The Devil Wears Prada 2: Saat Miranda Priestly Harus Bertarung untuk Tetap Berkuasa Di Dunia Fashion!
“May the bridges I burn light my way.”
Bagaimana jadinya jika orang yang dulu bekerja di bawah kendalimu kini justru menjadi ancaman terbesar bagi posisimu?
Di dunia fashion, segalanya bisa berubah dalam sekejap. Tren berganti, wajah baru bermunculan, dan nama besar yang dulu tampak tak tergoyahkan perlahan bisa kehilangan pengaruhnya.
Kini, ancaman itu datang untuk Miranda Priestly.
Di The Devil Wears Prada 2, sosok yang dulu dikenal dingin, tajam, dan nyaris tak tersentuh kini harus menghadapi dunia mode yang tak lagi tunduk pada aturan lamanya. Lebih dari itu, ia juga harus berhadapan dengan sosok dari masa lalunya yang kini tumbuh menjadi rival kuat di industri yang pernah ia kuasai.
Dengan rivalitas yang semakin panas, perebutan pengaruh yang makin tajam, dan dunia fashion yang bergerak tanpa ampun, sekuel yang dibintangi oleh Anne Hathaway, Meryl Streep, dan Emily Blunt ini menghadirkan drama yang lebih mewah, lebih intens dan penuh taruhan besar.
Karena kali ini, yang dipertaruhkan bukan hanya reputasi, tapi relevansi.
Siap kembali ke dunia fashion yang glamor, ambisius, dan penuh perebutan kekuasan, Grameds? 👠💅
Saat Dunia Fashion Tak Lagi Tunduk Pada Miranda Priestly
Di sekuel terbarunya, Miranda Priestly (Meryl Streep) kembali berdiri di tengah industri fashion yang telah banyak berubah. Pengaruh yang dulu membuatnya tak tersentuh kini mulai digoyang oleh kekuatan baru, termasuk Emily Charlton (Emily Blunt), mantan asistennya yang kini menjelma menjadi sosok berpengaruh di dunia mode.
Perubahan itu membuat Miranda menghadapi pertarungan yang jauh lebih rumit dari sebelumnya. Ia bukan hanya berusaha mempertahankan posisinya, tetapi juga membuktikan bahwa namanya masih layak diperhitungkan di tengah industri yang terus bergerak cepat.
Di saat yang sama, kembalinya Andy Sachs (Anne Hathaway), sosok yang pernah mengenal kerasnya dunia di bawah kendali sang editor legendaris, membuka kembali dinamika lama yang benar-benar belum selesai. Pertemuan ini membawa Miranda pada konflik baru, ketika ambisi, perubahan, dan rivalitas lama bertabrakan dalam satu arena yang sama.
Lewat pertarungan pengaruh yang semakin tajam dan tekanan untuk tetap bertahan di puncak, The Devil Wears Prada 2 menghadirkan drama penuh ambisi dan harga yang mahal yang harus dibayar untuk tetap relevan.
Dua Dekade Berlalu, Tapi Dunia Masih Menunggu Ratu Editor Fashion Legendaris
Hampir dua dekade setelah film pertamanya menjadi ikon di dunia fashion dan pop culture, The Devil Wears Prada 2 akhirnya resmi hadir membawa kembali nama-nama yang begitu melekat di ingatan penonton.
Kembalinya karakter-karakter ikonik seperti Meryl Streep, Anne Hathaway, Emily Blunt, dan Stanley Tucci menjadi sinyal kuat bahwa sekuel ini bukan sekadar memanfaatkan nostalgia. Film ini hadir sebagai kelanjutan cerita yang membawa konflik lebih matang, dengan taruhan yang jauh lebih besar.
Antusiasme publik pun langsung terasa sejak teaser perdananya dirilis. Dalam waktu 24 jam, teaser film ini dikabarkan meraih 185 juta penayangan, membuktikan bahwa pesona dunia The Devil Wears Prada masih begitu kuat bahkan setelah hampir 20 tahun.
David Frankel sebagai sutradara dan Aline Brosh McKenna sebagai penulis naskah juga terlibat kembali dalam proyek ini. Kehadiran tim kreatif lama membuat nuansa khas film pertamanya tetap terasa, sekaligus memberi harapan bahwa sekuel ini mampu menghadirkan kualitas yang sama kuatnya.
Nggak hanya itu, Lady Gaga dan Doechii juga ikut meramaikan film ini dengan menyumbang lagu original berjudul Runway, Grameds. Hal ini membuat film ini semakin terasa semakin immersive dengan keglamoran dari suara merdu yang kuat dari kedua penyanyi terkenal tersebut.
Namun yang membuat comeback ini terasa begitu menarik bukan hanya soal siapa yang kembali. Jika film pertama berbicara tentang kerasnya dunia fashion dari sudut pandang seorang pendatang baru, kini ceritanya berkembang menjadi pertarungan tentang bagaimana seorang legenda bertahan di tengah perubahan zaman.
