Laksmi Pamuntjak dan Karya-karya Terpopulernya

Laksmi Pamuntjak dan Karya-karya Terpopulernya

. 3 min read

Telah menulis sejak 1996, karya dari perempuan yang memiliki nama Laksmi Pamuntjak ini bahkan sudah diakui hingga ke mancanegara.

Di tahun 2012, Laksmi terpilih untuk mewakili Indonesia dalam acara Festival Budaya atau Puisi Parnassus di London yang penyelenggaraannya bersamaan dengan Olimpiade London.

Tidak hanya itu, novel pertama Laksmi bahkan memenangi LiBeraturpreis 2016 di Jerman.

Penghargaan ini begitu bergengsi karena LiBeraturpreis merupakan penghargaan sastra Jerman yang dikhususkan bagi penulis dari Asia, Afrika, Amerika Latin, wilayah Karibia, dan dunia Arab.

Perempuan kelahiran 22 Desember 1971 ini tidak hanya menulis dalam bahasa Indonesia namun juga dalam bahasa Inggris.

Puisi, esai, dan cerita pendek dari Laksmi telah dimuat dalam pelbagai jurnal dan antologi sastra internasional, termasuk The World Record dan pengantar untuk Not a Muse: A World Poetry Anthology.

Karya Laksmi begitu bersinar dan tidak pernah berhenti menghasilkan penghargaan. Sebentar lagi, tepatnya pada Kamis, 27 September 2018, salah satu novel Laksmi akan diadaptasi dalam bentuk film.

Kira-kira film apa yang akan diangkat dari perempuan yang begitu berbakat ini?

Sebelum itu, kita simak dulu yuk buku-buku terpopuler yang lahir dari tangan seorang Laksmi Pamuntjak.

Amba

“...seorang teman suka mengatakan bahwa sejarah adalah langkah seorang raksasa yang tak punya hati.”

Kisah Amba dan Bhisma dalam Mahabharata, setelah 40 tahun berpisah akibat ditahannya Bhisma sebagai tahanan politik di Pulau Buru, bertaut dengan latar kekerasan tahun 1965.

Dengan mengangkat tema besar G30S, dan pulau Buru, Laskmi melakukan riset yang luar biasa. Tiap deskripsi situasi yang begitu berenda-renda, membuat pembacanya seolah berada di sana.

Amba merupakan kisah tragedi berlatarkan kisah cinta. Amba dan Bhisma hanyalah sebuah pengantar yang menggiring pembaca bersiap memasuki hari-hari mencekam di bulan September 1965.

Di mana hingga satu juta orang yang dituduh sebagai Komunis di Indonesia dibantai.

Dalam Amba, Laksmi mengajak kita memahami yang sebenarnya terjadi, dari sudut pandang mereka yang tidak sepenuhnya mengerti bahwa pulau Buru mungkin adalah saksi bisu mereka yang diburu.

Aruna dan Lidahnya

Dengan ‘makan’ sebagai motivasi, Aruna berangkat menyelidiki kasus flu unggas yang terjadi secara serentak di delapan kota seputar Indonesia.

Tentu sesuai motivasi, kesempatan ini ia gunakan untuk mencicipi kekayaan kuliner lokal bersama kedua karibnya.

Kendala barang tentu ada, segalanya tidak sepenuhnya mulus, fulus, cinta, dan pertemanan pun turut serta mewarnai perjalanan mereka.

Diadaptasi dari novel seorang Laksmi tahun 2014 , kisah mengharukan yang mempersatukan perbedaan ini akan segera mewarnai layar lebar Indonesia.

Sepanjang cerita, tidak dapat dipungkiri jika kita akan terus-menerus menelan ludah teringat begitu kayanya Indonesia dengan makanan berbagai cita rasa.

Dibintangi Oka Antara sebagai Farish, Hannah Al Rasyid sebagai Nad, Nicholas Saputra sebagai Bono, dan Aruna yang diperankan oleh Dian Sastro. Siap-siap di tanggal 27 September ini ya!

There are Tears in Things

Kumpulan puisi yang ditorehkan Laksmi dalam bukunya ini menciptakan perasaan yang begitu kompleks untuk dirasa.

Syair-syairnya begitu jeli dalam mengamati, begitu fokus dalam meluapkan emosi, untuk menggambarkan sketsa kota yang bersanding dalam kehidupan kota yang gelisah, entah itu Jakarta atau London, New York atau Berlin.

Puisi indah yang ia tulis dalam bahasa Inggris ini mengisyaratkan sosok Laksmi Pamuntjak yang paham betul jika hati manusia memiliki banyak kamar, ia mengerti bahwa cinta, keinginan, dan kerinduan, tidak pernah begitu sederhana untuk dikatakan bahwa ia berada di kamar yang mana.

Hampir bersamaan dengan rilisnya film adaptasi novel, Aruna dan Lidahnya, novel ketiga Laksmi juga akan segera meluncur dengan judul Herbstkind.

Tunggu segera novelnya di Gramedia.com ya!


Header image source: CNN Indonesia