Tayang di Busan, Film Tak Ada yang Gila di Kota Ini Buat Penasaran Penonton

Tayang di Busan, Film Tak Ada yang Gila di Kota Ini Buat Penasaran Penonton

. 3 min read

Masa liburan telah tiba. Tiga orang pria menjalankan kembali rutinitas tahunannya: mengangkuti semua Orang dengan Gangguan Jiwa yang masih berkeliaran di jalan-jalan kota, kemudian membuangnya ke hutan. Orang-orang itu harus disingkirkan agar para turis di kota tidak merasa terganggu. Namun, Marwan (diperankan Oka Antara), salah seorang dari tiga pria itu, punya rencana rahasia.

Kisah film pendek Tak Ada yang Gila di Kota Ini karya sutradara Wregas Bhanuteja membuat penasaran penonton saat diputar pertama kali (world premiere) di Busan International Film Festival (BIFF) ke-24, Korea Selatan, pada Senin malam, 7 Oktober 2019. Ketika sesi tanya-jawab, seorang penonton asal Korea Selatan ada yang menanyakan lebih dalam perihal visi Wregas terhadap cerita film pendek ini.

Film
Sekar Sari (kiri), Wregas Bhanuteja (tengah), dan Oka Antara (kanan) pada acara pemutaran perdana atau world premiere film Tak Ada yang Gila di Kota Ini di BIFF. (Foto: BIFF)

"Sebenarnya film ini adalah sebuah respon dari cerita pendek karya penulis ternama Indonesia, Eka Kurniawan. Dia menulis cerita berdasarkan fenomena yang terjadi di Jawa Timur di mana sejumlah Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) yang masih berkeliaran di jalan raya ditangkapi, lalu dibuang di hutan," jelas Wregas selepas pemutaran Tak Ada yang Gila di Kota Ini di Lotte Cinema Centum City.

Film pendek produksi Rekata Studio ini sendiri memang merupakan adaptasi resmi dari cerpen karya Eka Kurniawan (Cantik Itu Luka, Lelaki Harimau, O, dan Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas). Cerpen ini sudah diterbitkan Gramedia Pustaka Utama dalam buku Cinta Tak Ada Mati pada 2018.

Melalui film Tak Ada yang Gila di Kota Ini, Wregas berupaya memperlihatkan proses hasrat manusia bekerja dan mendorong terjadinya kontrol serta perolehan kekuasaan yang lebih besar lagi. Semua ini berdampak pada kehidupan kelompok orang-orang marjinal. "Orang-orang Dengan Gangguan Jiwa dalam film ini merupakan metafora dari kelompok orang-orang marjinal tersebut," lanjut Wregas.

Film
Acara pembukaan Busan International Film Festival ke-24 pada 3 Oktober 2019 di Busan Cinema Center. (Foto: BIFF)

Dalam world premiere di BIFF ke-24 tersebut, lebih dari 150 penonton memadati studio Lotte Cinema Centum City. Bukan cuma Wregas, dua aktor Tak Ada yang Gila di Kota Ini, yakni Oka Antara dan Sekar Sari, serta produser Adi Ekatama dan penulis skenario Henricus Pria juga hadir dalam sesi pemutaran itu.

Sesi tersebut juga memutar empat film lain yang sama-sama masuk dalam program Wide Angle: Asian Short Film Competition, yaitu Reprise (Taiwan/Singapura), Dragon's Tail (Iran), In This Land We're Briefly Ghosts (Taiwan/Myanmar), dan Sweet, Salty (Vietnam). Sedangkan lima film pendek dari program Wide Angle lainnya diputar di bioskop Megabox Haeundae. Lima film tersebut, yaitu Birdland (Jepang), Shooting Ms Rena's Film! (Azerbaijan), Maulen (Kazakhstan), Basurero (Filipina), dan Kalam (Nepal).

Setelah world premiere, para penonton juga kembali memadati dua pemutaran berikutnya film Tak Ada yang Gila di Kota Ini di BIFF, yakni pada Selasa (8 Oktober 2019) di CGV Centum City, Busan, dan Kamis (10 Oktober 2019) di Megabox Haeundae, Busan.

Film
Sutradara Wregas Bhanuteja (tengah) dan produser Adi Ekatama (kanan) saat red carpet Busan International Film Festival ke-24. (Foto: BIFF)

Selama penyelenggaraannya pada 3-12 Oktober 2019, tercatat total ada 189.116 pengunjung yang menghadiri BIFF ke-24. Jumlah film yang diputar sebanyak 299 judul dari 85 negara di 37 layar bioskop di Kota Busan, Korea Selatan. BIFF kali ini juga melangsungkan 118 pemutaran perdana (world premiere).

Pada hari terakhir festival sekaligus acara penutupan pada Sabtu malam, 12 Oktober 2019 di Busan Cinema Center, BIFF pun mengumumkan para pemenang program kompetisinya. Pada program Wide Angle: Asian Short Film Competition, film Dragon's Tail karya Saeed Keshavarz dari Iran dinobarkan jadi pemenang dan membawa pulang Sonje Award.


Gambar foto header: Rekata Studio