Baca juga: Merayakan Semangat Kartini Lewat Suara Perempuan dalam Karya Laksmi Pamuntjak
Dari Mantan Asisten Menjadi Rival yang Mengancam
Salah satu konflik paling menarik dari The Devil Wears Prada 2 datang dari perubahan posisi Emily Charlton.
Jika dulu Emily Charlton dikenal sebagai asisten ambisius yang bekerja di bawah tekanan Miranda Priesty, kini ia hadir sebagai figur berpengaruh dengan kekuatan besar di industri fashion. Perubahan ini menggeser dinamika hubungan mereka secara drastis, dari atasan dan bawahan menjadi dua sosok yang saling bersaing dalam perebutan kekuasaan.
Konflik ini terasa semakin relevan karena terjadi di tengah perubahan besar dalam industri mode. Dunia fashion yang dulu bertumpu pada kejayaan media cetak kini bergerak menuju era digital yang serba cepat. Dalam situasi ini, Miranda harus menghadapi kenyataan bahwa pengaruh yang dulu begitu kuat tidak lagi otomatis menjamin dominasinya.
Di sisi lain, Emily hadir sebagai representasi generasi baru yang lebih adaptif, lebih segar, dan lebih dekat dengan arah industri saat ini. Pertarungan mereka bukan sekadar konflik personal, tapi juga benturan antara warisan lama dan kekuatan baru.
Inilah yang membuat The Devil Wears Prada 2 terasa lebih menarik. Di balik semua keglamorannya, film ini menyajikan pertarungan tentang kuasa, perubahan dan ketakutan kehilangan tempat di dunia yang terus bergerak maju.
Diproduksi oleh 20th Century Studios, film ini resmi tayang di Indonesia pada 29 April 2026 mendatang. Siapkan popcorn dan pakaian terbaikmu untuk menikmati film berdurasi dua jam ini, Grameds! 🍿👓
Nah, sambil menunggu filmnya, kamu bisa intip trailer-nya di sini!
Jajaran Pemain Hollywood A-List di The Devil Wears Prada 2
- Anne Hathaway sebagai Andy Sachs
- Meryl Streep sebagai Miranda Priestly
- Emily Blunt sebagai Emily Charlton
- Stanley Tucci sebagai Nigel Kipling
- Simone Ashley sebagai Amari
Glamor, Ambisi dan Nostalgia dengan Taruhan Lebih Besar
Ada alasan mengapa The Devil Wears Prada begitu ikonik bahkan setelah hampir dua dekade.
Film ini bukan hanya soal dunia fashion yang glamor, tapi juga tentang ambisi, tekanan, dan harga yang harus dibayar untuk tetap berada di puncak.
Di The Devil Wears Prada 2, semua pesona itu hadir kembali dengan konflik yang lebih tajam. Di balik kemewahan runway dan busana kelas atas, ada pertarungan untuk mempertahankan pengaruh di industri yang terus berubah. Miranda Priestly kini bukan hanya simbol kuasa, tetapi juga gambaran tentang bagaimana rasanya menghadapi kehilangan relevansi.
Dan disitulah daya tarik terbesarnya dan terasa lebih dari sekadar nostalgia. The Devil Wears Prada 2 menghadirkan dunia mode yang mewah, sekaligus konflik yang terasa dekat dan manusiawi.
Masih Ingin Tinggal di Dunia Glamor Penuh Drama Ini? Lima Buku Ini Wajib Masuk Daftar Bacamu!
Kalau pesona dunia fashion, ambisi, dan drama penuh tensi di The Devil Wears Prada 2 masih bikin kamu betah tenggelam di dalamnya, ada banyak cerita lain yang bisa memberi sensasi serupa lewat halaman-halaman buku.
Dari kehidupan kalangan elite yang dipenuhi intrik, karakter perempuan dengan ambisi besar, sampai kisah-kisah glamor yang menyimpan tekanan emosional di balik kemewahannya, deretan buku ini menawarkan pengalaman membaca sama memikatnya: stylish di permukaan, tapi tetap punya konflik yang bikin penasaran.
Nah, ini beberapa rekomendasi bukunya ya, Grameds!
1. Crazy Rich Asians – Kevin Kwan
Kalau yang membuatmu terpikat dari The Devil Wears Prada 2 adalah dunia glamor yang berkilau, penuh privilege, dan dipenuhi drama kelas atas, maka Crazy Rich Asians wajib ada di daftar bacamu.
Novel ini mengikuti kisah Rachel Chu, seorang profesor muda yang terkejut saat mengetahui bahwa kekasihnya, Nick Young, berasal dari keluarga super kaya di Singapura. Kunjungan yang awalnya tampak seperti liburan romantis berubah menjadi perjalanan penuh kejutan ketika Rachel harus masuk ke dunia elite yang dipenuhi kemewahan, gengsi, dan intrik sosial.
