Bulan Oktober: Bulannya Bahasa dan Sastra. Mengapa?

Bulan Oktober: Bulannya Bahasa dan Sastra. Mengapa?

. 3 min read

Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia yang memiliki keragaman suku, ras, dan budaya. Salah satu yang tak bisa terlewati begitu saja adalah kekayaan ragam bahasa dan sastra yang tersebar di seantero nusantara. Mengutip Badan Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, saat ini terdapat total 442 bahasa daerah di Indonesia.

Dalam hal ini, bahasa memiliki nilai penting sebagai pemersatu. Dengan adanya bahasa, manusia sebagai makhluk sosial dapat membangun interaksi dengan sesama. Meski setiap wilayah punya bahasa daerah masing-masing, masyarakat Indonesia tetap dapat saling berkomunikasi melalui bahasa resmi, bahasa Indonesia.

Secercah tentang Bahasa dan Sastra

Bahasa Indonesia memang menjadi bahasa resmi dan bahasa nasional yang digunakan di Indonesia. Walaupun begitu, kalau memerhatikan realitas yang ada di sekitar, rasanya sebagian besar masyarakat Indonesia lebih condong mementingkan bahasa asing. Terutama bahasa Inggris karena merupakan bahasa internasional. Bahkan sedari kecil, beberapa orang tua sudah menanamkan sang buah hati untuk berbahasa Inggris. Si anak pun tak fasih dengan bahasa ibunya.

Memang tak ada yang salah jika kita belajar ataupun berkomunikasi dengan bahasa asing. Justru kemampuan berbahasa asing memang dibutuhkan dan menjadi bekal yang pasti berguna dalam hidup.

Namun, alangkah lebih baik jika bisa menyeimbangkan kemampuan antara bahasa ibu kita dan bahasa-bahasa lainnya. Jangan sampai sebagai warga negara Indonesia, kita lancar berbahasa asing, tetapi malah macet berbahasa Indonesia.

Bicara mengenai bahasa, sepertinya tak lengkap jika tidak bercakap tentang sastra. Bahasa dan sastra menjadi dua hal yang sejatinya saling berkaitan. Dengan bahasa, kesastraan jadi lebih mekar sehingga muncullah beragam karya sastra indah.

Mulai dari puisi, sajak, prosa, dongeng, hingga syair. Salah satu pujangga senior di kalangan sastrawan Tanah Air ialah Sapardi Djoko Damono. Tak hanya di Indonesia, karyanya bahkan telah ditafsirkan ke dalam berbagai bahasa dunia.

Bulan Bahasa dan Sastra

Bulan Oktober diperingati Indonesia sebagai Bulan Bahasa dan Sastra. Tidak banyak yang melupakan, tapi tidak seberapa juga yang mengingat hal ini. Sebenarnya, mengapa diperingati pada bulan Oktober?

Source: informazone.com

Bahasa bisa dibilang termasuk senjata pemersatu bangsa. Hal tersebut bahkan telah bergaung sejak Indonesia belum merdeka, yakni saat mengikrarkan Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928.

KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENDJOENGDJOENG BAHASA PERSATOEAN, BAHASA INDONESIA

Sepenggal ikrar pada poin ketiga naskah Sumpah Pemuda itulah yang menjadi bibit jadinya Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Oleh karena benang merahnya dengan Sumpah Pemuda yang dahulu diikrarkan, Indonesia memeringati bulan Oktober sebagai Bulan Bahasa dan Sastra.

Peringatan Bulan Bahasa dan Sastra setiap bulan Oktober sendiri kiranya ditujukan untuk mengingat bahwa kukuhnya Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional bukan tanpa ancang-ancang dan sonder perjuangan.

Agaknya inilah salah satu alasan kita perlu memeringati Bulan Bahasa dan Sastra. Agar sebagai putra dan putri Indonesia, kita lebih menghargai Bahasa Indonesia. Agar sebagai putra dan putri Indonesia, kita lebih berbangga terhadap Bahasa Indonesia.


Mari rayakan Bulan Bahasa dan Sastra Indonesia secara antusias karena kalau bukan kita yang melestarikannya, siapa lagi?

Kita sebagai masyarakat Indonesia bisa memperingati Bulan Bahasa dan Sastra melalui berbagai macam cara. Salah satunya adalah dengan membaca buku-buku sastra, seperti berikut ini.

Manifesto Flora - Cyntha Hariadi

Cantik Itu Luka - Eka Kurniawan

Sakuntala - Gunawan Maryanto

Buku Latihan Tidur - Joko Pinurbo