Dunia Boleh Berlari, Tapi Kamu Boleh Melambat: Mengapa 'Slow Steps' Adalah Izin yang Kamu Butuhkan Saat Ini
Grameds, coba deh kamu perhatikan ritme hidup di hari ini. Berapa banyak dari kita yang langsung memilih untuk mengecek ponsel ketika baru saja bangun dari tidur?
Kebanyakan dari kita, bahkan tanpa sadar, langsung sibuk sejak awal membuka mata, saat benda pintar itu menjadi barang pertama yang dicari setelah terjaga.
Sensasi bangun tidur yang seharusnya clean dan menyegarkan, sekejap berubah dengan kemunculan gulma dalam bentuk notifikasi berisi reminder kerjaan, pesan yang belum terbalas, dan update berita harian yang terus bergulir. Dalam hitungan menit, kepala sudah dipenuhi banyak hal yang menuntut perhatian.
Hari berjalan dengan pola yang hampir sama. Segalanya terasa berlarian, begitu pun kita. Pindah dari satu tugas ke tugas lain, mengejar target, mengejar jadwal, mengejar sesuatu yang bahkan belum sempat dipikirkan maknanya.
Kehadiran media sosial ikut mempercepat semuanya. Kita melihat pencapaian orang lain, perjalanan karier orang lain, dan gaya hidup orang lain yang tampak terus menanjak ke atas. Hingga tanpa sadar, muncul dorongan untuk ikut berlari lebih cepat.
Bergerak melambat tampak seperti bukan opsi yang menjanjikan. Akan tetapi, pernahkah kamu bertanya-tanya: sebenarnya, apa yang sedang terjadi? ๐คทโโ๏ธ
Jebakan Itu Bernama Hustle Culture
Ya, di tengah situasi ini, melangkah pelan tidak tampak seperti opsi yang menjanjikan. Terlebih pasca maraknya istilah hustle culture, sebuah cara pandang yang menempatkan kesibukan sebagai ukuran keberhasilan.
Semakin sibuk seseorang, semakin dianggap produktif. Semakin padat jadwalnya, semakin terlihat ambisius. Kedengarannya keren, tetapi kalau dipikir lagi rasanya melelahkan juga.
Capek tidak sih kalau hidup mesti serba terburu-buru? Dalam situasi serba ketinggalan, terkadang muncul sekilas pertanyaan yang jarang kita jawab dengan penuh keyakinan, sebenarnya kita sedang berlari ke mana?
Barangkali, sebelum melangkah lebih jauh, ada baiknya kita berhenti sebentar. Berhenti untuk mengatur ulang napas dan mulai memberi ruang kecil untuk diri sendiri.
Atau mungkin berhenti untuk mengakui, bahwa kita memang tidak sekuat itu untuk terus berlari mengikuti ritme gerak yang tidak kita kehendaki.
Mengambil Langkah Pelan dengan Buku Slow Steps
Di tengah dunia yang terasa semakin cepat, buku Slow Steps karya Olphi Disya Arinda hadir seperti pengingat kecil agar kita tidak kehilangan arah. Buku ini berbicara tentang bagaimana menghadapi kegagalan, bangkit dari titik terendah, menjaga konsistensi, dan mengelola tekanan tanpa harus memaksakan diri terus berlari.
Sebagai pembaca, kamu diajak melihat kembali cara memaknai kesuksesan dan kebahagiaan. Banyak orang mengejar pencapaian dengan kecepatan tinggi, tetapi dalam prosesnya justru malah membuat kehilangan hubungan dengan diri sendiri. Buku ini menawarkan sudut pandang yang lebih tenang. Kita tetap bisa berkembang tanpa harus mengorbankan kesehatan mental.
Melalui refleksi yang hangat dan penuh kesadaran, Slow Steps mengajak kita memperlambat langkah. Keberhargaan diri tidak ditentukan oleh seberapa cepat kita bergerak atau seberapa banyak yang berhasil diraih. Nilai diri muncul dari kesadaran, kemampuan memahami diri sendiri, serta keberanian untuk terus bertumbuh dan berkembang.