Kenapa relate? Seperti di The Devil Wears Prada 2, buku ini menghadirkan dunia yang tampak mewah di luar, tetapi penuh tekanan dan permainan status di dalamnya. Cocok untuk kamu yang menyukai drama sosial berbalut kemewahan dan karakter-karakter yang harus bertahan di tengah lingkungan glamor yang kompetitif.
2. Confession of a Shopaholic – Sophie Kinsella
Kalau kamu menikmati sisi fashion-forward dan gaya hidup stylish dari The Devil Wears Prada 2, novel ini menawarkan nuansa serupa dengan sentuhan humor yang ringan dan menghibur.
Cerita ini berpusat pada Rebecca Bloomwood, seorang jurnalis finansial yang justru punya kebiasaan belanja di luar kendali. Di balik kehidupannya yang tampak fashionable, Rebecca harus menghadapi tekanan finansial, kekacauan hidup, dan usaha mempertahankan citra diri.
Kenapa relate? Meski dibalut dengan komedi romantis yang ringan, novel ini tetap berbicara tentang tekanan sosial dan kebutuhan untuk terlihat “sempurna”, tema yang juga terasa kuat dalam dunia The Devil Wears Prada. Cocok untuk kamu yang menyukai kisah glamor yang fun, ringan, tetapi tetap dekat dengan realitas.
3. Great Big Beautiful Life – Emily Henry
Buat kamu yang suka drama emosional di balik kehidupan yang tampak indah, Great Big Beautiful Life menghadirkan kisah yang hangat sekaligus menyentuh.
Novel ini mengikuti perjalanan dua karakter yang sama-sama mencoba menemukan makna hidup di tengah ambisi, harapan, dan luka yang mereka bawa. Dengan gaya khas Emily Henry yang emosional dan tajam, cerita ini memperlihatkan bahwa di balik kehidupan yang terlihat sempurna, selalu ada pergulatan personal yang tak sederhana.
Kenapa relate? Karena tidak hanya bicara soal glamor dan ambisi, tetapi juga soal harga emosional yang harus dibayar untuk mempertahankan posisi. Cocok untuk kamu yang suka cerita emosional dengan lapisan reflektif.
4. Lucie Yi Is Not a Romantic – Lauren Ho
Kalau kamu suka karakter perempuan cerdas, ambisius, dan berusaha bertahan di tengah tekanan sosial, Lucie Yi Is Not a Romantic bisa jadi bacaan yang pas.
Kisah ini mengikuti Lucie Yi, perempuan sukses yang percaya bahwa cinta bukan prioritas dalam hidupnya. Namun ketika ekspektasi keluarga, tekanan sosial, dan dinamika relasi mulai mengganggu ritme hidupnya, Lucie harus menghadapi kenyataan bahwa hidup tidak selalu bisa dikendalikan sesuai rencana.
Kenapa relate? Novel ini menampilkan perempuan modern yang harus menavigasi ambisi, ekspektasi sosial, dan tekanan emosional. Cocok untuk kamu yang suka drama karakter dengan sentuhan modern, tajam, dan relatable.
5. Rich People Problems – Kevin Kwan
Kalau kamu belum puas dengan dunia elite penuh drama ala Crazy Rich Asians, Rich People Problems membawa kamu lebih jauh masuk ke dalam kehidupan keluarga kaya raya yang penuh konflik.
Ketika keluarga Young berkumpul karena kondisi kesehatan sang kepala keluarga, berbagai rahasia, ambisi, dan perebutan kepentingan mulai bermunculan. Di balik kemewahan yang luar biasa, ada persaingan sengit dan drama keluarga yang tak kalah intens.
Kenapa relate? Novel ini memperlihatkan bahwa kemewahan tidak pernah lepas dari ambisi dan pertarungan kuasa. Cocok untuk kamu yang suka kisah glamor dengan intrik tajam dan drama berkelas.
Siap Masuk ke Dunia Glamor yang Penuh Drama?
Kalau dunia penuh glamor, ambisi, dan drama penuh tensi seperti The Devil Wears Prada 2 selalu berhasil bikin kamu penasaran, deretan buku ini siap membawamu masuk lebih jauh ke cerita-cerita yang sama memikatnya.
Dari persaingan sosial kelas atas, ambisi yang dibalut kemewahan, sampai drama kehidupan yang terasa begitu dekat, semuanya menawarkan pesona yang sulit dilewatkan.
Jadi, kalau kamu belum siap keluar dari dunia yang stylish, tajam, dan penuh intrik ini, sekarang saatnya menemukan bacaan berikutnya dan lanjutkan pengalaman glamormu hanya di Gramedia.com! ✨📚
Baca Kisah Seru Lainnya di Sini!
✨Jangan lupa juga untuk cek promo spesial lainnya di Gramedia.com supaya belanjamu makin hemat dan bermakna! ⤵
Temukan Bukunya di Sini!
Temukan Bukunya di Sini!
Temukan Bukunya di Sini!
Temukan Bukunya di Sini!
Temukan Bukunya di Sini!
Temukan Semua Promo Spesial di Sini!