalahpahaman, rasa takut, dan langkah-langkah kecil yang sering terasa berat.

Di sinilah The Shape of Voice menunjukkan kekuatannya. Cerita ini menegaskan bahwa mendengarkan tidak selalu tentang apa yang meresap ke dalam telinga, melainkan tentang kehadiran, empati, dan keberanian untuk mengakui kesalahan.


Baca juga: Lelah Berpura-pura? In the Clear Moonlit Dusk: Sebuah Pelarian Bagi Kamu yang Lelah Diberi Label


Dari Halaman ke Ranah Perfilman

Kisah yang kuat ini mendapat sambutan luas sejak pertama kali terbit sebagai manga karya Yoshitoki Oima. Dengan total tujuh volume, ceritanya berkembang konsisten dan penuh emosional, membuat banyak pembaca merasa tersentuh akan konflik yang dihadirkan.

Adaptasi film animasi yang rilis pada 2016 semakin memperluas jangkauan ceritanya. Visual yang lembut dan penggarapan emosi yang matang membuat kisah Shoya dan Shoko terasa semakin hidup. Tak heran jika karya ini meraih berbagai penghargaan bergengsi dan pujian dari berbagai kalangan.

Pengakuan tersebut menegaskan posisi The Shape of Voice sebagai cerita remaja yang berani menyentuh isu sensitif dengan cara yang penuh empati. Kamu bisa melihat cuplikan trailernya di sini:

Selain itu, sebagai manga, karya ini juga turut memenangkan 19th Tezuka Osamu Cultural Award New Artist Prize di 2015 dan Ogaki City Cultural Alliance Award (Lifestyle Culture Division).


Kalau The Shape of Voice Udah Tamat, Baca Ini Juga!

Kisah Shoya dan Shoko merupakan kisah yang memiliki potensi besar untuk meninggalkan bekas di hati kamu, kalau memang benar kejadiannya demikian, Gramin punya beberapa judul lain yang menawarkan getaran emosi serupa.

Cerita-cerita ini sama-sama berbicara tentang penyesalan, hubungan antarmanusia, dan upaya memahami diri sendiri. Cek di bawah ini, yuk!

1. Orange 01 – Ichigo Takano

Telusuri Kisahnya Di Sini!

Di sebuah musim semi yang tampak biasa, Naho Takamiya menerima surat aneh yang mengaku berasal dari dirinya sendiri, sepuluh tahun di masa depan. Surat itu berisi permintaan agar Naho tak mengulangi penyesalan yang sama. Surat itu perlahan menuntun Naho untuk lebih peka pada sekitar, terutama pada kehadiran Kakeru, siswa pindahan yang senyumnya menyimpan kesedihan yang tak semua orang bisa lihat.

Seiring waktu berjalan, Naho dihadapkan pada pilihan-pilihan kecil yang menyimpan dampak besar. Orange merangkai kisah tentang kesempatan kedua, kepedihan yang datang tanpa suara, dan usaha tulus untuk menyelamatkan seseorang sebelum semuanya terlambat.


2. Aku No Hana – Shuzo Oshimi

Telusuri Kisahnya Di Sini!

Takao Kasuga adalah remaja penyendiri yang mengagungkan sastra dan kata-kata indah, sampai satu keputusan impulsif menyeretnya ke jurang yang gelap. Saat ia mencuri seragam olahraga milik gadis yang disukainya, Takao tak menyangka perbuatannya dipergoki oleh Sawa Nakamura, sosok yang dianggap aneh dan dijauhi di sekolah. Dari situlah, ia terseret pada sebuah perjanjian yang mencekiknya.

Aku no Hana membawa pembaca menyelami sisi manusia yang paling tidak nyaman untuk diakui, melalui dorongan terlarang, rasa bersalah, dan kebencian pada diri sendiri. Ceritanya intens, kadang bikin risih, tapi justru jujur dalam menggambarkan kekacauan emosi remaja yang kehilangan arah.


3. Komi Sulit Berkomunikasi 02 – Tomohito Oda

Telusuri Kisahnya Di Sini!