Baca juga: No Longer Human: Pengakuan Pahit tentang Gagalnya Menjadi Manusia
Mengurangi yang Tidak Perlu Agar Hidup Lebih Seimbang
Sering kali, kita mengira cara berkembang adalah dengan menambah lebih banyak hal. Lebih banyak target, lebih banyak pekerjaan, juga lebih banyak aktivitas. Padahal terkadang yang kita butuhkan justru sebaliknya.
Dalam hal ini, buku Slow Steps mengajak pembaca melihat kembali hal-hal yang jarang dipandang penting, perihal mengambil langkah kecil dan melepas beban yang terasa memberatkan.
Ketika beban yang tidak perlu mulai dilepaskan, ruang baru untuk hal-hal yang benar-benar bermakna akan terbuka. Proses ini pula yang turut membantu kita menemukan keseimbangan antara kehidupan pribadi, pembelajaran, dan perjalanan karier.
Tertarik dengan Bukunya? Ini Kabar Baiknya!
Kalau kamu sudah mulai penasaran dengan bukunya, Gramin punya kabar baik. Isi lengkap Slow Steps sekarang sudah bisa kamu amankan lebih dulu melalui program pre-order di Gramedia.com.
Selama masa pre-order berlangsung, kamu juga berkesempatan mendapatkan buku bertanda tangan penulis, lengkap dengan bonus sticker pack dan worksheet untuk jurnal harian. Bonus kecil yang bisa membuat proses refleksi diri terasa lebih ringan dan menyenangkan.
Tarik napas sejenak, lalu melangkahlah dengan pelan. Jika tertarik, buku ini bisa kamu dapatkan selama periode 12 hingga 31 Maret 2026, lengkap dengan berbagai bonus yang siap menemani perjalananmu.
Beberapa Langkah Lain untuk Menemani Perkembanganmu
Kalau kamu merasa perjalanan berkembang masih panjang, ada beberapa buku lain yang juga bisa menjadi teman belajar dalam proses tersebut. Mari cek daftarnya di bawah ini! ๐
1. The Art of Plan Everything โ Karina Nurin
Kisah John F. Kennedy sering dijadikan contoh tentang bagaimana kegagalan dapat dilihat dari sudut pandang yang berbeda. Ketika kalah dalam pemilu tahun 1956, ia tidak berhenti atau larut dalam kekecewaan. Kennedy memilih mempelajari kesalahan yang terjadi dan menjadikannya bahan evaluasi. Dari sana ia menyusun langkah baru dengan lebih matang hingga akhirnya mampu meraih keberhasilan di masa berikutnya.
Melalui buku ini, Karina Nurin mengajak pembaca memahami pentingnya kemampuan merencanakan hidup dengan lebih terarah. Perencanaan membantu kita membaca kemungkinan yang akan datang, mengantisipasi hambatan, serta menyiapkan solusi sebelum masalah muncul. Dengan rencana yang jelas, kegagalan dapat diolah menjadi pelajaran yang memperkuat langkah menuju tujuan yang lebih besar.
2. Survive Your Way โ Evan Haydar
Evan Haydar membagikan perjalanan hidupnya yang berawal dari kota kecil di Indonesia hingga akhirnya menapaki kesempatan karier di lingkungan internasional. Perpindahan dari Gresik ke Jerman menghadirkan berbagai tantangan yang tidak sederhana. Perbedaan budaya, bahasa, dan cara berpikir menjadi bagian dari proses yang harus dihadapi setiap hari.
Lewat kisah ini, Evan menggambarkan bagaimana proses bertahan dan berkembang di negeri orang membentuk pola pikir baru. Ia menceritakan pengalaman beradaptasi, menghadapi kegagalan, serta menemukan cara untuk bangkit dan membangun karier. Buku ini memberikan gambaran jujur tentang perjuangan mencari peluang di dunia global sekaligus keberanian untuk terus melangkah meski situasi terasa tidak pasti.
