(REVIEW BUKU) Bumi Manusia: Kenapa Milenial dan Gen Z Wajib Baca

(REVIEW BUKU) Bumi Manusia: Kenapa Milenial dan Gen Z Wajib Baca

. 5 min read

Pramoedya Ananta Toer kerap menyebut buku-buku yang ia tulis adalah anak-anak rohaninya. Dari sekian banyak anak rohaninya, empat novel yang kerap disebut Tetralogi Buru adalah karya monumentalnya. Empat novel tersebut yakni, yang pertama Bumi Manusia, lalu dilanjutkan Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca. Keempat novel itu berkaitan tapi juga bisa dibaca sendiri.

Tahun ini kita bakal menyaksikan versi film Bumi Manusia. Namun, sebelum nonton filmnya kamu wajib baca bukunya. Sebab, sayang banget kalau kamu sampai enggak kenal dengan novel yang mendunia ini. Tapi omong-omong apa sih yang bikin Tetralogi Buru wajib kamu baca?

Orang boleh berpendapat yang membuat novel-novel itu jadi legenda lantaran kisah di balik penulisannya. Kisahnya memang layak jadi film sendiri karena penuh drama, ketegangan, dan aksi.

Film
Sumber: Film Bumi Manusia Official Instagram

Ide cerita novel ini telah ada di benak Pram sejak 1950-an. Sastrawan Eka Kurniawan yang menulis buku tentang Pram mencatat, Tetralogi Buru merupakan upaya Pramoedya Ananta Toer untuk menjawab: apa itu menjadi Indonesia.

Pada masa itu, perkara menjadi Indonesia sedang hangat—jika tak bisa dikatakan panas—ia mulai memikirkan satu seri novel yang bisa mencari dan melacak jejak-jejak nasionalisme Indonesia (Tempo, 19 Mei 2008).

Minke, karakter utama di novel ini, terinspirasi dari sosok nyata Tirto Adhi Soerjo, pendiri surat kabar berbahasa Melayu pertama, Medan Prijaji.  Tirto model sempurna embrio Indonesia modern, karena perintis pers dan salah satu tokoh awal nasionalisme di permulaan abad 20.  

Cerita Pembuatan Novel Bumi Manusia

Sejarah mencatat, Pram berada di posisi yang kalah dalam pertarungan kekuasaan pada 1960-an. Maka, sebagai seniman berhaluan kiri dan pentolan Lembaga Kesenian Rakyat (Lekra) yang dekat dengan PKI, ia dipenjara rezim Orde Baru Soeharto tanpa pernah diadili.

Koleksi buku-buku dan catatan arsipnya, termasuk manuskrip novel-novel yang belum terbit, dibakar tentara. Pram juga dibuang ke Pulau Buru, di kepulauan Maluku, selama sepuluh tahun dari 1969-1979.  

Hanya bermodalkan ingatan, Pram menyusun cerita novel di pulau tersebut. Cerita semula ia susun secara lisan dan dikisahkan pada sesama tahanan. Baru pada 1980, setelah mengumpulkan catatan yang berserakan yang diam-diam diselundupkan keluar Buru, novel pertama Bumi Manusia terbit.

Setelah enam bulan edar Bumi Manusia jadi bacaan terlarang. Pemerintahan Soeharto menuding novelnya mengandung ajaran Marxisme dan Leninisme. Namun dari situ Pram dan karyanya malah melegenda di dalam dan luar negeri.

Film
Sumber: Falcon Pictures instagram

Di mata aktivis penentang orde baru, buku-buku Pram jadi simbol perlawanan. Sedang, di luar negeri ia contoh nyata korban pelanggaran HAM sebuah rezim anti-demokrasi.  

Namun salah besar bila menganggap Bumi Manusia dan tiga novel Buru lainnya besar karena cerita di balik penulisannya. Semua cerita seru itu takkan berguna bila karyanya sendiri amatiran.

Koran New York Times memuji Bumi Manusia sebagai contoh karya sastra yang indah dari Indonesia. Sedang koran Washington Post memujinya sebagai salah satu karya seni terbesar abad ke-20.

Sampai di sini kamu mungkin bertanya, apa sih yang bikin Bumi Manusia disebut karya besar?    

Cerita Bumi Manusia, cerita cinta semata?

Kita awali dengan sedikit uraian cerita novelnya. Alkisah, di pergantian abad 19 ke 20 kita bertemu sosok Minke, pemuda Jawa terpelajar yang tengah menempuh pendidikan HBS, setingkat SMA masa kini.

Namun hanya keturunan pribumi terpandang yang bisa menempuhnya. Suatu hari, ia diajak kawan berkunjung ke sebuah rumah besar bak istana.

