Sempat Tertunda, Ubud Writers & Readers Festival 2021 Kembali Digelar

Sempat Tertunda, Ubud Writers & Readers Festival 2021 Kembali Digelar

. 7 min read

Karena virus Covid-19 yang menerjang, Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) sempat ditunda. Dan tahun lalu dikemas baru dalam bentuk acara virtual, maupun langsung secara terbatas pada KEMBALI 2020-Rebuild Bali Festival.

Dan untuk tahun 2021, festival internasional ini akhirnya kembali hadir, dan berlangsung pada 8-17 Oktober 2021, secara langsung di Ubud, Bali dan juga Perth. Hal ini berkat kolaborasi bersama Writing Western Australia. Tahun ini UWRF sudah terlaksana yang ke-18 kalinya. Dan tentunya, acara ini akan tetap mengikuti protokol kesehatan yang ketat sesuai anjuran pemerintah.

Sebagai acara tahunan yang bergengsi bagi pegiat sastra, UWRF kembali menghadirkan ratusan penulis, jurnalis, akademisi, seniman, dan aktivis terkenal dari seluruh dunia. Total ada 130 pembicara yang hadir langsung di Ubud, maupun hadir secara online.

Sebagai festival sastra terbesar di Asia Tenggara, UWRF juga akan dihibur oleh pementas dari penjuru dunia. Dalam 10 hari, UWRF akan berisi mulai dari sesi diskusi, workshop, peluncuran buku, pemutaran film, pertunjukan musik dan seni, jamuan makan, seminar literatur, dan banyak kegiatan budaya lainnya.

Bertemakan ‘Mulat Sarira’

Tema festival pada tahun ini diambil dari filosofi Hindu-Bali yang berarti self-reflection atau refleksi diri. Bersama para pembicara, festival ini akan mengeskplorasi refleksi diri, intropeksi budaya, dan menilik siapa diri kita, apa yang menyatukan dan memisahkan kita, serta apa yang mendorong setiap tindakan kita.

Prinsip spiritual dari ‘Mulat Sarira’ adalah tentang menimbang perbuatan, pikiran, dan nilai seseorang untuk membangun rasa pemahaman diri demi meraih Dharma atau kebenaran.

Tema ini diambil karena bersinggungan dengan pandemi yang menyerang secara global, dan memaksa orang-orang untuk merenung atau berpikir lebih dalam terhadap diri sendiri maupun lingkungan sekitar, serta hidup dalam new normal. Dengan begitu, UWRF pada tahun ini mengajak kita semua untuk bisa membangun pemahaman pada diri sendiri.

“Tema ini mengundang diskusi yang menarik dari para tokoh sastra, penulis baru, aktivis, akademisi dan jurnalis, untuk membahas pentingnya refleksi diri dan bagaimana kekuatan bercerita dapat menghubungkan kita dalam lintas budaya.” -Janet DeNeefe, Pendiri dan Direktur UWRF

Program Acara yang Akan Dilaksanakan

Seperti tahun-tahun sebelumnya, UWRF kembali mendatangkan pembicara dari Indonesia maupun mancanegara, yang akan membahas sekaligus menggali tema dari berbagai sudut pandang.

Kegiatan dalam UWRF tahun ini ada main program yang bisa kamu ikuti hanya dengan satu kali tiket saja. Dengan tiket seharga Rp 299.000, kamu sudah bisa mengakses seluruh main program.

Lalu ada workshop yang bisa kamu ikuti, seperti menulis, membaca puisi, fotografi dan kegiatan seni lainnya. Workshop akan dilaksanakan secara online dan offline dengan harga tiket yang beragam.

Ada juga program lainnya yang bisa kamu akses secara gratis! Dari festival club, peluncuran buku, pemutaran film, musik dan seni, yang bisa kamu akses secara online melalui streaming di Instagram, Facebook, maupun saluran YouTube UWRF.

Pada tahun ini, UWRF kembali menghadirkan penulis pemula yang terpilih dari Seleksi Penulis Emerging Indonesia. Program ini untuk mengenalkan penulis berbakat di seluruh Indonesia ke kancah dunia, sekaligus diberikan pelatihan khusus agar menjadi penulis internasional. Ada 10 pemenang dari berbagai wilayah baik sebagai penyair, cerpenis, esais, penulis naskah drama, dan novelis.