3. Focus on What Matters โ Darius Foroux
Mengapa manusia sering merasa gelisah di tengah kehidupan yang semakin bising dan penuh distraksi? Pertanyaan ini sebenarnya sudah dibahas sejak ribuan tahun lalu oleh para filsuf Stoik. Mereka mencari cara untuk menemukan ketenangan batin, membangun ketangguhan, serta menjalani hidup dengan lebih bijak.
Buku ini menghadirkan tujuh puluh surat dan esai yang terinspirasi dari pemikiran Stoik, terutama karya Seneca. Darius Foroux merangkai refleksi tentang kebahagiaan, kekayaan, kesehatan, hingga hubungan dengan orang lain. Di dalamnya terdapat latihan mental sederhana, cara menikmati momen sehari-hari, serta prinsip Stoik yang membantu pembaca tetap fokus pada hal yang benar-benar penting dalam hidup.
4. Goals โ Zig Ziglar
Menentukan tujuan hidup sering terasa sulit bagi banyak orang. Zig Ziglar menjelaskan bahwa ada beberapa alasan yang membuat seseorang gagal menetapkan arah hidup dengan jelas. Ia membahas hambatan yang kerap muncul dan menunjukkan cara mengatasinya melalui pendekatan yang praktis.
Buku ini memandu pembaca melalui sembilan langkah untuk menetapkan tujuan yang terarah dan bermakna. Zig juga memperkenalkan tiga belas formula tindakan yang membantu mengubah kebiasaan kecil menjadi pencapaian besar. Melalui panduan ini, pembaca diajak memahami bahwa tujuan hidup tidak hanya tentang rencana besar, tetapi juga tentang tindakan konsisten yang dilakukan setiap hari.
5. Slow โ Greatmind
Dalam banyak lingkungan, kesibukan sering dianggap sebagai tanda keberhasilan. Semakin padat aktivitas seseorang, semakin tinggi pula penilaian yang diberikan oleh masyarakat. Di sisi lain, hidup yang lebih santai sering dipandang sebagai bentuk kemalasan. Pandangan ini membuat banyak orang terus berlari tanpa sempat bertanya apa yang sebenarnya sedang mereka kejar.
Buku ini menghadirkan kumpulan esai dari berbagai figur publik seperti Dominique Diyose, Ayla Dimitri, Andy F. Noya, Reza Gunawan, dan Dee Lestari. Melalui pengalaman serta refleksi pribadi, mereka berbagi pandangan tentang menjalani hidup dengan ritme yang lebih perlahan. Pembaca diajak melihat bahwa bergerak pelan tidak berarti berhenti, melainkan menjalani hidup dengan lebih sadar, hati-hati, dan penuh pertimbangan.
Pada akhirnya,
Hidup memang sering terasa seperti perlombaan. Banyak hal bergerak cepat, banyak tuntutan datang silih berganti. Namun, bukan berarti kita harus selalu ikut berlari tanpa jeda. ๐
Sesekali, tidak apa-apa untuk melambatkan langkah. Mengizinkan diri untuk sekadar berhenti, merasakan sekitar, dan memahami kembali ke mana sebenarnya hati ingin melangkah.
Di titik itulah buku Slow Steps hadir sebagai teman yang menenangkan. Ia mengingatkan bahwa perjalanan hidup tidak selalu harus dipacu dengan kecepatan penuh. Ada kalanya kita perlu berhenti sebentar untuk menata ulang arah, lalu melangkah lagi dengan ritme yang lebih sehat bagi jiwa kita.
Jika kamu sedang mencari cara untuk berdamai dengan dunia yang terlalu bising dan cepat, mungkin buku ini bisa menjadi langkah kecil pertama yang menemanimu menemukan ketenangan itu kembali. โจ
Baca juga: Na Willa: Sebuah Undangan untuk Kembali Melihat Dunia dari Sisi Anak-anak dalam Diri Kita!
โจOh iya, jangan lupa juga untuk cek promo spesial lainnya di Gramedia.com supaya belanjamu makin hemat dan bermakna! โคต