Di balik paras cantik dan aura primadona sekolah, Komi Shouko menyimpan masalah besar lantaran mengalami kendala saat berkomunikasi dengan orang lain. Kata-kata sering terjebak di tenggorokannya, membuat interaksi sederhana terasa seperti rintangan besar. Untungnya, Tadano Hitohito—teman sebangkunya yang peka—menyadari hal itu dan memilih untuk menemani Komi pelan-pelan membuka dunianya.

Kisah ini memperlihatkan langkah kecil Komi dalam membangun pertemanan, lengkap dengan karakter-karakter unik yang bikin cerita terasa hidup dan hangat. Di balik komedinya, Komi Sulit Berkomunikasi menyentuh soal rasa takut, keinginan untuk dipahami, dan arti hadir sepenuhnya untuk orang lain.


4. You are a Four Leaf Clover 01 – Koushi

Telusuri Kisahnya Di Sini!

Hidup Uichi berubah drastis dari siswa populer menjadi sasaran perlakuan kejam yang seolah tak berujung. Hari-harinya dipenuhi kesepian dan keputusasaan, sampai sebuah wajah dari masa kecil kembali muncul. Yotsuha, cinta pertamanya semasa SD, hadir sebagai siswi pindahan yang sama cerianya seperti dulu dan memilih tetap berada di sisi Uichi saat dunia menjauh darinya.

Kehadiran Yotsuha terasa seperti harapan yang nyaris padam kembali menyala. You Are a Four Leaf Clover mengisahkan tentang keteguhan hati, trauma yang membekas, dan satu orang yang mampu menjadi alasan untuk bertahan. Ceritanya lembut tapi menyimpan kekuatan emosional yang pelan-pelan meresap.


5. The Fragrant Flower Blooms with Dignity-Kaoru & Rin 01 – Saka Mikami

Telusuri Kisahnya Di Sini!

Dua sekolah yang bertetangga tapi saling membenci menjadi latar pertemuan tak terduga antara Rintaro Tsumugi dan Kaoruko Waguri. Rintaro, murid SMA Chidori yang dicap berandalan karena wajahnya yang sangar, bertemu Kaoruko, siswi Kikyo yang anggun, di toko kue keluarganya. Dari obrolan dan banyaknya waktu yang mereka habiskan, tumbuhlah rasa nyaman.

Namun, perbedaan latar dan stigma antar sekolah menjadi tembok yang membuat Rintaro ragu untuk jujur tentang dirinya. Komik ini menyuguhkan romansa yang tenang dan penuh kesopanan, tentang belajar menerima diri sendiri dan orang lain apa adanya. Manis tanpa berlebihan, kisahnya mengalir hangat seperti aroma kue yang baru saja diangkat dari oven.


Wal akhir,

The Shape of Voice adalah kisah tentang tumbuh dewasa, memaafkan, dan belajar mendengarkan dengan hati. Ceritanya mudah dicerna, tapi menyimpan banyak pelajaran yang relevan untuk berbagai usia. 📝🍃

Dengan penggambaran emosi yang mendalam dan realistis, kisah ini memberikan pelajaran tentang dampak perundungan, pentingnya empati, serta perjalanan menuju penerimaan diri dan orang lain. Manga ini dikenal menyentuh, humanis, dan relevan dengan isu sosial, menjadikannya bacaan yang tak hanya menarik, tetapi juga penuh makna.

Kabar baiknya, selama tanggal 5 sampai 14 Februari 2026, kamu bisa mendapatkan postcard spesial setiap pembelian komik The Shape of Voice di Gramedia.com. Momen yang pas untuk kembali menyelami ceritanya, atau membagikannya pada orang terdekat.

Dapatkan Komiknya di Sini!

Biarkan kisah ini menemani, mengingatkan bahwa di balik setiap hening yang kamu jalani, selalu ada suara yang menarik untuk dipahami. 💡😍


Baca juga: You Are a Four Leaf Clover: Ketika Cinta Pertama Kembali Bukan untuk Nostalgia, Tapi untuk Balas Dendam


✨ Oh ya, jangan lupa juga buat dapetin penawaran spesial dari Gramedia.com! Cek promonya di bawah ini agar belanja kamu jadi lebih hemat! ⤵️

Temukan Semua Promo Spesial di Sini!