Untuk detail acara lebih lengkap, kamu bisa cek di laman www.ubudwritersfestival.com/program. Kamu juga bisa langsung membeli tiketnya di laman tersebut.

Pembicara UWRF 2021 yang Menarik

Lalu, ada pembicara siapa aja sih? Ada banyak sekali! Semuanya akan membagikan dan mengajakmu berdiskusi. Kita coba cek untuk beberapa pengisi acara utamanya, yuk!

1. Amitav Ghoshs

Ia adalah pemenang penghargaan Jnapith ke-54, penerima penghormatan sastra tertinggi India. Dalam main program berjudul ‘The Nutmeg’s Curse’, ia akan berbagi cerita tentang kolonialisme Barat dan ekploitasi kekerasan di Kepulauan Banda, Maluku, yang menjadi awal dinamika perubahan iklim saat ini.

Hilmar Farid, Direktur Jenderal Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, akan bergabung bersama untuk membahas peran rempah-rempah dalam pembangunan suatu bangsa.

2. André Aciman

Yap, penulis kenamaan dari buku Call Me by Your Name yang juga sudah diangkat menjadi film, akan hadir untuk membicarakan buku terbarunya, Homo Irrealis. Buku itu mendalami tentang arti waktu bagi seniman yang tidak dapat memahami kehidupan di masa sekarang, dan bagaiman kekuatan imajinasi.

3. Kim Hyesoon

Ia adalah penyair kontemporer paling berpengaruh dari Korea Selatan. Ia akan membicarakan tentang bagaimana dia menyuarakan kematian, dan trauma melalui puisinya di Autobiography of Death.

4. Agustinus Wibowo

Dalam sesi ‘Roads Less Travelled, Travel Writing in the Time of COVID-19’, Agustinus akan membahas bagaimana perjalanan masih bisa menjadi sumber inspirasi kreatif. Ia juga akan membahas bagaimana menghadapi tantangan akan pandemi bersama travel writer asal Australia, yaitu David Allan-Petale.

Mau coba baca buku-buku Agustinus yang dikenal dengan ceritanya berwisata ke daerah-daerah penuh konflik seperti Afghanistan dan lainnya? Coba baca buku-bukunya di sini!

agustinusKenali Penulisnya dan Baca Bukunya di Sini!

5. Ayu Utami

Penulis terkenal ini bersama pemenang Fogarty Award, Rebecca Higgie, dan Krishna Sen, akan mengeksplorasi penggunaan karakter mitos dan realisme magis dalam sastra Australia dan Indonesia. Serta bagaimana hal tersebut dapat mengungkap dan menyelidiki sejarah pribadi maupun nasional.

Ingin pandai menulis seperti Ayu Utami? Kamu bisa baca bukunya yang menjadi buku latihan Menulis Kreatif dan Berpikir Filosofis.

menulisBelajar Menulis Dari Sini!

6. Desi Anwar

Sebagai jurnalis senior Indonesia, ia akan berbagi perjalanan refleksi diri yang mencerahkan bersama jurnalis dan penyiar dari Australia yaitu, Julia Bard serta Gillian O’Shaughnessy, dalam acara yang berjudul ‘Media and Memoir’.

Desi Anwar kerap menulis buku-buku pengembangan diri, yang juga berdasarkan pengalaman apa yang ia rasakan sendiri. Seperti Going Offline yang mengajak kita untuk sesekali lepas dari dunia maya.

goingKenali Penulisnya dan Baca Bukunya di Sini!

Salah satu acara dalam UWRF akan membicarakan bagaimana Desi menulis tentang menemukan jalan damai dalam bukunya The Art of Solitude.

theKenali Penulisnya dan Baca Bukunya di Sini!

7. Lala Bohang dan Lara Nuberg

Dua wanita ini baru saja merilis buku tentang mereka yang mengeksplorasi kehidupan pendahulu mereka, apakah saling berkaitan atau tidak. Dalam acara ‘Bringing History to Today’, mereka akan bicara bersama Vanni Puccioni dan Raisa Kamila, membicarakan bagaimana sejarah bisa menjadi inspirasi, dan bagaimana fakta serta fiksi dapat bergabung menjadi cerita baru.

Mau tahu akan sejarah pendahulu Lala dan Lara? Apa benar mereka berdua berkaitan? Kamu bisa baca buku Perjalanan Menuju Pulang yang akan melihat sejarah sebagai kisah pribadi, dan dapat mempengaruhi semua yang dijalani saat ini.

perjalananKenali Penulisnya dan Baca Bukunya di Sini!

