“Sang Raja” Kretek, Novel Historis Iksaka Banu yang Ditulis dengan Riset Mendalam!
Setiap hal besar selalu punya awal cerita yang menarik untuk kita telusuri lebih jauh, termasuk kretek yang begitu lekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia. 🍀
Di balik aroma cengkeh dan tembakau yang khas, ada sejarah panjang tentang industri, perdagangan, hingga perubahan sosial di tanah Jawa.
Kalau sebelumnya kamu mengikuti kisah dunia kretek lewat novel Gadis Kretek, kali ini Gramin akan spill satu novel lain yang bisa membawa kamu kembali menyusuri semerbak jejak sejarah kretek dari sudut yang berbeda.
Novel itu adalah Sang Raja, karya Iksaka Banu yang mengangkat perjalanan hidup Nitisemito, sosok legendaris di balik kejayaan kretek Tjap Bal Tiga.
Dengan nuansa historis yang kuat dan riset yang detail, novel ini menghadirkan cerita tentang ambisi, perjuangan, dan perubahan zaman di tengah geliat industri kretek Indonesia.
Kalau kamu penasaran seperti apa kisahnya, yuk kita bahas lebih dalam! ⛳
Sinopsis Novel Sang Raja
Di masa ketika bumiputra masih dipandang sebagai warga kelas tiga, Wirosoeseno, seorang Jawa tulen, dan Filipus Rechterhand, pria Belanda totok, sama-sama berakhir di Kudus.
Takdir mempertemukan mereka di sebuah pabrik kretek besar yang mempekerjakan ribuan buruh.
Di tengah intrik politik, pergolakan sosial, dan suasana perang kemerdekaan, keduanya tumbuh bersama sambil menyaksikan kebangkitan sosok yang dikenal sebagai “De Koning” atau Sang Raja Kretek, Nitisemito.
Berbekal kerja keras, insting bisnis, dan strategi pemasaran yang melampaui zamannya, Nitisemito berhasil mengubah hidupnya dari mantan kusir dokar menjadi pengusaha kretek paling berpengaruh pada masanya.
Perjalanan hidupnya kemudian menjadi bagian penting dari sejarah industri kretek di Indonesia.
Nitisemito dan Kejayaan Kretek Bal Tiga
Nitisemito dikenal sebagai pemilik pabrik kretek Tjap Bal Tiga di Kudus, Jawa Tengah. Pada masanya, perusahaan ini berkembang sangat besar dan menjadi salah satu simbol kejayaan industri kretek bumiputra.
Dari tangan Nitisemito, kretek berkembang dari produk rakyat menjadi komoditas besar yang mampu menjangkau pasar luas.
Namun, kejayaan itu perlahan memudar setelah Nitisemito wafat pada tahun 1953. Sepeninggalnya, Tjap Bal Tiga kehilangan sosok yang selama ini menjadi penggerak utama perusahaan tersebut.
Dibangun Lewat Riset yang Panjang dan Detail
Salah satu hal menarik dari Sang Raja terletak pada proses risetnya yang sangat mendalam.
Iksaka Banu membutuhkan waktu panjang untuk menyusun potongan-potongan sejarah kehidupan Nitisemito. Ia menelusuri berbagai artikel, arsip, hingga koran-koran era kolonial demi menemukan detail yang bisa menyempurnakan ceritanya.
Menurut Banu, perjalanan hidup Nitisemito terasa sangat menarik karena berhasil menunjukkan bagaimana seorang bumiputra bisa membangun kerajaan bisnis besar di tengah situasi kolonial yang represif.
Ia juga melihat Nitisemito sebagai sosok yang punya peran besar dalam mengangkat derajat kretek di masyarakat.
Dari hasil riset itu, Banu kemudian merangkainya menjadi novel historis yang terasa hidup, lengkap dengan tokoh-tokoh fiktif dan atmosfer zaman yang kuat.
Berkenalan Lebih Dekat dengan Iksaka Banu

Iksaka Banu lahir di Yogyakarta pada 7 Oktober 1964 dan menempuh pendidikan di Jurusan Desain Grafis, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung.
Sebelum aktif menulis, ia lebih dulu berkarier di dunia periklanan sebagai pengarah seni.
Minatnya pada dunia cerita sebenarnya sudah muncul sejak kecil. Ia pernah mengirim tulisan ke berbagai media anak dan sempat membuat cerita bergambar untuk majalah Ananda.
Setelah lama vakum dari dunia tulis-menulis, Iksaka Banu kembali aktif menulis cerpen pada awal tahun 2000-an. Karyanya kemudian banyak dimuat di berbagai media dan beberapa di antaranya masuk dalam daftar cerpen terbaik Indonesia.
Namanya semakin dikenal lewat karya-karya berlatar sejarah kolonial yang khas dengan riset detail dan nuansa Hindia Belanda yang kuat.
Gas Pre-Order Sekarang!