Di rumah itu ia bertemu Nyai Ontosoroh perempuan Jawa usia 30-an yang jadi istri simpanan, laki-laki Belanda bernama Herman Mellema. Perempuan ini punya dua anak, seorang laki-laki dan adik perempuannya. Yang perempuan bernama Annelies. Minke jatuh hati pada Annelies, begitu juga sebaliknya.

Film
Sumber: Falcon Pictures instagram

Mereka berkasih-kasihan lalu memutuskan menikah. Tapi hukum menentang pernikahan tersebut. Minke dan Annelies harus berpisah.

Membaca alur cerita novelnya, versi filmnya sangat mungkin bakal lebih mengeksplorasi sisi romantis ceritanya. Penonton mungkin sekali bakal dibuat tersipu dengan gaya pacaran Minke dan Annelies. Ya, versi filmnya bakal terpeleset jadi Dilan 1990.

Namun bila itu sampai kejadian, maka karya ini telah dicederai. Karena yang ingin disampaikan Pram bukan kisah cinta Minke dan Annelies. Yang ingin ia sampaikan tentang derita rakyat jajahan, berikut perlawanan terhadap kesewenang-wenangan penguasa.

Tragedi Minke, Annelies dan Nyai Ontosoroh

Di masa Orde Baru Soeharto novel ini bacaan terlarang. Orang bisa dipenjara atas tuduhan melawan penguasa hanya karena kedapatan memiliki buku ini. Banyak pembaca novelnya yang juga aktivis pro demokrasi penentang Orde Baru merasa dekat dengan isi novelnya. Bagi mereka rezim kala itu tak ubahnya penguasa lalim di Bumi Manusia.

Novel ini juga sebuah gambaran tragedi yang ironis dan berakhir menyedihkan bagi Minke. Di awal novel kita mendapati Minke yang kagum pada peradaban Barat. Berkat pendidikan dan ilmu pengetahuan, Barat telah demikian maju. Minke mencela asal-usulnya yang masih tenggelam dalam primordialisme dan percaya takhayul. Ia mengidentifikasi diri sebagai manusia modern.

Namun bisakah seorang rakyat jajahan jadi manusia modern? Apa ia bisa setara dengan kaum kulit putih yang berada di puncak piramida kelas? Lebih dari itu, secerdas apapun ia, sekagum apapun ia pada peradaban dan nilai modernisme yang dibawa kaum penjajah, relakah sang penjajah memberi tempat baginya?

Film
Sumber: Falcon Pictures instagram

Lalu kita juga berjumpa dengan Annelies. Ia bukan tokoh perempuan yang hadir sebagai pelengkap penderita. Pada Annelies kita bertemu ironi yang lain: seorang perempuan indo yang diberi tanggung jawab turut mengelola usaha. Bersama ibunya, Nyai Ontosoroh, ia bekerja banting tulang demi menghidupi keluarga.

Namun, di tengah masyarakat kolonial perempuan adalah warga kelas dua. Perasaannya pun tak masuk hitungan. Maka, ia tak bisa berbuat apa-apa saat dipisahkan dari Minke, suaminya.  

Selain Minke dan Annelies, tokoh Nyai Ontosoroh juga sangat menonjol di novel Bumi Manusia--bahkan ketokohannya bisa jadi melebihi Minke. Penggemar bukunya rata-rata lebih kagum pada Nyai Ontosoroh ketimbang Minke.

Sebab, ia laksana perempuan super tapi bernasib tragis. Sang ayah menjualnya pada Belanda, karena ingin naik pangkat. Nyai Ontosoroh dijadikan istri tidak sah, dipercaya mengelola usaha suami.

Namun pada akhirnya tak berhak sepeser pun atas perusahaan itu karena ia cuma istri simpanan. Ia juga tak punya hak atas anak yang ia lahirkan.

Film

Nah, berbagai tragedi itu, plus rasa muak dan marah pada penguasa yang sewenang-wenang, cuma bisa kamu dapati bila membaca novelnya.

Membaca karya sastra, terutama yang terbit puluhan tahun silam memang berbeda dengan baca novel pop yang ringan. Butuh ketekunan dan jangan gampang menyerah.

Sungguh, bukan tanpa alasan nama Pramoedya Ananta Toer disebut berkali-kali sebagai calon penerima Nobel Sastra. Lewat membaca Bumi Manusia hingga tuntas kamu—yang tergolong generasi milenial akhir dan Gen Z--bisa membuktikan sendiri kedahsyatan prosanya. Dijamin!


BUMI MANUSIA

Penulis: Pramoedya Ananta Toer
Penerbit: Lentera Dipantara
Tahun: 2005 (pertama terbit 1980)
Jumlah halaman:  535 halaman