Vanni Puccioni juga baru merilis bukunya yang bertemakan tradisi berburu kepala di Pulau Nias, pada buku Musim Kupu-Kupu Kuning. Antropolog asal Italia ini mengksplor tentang sejarah Nias sejak tahun 1861 dalam bukunya.

musimKenali Penulisnya dan Baca Bukunya di Sini!

8. Todung Mulya Lubis

Sebagai pengacara berpengalaman, aktivis hak asasi manusia, sekaligus pendiri Project Multatuli, ia bersama Evi Mariani dan Debra Yatim akan membahas tentang nilai-nilai humanisme dan jurnalisme etis.

Project Multatuli sendiri terinspirasi dari buku Multatuli Max Havelaar untuk memperjuangkan kesetaraan, mengekspos ketidakadilan, dan suara-suara penderitaan.

Novel pertamanya yang baru dirilis adalah Menunda Kekalahan, berdasarkan pengalamannya sebagai pembela dalam kasus Bali Nine, yang dituduh menyelundupkan narkoba dan dijatuhi hukuman mati.

menundaKenali Penulisnya dan Baca Bukunya di Sini!

9. Joko Pinurbo

Sebagai penyair terkemuka di Indonesia, tentunya semua tahu dengan kehebatan dari syair-syair yang tertulis oleh Jokpin. Salah satunya Celana, buku kumpulan puisinya yang terkenal.

Dalam festival kali ini, ia akan berbicara bersama para penyair lintas generasi lainnya, tentang bagaimana puisi selalu memiliki tempat di hidup semua generasi, bersama Ni Wayan Idayati dan Gody Usnaat.

kumpuiBaca Puisinya di Sini!

10. Ray Shabir

Seorang seniman sekaligus penulis ini seringkali memperlihatkan karya-karya yang mengkespresikan realitasnya. Dalam UWRF, ia akan hadir dalam program ‘It’s Alright to not be Alright’ bersama Sebastian Partogi, tentang bagaimana mereka menulis untuk menyuarakan pentingnya menangani masalah kesehatan mental, dan menghadapi berbagai stigma negatif.

Ia juga akan meluncurkan buku terbarunya, Kink, yang berisi kumpulan puisi tentang bagaimana perasaan sakit yang selama ini ia rasakan dan pendam. Menulis puisi ini membuatnya lega, menemukan kembali dirinya, dan belajar untuk memperlakukan diri dengan baik.

bukuBaca Puisinya di Sini!

Grameds, itu hanya sedikit dari pembicara yang akan hadir dalam acara internasional bergengsi ini. Masih ada penulis keren dari Indonesia lainnya, seperti Cok Sawitri, Ziggy Zesyazeoviennazabrizkie, Rio Johan, Felix K. Nesi, Oka Rusmini, Budi Darma, dan masih banyak yang lainnya.

Nah, sebagai pendukung dari Ubud Writers and Readers Festival, Gramedia.com juga punya promo spesial loh! Semua buku dari para penulis yang hadir di UWRF 2021, diskon 30%. Lebih asyiknya lagi, ada potongan ongkos kirim Rp 8.000 dari KGX ke seluruh Indonesia dengan memasukkan kode "UWRFKGX8" saat mau checkout. Cek lebih banyak koleksinya di bawah ini ya!

promoCek Koleksi Lainnya di Sini!

UWRF menjadi festival untuk mempertemukan ratusan penulis dan seniman dari seluruh dunia. Diselenggarakan oleh Yayasan Mudra Swari Saraswati, UWRF juga mempunyai tujuan untuk mempromosikan Ubud, memamerkan penulis Indonesia, dan mengembangkan potensi muda untuk maju ke kancah internasional.

Dengan ini, semoga Bali kembali bangkit dari pandemi dan mampu mengenalkan kembali wisatawan dengan kesenian dan budaya pada Ubud, Bali.

Grameds, jangan lupa untuk luangkan waktu mengikuti perhelatan megah ini ya. Apalagi untuk kamu pegiat literasi dan mencintai sastra. Tentunya, akan ada banyak insight yang kamu dapatkan dari sini.

Lebih lengkapnya mengenai UWRF 2021 bisa kamu temui di laman www.ubudwritersfestival.com.


Sumber foto header: instagram.com/ubudwritersfest