Buat kamu yang tertarik mengikuti perjalanan Sang Raja Kretek dan dinamika industri kretek di masa kolonial, buku ini sudah bisa kamu dapatkan melalui pre-order di Gramedia.com.
Tentu, akan ada bonus juga yang bisa kamu dapatkan kalau kamu memesan bukunya selama tanggal periode berlaku.
Rekomendasi Bacaan Serupa
Kalau kamu menikmati nuansa sejarah dan atmosfer Indonesia tempo doeloe dalam Sang Raja, ada beberapa buku lain yang juga menarik untuk dijelajahi setelah menamatkan novel ini.
Gadis Kretek – Ratih Kumala
Novel ini membawa pembaca menyusuri sejarah industri kretek lewat kisah keluarga, cinta, dan rahasia masa lalu yang saling bertaut. Lewat pencarian sosok Jeng Yah, pembaca diajak melihat bagaimana bisnis kretek berkembang di tengah perubahan zaman dan dinamika keluarga yang rumit.
Dengan latar Kudus dan dunia kretek yang terasa begitu hidup, Gadis Kretek menghadirkan cerita yang hangat sekaligus emosional. Aroma tembakau, konflik keluarga, hingga kisah cintanya membuat novel ini menjadi salah satu karya Indonesia modern yang paling membekas di hati banyak pembaca.
Para Priyayi – Umar Kayam
Lewat kisah keluarga Sastrodarsono, Umar Kayam menghadirkan potret kehidupan priyayi Jawa dengan segala perubahan sosial dan nilai-nilai yang terus bergeser dari generasi ke generasi.
Novel ini terasa tenang, tetapi kaya akan refleksi tentang pendidikan, keluarga, status sosial, hingga cara masyarakat Jawa memandang kehidupan. Gaya berceritanya yang pelan mengalir justru membuat perjalanan para tokohnya terasa dekat dan manusiawi.
Catatan Perjalananku ke Yogyakarta 1825 – Peter Carey
Buku ini menyajikan catatan perjalanan A.A.J. Payen saat terjebak di Yogyakarta pada masa Perang Jawa. Lewat sudut pandang seorang pelukis Eropa, pembaca diajak melihat situasi Jawa pada awal abad ke-19 dengan detail yang sangat menarik.
Suasana kolonial, ketegangan politik, hingga kehidupan masyarakat pada masa itu digambarkan dengan begitu kaya. Buku ini terasa seperti jendela yang membuka gambaran langsung tentang salah satu periode penting dalam sejarah Indonesia.
Max Havelaar – Multatuli
Karya klasik ini membongkar praktik tanam paksa dan ketidakadilan kolonial Belanda terhadap bumiputra lewat kisah yang tajam dan menggugah.
Meski pertama kali terbit pada abad ke-19, isu yang dibahas dalam Max Havelaar masih terasa relevan hingga hari ini. Kritik sosial, ironi, dan keberanian Multatuli dalam menyuarakan ketidakadilan membuat novel ini menjadi salah satu karya paling penting dalam sejarah sastra dunia.
Mangir – Pramoedya Ananta Toer
Pramoedya menghadirkan kisah penuh konflik politik dan perebutan kekuasaan di Jawa pasca runtuhnya Majapahit. Lewat tokoh-tokohnya, pembaca diajak melihat bagaimana ambisi dan kekuasaan bisa membentuk arah sejarah sebuah wilayah.
Nuansa sejarah dan dinamika sosialnya terasa sangat kuat sepanjang cerita. Dengan gaya tutur khas Pramoedya yang tajam dan penuh tenaga, Mangir menghadirkan kisah yang terasa megah sekaligus tragis.
Pada akhirnya,
Sang Raja terasa lebih dari sekadar novel tentang industri kretek atau perjalanan seorang pengusaha besar di masa kolonial.
Lewat riset yang detail dan cerita yang terasa hidup, Iksaka Banu mengajak pembaca melihat bagaimana sejarah, perdagangan, dan perubahan zaman membentuk kehidupan banyak orang di tanah Jawa.
Di balik aroma tembakau dan kejayaan kretek, ada kisah tentang ambisi, perjuangan, serta manusia-manusia yang berusaha bertahan di tengah dunia yang terus bergerak.
Kalau kamu menyukai novel sejarah dengan atmosfer Indonesia tempo doeloe yang kuat, Sang Raja bisa jadi bacaan yang menarik untuk masuk ke daftar koleksimu berikutnya. 🤗
✨Oh iya, jangan lupa juga untuk cek promo spesial lainnya di Gramedia.com supaya misi koleksimu makin hemat dan bermakna! ⤵
Temukan Bukunya di Sini!
Ikuti Pre-Order-nya di Sini!
Temukan Bukunya di Sini!
Temukan Bukunya di Sini!
Temukan Bukunya di Sini!
Temukan Bukunya di Sini!
Temukan Bukunya di Sini!
Temukan Semua Promo Spesial di Sini!